
"Dari mana saja, Nyonya Digantara? Sudah selarut ini kau masih berkeliaran." Semprot Alex saat istrinya mamasuki kamar setelah sekian lama menghilang. Ia juga memberikan tatapan curiga pada istrinya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku masih marah." Sahut Sweet memasang wajah datar. Kemudian melenggang pergi menuju kamar mandi. Alex yang melihat itu cuma bisa menghela napas.
Tiga puluh menit kemudian, Sweet keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Kini ia hanya mengenakan bathrobe dengan sehelai handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
Alex yang melihat itu menghampiri istrinya. "Aku bisa membantumu." Tawar Alex yang hendak meraih handuk dari tangan Sweet. Namun wanita itu segara mundur.
"Jangan mencoba membujukku, itu tak akan mempan." Protes Sweet seraya melempar handuk itu pada Alex. Dengan langkah kesal ia beranjak menunju lemari, mengambil jubah tidur dan memakainya dengan cepat.
"Sayang...." panggil Alex seraya melempar handuk itu di atas sofa. Lalu menghampiri Sweet yang saat ini sudah duduk di tepi ranjang. Dan ikut duduk di sana.
"Malam ini jangan coba-coba memelukku." Ancam Sweet langsung berbaring, membenamkan diri dalam selimut. Untuk yang kesekian kalinya Alex menghela napas.
"Baiklah, selamat malam. Aku mencintaimu." Ucap Alex mengecup pucuk kepala Sweet penuh cinta. Kemudian ia beranjak menuju bagian ranjang yang masih kosong. Lalu ikut berbaring membelakangi istrinya.
Sweet sedikit mengintip suaminya dari balik selimut. Sejujurnya ia kecewa saat Alex menerima ancamannya begitu saja. Dasar tidak peka, aku kan pengen di bujuk. Nasib punya suami tua. Kesal Sweet dalam hati. Namun matanya masih setia menatap punggung telanjang suaminya.
Please... berbalik.
Sweet menghela napas gusar, lalu membuka selimutnya setengah. Ingin sekali rasanya ia memeluk lelaki itu. Namun saat ini ia masih dalam mood merajuk. Bagaimana jika Alex menertawkannya? Ahhhh... Sepertinya Sweet akan segera gila karena tak mendapatkan pelukan hangat suaminya malam ini.
It's okay. Hanya malam ini. Ya, hanya malam ini. Sweet berbalik. Kini posisi mereka saling membelakangi. Sweet mencoba memejamkan mata, tetapi tak kunjung tidur. Padahal ini sudah larut malam.
Alex tersenyum geli saat merasakan ranjang yang terus bergerak karena ulah istrinya. Ia tahu betul Sweet tak dapat tidur tanpa pelukannya. Alex memejamkan matanya saat merasakan Sweet kembali bergerak dan mendekat. Sweet ingin memastikan suaminya sudah tidur atau belum. Karena ia benar-benar tak bisa tidur.
"Mas...." panggil Sweet pelan. Namun Alex pura-pura tak dengar.
Katakan, Sayang. Jika kau menginginkan pelukanku.
"Mas... kamu tidak ingin membujukku?"
Ya tuhan, pertanyaan apa itu? Apa Bumil itu benar-benar sudah gila. Apa susahnya mengatakan jika dirinya menginginkan pelukan. Egonya semakin besar saja sejak dirinya dinyatakan hamil.
"Mas," kali ini Sweet sedikit merengek karena tak menjawabkan sahutan sang suami. "Aku tahu kamu belum tidur, katakan sesuatu."
Alex tersenyum tipis, lalu merubah posisinya menjadi terlentang. "Kenapa kamu berisik, Sayang? Aku ngantuk."
Sweet menggigit ujung bibirnya, kemudian memberanikan diri untuk memeluk suaminya. "Anak kita menginginkan pelukan, jadi jangan salah faham." Ujar Sweet mengkambing hitamkan anak dalam kandungannya. Padahal dirinya yang membutuhkan kehangatan sang suami. Sweet membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Dan perlahan memejamkan mata.
Ingin sekali rasanya Alex tertawa kencang. Namun ia tak ingin melakukan itu, karena akan memperburuk suasana. Tangannya juga mulai bergerak untuk membalas pelukan Sweet. Membuat wanita itu semakin merapatkan diri.
"Aku masih marah," oceh Sweet dengan suara yang tenggelam karena kantuk.
"Aku tahu," sahut Alex mengecup pucuk kepala istrinya.
__ADS_1
"Hanya malam ini kamu bisa memelukku," kata Sweet lagi masih belum meyerah. Entah apa yang sebenarnya ia inginkan. Bukankah dirinya yang memeluk Alex lebih dulu?
"Hm."
"Anggap saja ini bonus."
"Hm."
"Mas...."
"Apa, Sayang?"
"Aku ngantuk."
"Kalau begitu tidurlah, jangan bicara lagi."
"Jangan lepaskan pelukannya. Aku akan mogok bicara jika kamu melakukan itu."
Alex menghela napas berat. "Tidur, Sayang."
"Ini juga mau tidur, kamu belum kecup kening."
Tawa Alex pun tertahan, ingin sekali ia mencubit bibir cerwet istrinya. Sangat menggemaskan. Tanpa banyak bicara, Alex pun memberikan kecupan di kening Sweet. Tak lama terdengar suara dengkuran halus, yang menandakan jika istrinya sudah tertidur.
***
Pagi hari, semua orang sudah berkumpul di restoran hotel untuk melakukan sarapan pagi. Di tempat yang sama seperti malam tadi.
"Ekhem." Deham Sweet saat melihat pasangan pengantin baru ikut bergabung.
"Terlambat bangun huh?" Tanya Ara ikut menggoda keduanya.
Mala mendorong kursi roda suaminya untuk bergabung di meja makan. Kemudian ia ikut duduk disebelah Bian.
"Tidak perlu bertanya, kalian semua sudah pernah menjadi pengantin baru. Pasti tahu apa yang dilakukan pengantin di malam pertama mereka." Sahut Bian tanpa rasa malu. Semua orang tersenyum geli mendengarnya.
"Syukurlah, Kak Bian sudah melepas gelar perjakanya. Berapa ronde?" Tanya Sweet begitu frontal.
Bian pun tak berniat menjawab dan menggeleng pelan. Mala melirik Mamanya yang sejak tadi tak bersuara.
"Ekhem. Sebaiknya kita langsung sarapan. Sebentar lagi mobil jemputan akan segera sampai." Perintah Alex merasa canggung dengan pemabahasan yang istrinya bawa. Kemudian semua orang pun tampak patuh dan memulai sarapan pagi dengan hangat.
Jika kalian bertanya di mana keluarga Arnold? Mereka memang tidak bisa hadir karena Nissa tengah sakit dan tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Semua orang memahami itu. Jadi hanya Arlan dan Ara yang bisa menghadiri pernikahan Mala dan Bian. Untuk Ayah kandung Mala. Beliau juga tak dapat hadir karena sering sakit-sakitan. Sebenarnya Bayu ingin sekali menghadiri pernikahan putrinya. Hanya saja Mala melarangnya untuk datang. Karena tak ingin kondisi Papanya itu semakin drop. Lagipula perjalan dari Indonesia ke Jerman bukan perjalanan singkat.
Setelah sarapan usai, mereka segera berkemas untuk pulang karena mobil limousine milik keluarga Digantara sudah berderet di depan pintu utama.
__ADS_1
"Mom, Lexa mau ikut mobil Umi Ara." Rengek Alexa.
"Baiklah, jangan nakal." Ucap Sweet mengecup pipi gembul Alexa. Lalu dengan penuh semangat Alexa berlari ke mobil yang dinaiki Ara dan Arlan.
Sweet tersenyum sambil memastikan putrinya masuk ke dalam mobil. Sebelum ikut masuk ke dalam mobil di mana suami dan dua jagoannya berada. Sweet duduk di sebelah Arez, berhadapan dengan Alex dan Arel. Lelaki penuh wibawa itu tengah sibuk dengan iPadnya.
"Apa tidur kalian nyenyak?" Tanya Sweet pada kedua putranya.
"Ya, Mom. Kamar itu sangat luas, kami puas bermain dan tidur di sana." Sahut Arel begitu semangat.
"Benarkah?"
"Tetap saja kamar sendiri lebih nyaman," sahut Arez dengan nada santai.
"Kamu tidak nyenyak tidur ya?" Sweet merangkul putranya. Lalu memberikan kecupan hangat di pucuk kepala Arez.
"Kau sama sepertiku, Son. Lebih suka di kamar sendiri. Beruntung saja ada Mommy yang menemani Daddy saat ini." Alex ikut menimpali.
Sweet yang mendengar itu memutar matanya jengah. Dan mengabaikan perkataan suaminya.
"Mommy, kenapa membiarkan Lexa bersama orang lain? Bagaimana jika Lexa di culik?" Tanya Arel dengan pemikiran yang cukup jauh.
"Mereka tidak akan berani menculik keluarga kita saat Daddy masih bisa berdiri." Sahut Arez dengan nada tegas. Alex yang mendengar itu tersenyum senang.
"Daddy akan selalu melindungi kalian. Kelak jika kalian sudah dewasa, tanggung jawab itu menjadi urusan kalian sebagai ahli waris Digan't Group." Ujar Alex merangkul Arel dengan penuh kasih sayang.
"Daddy... Arel mau seperti Daddy. Selalu tampil rapi dan tampan."
"Tentu, Son. Ketampanan keluarga Digantara sudah tidak diragukan lagi oleh dunia. Sebagai pewaris utama, kalian harus memperlihatkan pesona itu pada dunia."
"Mommy tidak setuju!" Sangkal Sweet yang berhasil menarik perhatian suami dan anaknya.
"Why?" Tanya Alex bingung.
"Kalian boleh saja menunjukkan pesona itu di depan dunia. Tapi jangan sampai masuk dalam dunia gelap. Berjalanlah di jalan yang benar. Dan satu lagi, jangan mencoba mempermainkan wanita. Itu sama saja kalian mempermainkan Mommy dan Alexa."
"Ya, Mom." Sahut Arez dan Arel kompak. Meski sebenarnya mereka tak terlalu memahami bahas Sweet yang terlalu tinggi.
"Tenang saja, aku akan mengajari mereka bagaimana menjalani kehidupan berbisnis." Ujar Alex menatap Sweet begitu dalam. "Lebih tepatnya aku tidak akan mengajarkan mereka menjadi pemarah dan gampak merajuk sepertimu."
Sweet menajamkan tatapannya pada Alex. "Huh... Apa Anda lupa? Dulu Anda juga pemarah dan tak berperasaan."
"Semua orang punya masa lalu, Sayang. Termasuk dirimu, dulu sikapmu sangat dingin. Tapi sekarang semuanya mendadak berubah. Sekarang kau pemarah, tukang merajuk, manja dan pendendam. Aku menyukai semua itu. Kau menggemaskan, Sweety." Alex mengedipkan sebelah matanya.
Sweet mendengus kesal. Ia tak mampu menjawab lagi. Karena semua perkataan Alex benar semua. Tidak ada lagi perdebatan di antara mereka. Semuanya mendadak hening. Sampai mobil yang mereka tumpangi memasuki pekarangan mansion.
__ADS_1