Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 44


__ADS_3

Alexella melenguh saat dirinya mulai tersadar. Aroma obat yang menyengat menyeruak masuk dalam indra penciumannya. Matanya terus mengerjap karena berusaha menyesuaikan cahaya terang.


"Jarvis." Suara wanita itu tenggelam dengan pandangan yang masih mengabur. Namun ia masih bisa melihat Jarvis yang tengah duduk di kursi sambil menatapnya tajam. Bahkan tangan lelaki itu kini sudah terlipat di dada. Alexella bergerak untuk mencari posisi nyaman. Namun pergerakan itu harus tertahan karena rasa sakit di perutnya. Ia meringis pelan bahkan nyaris tak bersuara.


"Berhenti bertingkah seperti anak kecil, Xella." Geram Jarvis.


Alexella yang mendengar itu menatap Jarvis bingung. "Apa maksudmu?"


"Tidak perlu berpura-pura bodoh. Kenapa kau tidak mendengar perkataanku, Xella? Aku memintamu untuk minum pil kontrasepsi itu setiap pagi. Dan kau mengabaikan perintahku? Hebat." Sarkas Jarvis.


Alexella menatap Jarvis bingung. "Ada apa Jarvis? Kenapa kau membahas pil kontrasepsi? Apa terjadi sesuatu padaku?"


"Ya, saat ini kau hamil. Apa kau senang?" Alexella terkejut mendengar itu. Bahkan matanya membulat sempurna.


"Ha...hamil?"


"Cih, bukankah ini rencanamu? Kenapa kau kaget?" Jarvis bangun dari posisinya.


"Aku tidak tahu, Jarvis. Sungguh. Kau mau kemana?" Alexella mengubah posisinya menjadi duduk.


"Mencari kesenangan." Sahut Jarvis melangkah pergi dari sana.


"Jarvis, aku benar-benar tidak tahu. Aku minum pil itu setiap pagi." Teriak Alexella sembari memegangi perutnya yang terasa ngilu.


Jarvis menahan langkahnya. Namun tak berniat untuk berbalik. "Seharusnya kau tahu aku benci pembangkang. Gugurkan kandunganmu sebelum terlambat." Pungkas Jarvis yang langsung berlalu pergi.


Alexella membeku ditempatnya. Hatinya begitu sakit saat mendengar perkataan Jarvis. "Kau jahat Jarvis." Tangisan Alexella pun pecah. "Dia darah dagingmu."


Alexella merebahkan dirinya sambil menangis pilu. "Seharunya aku mendengarkan Mommy untuk tidak masuk dalam kehidupanmu. Aku membencimu, Jarvis."


Wanita itu terus menangis sepanjang malam dalam kesendirian. Sakit sekali, itu yang ia rasakan saat ini. "I am so sorry Mom."


****


Alexella keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Jarvis. Bahkan Dokter masih melarangnya untuk pulang pagi ini karena kondisinya yang belum sepenuhnya membaik. Namun bukan Alexella namanya jika ia tak bisa memenuhi keinginannya. Wanita itu terus melangkah keluar dari rumah sakit dengan tatapan kosong. Disentuhnya perut yang masih rata itu dengan lembut. Perkataan Jarvis malam tadi terus terngiang dimemorinya. Lelaki itu tak menginginkan janin tak berdosa yang saat ini bersarang di rahimnya.


Bahkan kau meninggalkan aku di sini Jarvis? Kau benar-benar kejam.


Alexella menyetop sebuah taksi dan hendak masuk ke sana. Namun seseorang lebih dulu menahannya. Alexella pun menoleh dengan wajah pucatnya. Seketika matanya mulai berkabut saat melihat wajah datar Jarvis.


"Sudah aku katakan berhenti bersikap seperti anak kecil, Xella." Tegas Jaravis namun terkesan dingin. Lalu ia memberikan isyarat pada sang sopir taksi untuk pergi.


"Lepaskan aku, jangan pedulikan aku, Jarvis." Alexella menarik tangannya dari cekalan lelaki itu. "Urus saja wanitamu dan lupakan aku. Aku rasa kita tidak perlu melajutkan pernikahan ini, Jarvis."


Jarvis mengerutkan keningnya saat mendengar itu. "Apa maksudmu?"


Alexella berdecih sebal. "Kita bercarai saja, lebih baik kita berjalan di jalur masing-masing. Sejak awal jalur kita berbeda, Jarvis. Tapi aku memaksakan diri untuk berdiri di jalur yang sama denganmu."


"Kau terlalu banyak bicara, pulang denganku."


"Aku tidak mau, kau akan membunuh anak ini kan? Aku tidak mau ikut denganmu. Dia tak berdosa, Jarvis." Tangisan Alexella pun tumpah. Ia tak kuasan menahan sesak didadanya. Mengingat lelaki itu tak menginginkan anak dalam perutnya.


"Xella, aku belum siap memiliki seorang anak."


"Lalu kenapa kau membuatnya?" Kesal Alexella memukul dada bidang Jarvis.

__ADS_1


"Aku sudah memintamu untuk menunda kehamilan, tapi kau tak mendengarkan aku, Xella."


"Aku meminumnya, Jarvis. Setiap pagi aku meminumnya." Kesal Alexella terus memukuli Jarvis. Ia benar-benar kesal dengan lelaki itu. Bahkan ia tak berbohong jika dirinya memang meminum pil itu setiap pagi. Dan mereka melupakan malam pertama itu. Dimana Alexella tak sempat meminum pil itu karena Jarvis terus menjamahnya.


"Lalu bagaimana dia bisa tumbuh, Xella?" Tanya Jarvis geram.


"Aku tidak tahu, kenapa kau bertanya itu padaku? Kau pikir aku yang menciptkan kehidupan huh? Kau berengsek, Jarvis. Dia anakmu, kau tega ingin membunuhnya. Kau kejam, Jarvis."


Jarvis mengacak rambutnya frustasi. "Kita masih muda, Xella. Aku belum menginginkan seorang anak. Kau tahu aku benci tangisan anak kecil."


"Kalau begitu tidak perlu mendengarnya, aku akan merawat anak ini sendiri. Lanjutkan kesenanganmu, Jarvis." Pungkas Alexella beranjak pergi meninggalkan suaminya.


"Xella, wait!" Jarvis menahan lengan Alexella kembali.


"Apa lagi? kau ingin aku membunuhnya huh? bermimpi saja, Jarvis. Aku masih punya hati." Alexella menepis tangan besar Jarvis dengan kasar dan melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan tempat itu. Jarvis benar-benar frustasi kali ini dan langsung menyusul sang istri.


"Please, Xella. Kau juga harus mengejar impianmu untuk menjadi seorang jaksa bukan? Ayolah, kau tidak bisa menggapai impian itu setelah memiliki anak, dia hanya akan meropotkanmu."


Alexella menahan langkahnya secara tiba-tiba dan itu berhasil membuat Jarvis terkejut dan hampir menabraknya. Beruntung lelaki itu mengelak. Dan kini ia sudah berdiri di hadapan sang istri.


"Lebih baik aku kehilangan impian dari pada membunuh anak tak berdosa ini, Jarvis. Dia berhak hidup." Tegas Alexella menatap Jarvis sinis.


"Xella." Jarvis menatap istrinya penuh permohonan.


"Please... jangan memintaku melakukan hal bodoh, Jarvis. Jika kau tak menginginkan anak ini, biarkan aku yang marawatnya sendiri." Alexella menyentuh perutnya dengan penuh perasaan. "Dia darah dagingmu, Jarvis."


"Aku tahu, tapi...."


"Antar aku pulang ke mansion, Jarvis."


"Xella."


"Baiklah, tunggu di sini. Aku ambil mobilku dulu." Jarvis mendorong bahu istrinya dengan lembut. Menatap wajah sembab dan pucat istrinya dengan tatapan iba.


"Jangan lama." Pinta Alexella dengan nada lemahnya.


"Hm." Jarvis mengusap pipi lembut Alexella sebelum pergi dari sana.


Tidak berapa lama, lamborghini hitam milik Jarvis pun berhenti di depan Alexella. Dan tanpa ragu wanita itu masuk ke sana.


"Kau belum sarapan bukan? Sebaiknya kita berhenti di restoran lebih dulu."


"Tidak perlu, aku tidak lapar." Sahut Alexella tanpa melihat lawan bicaranya. Jarvis menghela napas gusar, lalu matanya bergerak ke arah perut Alexella.


Apa dia benar-benar tumbuh di sana? Kenapa secepat ini? Bahkan aku menikah dengannya belum genap satu bulan. Akh... aku benar-benar belum siap menjadi seorang Ayah. Jarvis terus berperang dengan hatinya. Bahkan ia benar-benar syok saat dokter mengatakan istrinya itu tengah hamil muda. Tak pernah ia bayangkan akam memiliki seorang anak secepat ini.


Wajah Alexella mendadak berubah saat merasakan gejolak aneh di perutnya. Seperti ada yang mendesak di sana.


"Jarvis, stop!" Pekik Alexella yang berhasil membuat Jarvis terkejut dan refleks menekan rem.


"Buka." Pekik Alexella saat pintu mobil masih terkunci. Lagi-lagi Jarvis di buat bodoh seraya membuka kunci pintu. Dengan gerak cepat Alexella keluar dari dalam mobil dan berjongkok di pinggiran jalan sambil memuntahkan cairan bening dari perutnya. Jarvis ikut keluar untuk melihat kondisi istrinya.


"Are you okay?" Tanya Jarvis saat melihat Alexella terus muntah-muntah.


"Sudah aku katakan, dia akan merepotkanmu, Xella."

__ADS_1


Alexella yang mendengar itu langsung melayangkan tatapan tajam pada suaminya. "Pergi saja jika kau tak ingin direpotkan. Aku bisa pulang sendiri."


Jarvis menghela napas panjang. "Okay, aku minta maaf. Apa masih mual?"


Alexella menggeleng pelan, kemudian beranjak masuk ke dalam mobil. Lagi-lagi Jarvis hanya bisa menghela napas dan ikut masuk ke dalam mobil.


Alexella memilih tidur karena kepalanya sangat sakit. Jarvis yang melihat itu merasa iba.


Apa aku harus menyingkirkan anak itu? Belum lahir saja sudah merepotkan. Bagaimana saat lahir nanti? Sialan, kenapa harus ada bayi di dunia ini? Merepotkan. Bahkan aku tak bisa menyentuhnya dengan bebas lagi. Kesal Jarvis dalam hati. Ia masih mengingat dengan jelas perkataan dokter yang memintanya untuk tidak melakukan hubungan suami istri dulu sampai usia kandungan Alexella memasuki 16 minggu, dan saat ini usia kandungan Alexella baru 2 minggu. Karena kondisi wanita itu terbilang lemah, jadi dokter menyarankan hal itu. Dan Jarvis tak bisa menahan selama itu. Hal itu juga yang membuatnya enggan untuk memiliki anak.


"Xella." Panggil Jarvis melirik istrinya yang masih memejamkan mata.


"Hm."


"Dokter bilang kita tidak boleh melakukan itu sampai kandunganmu benar-benar kuat. Dan... kau tahu aku tak bisa menahan itu terlalu lama." Jelas Jarvis merasa waswas dan takut istrinya akan meledak-ledak.


Alexella membuka matanya perlahan. Memikirkan perkataan Jarvi tadi. "Kau harus belajar menahannya."


Jarvis terperangah mendengar itu. "Oh ayolah, aku tak sesabar yang kau pikirkan."


"Dan kau berniat menyewa j*l*ng huh?"


Jarvis terdiam sejenak. "Jika kau mengizinkan."


"Hanya wanita bodoh yang mengizinkan suaminya meniduri wanita lain." Sahut Alexella dengan nada ketus.


"Xella, bagaimana denganku?"


"Sudah aku katakan kau harus menahannya, aku yakin kau bisa."


"Aku tidak bisa."


"Kau belum mencobanya."


Jarvis mendengus sebal. "Aku bisa gila, Xella."


"Kau akan segera punya anak, Jarvis. Cobalah untuk berubah, kau bisa jika kau ingin."


"Aku tak menginginkan anak itu. Dia menghalangi kebebasanku."


"Jarvis." Alexella memberikan tatapan penuh peringatan.


"Okay, aku akan mencoba untuk menahannya. Bagaimana jika aku tidak bisa?"


"Aku yang akan mundur."


"What?" Kaget Jarvis langsung menatap Alexella. Bahkan ia tak pernah membayangkan untuk melepaskan wanita cantik di sampingnya. "Baiklah aku mengalah, aku akan menahannya. Kau senang huh?"


"Aku lapar." Jawab Alexella melenceng dari pertanyaan Jarvis.


"Kau bilang tadi tidak lapar." Jarvis menatap istrinya heran.


"Tadi tidak, sekarang aku lapar." Sahut Alexella jujur.


Jarvis menghela napas gusar. Mungkin mulai saat ini ia benar-benar harus belajar bersabar. Terutama menghadapi bumil yang satu itu. Akh... sepertinya Jarvis benar-benar gila setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2