Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (77)


__ADS_3

Emilia terlihat bosan karena tidak ada satu orang pun yang mau mengajaknya bicara, sejak dulu ia memang selalu diabaikan oleh teman-temannya, entah kenapa Emilia pun tak tahu. Yang jelas ia tak mempermasalahkan itu. Toh dirinya juga tak ingin terlalu dekat dengan banyak orang. Cukup Violet yang menjadi sahabat satu-satunya.


Saat dirinya hendak bangun, ia tak sengaja menyenggol seorang waiter sehingga semua minuman yang dibawa tumpah padanya. Emilia memekik kaget karena tubuhnya basah kuyup, cepat-cepat ia pun bangkit.


Jelas kini semua mata pun tertuju padanya. Termasuk Violet yang kaget saat melihat apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Cepat-cepat ia pun mendatangi Emilia.


Bahkan apa yang terjadi barusan berhasil mencuri atensi Marvel yang tengah duduk santai di salah satu meja. Lelaki itu mengerutkan kening saat melihat keributan yang terjadi.


"Maafkan saya, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja." Ucap sang waiter ketakutan.


"Tidak apa-apa, ini salahku." Sahut Emilia seraya membersihkan pakaiannya dengan tisu. Ia menggerutu dalam hati dan mengutuk atas kecerobohannya itu.


Ya Tuhan, kenapa hidupku selalu saja sial. Batinnya.


"Ya ampun, Em. Bagaimana bisa terjadi seperti ini?" Violet menatap sahabatnya penuh rasa bersalah.


Emilia tersenyum. "It's okay, aku bisa ganti pakaian di hotel."


"Ah, ganti saja dikamarku." Tawar Eveline yang sejak tadi ada di sana.


"Tidak, aku...."


"Jangan menolak, pergilah ke kamarnya." Sanggah Violet. Alhasil Emilia pun mengangguk pasrah.


"Ayo." Ajak Eveline. Kemudian Emelia pun mengikutinya. Dan siapa sangka ia melewati meja yang Marvel tempati. Saat gadis itu lewat, mata lelaki itu tak lepas darinya. Tentu saja Emelia tak menyadarinya karena sejak tadi ia terus menunduk karena sangat malu.


Siapa wanita itu? Pikir Marvel karena sebelumnya tak pernah melihatnya.


"Pilih saja pakaian yang kau suka, ini semua pakaian baru." Titah Eveline seraya membuka lemari pakainnnya.


"Terima kasih." Ucap Emilia seraya meneliti satu per satu pakaian yang ada di sana. Sampai gadis itu bingung harus memilih yang mana sangking banyaknya.


Ya Tuhan, ini lemari pakaian apa toko pakaian? Berbagai model pakaian terbaru sepertinya ada di sini. Batin Emilia.


Melihat Emilia bengong, Eveline pun menepuk pundaknya pelan. "Hei, kok bengong sih? Kau bebas memilihnya, aku tak akan meminta tagihan kok." Candanya yang berhasil mengundang senyuman Emilia.


"Bukan begitu, aku bingung mau pilih yang mana. Semuanya terlihat bangus." Ungkap gadis itu jujur.


Tentu saja Eveline tertawa mendengarnya. "Apa perlu aku yang pilihkan?"


Emilia mengangguk kecil. "Jika kau tidak keberatan."


"Tidak masalah." Sahut Eveline. "Sebentar, aku pilihkan pakaian yang cocok untukmu."


Emilia terus memperhatikan Eveline yang terus menyibak pakaiannya. Lalu pandangannya pun tertuju pada perut Eveline yang menyembul dibalik dressnya.


"Kau sedang hamil ya?" Tanyanya yang berhasil membuat Eveline menoleh.


"Ya." Sahutnya seraya mengelus perut. "Jalan empat bulan." Katanya lagi.


Emilia mengangguk. Kemudian Eveline pun kembali memilih pakaian, hingga pilihannya pun jatuh pada sebuah dress selutut berwarna pastel. "Sepertinya ini cocok untukmu, coba dulu."


Eveline memberikan gaun itu pada Emilia.

__ADS_1


"Tapi, ini terlalu terbuka." Lirihnya.


"Oh ya? Tapi aku rasa kau cocok pakai ini. Cobalah dulu. Aku akan menunggumu di luar." Eveline pun langsung meninggalkan Emilia di ruang ganti.


Tentu saja gadis itu terlihat ragu memakainya. Karena ia tak bisa memakai dress dengan belahan dada rendah. Namun, ia tak punya pilihan lain dan segera berganti pakaian.


Setelah berganti pakaian dan membersihkan diri. Ia pun keluar dari ruang ganti. Spontan Eveline pun menoleh dan bangkit dari duduknya.


"Wow! Kau sangat cocok dengan dressnya. Kemari, aku akan membantumu merapikan rambut." Ujar Eveline seraya menarik Emilia dan menyuruhnya duduk di depan meja rias. Ditatapnya wajah Emilia dari balik cermin.


Cantik.


"Siapa namamu?" Tanyanya kemudian.


"Emilia, aku sahabat Violet." Jawab Emilia.


Eveline mengangguk. Kemudian mulai menata rambut Emilia. "Kau sudah punya kekasih? Aku perhatikan kau sendirian terus dari tadi."


Gadis itu menggeleng.


"Owh." Eveline mengangguk. "Tadi aku tidak sengaja mendengar obrolanmu dengan Violet. Jadi kau menyukai Kakakku?"


Mendengar itu Emilia pun kaget. "Eh? Itu...."


"Tidak apa-apa, kau bebas menyukai siapa pun." Sela Eveline tersenyum kecil.


Emilia menunduk seraya memilin dressnya, kemudian kembali mengangkat wajahnya. Menatap Eveline yang begitu serius menata rambutnya.


Emilia mengerutkan dahi. "Maaf?"


Eveline menghela napas, lalu berdiri dibelakangnya dan menyentuh kedua pundak gadis itu. "Kau itu cantik, hanya saja kurang percaya pada dirimu sendiri. Itu yang membuatmu mudah tenggelam. Aku harap kau paham maksudku."


Emilia mengangguk kecil.


"Jadilah dirimu sendiri." Ditepuknya pundak Emilia lembut. "Sudah, kau boleh kembali ke Aula. Aku ingin istirahat sebentar. Jika ada yang bertanya, katakan saja aku di kamar."


Lagi-lagi Emilia mengangguk. Kemudian ia pun mengucapkan terima kasih sebelum beranjak dari sana.


Emilia menghela napas panjang, kemudian melangkah pasti menuju aula. Dan ia langsung disambut hangat oleh Violet.


"Wow! Kau sangat cantik, honey. Dress ini cocok sekali untukmu. Kau benar-benar bertemu dengan orang yang tepat, Eveline itu seorang model, tentu saja dia tahu apa yang cocok untukmu."


Emilia tersenyum. "Sebenarnya aku tidak percaya diri, Vi. Ini terlalu seksi untukku." Lirihnya.


"Tidak sama sekali, kau terlihat indah, honey." Violet memberikan senyuman menggoda. Dan itu membuat Emilia semakin tak percaya diri. "Ayolah, kau sangat cantik, Em. Aku serius."


Emilia tersenyum malu. "Kau ini,"


Violet tertawa geli. Namun detik berikutnya baru tersadar jika Eveline tidak ada di sana. "Di mana Eveline?"


"Ah, dia di kamar. Katanya ingin istirahat."


Violet mengangguk. "Ya sudah, ayo ikut aku. Kita duduk bersama yang lain." Ajaknya yang langsung menarik Emilia ke sebuah meja bundar yang sudah dikelilingi oleh semua keturunan Digantara.

__ADS_1


Tentu saja kehadiran Emilia mencuri etensi semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Marvel.


"Dia Emilia, sahabat lamaku. Kebetulan kami sudah lama berpisah." Violet memperkenalkan sahabatnya pada yang lain sembari menarik salah satu kursi, lalu mempersilakanya duduk di sana. Kemudian ia pun ikut duduk disebelah suaminya. Lebih tepatnya ia berada di antara Emilia dan Dustin.


Emilia mengembangkan senyuman ramah pada semua orang, tentu saja yang lain membalasnya kecuali Marvel. Lelaki itu akan tetap memasang wajah datar pada siapa pun. Alhasil Emilia pun tak berani memandangnya.


"Di mana Eveline?" Tanya Lucas baru menyadari istrinya tidak ada.


"Oh, dia sedang istirahat di kamarnya." Sahut Emilia.


Lucas mengangguk, lalu bergegas bangun dan beranjak dari sana.


"Itu suaminya." Bisik Violet.


Emilia kaget, pasalnya ia tahu Lucas itu sepupu Violet, kembaran Dustin. Namun tidak tahu jika Lucas juga menikahi sepupunya, Eveline. Sepertinya masih banyak hal yang tak ia ketahui.


"Entahlah, kami terjebak cinta antar saudara. Aneh memang, tapi itu yang terjadi," bisik Violet lagi.


Emilia pun cuma bisa mengangguk sambil tersenyum kecil. Namun, tidak lama dari itu terdengar suara riuh dari arah luar. Tentu saja perhatian mereka pun teralihkan.


Beberapa saat kemudian Lea pun datang dengan wajah pucat pasi. "Eveline." Ucapnya dengan napas tersengal.


"Ada apa dengan Eveline?" Tanya Violet panik.


"Dia pendarahan." Jawab Lea yang berhasil membuat semua orang panik dan langsung berlari untuk melihat kondisi sepupu mereka. Kecuali Emilia tentunya, ia masih berdiri di tempatnya.


****


Di rumah sakit, keluarga besar pun tampak berkumpul di depan IGD. Semua orang terlihat cemas setengah mati. Tidak ada yang tahu pasti penyebab Eveline pendarahan. Yang jelas saat Lucas masuk, istrinya sudah tergelatak di lantai dengan bersimbah darah.


Tidak lama Lucas pun keluar dari sana, lalu menyandarkan tubuhnya di pintu dengan tatapan kosong. Sabrina mendekatinya. "Luc, Eveline baik-baik saja kan?" Tanyanya dengan tatapan penuh harap.


Lucas menatap mertuanya, lalu memeluknya erat. "Janinnya tidak bisa diselamatkan, Mom." Lirihnya. Seketika semua orang terkejut mendengarnya.


Sabrina memejamkan matanya seraya mengelus punggung Lucas. "Sabar, Sayang. Lalu bagaimana dengan Eveline?"


"Kondisinya lemah, dia kehilangan banyak darah." Lucas memejamkan matanya. Sebagai seorang suami sekaligus calon ayah, dia merasa gagal melindungi keduanya. "Ini salahku karena tak bisa menjaga mereka."


Sabrina menepuk punggung lelaki itu untuk memberikan kekuatan meski ia sendiri sangat terpukul. "Jangan menyalahkan dirimu, Luc."


"Tetap saja ini salahku, Mom,"


"Sudah, tidak ada yang salah di sini. Kita berdoa Eveline baik-baik saja." Arez menimpali. Ditepuknya punggung sang menantu. "Kehilangan satu anak bukan berati masa depan kalian terputus. Kalian harus tetap melanjutkan hidup dengan baik."


Tidak lama dari itu kaki tangan Lucas datang membawa sebuah kabar. "Maaf, Tuan. Kami membawa kabar penting,"


Lucas menarik diri dari dekapan Sabrina, lalu ditatapnya kedua lelaki berpakaian formal itu dengan seksama. "Kabar apa yang kalian bawa?"


"Kami menemukan ini." Lelaki bertubuh besar itu memberikan sebuah botol obat yang sudah terbungkus pelastik pada Lucas. Tentu saja Lucas langsung menerimanya. "Apa ini?"


"Itu sejenis obat peluruh kandungan, kami menemukannya di tempat sampah. Dan obat itu cocok dengan obat yang ada di dalam minuman Nyonya muda."


Mendengar itu rahang Lucas pun mengeras. "Ikut denganku sekarang." Perintahnya yang langsung beranjak dari sana. Diikuti oleh kedua kaki tangannya.

__ADS_1


__ADS_2