Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 65


__ADS_3

Alexella menarik selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Ia juga menggeliat kecil untuk merenggangkan tubuhnya yang kaku. Manik coklat itu terbuka dan yang pertama kali ia lihat adalah dinding kaca yang langsung memperlihatkan hamparan laut biru. Benar, saat ini mereka berada di sebuah kabin kapal pesiar untuk melakukan honeymoon seperti yang Jarvis janjikan.


"Morning, Baby." Sapa Jarvis seraya merengkuh perut rata sang istri dari balik selimut. "Kau lapar?"


"Sedikit." Sahut Alexella dengan pandangan yang masih tertuju pada laut biru. "Ini sangat indah."


"Hm. Kau memang indah, Baby. Apa lagi saat kau menggeliat dibawahku seperti malam tadi." Goda Jarvis yang sama sekali tak nyambung.


"Ck, aku sedang membahas pemandangan di luar, Jarvis."


"Dan aku sedang membahas pemandangan di depan mataku." Lelaki itu membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


"Apa aku boleh berenang?" Tanya Alexella dengan polos.


"Jika kau ingin mati membeku." Sahut Jarvis yang kemudian memberikan gigitan kecil di leher jenjang sang istri.


"Cukup, kita sudah melakukannya semalaman penuh." Alexella segera bangun dari tidurnya.


"Aku masih merindukanmu, dua minggu lebih aku tak bertemu milikmu."


"Kau sangat mesum." Kesal Alexella menyambar jubah tidurnya sebelum turun dari ranjang. Kemudian melangkah pasti menuju kamar mandi.


"Tunggu aku, Baby." Jarvis pun ikut bangkit dan menyusul sang istri ke kamar mandi.


Setengah jam berlalu. Kini keduanya sudah terlihat rapi dan melangkah pasti menuju open seating yang dipenuhi pengunjung. Lalu mereka pun duduk di salah satu meja yang hanya bisa menampung dua orang.


"Kau bilang menyewa kapal ini, tapi di sini masih ramai."


"Sengaja, supaya kau tidak bosan karena hanya ada kita di sini."


Alexella pun mengangguk-angguk tanda mengerti, lalu matanya mengedar kesetiap penjuru restoran.


"Kau ingin makan apa, Baby?" Tanya Jarvis saat seorang waiter memberikan sebuah buku menu.


"Aku ingin makan sesuatu yang bisa mengeyangkan perutku." Jawab Alexella sekenanya. Karena ia benar-benar sangat lapar karena sejak malam tadi ia tak menyentuh makanan.


"Aku pesan menu ini dua." Pinta Jarvis menunjuk sebuah menu di dalam buku. "Dan dua jus jeruk. Ah, aku juga ingin sebotol wisky."


"Tidak, jus saja. Itu sudah cukup." Sanggah Alexella. "Kau harus berhenti minum, Jarvis. Perhatikan kesehatanmu."


Jarvis tersenyum lebar. Kemudian sedikit melambaikan tangannya meminta pelayan itu pergi. "Aku akan patuh padamu, Sayang."


"Baguslah." Sahut Alexella menatap suaminya malas. Sedangkan yang ditatapan malah memberikan tatapan memuja padanya.


"Kau sangat cantik, Xella. Apa lagi saat kau cemberut seperti itu. Rasanya aku ingin terus melahap bibirmu."


"Berhenti memikirkan hal mesum." Pinta Alexella merasa jengah dengan kemesuman suaminya. Meski sejujurnya ia selalu menyukai sentuhan lelaki itu.

__ADS_1


"Tapi kau begitu menikmatinya malam tadi, aku suka saat kau menggigit bibirmu. Itu sangat seksi." Goda Jarvis.


"Berhenti mengoceh, Jarvis." Kesal Alexella. Bukannya diam, Jarvis malah tertawa riang.


"Kau sangat menggemaskan. Wanita lain akan tersipu malu saat aku goda, dan istriku ini malah kesal. Kau unik, sayang."


"Karena aku bukan mereka."


"Kau benar, karena itu aku memilihmu."


"Terserah."


Tidak lama pesanan mereka pun sampai. Alexella terlihat begitu lahap menyantap hidangan, mencipatkan sebuah senyuman di bibir Jarvis. Lelaki itu menggerakkan tangannya untuk menyapu kotoran di ujung bibir sang istri.


"Kau seperti anak kecil."


"Aku memang masih kecil, usiaku masih delapan belas." Sahut Alexella kembali melahap sarapannya. Sebenarnya sudah tidak cocok dikatakan sarapan karena waktu sudah menunjukkan siang hari.


Jarvis begitu takjub melihat cara makan istrinya. "Punyaku masih ada, kau ingin menghabiskannya?"


Alexella tampak berpikir sejenak. "Jika kau tidak keberatan."


"Tentu saja tidak, makanlah. Aku tidak suka kau sekurus ini." Jarvis meletakkan piringnya di depan sang istri.


"Apa aku terlihat rakus? Tapi ini salahmu, semalam aku tidak makan. Jadi aku sangat lapar."


Alexella menghentikan sarapannya saat mendengar itu. Menatap sang suami begitu dalam. "Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu, Jarvis."


"Apa itu?"


Alexella meletakkan sendok dan garpunya di atas piring. Lalu menghela napas berat. Jarvis yang melihat itu tampak bingung. Namun ia begitu sabar menunggu istrinya bicara.


"Sebenarnya... sebanarnya aku... aku mencintaimu sejak lama, Jarvis. Aku selalu mengikuti kemana kau pergi. Mengancam beberapa wanita yang pernah kau temui. Aku mencintaimu." Ungkap Alexella dengan pipi yang merona. Sedangkan Jarvis yang sudah tahu itu hanya tersenyum simpul.


"Benarkah? Aku tidak percaya kau begitu mencintaiku." Kata Jarvis ingin mengerjai sang istri.


"Aku bersunggung-sungguh." Jawab Alexella menatap suaminya penuh keyakinan.


"Kalau begitu melompatlah ke dasar laut."


"Apa?" Alexella tampak kaget mendengar perintah suaminya itu. Melompat ke dasar laut dengan suhu sedingin ini? Apa lelaki itu bercanda?


"Kau mencintaikukan? Kalau begitu melompatlah." Ulang Jarvis menahan sebuah senyuman.


"Jarvis, aku...."


"Kau ragu, itu artinya cintamu palsu." Sela Jarvis tersenyum miring.

__ADS_1


"Apa kau akan percaya jika aku melompat ke sana?" Tanyanya Alexella seraya menatap lautan lepas. Apa ia harus melompat ke sana untuk membuktikannya? Lalu bagaimana jika ia mati membeku di sana?


"Tentu." Jarvis tersenyum tipis dengan kedua tangan terlipat di dada. Menunggu reaksi dari wanita itu. Namun wanita itu masih bergeming.


"Aku ke sana sebentar." Jarvis bangun dari duduknya menuju meja betender. Ia tak bisa menahan untuk tidak meminum minuman kesukaannya. Ia harus meneguknya walau hanya sedikit.


Alexella terlalu fokus memandang ke luar sana sampai tak menyadari suaminya pergi. Wanita itu ikut bangun dari sana dan melangkah pasti menuju balkon berukuran besar itu. Langkahnya semakin cepat saat dirinya berada di dekat pagar besi yang membatasi tubuhnya dengan laut lepas.


Kalau begitu melompatlah ke dasar laut.


Kau mencintaikukan? Kalau begitu melompatlah.


Kau ragu, itu artinya cintamu palsu.


Perkataan suaminya itu terus terngiang. Apa kau begitu tak percaya padaku, Jarvis? Akan aku buktikan jika aku sangat mencintaimu. Bahkan aku sanggup melompat ke dasar laut sekalipun. Aku mencintaimu.


Alexella menaikkan sebelah kakinya ke pagar besi, yang diiuki oleh kaki yang lainnya. Dan beberapa detik kemudian....


Byur!


Beberapa orang berteriak histeris saat melihat Alexella melompat bebas ke dasar laut dengan suhu minus tentunya. Seketika kapal itu mendadak riuh. Dan itu berhasil menarik perhatian Jarvis. Ia kembali ke mejanya dan tak menemukan sang istri. Sontak pikiran buruk pun mulai menyelimutinya.


"Sial!" Umpatnya yang kemudian berlari ke balkon. Dan tanpa berpikir panjang lagi ia ikut melompat ke dasar laut. Dengan perasaan cemas ia mencari keberadaan Alexella.


Dasar wanita bodoh. Aku akan menghukummu setelah ini.


Selang beberapa detik Jarvis mencul kepermukaan bersama Alexella yang sudah tidak sadarkan diri. Lalu beberapa penyelamat pun datang dan membantu Jarvis naik.


"Sayang." Jarvis menepuk pipi istrinya. Wanita itu terlihat pucat pasi.


"Aku butuh dokter, segera ke kamarku." Pinta Jarvis membawa istrinya ke kamar.


"Aku tidak pernah menyangka kau sebodoh ini, Xella. Aku hanya bercanda dan kau menanggapinya dengan serius?"


Jarvis terus mengomel sembari membuka pakaian Alexella dan menggantinya dengan pakaian yang kering dan hangat. Dan tidak lama seorang dokter wanita pun muncul.


"Periksa kondisinya segera." Titah Jarvis dengan ekspresi cemas yang kentara.


Dokter itu pun langsung memeriksa kondisi Alexella. Dan Jarvis hanya bisa menonton dengan perasaan yang berkecamuk. Jika terjadi sesuatu pada istrinya, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Bodoh memang, tidak seharusnya ia bercanda kelewatan seperti itu.


"Dia hanya syok dan sepertinya mengalami kram karena itu ia banyak meminum air laut. Suhu dingin mungkin akan membuatnya demam. Tolong berikan obat ini jika demamnya tinggi." Dokter itu memberikan sebotol obat pereda demam pada Jarvis.


"Thank you, kau boleh pergi." Dokter itu pun bergegas pergi dari sana.


Jarvis mengganti pakaiannya lebih dulu sebelum duduk di sebelah sang istri. Menggenggam tangan wanita itu dengan penuh kehangatan. "Hey wanita bodoh, bagunlah. Kau membuatku takut setengah mati."


Jarvis ikut berbaring, merengkuh tubuh langsing itu ke dalam dekapannya. Ia tahu Alexella membutuhkan kehangatan. "Aku tidak tahu kenapa bisa aku mencintai wanita bodoh sepertimu. Aku akan mengajarimu agar lebih pintar setelah ini."

__ADS_1


__ADS_2