
Sabrina menggeliat dan mulai sadar dari tidur singkatnya. Ia sedikit meringis karena tubunya terasa remuk dan sakit semua, terutama di bagian intimnya.
"Awh... dia benar-benar gila. Ssst... sakit sekali." Ringis Sabrina saat menyentuh bibirnya yang terluka karena ulah si suami. Namun seketika matanya terbelalak saat menyadari dirinya berada di kamar yang sangat asing. "Di mana ini?"
Sabrina bangun dari posisinya, dan lagi-lagi ia kaget karena tubuhnya sudah terbalut sebuah gaun berwarna nude. Bahkan sebuah topeng indah sudah melekat di wajahnya. Tidak ingin ambil pusing, matanya menyapu setiap benda yang ada di sana. Tidak ada satu pun yang ia kenali. "Apa ini kamarnya? Kenapa tidak ada petunjuk apa pun?"
Wanita itu melangkah pasti keluar dari kamar. Benar saja, ini apartement suaminya. Beberapa hari lalu ia pernah ke sini. Dan masih mengingat dengan jelas semua benda yang ada di sana. Sabrina menghela napas lega dan memilih duduk di sofa mewah itu. Kakinya masih sangat ngilu dan sakit.
"Kenapa pengalaman pertama itu sangat menyakitkan?" Tanyanya sambil memijat kaki yang ngilu. "Jika terus seperti ini aku bisa mati, dia sangat kasar dan tidak tahu waktu." Gerutunya saat mengingat kejadian pagi tadi yang berhasil menguras tenaganya.
"Akh, perutku sangat lapar. Dia sama sekali tak punya belas kasihan, membiarkan aku tidak makan sampai sore." Wanita itu bangun dari posisinya dan mencari keberadaan dapur. Setelah ketemu, ia langsung menuju kulkas dan mencari sesuatu yang bisa dimakan.
"Ah, syukurlah." Ucapnya saat melihat isi kulkas masih penuh oleh berbagai bahan masakan dan makanan cepat saji. Ia mengambil dua buah sosis kanzler, jagung kaleng dan susu kotak. Kemudian bernajak menuju meja makan.
Setelah perutnya terisi penuh, wanita itu kembali menyusuri seisi ruangan yang dipenuhi barang-barang mewah dan super mahal itu. Sampai matanya tak sengaja melihat sebuah potret tiga anak kecil di atas meja panjang. Ia tersenyum dan mendekati benda itu, lalu meneliti foto itu dengan seksama. Sabrina memutar telunjuknya di atas permukaan foto untuk menebak yang mana suaminya. Dan jari lentik itu berhenti tepat di wajah anak kecil dengan ekspresi datar.
"Cih, ternyata sejak kecil dia jarang tersenyum. Tapi lucu juga, dia sangat imut." Gumamnya seraya meletakkan kembali potret itu di tempatnya semula. Lalu mata indah itu kembali menyelisik ke semua foto yang ada di sana. Termasuk foto berukuran besar yang terpajang di dinding. Sebuah foto keluarga.
"Pantas saja dia sangat tampan, Ibu dan Ayahnya cantik dan tampan. Mereka sangat serasi. Sungguh keluarga bahagia." Sabrina tersenyum lebar. Namun kedatangan seseorang berhasil mengejutkan wanita itu.
"Hey, siapa kau?" Seru seorang wanita cantik yang berhasil menbuat Sabrina menoleh. Senyuman diwajahnya pun seketika pudar saat melihat kehadiran Alexella di sana.
"Kau!" Alexella langsung menghampiri Sabrina dengan sorot permusuhan yang kental. "Berani sekali kau menyusup ke dalam rumah Kakaku?" Dengan kasar gadis itu menarik tangan Sabrina keluar.
"Hey, lepaskan aku. Aku bukan penyusup." Protes Sabrian berusaha melepaskan tangannya dari gadis itu. Dan pergelangan tanganya sangat sakit.
"Jelaskan saja di kantor polisi." Ketus Alexella terus menarik wanita itu tanpa belas kasihan.
"Nona, dengarkan aku. Aku bukan penyusup. Dia yang membawaku ke sini." Sabrina menahan langkahnya. Sontak langkah kaki Alexella pun ikut tertahan.
"Kau pikir aku bodoh, Kakakku tidak pernah membawa wanita asing ke rumahnya. Apa yang kau rencanakan huh? Kau ingin membunuhnya kan? Apa yang kau taruh di sana? Bom, penyadap atau...."
"Aku bukan penyusup, sudah aku katakan dia yang membawaku ke sana. Apa aku salah berada di rumah suamiku sendiri?" Bentak Sabrina kesal setengah mati. Bahkan dengan kasar ia menarik tangannya.
"Suami?" Mata Alexella melotot saat mendengar kalimat terakhir wanita itu.
"Ya, dia suamiku. Wajar jika dia membawaku ke sini. Dan kau malah menuduhku sembarangan." Sabrina masih meninggikan suaranya karena emosi.
__ADS_1
"Cih, kau pikir aku percaya?" Sinis Alexella.
"Kalau kau tidak percaya, hubungi Kakakmu. Tanyakan padanya sendiri." Bentak Sabrina semakin emosi.
"Jika itu benar pun. Aku tetap tidak akan mempercayaimu. Apa yang kau lakukan sampai Kakakku menikahimu huh? Kau menjebaknya? Siapa yang membayarmu dan berapa bayaran uang yang kau terima? Aku bisa memberikan itu sepuluh kali lipat, asal jauhi Kakaku. Uang yang kau inginkan bukan?"
Sabrina melotot saat mendengar tuduhan pedas itu. "Apa seperti ini putri bungsu dari keluarga Digantara? Menuduh orang sembarangan? Aku rasa Ibumu tak mengajari mulut cantikmu itu berbicara sopan santun kan?"
Plak!
Wajah Sabrina tertoleh ke samping, bahkan topeng yang ia kenakan terlepas dan terjatuh karena tamparan keras dari tangan besar seseorang.
Alexella terkejut dan langsung menoleh ke samping. Matanya membulat saat melihat sang Kakak sudah berdiri disampingnya dengan ekpresi yang mengerikan.
Sabrina menyentuh pipinya yang terasa panas dan agak perih. Bahkan air matanya meluncur begitu saja. Untuk pertama kalinya seseorang berani melayangkan tamparan padanya. Tentu saja ia tahu siapa yang tadi menamparnya, yang tak lain suaminya sendiri.
"Kau boleh menghinaku, tapi tidak untuk menghina saudaraku, terutama Ibuku." Desis Arez penuh penekanan.
Sabrina melayangkan tatapan tajam pada lelaki itu sebelum pergi dari sana dengan air mata yang terus menetes. Ia tidak tahu kenapa hatinya sangat sakit, bahkan rasa sakit dipipinya sama sekali tak berarti apa pun.
Alexella sempat tertegun saat melihat kecantikan wanita itu. Ia tak bisa mengungkapkan kekagumannya pada paras Sabrina yang sulit diuraikan dalam sebuah kalimat. Karena dia benar-benar cantik alami.
"Salahnya karena membawa Mommy dalam hal ini." Sinis Arez bergegas masuk ke apartementnya. Sedangkan Alexella mengekorinya dibelakang.
"Apa benar kau sudah menikah dengannya?" Tanya Xella melempar tasnya di atas sofa. Menatap sang Kakak yang sudah berbaring lemah di sofa. Namun Arez sama sekali tak berniat menjawab.
"Kau menarik musuhmu sendiri dalam satu selimut? Huh, apa yang kau lakukan, Kak?" Kesal Alexella melempar punggungnya di sofa single.
"Bukan urusanmu." Sahut Arez dengan nada malas.
Alexella mendengus kesal. "Mommy merindukanmu. Kemarin Lexa juga datang ke sini, hanya saja kau tidak ada. Jadi kemarin kau menikahinya huh?"
"Aku akan pulang lusa." Jawab Arez memijat pelipisnya. Kemudian bangun dari posisinya.
"Mommy sudah membatalkan perjodohan kalian." Ungkap Alexella.
"Aku tahu."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau masih menikahi wanita misterius itu?" Kesal Alexella.
"Namanya Sabrina, dia Kakak iparmu mulai sekarang." Tegas Arez berlalu pergi menuju kamarnya. Mulut Alexella sedikit terbuka karena kaget mendengar hal itu. Jika Arez sudah berkata demikian, itu artinya wanita itu benar-benar memiliki kedudukan spesial dihati Kakaknya.
"Kakak ipar? Cih, aku tak akan mengakuinya sebelum tahu dia benar-benar tulus atau tidak padamu. Aku akan buktikan dia bukan wanita baik-baik." Kesal Alexella menyambar tasnya dan beranjak pergi meninggalkan kediaman sang Kakak.
Masih dilingkungan yang sama. Sabrina memasuki apartementnya dengan tatapan kosong. Hingga tak menyadari sejak tadi Deena sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sab."
Si pemilik nama pun tersentak kaget dan langsung melayangkan tatapan tajam pada sahabatnya itu. "De!"
Mata Deena semakin menajam saat melihat pipi Sabrina yang sedikit bengkak dan terdapat goresan yang masih mengeluarkan darah. Sepertinya si empu tak menyadari itu. Deena yang panik pun langsung menarik dagu Sabrina dan melihat luka itu dengan lebih jelas.
"Apa yang terjadi, siapa yang melukaimu? Apa lelaki brengsek itu?" Tanya Deena mulai tersulut emosi.
"Sudahlah, aku sangat lelah, De. Biarkan aku istirahat." Sahut Sabrina hendak masuk ke kamar. Namun dengan cepat Deena menariknya kembali.
"Katakan padaku, kenapa dia meyiksamu seperti ini? Jangan bilang kalian sudah menghabiskan malam bersama." Deena meneliti tubuh sahabatnya. Dan tebakannya benar, begitu banyak bercak merah di leher dan dada sahabatnya itu.
"Kenapa kau memberikan mahkotamu padanya, Sab?"
Sabrina menatap sahabatnya dengan tatapan kosong. "Aku tidak bisa menghindar, dia suamiku." Setelah mengatakan itu ia langsung beranjak menuju kamarnya.
"Sab...."
"De, jangan ganggu aku untuk beberapa waktu. Aku ingin sendiri. Oh iya, bisa kau belikan aku pil?"
Deena manatap Sabrian penuh selidik. "Pil apa? Kau ingin bunuh diri?"
"Ck, pikiranmu itu terlalu buntu, De. Aku butuh pil kontrasepsi, aku tak akan membiarkan benihnya tumbuh dalam rahimku untuk saat ini. Beruntung saat ini bukan masa suburku."
"Hm. Aku akan kembali sebentar lagi. Jangan lupa obati wajahmu." Kata Deena yang langsung beranjak pergi.
"Hm."
Sabrina menutup pintu kamarnya dengan kasar. Kemudian beranjak menuju ranjang dan menjatukan tubuh rampingnya di sana. Hari ini benar-benar hari terlelah untuknya. Banyak hal berat yang harus ia pikul dengan paksa.
__ADS_1
"Brengsek! Berani sekali dia menamparku." Sabrina menyentuh pipinya dan meringis kala merasakan perih yang teramat. Dengan malas ia bangun dari posisinya dan berniat untuk mengobati pipinya sebelum benar-benar bengkak. Mungkin kedepannya ia tak ingin menemui lelaki kasar itu lagi. Persetanan dengan statusnya saat ini, sikap lelaki itu membuktikan jika hubungan mereka memang hanya sementara.