Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (43)


__ADS_3

Sheena terlihat duduk di atas kloset, lalu menggigit bibirnya saat melihat tanda positif pada benda pipih ditanganya. Itu artinya dia benar-benar hamil, anak Dustin. Dan itu membuatnya gelisah. Sejak mendengar pengakuan Dustin soal perasaanya terhadap Violet beberapa hari lalu. Hubungan keduanya sedikit renggang. Bahkan Dustin juga terus menghindarinya. Padahal hanya menghitung hari mereka akan bertunangan.


Sheena memijat keningnya yang terasa pusing. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumamnya.


Cukup lama ia berada di kamar mandi hanya karena memikirkan masalah kehamilannya yang sangat mengejutkan itu. Padahal mereka hanya melakukannya sekali, dan itu pun terjadi karena Dustin mabuk kala itu. Sheena mendadak takut jika Dustin tak akan mempercayainya. Ditambah ia tahu hati lelaki itu bukan untuknya. Sheena benar-benar takut.


"Apa reaksimu setelah tahu hal ini, Dustin?" Sheena menghela napas berat. "Bahkan kau seolah enggan hanya menatapku."


Tanpa sadar air mata Sheena pun luruh. Ia menangis dalam kesendirian. "Seharusnya sejak awal aku tidak terlibat hubungan apa pun denganmu, aku terlalu percaya diri. Padahal posisi kita saja terlalu jauh. Kau tak mungkin bisa aku gapai, Dustin. Tapi aku sudah terlanjur mencintaimu. Itu karena kau memberikan perhatian yang tak seharusnya kau berikan." Tubuhnya bergetar karena tangisan. Dadanya sesak, begitu pun dengan hatinya yang terasa perih.


Puas menangis, Sheena pun membuang benda itu ke tong sampah. Setelah itu ia pun beranjak keluar dengan wajah sembab. Dia juga memutuskan untuk menyembunyikan kehamilannya untuk sementara waktu.


Ketika keluar dari kamar mandi, Sheena kaget karena ternyata Dustin ada di kamarnya. Lelaki itu duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk.


Perlahan Sheena pun mendekat. "Dustin?"


Dustin mengangkat kepalanya, ditatapnya Sheena begitu dalam. "Ayo kita putus."


Deg!


Jantung Sheena berdegup kencang. Apa dia tidak salah dengar? Dustin memutuskan hubungan? Tubuhnya membeku seketika.


"Sheena, aku tidak bisa melupakannya. Aku sangat mencintainya." Lirih Dustin. "Ayo kita putus, aku akan mengembalikanmu ke Berlin."


Tubuh Sheena pun mendadak lemas.


"Sheena!" Panggil Dustin yang berhasil membuat wanita itu terkesiap. Bahkan Sheena tidak sadar kapan Dustin bergerak dan tiba-tiba sudah ada di hadapannya.


"Hey, are you okay?" Tanya Duatin panik. Bahkan tangan besar dan hangat miliknya sudah mendarat di pipi Sheena. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali.


Apa ini? Jadi tadi itu hanya bayanganku saja? Batin Sheena bingung.


"Ada apa huh? Kau sakit? Wajahmu sangat pucat, sayang." Dustin membingkai wajah kekasihnya dengan lembut. Sontak Sheena pun langsung menggeleng.


"Dustin, aku...."


"Maafkan aku, Sheena. Aku tidak bermaksud menghindarimu." Potong Dustin yang langsung menarik Sheena dalam dekapannya. "Aku minta maaf."


Sheena yang terlalu merindukannya pun membalas pelukan itu.


"Aku tahu, tak pantas rasanya aku mendapat maaf darimu, Sheena. Tapi aku...."

__ADS_1


"Aku memaafkanmu, Dustin." Sanggah Sheena menarik diri dari dekapan Dustin. Kemudian ia pun mendongak, lalu tersenyum. "Kau tidak salah sama sekali."


Dustin menatap wajah cantik itu dengan tatapan sendu. Tangannya kembali tergerak untuk menyentuh pipi mulus kekasihnya. "Mungkin aku terkesan egois untukmu, Sheena. Jangan pernah pergi dariku."


Sheena tersenyum seraya mengusap punggung tangan Dustin yang masih menempel dipipinya. "Aku tidak akan pergi, kecuali kau yang memintanya, Dustin."


Mendengar ketulusan itu Dustin kembali menarik Sheena dalam dekapannya. "Maaf karena sudah membuatmu menangis."


Sheena kaget jika Dustin tahu dirinya habis menangis. Ah, dia melupakan wajah sembabnya. Ia pikir Dustin tidak akan datang seperti ini. "Aku menangis karena takut dengan sikapmu, Dustin. Kau terus menghindariku beberapa hari ini." Alibinya.


"Maaf soal itu. Aku menghindarimu karena aku merasa bersalah sudah menyakiti hatimu. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padamu, Sheena." Jelas Dustin apa adanya.


"Bersikaplah seperti biasanya, Dustin. Anggap saja aku tidak tahu apa-apa."


"Bagaimana bisa aku masih bersikap seperti biasanya? Bahkan aku sudah menyakiti hatimu, seharusnya aku tidak perlu jujur padamu. Lebih baik aku menyembunyikannya dari pada menyakitimu seperti ini." Terdengar jelas penyesalan disetiap katanya. Sheena tersenyum mendengar itu dan mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak menyalahkanmu soal perasaanmu, Dustin. Kau juga bebas menentukan pilihan."


Mendengar itu Dustin melerai pelukannya. "Apa yang kau bicarakan huh?"


Sheena mendongak. "Aku tidak apa jika kau ingin kembali pada Violet. Bukankah kita tak bisa memaksa hati seseorang?"


Dustin menggeleng. "Sudah aku katakan bukan? Kami sudah memutuskan untuk jalan di jalur masing-masing."


"Siapa bilang aku tidak menyukaimu huh?" Dustin menoel gemas hidung gadis itu.


Sheena memasang wajah bingung. "Bagaimana bisa kau menyukaiku di saat hatimu milik orang lain, Dustin?"


Dustin tersenyum geli. "Apa kau tidak pernah mendengar kata-kata ini? Seorang pria bahkan bisa mencintai dua wanita sekaligus."


Mendengar itu mata Sheena pun terbelalak. "Dustin! Itu artinya kau sangat brengsek!"


Dustin tertawa lucu. "Apa boleh buat? Kau terlalu manis untuk tidak kusukai."


Sheena memukul dada lelaki itu karena kesal. "Meyebalkan."


Dustin pun semakin tergelak, kemudian kembali menarik gadisnya itu ke dalam pelukan. "Ah, aku sangat merindukanmu. Beberapa hari tidak memelukmu seperti ini rasanya ada yang hilang."


Sheena tersenyum. "Salahmu sendiri karena terus menghindariku."


"Ya, ini memang salahku."

__ADS_1


Sheena terdiam beberapa saat, kemudian ia kembali ingat akan kehamilannya. Apa dia terus terang saja sekarang? Tapi bagaimana jika Dustin tidak menginginkan anak itu? Sheena pun dilema.


"Dustin."


"Ya?" Sahut Dustin masih setia memeluk Sheena dengan erat.


"Apa kau suka anak-anak?"


"Kenapa tiba-tiba bertanya soal anak-anak? Kau rindu anak-anak di panti huh?" Tanya Dustin tanpa rasa curiga sedikit pun.


Ah, sudah Sheena duga Dustin tidak akan peka. Bagaimana pun tidak akan ada yang menyangka jika dirinya akan hamil hanya karena kesalahan satu malam. Karena itu Sheena pun memutuskan untuk menyembunyikan kehamilannya untuk sementara waktu. Mungkin akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya.


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


"Kau sangat aneh, sayang." Lalu keduanya pun terus berpelukan dalam waktu yang cukup lama.


****


Alexa terus memperhatikan Sheena ketika mereka sibuk menata piring di meja makan. "Sheena, Mommy perhatikan kamu agak gemukan ya?"


Sontak Sheena pun langsung menoleh mendengar pertanyaan itu. Bahkan ia mendadak gugup. "Ah, masak sih, Mom?"


"Ya, beberapa bagian tubuhmu ada yang berubah." Sahut Alexa menatap Sheena curiga. Sebagai wanita yang pernah hamil, tentu saja merasa curiga atas perubahan tubuh Sheena. "Kau tidak menyembunyikan apa pun dari kami kan?"


Sheena pun langsung menggeleng. "Mungkin karena akhir-akhir ini aku terlalu banyak makan, Mom. Makanya aku gemukan."


Alexa pun mengangguk, tetapi jawaban Sheena tak mengurangi kecurigaannya sama sekali. "Perunahan nafsu makan juga ada sebabnya loh. Sabaiknya kamu periksa diri ke dokter. Mungkin...."


"Mom, di mana kemaja baruku?" Ucapan Alexa pun harus terpotong karena Mike yang tiba-tiba muncul dan menanyakan kemejanya. Alexa menatap putranya tajam.


Sheena bernapas lega karena kehadiran Mike menyelamatkannya dari kecurigaan Alexa.


"Kau itu kebiasaan, Mike. Cari yang benar, lihat di dalam lemari sebelah kanan. Sehari saja tidak mengganggu Mommymu sepertinya kau tidak bisa ya?" Omel Alexa yang kesal dengan anaknya yang satu itu.


Mike yang tak merasa bersalah pun tersenyum begitu manis. "Aku sudah mencarinya, tapi tidak ada."


"Sudah sana, jangan mengganggu kami para ladies."


Mike memutar bola matanya jengah, kemudian ia pun berlalu dari sana.


"Dasar, setiap hari selalu saja begitu. Hari ini kemeja, besok entah apa lagi. Anak itu memang tidak pernah berubah." Rutuk Alexa. Sheena yang mendengar itu cuma bisa tersenyum. Dan sepertinya Alexa melupakan pembicaraan sebelumnya. Lalu keduanya pun sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Sheena benar-benar lega akan hal itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2