Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 20


__ADS_3

Sky memekik kaget saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Spontan ia pun langsung berbalik dan mendorong orang itu. Dan sedetik kemudian matanya membulat saat melihat siapa orang yang baru saja ia dorong.


"Arel! Sedang apa ka...." belum selesai Sky bicara. Arel lebih dulu menutup mulit kekasihnya itu.


"Jangan berisik, aku bisa ketahuan Mommy." Bisik Arel sambil melihat ke arah pintu kamar karena takut sang Mommy tiba-tiba muncul di sana. Ya, Arel memang masuk melalui balkon. Entah bagaimana caranya lelaki itu bisa naik ke atas.


Sky menepis tangan Arel yang masih menempel di mulutnya. Lalu melayangkan tatapan tajam pada lelaki itu. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau cari mati huh?" Bisik Sky dengan nada geram.


"Sayang, aku masih merindukanmu. Apa lagi setelah melihat wajahmu yang sangat cantik." Arel hendak menyentuh pipi Sky, tetapi dengan cepat ditepis oleh wanita itu.


"Arel, kau harus belajar bersabar. Jika kau terus seperti ini, aku rasa pernikahan kita akan batal. Aku juga merindukanmu, tapi aku menahannya karena pernikahan kita tinggal dua minggu lagi." Kesal Sky bergerak menjauhi Arel. Namun dengan gerak cepat pula Arel mendekatinya.


"Please, Arel. Jangan membuatku sulit."


"Sayang...."


"Mimimimi...." Perkataan Arel pun harus terpotong karena si kecil Gabriel berteriak memanggil sang Mommy.


"Owh, maafkan Mommy, Sayang. Ini semua salah Daddymu." Ucap Sky menghampiri Gabriel yang masih berada dalam box bayi. Awalnya Sky ingin membawa anaknya keluar, hanya saja si brengsek Arel lebih dulu datang dan membuatnya terkejut.


Bayi gembul itu sudah berdiri sambil menatap ke arah Arel. "Didididizzzz...." teriaknya sambil memainkan air ludahnya. Bayi kecil itu juga bertepuk tangan seolah bahagia karena sang Daddy datang.


"Lihat, putraku saja merindukanku. Sini Daddy gendong. Oh... My baby biy." Arel pun menghampiri box bayi dan mengangkat bayi gemuk itu. "Owh, kau semakin berat saja, My boy. Padahal hanya dua hari Daddy meninggalkanmu. Kau pasti melahap habis susu Ibumu kan? Jangan dihabiskan susunya, Daddy juga mau." Kata Arel tanpa malu.


"Arel! Jangan mengajari putraku menjadi mesum sepertimu." Kesal Sky memberikan tatapan membunuh pada calon suaminya yang tak tahu malu itu.


"Siapa juga yang mengajarinya mesum? Aku kan cuma bilang kalau...."


"Stop it! Sebaiknya kau pergi dari sini, berikan Gabriel padaku." Potong Sky hendak mengambil Gabriel. Namun anak itu langsung memeluk leher Arel seolah menolak Sky untuk menggendongnya.


"Nonono... didididi...." oceh anak itu begitu menggemaskan. Tentu saja Arel sangat senang karena Gabriel berpihak padanya.


"Kau lihat, dia juga merindukanku, Sky. Kau saja yang tidak peka, aku rasa kau mulai terpapar virus Mommy." Ketus Arel sambil mengelus punggung Gabriel.


"Tentu saja, sekarang aku anaknya." Sahut Sky dengan bangga. Ia pun mengalah dan memilih duduk di ujung ranjang. Begitu pun dengan Arez, ia ikut duduk di sebelah Sky.


"Cih, kau menjadi anaknya dan sekarang aku dianak tirikan. Bahkan aku harus memanjat dinding hanya untuk masuk ke kamarku sendiri. Menyebalkan. Aku rasa Mommy sudah pilih kasih."


"Siapa yang pilih kasih, Arel?"


Arel dan Sky pun terlonjak kaget saat mendengar suara itu. Keduanya langsung bangun dan menoleh ke arah pintu. Dan di sana Sweet sudah berdiri sambil berkacak pinggang. Sedangkan Alexa yang berdiri dibelakangnya hanya bisa menahan tawa karena ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sweet melangkah cepat menghampiri putranya. Sky yang tahu akan terjadi keributanpun segera mengambil Gabriel dari gendongan Arel. Kemudian mundur beberapa langkah.


"Kau mengatai Mommy pilih kasih huh? Setelah apa yang Mommy berikan selama ini padamu? Dasar anak tidak tahu malu. Bahkan kau berani masuk ke kamar wanita yang belum sah menjadi mahrammu, Arel." Sky terus menjambak rambut putranya karena kesal, sedangkan sang empu hanya bisa meringis sambil meminta ampun.


Sky menggigit ujung bibirnya karena tak tega melihat Arel terus dipukuli oleh Ibu mertuanya. "Mom."


"Kau diam, Sky. Anak kurang ajar ini harus diberi pelajaran. Biar dia tahu rasa." Kali ini Sweet memukul lengan Arel. Alexa yang melihat itu bukan kasihan, ia malah tertawa geli melihat kelucuan itu. Sudah sangat lama ia tak melihat dua orang itu sedekat ini.


"Mom, awh sakit. Hentikan, aku bukan anak kecil lagi." Protes Arel.


"Kau memang bukan anak kecil lagi, tapi sikapmu masih seperti anak kecil." Kesal Sweet terus memukuli putranya.


Alexa pun masuk ke kamar sang Kakak. "Mom, aku rasa kita langsung nikahkan saja mereka. Jika seperti ini aku takut Gabriel kedua akan segera lahir." Ujarnya yang berhasil menghentikan sang Mommy. Sweet pun langsung memberikan tatapan tajam pada putrinya.


"Bukan apa, Mom. Mommy tahu sendiri lelaki ini sangat brengsek, sekeras apa pun Mommy memukul dan menghukumnya. Dia tidak akan kapok sebelum apa yang dia inginkan terpenuhi. Nikahkan saja mereka langsung, lagi pula urusan Sky dan mantan suaminya sudah beres kan? Aku rasa tidak ada salahnya jika mereka segera melangsungkan pernikahan. Atau mereka akad saja dulu. Untuk masalah pesta kita adakan sesuai rencana. Bagaimana?" Alexa menatap sang Mommy lekat.


Sweet merasa apa yang Alexa katakan itu benar. Sekeras apa pun ia memberikan hukuman pada Arel, lelaki itu sama sekali tak jera. Bahkan ia akan berbuat lebih nekat dari sebelumnya. Kepala Sweet benar-benar dibuat sakit olehnya.


Sweet menatap Arel dan Sky secara bergantian.


"Lexa benar, sebaiknya kalian langsung menikah saja. Mommy tidak mau mendengar kabar Sky hamil lagi sebelum kalian menikah. Lexa, atur pernikahan mereka. Kita adakan akadnya saja dulu besok." Putus Sweet yang berhasil membuat Arel senang setengah mati.

__ADS_1


"Yes! Thank you, Mom." Ucap Arel yang langsung memeluk sang Mommy. Lalu menatap Alexa. Menggerakkan mulutnya untuk mengucapkan rasa terima kasihnya. Karena Alexa selalu memahami dirinya dan mendukung keinginannya.


Alexa tersenyum, kemudian mengangguk pelan. Memberikan tatapan penuh kebahagiaan.


"Sudah, lepaskan Mommy. Kau harus pergi dari sini dan kembali besok pagi. Jangan harap Mommy akan membiarkan kalian tinggal seatap sebelum kata-kata sakral itu keluar dari mulutmu, Arel. Sana pergi." Usir Sweet seraya mendorong putranya dengan lembut. Dan kali ini Arel sama sekali tak membantah.


"Thank you, Mom. I love you so much." Ucapnya seraya mengecup kening sang Mommy. "Aku akan kembali besok pagi."


"Ya, hati-hati di jalan dan berhenti balapan."


"Kalau itu aku tidak bisa janji, Mom." Sahut Arel yang langsung beranjak pergi.


"Sayang, aku akan kembali besok. Setelah itu aku akan melahapmu sampai habis sampai kau tak bisa bangun dari ranjang." Teriak Arel dari luar.


"Arel!" Pekik ketiga wanita itu yang tak habis pikir dengan kemesuman Arel. Sedangkan sang empu malah tertawa puas dan langsung beranjak pergi.


****


Sudah lima belas menit lamanya Arez berada di sebuah gedung yang dijadikan sebagai pusat pemeran seni. Dan di sinilah para seniman berksempatan menunjukkan hasil karyanya. Tentu saja acara ini Arez sendiri yang mengadakan. Karena ia memiliki sebuah rencana. Namun tidak ada yang tahu apa yang ia rencanakan sebenarnya.


"Tuan, hampir semua seniman sudah berkumpul di aula. Masing-masing membawa karyanya. Apa Anda ingin ke sana sekarang?" Tanya Ansel pada Arez yang masih berdiri di depan lukisan yang sama. Lukisan hasil karya seseorang berinisial S.


"Apa kau yakin dia ikut serta kali ini?" Tanya Arez mengabaikan pertanyaan asistennya itu.


Ansel sempat bingung dengan pertanyaan Arez karena tak tahu siapa yang lelaki itu maksud. "Saya rasa beliau hadir, Tuan. Karena yang mendaftar lebih dari seribu orang." Jawab Ansel asal.


"Menurutmu, dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Arez lagi.


"Em, saya tidak tahu Tuan. Bisa laki-laki, dan bisa saja perempuan." Jawab Ansel sekenanya. Karena ia tak bisa menebaknya dengan asal. Bagaimana jika ia salah tebak, sudah pasti Arez akan memarahinya.


"Cih, itu bukan jawaban, Ansel. Sebaiknya kita langsung ke sana. Berikan topengku." Pinta Arez. Dengan sigap Ansel memberikan sebuah topeng hitam pada Arez. Arez pun menerimannya dan memasang benda itu di wajahnya.


"Pakai juga topengmu, Ansel." Perintah Arez pada Ansel yang masih bergeming.


Arez melangkah pasti menuju aula yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Kehadirannya tentu saja menjadi pusat perhatian para seniman yang hadir. Arez berdiri di atas podium, mengedarkan pandangan keseluruh peserta. Kemudian Ansel pun mulai membuka acara dengan kata-kata sambutannya.


Arez terus menyapu wajah-wajah para seninam yang hadir. Hingga matanya berhenti pada seorang wanita bertopeng yang duduk di paling pojok.


Sabrina? Sedang apa dia di sini? Pikirnya.


"Tuan." Ansel mepuk pundak Arez saat lelaki itu tak merespon panggilannya untuk yang kesekian kali. Arez pun tersentak dan langsung menatap asistennya itu.


"Apa Anda ingin memberikan kata sambutan? Mereka menunggu Anda."


"Tidak perlu, langsung mulai saja acaranya." Sahut Arez dengan nada datar. Kemudian pandagannya kembali ditujukan pada gadis bertopeng di sana.


Kenapa kau ikut dalam acara ini, Sabrina? Kau juga tahu makna dari lukisanku dan.... Tunggu! Sabrina, nama itu... apa mungkin inisial itu milikmu? Sabrina... S... hm, aku akan segera tahu kebenarannya, Sayang.


"Ansel, keluarkan karyaku." Perintah Arez. Lelaki jangkung itu pun mengangguk dan langsung memberi isyarat pada bawahannya. Perlahan tirai yang ada dibelakang Arez dan Ansel pun terbuka. Tentu saja hal itu membuat suasana menjadi riuh.


Suara decak kagum pun terdengar menggema saat tirai itu terbuka sepenuhnya. Namun Arez sama sekali tak peduli dengan pujian mereka, saat ini perhatiannya masih terfokus pada Sabrina. Topeng yang dipakai gadis itu membuat Arez tak bisa membaca ekspresinya.


"Ini adalah hasil karya Tuan kami, Mr. A. Beliau sudah menunjukkan hasil karya terbaiknya di depan kalian semua, sekarang giliran kalian untuk menujukkan karya yang sudah kalian bawa." Ujar Ansel yang disambut tepuk tangan oleh semua orang. Lalu mereka pun membuka kain penunutup yang menyembunyikan hasil tangannya.


Arez mulai mengelilingi para peserta, melihat hasil karya mereka yang luar biasa. Namun lelaki itu sama sekali tak memberikan tanggapan apa pun.


"Akan ada juri yang menilai karya kalian, masuk atau tidak dalam kategori. Itu tergantung dari rasa percaya diri kalian masing-masing." Ujar Ansel yang masih berdiri di atas podium. Semua orang yang mendengar itu kembali bertepuk tangan.


Kini Arez sudah berdiri di hadapan wanita bertopeng itu.


"Selamat datang, Tuan. Terima kasih karena sudi melihat karya saya yang tidak ada artinya ini." Ucap Sabrina merendah.


"Tuan, kami salah satu penggemar Anda. Lukisan di depan itu benar-benar membuat kami jatuh cinta. Kami juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Anda langsung." Ujar Deena memberikan tatapan memuja pada Arez.

__ADS_1


Arez hanya menjawab dengan anggukan. Lalu menunjuk ke arah topeng yang Sabrina kenakan.


Sabrina sempat bingung. Namun itu tidak berlangsung lama. "Owh, saya sudah terbiasa menggunakan topeng sejak sekolah menengah, Tuan."


Lagi-lagi Arez hanya mengangguk, lalu meneliti lukisan milik Sabrina. Arez benar-benar terpaku saat melihat lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan seorang pria yang tengah serius memperbaiki listrik di sebuah rumah.


Tunggu! Kenapa aku seperti tak asing dengan gambar itu? Arez langsung menatap Sabrina.


Sabrina yang ditatap pun merasa gugup. "Beberapa malam yang lalu, ada seseorang yang membatu memperbaiki listrik di apartement saya. Kebetulan saya takut kegelapan dan saat itu sudah larut malam. Lelaki ini yang menolong saya, jadi saya memutuskan untuk melukisnya. Tema lukisan ini Mr. Hero." Jelas gadis itu tanpa ragu. Dan tanpa disadari hal itu berhasil membuat Arez tersenyum tipis.


"Hm, itu artinya lelaki itu sangat berkesan untukmu?" Tanya Arez.


Eh, kenapa suaranya seperti tidak asing lagi? Tapi di mana aku pernah mendengar suara itu? Pikir Sabrina.


"Sab." Deena menyenggol bahu Sabrina karena gadis itu masih bergeming. Sontak Sabrina pun kaget.


"Owh, tentu saja, Tuan. Dia penyelamat saya." Jawabnya dengan asal. Lagi-lagi Arez tersenyum tipis mendengar jawaban Sabrina. Tentu saja gadis itu tak bisa melihat senyuman itu karena tertutup topeng.


Arez kembali meneliti lukisan itu, sampai dirinya menemukan sebuah tanda yang sama seperti tanda yang ada dalam lukisan seseorang yang masih menjadi teka teki untuknya. Inisial S juga ada di sana, dibagian pojok kanan sama persis dengan yang sebelumnya. Ia pun tersenyum puas.


"Apa arti inisial ini?" Tanya Arez kembali menatap gadis itu.


"My name, Sabrina." Jawab Sabrina tanpa ragu. "Aku mengikuti jejakmu, Tuan. Anda hanya menyelipkan inisial A di bagian pojok kiri. Dan saya meletakkan inisial mama saya di pojok kanan. Katakan saja saya ini penggemar berat Anda, Tuan."


"Sab, minta foto dengannya." Bisik gadis disebelah Sabrina yang masih bisa Arez dengar.


"Em, Tuan. Apa saya bisa berfoto dengan Anda?" Tanya Sabrina gugup.


"Tentu." Jawab Arez dengan entengnya. Dan itu berhasil membuat Sabrina kegirangan. Jujur ia memang mengidolakan pelukis yang satu ini. Hampir semua karyanya berhasil membuat Sabrina jatuh cinta. Bahkan tak jarang Sabrina dan Deena mengunjungi galerinya.


"Tolong fotokan aku, De." Pintanya pada teman dekatnya itu. Sabrina pun tanpa ragu lagi berdiri di samping Arez.


"Kita terlihat serasi bukan?" Bisik Arez sambil merengkuh pinggang ramping gadis itu. Sontak sang empu kaget dan mendadak kaku.


"Ma__maaf, Tuan, maksud Anda?"


"Kita sama-sama menyukai seni dan tak ada orang yang tahu wajah kita. Apa kau tidak merasa kita cocok?"


Sabrina berusaha untuk tetap tersenyum saat Deena memebrikan isyarat agar mereka bergaya. "Itu hanya kebetulan, Tuan."


"Kau sudah punya pacar?" Tanya Arez lagi. Sontak gadis itu agak menjauh darinya.


"Ah, kau takut padaku?"


Sabrina merasa dejavu. Sepertinya ia pernah mendengar pertanyaan itu sebelumnya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut. Tapi aku menyukai lukisanmu, jika kau tidak keberatan aku akan memajangnya di kamar pribadiku."


"Hah?" Kaget Sabrina.


"Aku akan membeli lukisanmu, atau kau ingin menukarnya dengan lukisanku huh?" Sabrina yang mendengar itu langsung menatap lukisan yang terpampang di depan.


"Tapi... Tuan. Lukisanku tak seindah milikmu, apa itu pantas ditukar dengan milikku?" Tanya Sabrina semakin gugup nyaris tak percaya lukisannya benar-benar diminati oleh pelukis ternama seperti Mr. A ini.


"Kenapa tidak? Sudah aku katakan aku menyukai lukisanmu. Bagaimana?" Tanya Arez mencoba untuk membujuknya.


"Em... saya setuju." Jawab gadis itu dengan semangat.


"Deal." Arez mengulurkan tanganya pada Sabrina. Dengan senang hati gadis itu menerima uluran tangan Arez.


"Aku akan langsung mengirim lukisan itu ke rumahmu."


"Terima kasih, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2