Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (92)


__ADS_3

Tanpa permisi Violet dan Dustin masuk ke kamar Marvel. Violet sangat senang saat tahu Marvel sudah menikahi sahabatnya. Karena itu ia langsung datang dan memeluk hangat Emilia. "Selamat ya, Em. Sekarang kau resmi menjadi keluargaku."


Emilia membalas pelukan itu tak kalah hangat meski sebenarnya kaget karena kedatangan mereka yang dadakan.


"Ah, senang rasanya kau menjadi Kakak iparku. Keinginanku akhirnya terkabul." Imbuh Violet semakin mengeratkan pelukannya.


Dustin mengabaikan mereka dan memilih duduk di sofa bersama Marvel yang tengah fokus dengan macbooknya.


"Terima kasih karena tak membenciku, Vio." Ucap Emilia.


Violet menarik diri, lalu mengulum senyuman manis. "Sampai kapan pun aku tak akan membencimu, Em."


Emilia ikut tersenyum.


"Bagaimana si es balok itu, apa dia juga masih bersikap dingin saat di atas ranjang?" Bisik Violet yang berhasil membuat wajah Emilia merah padam.


Melihat itu Violet pun terkekeh lucu, karena tanpa jawaban pun ia sudah tahu jawabannya hanya melihat dari wajah Emilia saat ini. Spontan Marvel pun menoleh. Lelaki itu merasa heran karena istrinya tersenyum malu dengan wajah merona.


Dustin berdeham kecil. "Jadi sekarang kau sudah memutuskan untuk menjatuhkan hati padanya?" Tanyanya dengan seringaian kecil.


Marvel mendengus kecil seraya mengalihkan pandangan dari istrinya. Lalu menatap Dustin malas. "Dia Ibu dari anakku."


"Alasan klasik. Bagaimana jika di luar sana masih ada wanita yang melahirkan anakmu? Kau akan menikahi wanita itu juga?" Ledek Dustin. "Negara kita melarang poligami. Kecuali kau diam-diam menikah lagi."


Marvel tak terlalu menanggapinya. Karena apa yang dikatakan Dustin hanya bualan. Dirinya sadar yang ia tiduri hanya dua wanita, Rose dan Emilia. Dan Rose sudah mati, itu artinya hanya ada Emilia. Tidak ada wanita lain.


Dustin menghela napas. "Bagaimana dengan pesta pernikahan?" Tanyanya kemudian.


Marvel terdiam beberapa saat. "Aku rasa itu tidak perlu." Ditatapnya sang istri yang tengah bercengrama ria dengan Violet. "Dia tak menginginkan itu, aku akan melakukkannya jika dia ingin."


Dustin tersenyum geli. "Sejak kapan kau menyukainya?"


Marvel menatapnya tajam karena tak terima dengan pertanyaan barusan. Sepertinya ia masih belum menyadari perasaannya sendiri. Atau mungkin terlalu gengsi untuk menyatakan perasaannya itu.


Dustin mengangguk. "Kau belum menyadarinya ternyata." Gumamnya sangat kecil sampai Marvel tak dapat mendengarnya.


"Marvel." Panggil Violet. Spontan Marvel pun menoleh. "Benar kalian tidak akan melangsungkan resepsi?"


Marvel menatap istrinya, begitu pun sebaliknya. "Terserah dia."


Violet pun kembali menatap sahabatnya. "Kau dengar, dia mengatakan terserah padamu, Em. Ayolah, pernikahan itu sekali seumur hidup. Minta saja pernikahan mewah padanya. Dia pasti akan menuruti keinginanmu. Uangnya tak akan habis meski kalian menggelar acara tujuh hari tujuh malam."


Emilia mendengus kecil. "Aku rasa itu tidak perlu, begini saja sudah cukup."

__ADS_1


Violet menghela napas kecewa. "Yah, padahal aku ingin sekali melihatmu memakai gaun pengantin. Lalu Noah yang akan menjadi pengiringmu. Ya ampun, pasti sangat menggemaskan." Bumil itu pun sudah membayangkan semuanya.


Namun tidak untuk Emilia, ia benar-benar tak menginginkan pernikahan seperti itu. Ia hanya ingin pernikahan sederhana dan tak banyak melibatkan banyak orang. Itu sudah cukup untuknya. Hanya saja ia tak berani mengatakan keinginannya itu pada sang suami. Ia sangat sadar diri, teramat sadar diri malah. Sudah dinikahi saja ia sangat bersyukur.


Violet kembali menatap Marvel. "Hei, coba kau bujuk istrimu. Dia tidak ingin melangsungkan pernikahan mewah. Atau kita buat sederhana saja? Hanya keluarga kita yang menyaksikan, bagaimana?"


Emilia terkejut, ia tidak tahu kenapa Violet bisa tahu isi kepalanya saat ini. Ditatapnya sang suami untuk menunggu jawaban.


"Terserah." Sahut Marvel tanpa mengalihkan perhatiannya dari macbook. Spontan Violet pun tersenyum senang dan kembali menatap Emilia.


"Lihat, dia sudah setuju. Kau mau kan mengadakan pernikahan sederhana? Aku tahu kau malu dilihat banyak orang. Tapi setidaknya adakan pesta pernikahan kecil-kecilan. Acaranya akan aku pastikan tertutup dan hanya ada keluarga yang hadir. Bagaimana?" Tanya Violet begitu antusias dan penuh harap. Ia benar-benar ingin melihat sahabatnya bersanding di pelaminan dengan wedding gown indah.


Emilia mengangguk kecil. Sontak Violet pun memekik kesenangan dan langsung memeluknya lagi. "Dia setuju, Marvel. Kita adakan pesta sederhana."


Marvel menatap istrinya penuh arti, sedangkan yang ditatap tak berani membalas tatapan itu.


Sepeninggalan Violet dan Dustin, Marvel menyudutkan Emilia didinding. Mengukungnya dengan tatapan tajam. Tentu saja Emilia ketakutan karena merasa terintimidasi.


"Kenapa kau tidak mengatakan padaku ingin pernikahan sederhana hem? Apa kau pikir aku tidak bisa mengabulkan itu untukmu?" Geram Marvel. Harga dirinya benar-benar jatuh saat Violet yang menentukan soal pernikahannya.


Emilia menundukkan pandangan, ia tak berani menatap suaminya secara langsung. Tentu saja Marvel semakin murka.


"Tatap aku, Emilia." Tegasnya. Refleks Emilia pun menatapnya meski takut-takut. "Katakan padaku, kenapa harus Violet yang mengatakan itu padaku?"


Marvel mendesis pelan saat mendengar jawaban istrinya. Memang benar apa yang dikatakan Emilia, salahnya karena tak pernah bertanya soal keinginan istrinya tentang pernikahan.


Tangan Marvel bergerak menarik tengkuk Emilia, lalu menempelkan bibirnya dengan bibir lembut sang istri. Menyesapnya dalam-dalam. Dan itu hanya berlangsung beberapa detik.


"Mulai sekarang, katakan apa pun yang kau mau padaku. Hanya padaku, Emilia. Aku bisa memberikan apa pun yang kau mau."


"Termasuk cintamu?" Sahut Emilia dalam hati. Tentu saja ia tak berani mengatakan hal itu terang-terangan karena menurutnya sangat keterlaluan jika dikatakan.


Marvel kembali menyesap bibirnya, Emilia tak berani menolak. Dan terlihat begitu pasrah. Marvel yang merasakan itu pun semakin memperdalam ciumannya. Perlahan tangan Emilia bergerak untuk menyentuh dada bidang suaminya, bahkan matanya ikut terpejam seiring dengan semakin panasnya ciuman itu.


Perlahan ciuman itu mengendur dan akhirnya terlepas. Emilia menarik napas panjang dengan dada naik turun. Lalu pandangan keduanya pun bertemu saat Emilia membuka mata.


"Apa yang kau sukai dariku?" Tanya Marvel tiba-tiba.


"Hah?" Emilia menatapnya bingung. Wajah polosnya itu membuat Marvel tak tahan dan ingin menerkamnya sekarang juga. Hanya saja ia tak ingin melakukan itu untuk sekarang. Masih ingin menggaggu istrinya yang polos itu.


"Aku tanya padamu, apa yang kau sukai dariku? Aku tahu kau menyukaiku."


Tanpa sadar Emilia mendengus sebal karena merasa Marvel sangat narsis. Tentu saja Marvel merasa kesal. "Kau meledekku?"

__ADS_1


Emilia yang tersadar pun langsung menggeleng. "Sama sekali tidak. Aku... aku menyukaimu karena kau tampan."


"Hanya karena itu?" Emilia mengangguk kecil. "Aku ingin jawaban selain itu."


Emilia menatapnya bingung. "Tidak ada lagi."


Marvel memberikan tatapan tajam, membuat Emilia semakin tersudut. "Oke, aku jawab. Karena kau berbeda dari pria lain. Kau sulit ditebak dan sikap dinginmu membuatku tertarik," jawabnya secepat kilat.


Marvel tersenyum puas. "Sejak kapan kau tertarik padaku?"


Emilia menghela napas berat. "Sejak pertama kali bertemu denganmu."


"Di mana?"



"Di kampus, kau tidak akan mengingatku. Saat itu aku selalu bersama Violet, tapi kau tak pernah melirikku." Jawab Emilia lagi terselip nada kesal di sana.


Marvel tersenyum tipis. "Itu karena kau terlalu kecil, sampai aku tak melirikmu."


"Karena kau mencintai wanita lain, itu jawaban yang benar." Ralat Emilia mendadak kesal.


Marvel tersenyum miring. "Jadi kau cemburu sekarang?"


"Tidak." Sahut Emilia cepat-cepat seraya memalingkan wajahnya. Sayangnya Marvel kembali menariknya.


"Tatap aku." Perintahnya. Emilia pun menatapnya dengan malas. "Katakan kau mencintaiku."


Emilia mendelik. "Aku tidak mau."


"Katakan alasannya."


Emilia menggeram kesal, ingin sekali rasanya ia mencakar wajah tanpa dosa lelaki di depannya itu. "Karena aku hanya mencintai Noah."


Sial! Marvel kalah telak oleh putranya sendiri. Merasa kesal, Marvel pun mencium kasar bibir Emilia tanpa berniat melepaskannya sebelum Emilia kehabisan napas.


Emilia terus mendorong dadanya saat ia mulai kehabisan napas, tetapi Marvel tak kunjung melepasnya. Sampai Emilia hampir pingsan baru lelaki itu melepaskannya. Tubuh Emilia hampir merosot jika saja Marvel tak menahannya.


Dengan sekali gerakan Marvel menggendongnya lalu berbisik di telinganya. "Itu hukuman jika kau berani berbohong padaku."


Emilia tidak menyahut karena masih syok dan berusaha menormalkan napasnya. Sedangkan Marvel terlihat senang melihat kekalahan istrinya itu.


Marvel melempar tubuh Emilia ke atas kasur, lalu membuka pakaiannya sendiri. Sontak Emilia pun kaget dan beringsut mundur. "A__apa yang ingin kau lakukan?"


"Membuat adik untuk Noah," jawabnya tanpa dosa. Emilia pun semakin terpojok dan menelan air liurnya saat melihat benda pusaka sang suami yang mencuat tinggi seolah siap menggempurnya. Rasa ngilu tadi malam saja rasanya belum hilang. Dan sekarang lelaki itu ingin menghajarnya lagi?

__ADS_1


Apa dia gila?


__ADS_2