
Di sebuah gedung pencakar langit. Tampak dua lelaki tengah berbincang serius di dalam ruangan bernuansa hitam. Mereka adalah Alex dan Gerald.
Alex mengerutkan kening saat Gerald melempar sabuah amplop coklat di atas meja. "Apa itu?" Tanyanya penasaran.
"Aku berhasil merebut 60% sahammu kembali dari tangan bedebah itu. Kau bisa tidur dengan tenang mulai hari ini." Jawab Gerald dengan senyuman angkuhnya.
Alex yang tak percaya pun langsung membuka amplop itu dengan tergesa. Matanya membulat sempurna, Gerald tak berbohong dengan perkataanya. Alex pun langsung memberikan tatapan curiga pada sahabatnya itu.
"Jangan khawatir, aku hanya menggertak mereka sedikit. Kau tidak perlu ambil pusing. Nikmatilah masa tuamu bersama anak dan istrimu. Kau juga tidak perlu berterima kasih padaku. Balaslah kebaikanku di lain waktu." Imbuh Gerald bangun dari posisinya. Kemudian beranjak pergi dari ruangan Alex.
"Aku tahu semua ini tak gratis. Sibrengsek itu, apa yang dia inginkan sebenarnya? Tentu saja aku akan menyetujui apa pun keinginannya kelak, aku cukup tahu diri." Gumam Alex dengan senyumannya yang khas. Ia menatap kertas berharga itu dengan seksama. Kini ia tak perlu khawatir lagi dengan nasib perusahaan. Juga masa depan keluarganya.
Alex langsung bergegas untuk pulang. Ia harus segera memberi tahu kabar baik ini pada sang istri. Hari ini sungguh keberuntungan besar untuknya.
Ah, aku rasa keberuntungan ini milik bayiku. Belum lahir saja dia berhasil menyempurnakan kebahagiaan keluarga ini. Apa lagi setelah ia lahir, mungkin ia akan menjadi sumber keberuntungan keluarga Digantara. Pikirnya sambil terus tersenyum sepajang jalan. Membuat para karyawan yang melihat itu merasa heran. Termasuk lelaki yang saat ini berjalan di samping Alex. Joshua merasa ada yang aneh dengan bosnya hari ini.
"Bos, apa hari ini kita mendapatkan tender besar?" Tanya Joshua penasaran.
"Bukan hanya tender besar, Josh. Kita mendapatkan lebih besar dari itu." Jawab Alex yang semakin membuat Joshua bingung. Namun ia tak ambil pusing dan menjalani semuanya sesuai alur cerita.
***
"Mas...." Sweet memekik kaget saat tiba-tiba Alex memeluknya dari belakang. Padahal dirinya baru saja selesai mandi dan hendak berganti pakaian. Bahkan saat ini Sweet masih mengenakan handuk. Sweet juga tak menyadari kepulangan suaminya.
"Coba tebak, kabar bahagia apa yang aku bawa?" Tanya Alex seraya memutar tubuh mungil istrinya. Kini ia bisa menatap wajah cantik itu degan jelas. Sweet yang masih bingung pun menatap Alex penuh tanya.
"Kabar apa sih, Mas? Dapat tender miliyaran? Ah, atau Mala setuju menikah sama Kak Bian?" Tanya Sweet begitu antusias.
"Bukan," jawab Alex membuat Sweet semakin bingung.
"Terus apa, Mas? Jangan buat aku penasaran," protes Sweet seraya mengerucutkan bibirnya.
Alex yang melihat itu tersenyum geli. "Saham perusahaan sudah kembali ke tangan kita." Jawab Alex yang berhasil membuat Sweet kaget bercampur senang.
"Serius, Mas? Kenapa bisa secepat ini?" Tanya Sweet masih tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ini berkat bantuan Gerald, dia membantuku merebut saham itu kembali."
"Gerald? Dia melakukan itu dengan cuma-cuma?" Tanya Sweet merasa curiga.
"Tentu tidak, kita harus membayar mahal untuknya. Tapi dia tak meminta itu sekarang, aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku." Jawab Alex seadanya.
"Aku harap dia tak meminta hal yang aneh." Ucap Sweet melingkarkan kedua tanganya di pinggang Alex.
"Aku rasa rezeki ini datang berkat kehadirannya," sahut Alex menyentuh perut istrinya. Sweet tersenyum mendengarnya.
"Itu artinya dia pembawa keberuntungan," balas Sweet.
Alex sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajahnya dengan perut Sweet. "Daddy mencintaimu." Alex pun memberikan banyak kecupan di perut istrinya.
Sweet yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala suaminya.
Alex kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatap Sweet begitu dalam. "Aku juga mencintaimu, Sayang." Sweet sangat terkejut saat Alex mengecup bibirnya dengan tiba-tiba.
"Mas." Protes Sweet.
"Kita akan pergi mencari hidangan yang kau inginkan itu... aku lupa namanya."
"Ah itu dia maksudku. Bawa anak-anak sekalian, sepertinya mereka juga butuh udara segar."
Sweet pun mengangguk antusias. Lalu Sweet kembali memekik kaget saat Alex mengangkat tubuhnya ala bridal style. "Mas, mau ngapain?"
"Olah raga dulu sebelum pergi." Kata Alex tanpa rasa malu. Berbeda dengan Sweet, wajahnya memerah sempurna.
"Aku baru selesai mandi, Mas." Protes Sweet saat Alex menidurkannya di atas kasur.
"Kita bisa mandi ulang, Sayang. Masih ada waktu dua jam." Bisik Alex membuat Sweet semakin malu. Kemudian keduanya pun terhanyut dalam kemesraan. Jujur, Sweet sangat merindukan suaminya. Perasaan itu begitu menggebu-gebu. Mungkin hormon kehamilan membuatnya ingin terus berdekatan dengan sang suami.
***
Sweet terlihat bahagia saat melihat anak-anaknya makan begitu lahap.
__ADS_1
"Mommy, kenapa makanan ini sangat enak?" Tanya Alexa yang notabenya tak pernah makan rendang.
Saat ini mereka berada di sebuah restoran khusus menyediakan hidangan ala Indonesia. Tentu saja pemiliknya juga asli Indonesia yang sudah lama menetap di Jerman. Tempat ini juga yang sering Sweet datangi saat merindukan makanan Indonesia. Sejak SHS, hampir setiap minggu ia datang ke tempat ini.
"Makanan ini namanya rendang, makanan khas Padang." Jawab Arez dengan ekspresinya yang khas. Alex dan Sweet yang mendengar itu tersenyum lebar. Mereka tak meragukan lagi kecerdasan putranya itu.
"Padang? Apa itu nama negara?" Tanya Arel dengan polosnya.
"Padang itu ibu kota Sumatera Barat, salah satu provinsi di Indonesia." Sahut Arez lagi. Arel yang mendengar itu mengangguk pelan. Sedangakan Alex dan Sweet hanya melempar senyuman.
"Daddy, apa kita bisa ke Padang? Lexa ingin makan banyak rendang di sana." Kata Alexa sambil menyuapi potongan daging rendang ke dalam mulutnya.
"Boleh, lain waktu kita liburan ke sana." Sahut Alex yang berhasil menyenangkan hati putri kecilnya.
"Kenapa tidak sekalian ke Aceh? Katanya di sana pernah terjadi tsunami. Aku ingin mengunjungi museum itu." Ujar Arez menimpali.
"Coming soon, kita akan berkunjung ke sana. Tapi tidak untuk saat ini, karena Mommy kalian tidak bisa bepergian jauh. Mungkin tahun depan, sebagai hadiah ulang tahu kalian. Bagaimana?"
Ketiga kurcaci itu pun mengangguk bersamaan. Mereka terlihat bahagia dan kembali menikmati makanan terenak nomor satu di dunia itu dengan lahap.
Sweet menggenggam erat tangan suaminya. Lalu memberikan senyuman manis pada suaminya. "Aku mencintaimu, Mas. Sungguh." Kata Sweet dengan tulus.
"Kau pikir aku tidak mencintaimu, huh? Setelah semua yang kau berikan padaku, termasuk tiga kurcaci itu dan...." Alex menjeda ucapannya sambil melirik ketiga anaknya. Lalu kembali menatap istrinya, bahkan tanganya bergerak untuk menyentuh perut Sweet.
"Si pembawa keberuntungan." Lanjutnya sambil tersenyum bahagia.
Sweet mengangguk kuat. "Terima kasih, sudah menghadirkan cinta yang begitu banyak." Ucapnya lagi.
"Berhenti menggodaku, Sayang. Ini tempat umum."
Seketika senyuman Sweet pudar. "Aku tidak menggodamu, Mas."
"Kau terus mengucapkan kata-kata cinta padaku, bukankah itu artinya kau mengajak bercinta?" Bisik Alex yang berhasil membuat Sweet terbelalak.
"Mas, kenapa pikiranmu selalu saja mesum? Apa orang tua sepertimu memang selalu berpikiran ke sana huh?" Tanya Sweet merasa heran.
__ADS_1
"Karena kau istriku, Sayang." Jawab Alex memalingkan wajahnya dari Sweet. Lalu kembali fokus pada anak-anaknya.
Sweet menarik bibirnya menjadi lengkungan sabit. Ucapan Alex berhasil menggelitik hatinya. Lelaki itu begitu mahir dalam menyenangkan hatinya. Sweet berharap kebahagiaan ini akan terus berlanjut sampai anak cucunya kelak.