Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (93)


__ADS_3

Dan pesta pernikahan sederhana pun benar-benar akan segera digelar di mansion. Kini halaman belakang sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang cantik. Tentu saja semua itu atas ide Violet, wanita itu begitu antusias mempersiapkan semuanya.


Di kamar, Emilia terlihat gugup seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat sangat anggun dengan balutan wedding gown sederhana berwarna gading. Wajahnya dipoles natural dengan rambut disanggul twisted. Benar-benar sangat cantik. Namun Emilia merasa tak percaya diri, lebih tepatnya ia merasa tak pantas bersanding dengan Marvel. Lelaki sejuta pesona yang memiliki segalanya, sedangkan dirinya hanya wanita biasa.


Ia meremat gaunnya karena gugup bercampur takut. Ingin sekali rasanya ia kabur jika tak memikirkan putranya.


Tidak lama pintu kamar pun terbuka dan membuat Emilia kaget. Perlahan ia berbalik, dan lagi-lagi harus kaget karena melihat Eveline sudah berdiri di sana dengan tatapan tak bersahabat.


Seketika jantung Emilia pun berdegup kencang, apa lagi wanita itu berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah tanpa eskpresi. Kedua tangan Emilia meremat gaun dengan begitu kuat.


Eveline berdiri tepat di depannya lalu berkata. "Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih untuk hari ini, Emilia. Aku bahagia karena ini hari pernikahan Kakakku, tapi aku sedih karena wanita yang dia pilih dirimu. Kau pembunuh."


Emilia terhenyak dan semakin ketakutan bahkan tak berani sekadar menatapnya. "Maafkan aku." Ucapnya sangat pelan.


Eveline mendengus sebal. "Maaf? Apa dengan maafmu itu kau bisa mengembalikan anakku? Cih, bahkan satu ginjalmu yang hilang tidak akan bisa membayarnya."


Emilia memejamkan matanya sejenak, lalu mendongak dan memberanikan diri untuk menatap Eveline. "Aku tidak pernah meminta dinikahi Kakakmu, aku tahu kesalahanku tak akan bisa dimaafkan sekali pun dengan nyawaku. Tapi aku terpaksa melakukan itu, Eveline. Aku rasa kau tahu alasanku bukan?"


Tatapan Eveline pun menajam. "Kau tahu apa yang paling aku sesali? Aku menyesal karena terlalu baik pada orang lain. Harusnya aku tak pernah berubah sejak dulu, mengabaikan semua orang. Meski orang itu sekarat sekalipun. Bisa saja kebaikan itu justru mencelakai diri sendiri. Benar kan, Emilia?"


Emilia memalingkan wajahnya. Namun dengan kasar Eveline menarik dan mencengkram rahangnya. Emilia kaget dan berusaha melepaskan cengkraman itu. Sayangnya tenaga Eveline sangatlah kuat. "Kau harus ingat, Emilia. Sampai kapan pun, aku tak akan pernah memaafkanmu. Meski kau istri Kakaku, lelaki yang aku sayangi. Rasa benciku padamu tak akan pernah berubah. Beruntung putramu darah daging Kakakku, jika tidak...."


Emilia menampik tangan Eveline dengan kasar sebelum wanita itu lanjut bicara. Lalu menjatuhkan diri ke lantai dan bersimpuh di kaki Eveline. "Sudah aku katakan aku terpaksa. Aku terpaksa melakukan itu. Aku mohon, jangan sakiti putraku. Kau boleh membunuhku, tapi jangan putraku. Aku yang bersalah."


Eveline mengeratkan rahangnya dengan mata yang memerah. "Lepaskan aku."


Emilia menggeleng. "Aku mohon, berjanjilah untuk tidak melukai putraku. Dia tak bersalah."


"Lalu bagaimana dengan anakku, Emilia! Bahkan aku dan anakku tak punya salah padamu. Tapi kau membunuhnya dengan kejam! Ibu macam apa dirimu hah?" Teriak Eveline mendorong Emilia hingga tersungkur ke belakang. Eveline pun mulai menangis. "Kau tidak pantas berada di keluarga ini, Emilia. Sadarlah diri. Kau tak akan pernah diterima di keluarga ini. Jadi pergilah dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi."


Emilia memeluk kedua kakinya sambil menangis pilu. "Maafkan aku."


Eveline menjambak rambutnya sendiri dan berteriak frustrasi. Ia benar-benar menyesal karena menemukan rekaman kamera pengawas saat kejadian itu. Dan mengetahui jika Emilia lah pelakunya. Lebih baik ia tak tahu apa-apa ketimbang harus tahu kebenaran menyakitkan ini. Awalnya Eveline hanya tahu jika kejadian itu murni perbuatan Rose, tak menyangka jika Emilia juga terlibat dan yang lebih parah dialah pelaku utamanya.


Di waktu bersamaan, Marvel pun masuk dan betapa terkejutnya ia saat melihat Emilia terduduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya. Juga keberadaan Eveline di sana. Buru-buru Marvel menghampiri Emilia, tetapi dengan cepat ditahan oleh Eveline.

__ADS_1


Marvel menghadap pada sang adik, lalu menatapnya datar. "Apa yang kau lakukan?"


Eveline tersenyum kecut. "Harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau menikahi wanita gila ini ha'h? Padahal kau tahu dia orang yang sudah membunuh keponakanmu sendiri. Kenapa?" Histerisnya seraya menarik jas Marvel, menatapnya sengit.


Marvel menatapnya tajam. "Kau tidak tahu apa yang terjadi, Eve."


"Ah, jadi kau jatuh cinta pada wanita pembunuh ini? Katakan padaku, kau jatuh cinta pada pembunuh ini sampai kau dibutakan olehnya?" Eveline mencengkram erat kedua sisi jas Kakaknya itu. "Jawab, Kak!"


"Cukup! Dia istriku, Eve." Bentak Marvel yang berhasil membuat Eveline mundur beberapa langkah. Untuk pertama kalinya Marvel membentaknya dan itu karena wanita yang sudah mencelakai bayinya.


Marvel menyugar rambutnya dengan kasar, ia sangat menyesal karena kelepasan membentak adiknya itu. Ditatapnya Eveline penuh penyesalan. "Eve."


Eveline mengangguk sambil tersenyum masam lalu mundur perlahan. "Kau melepasku hanya karena wanita ini, Kak?" Tunjuknya ke arah Emilia. Namun Marvel masih saja diam. "Baiklah jika itu yang kau inginkan. Sampai mati pun aku tak akan pernah memaafkan wanita ini. Ingat itu." Setelah mengatakan itu Eveline pun langsung pergi dan membanting pintu dengan kencang.


Marvel mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berteriak frustrasi. Emilia yang melihat itu pun semakin merasa bersalah dan terpojok.


Marvel tersadar, kemudian bergegas membantu istrinya bangun. Emilia tak berani menatapnya karena ketakutan. "Maafkan aku, Marvel."


Marvel menariknya ke dalam dekapan, seketika tangisan Emilia pun pecah. "Harusnya kau tidak menikahiku, Marvel. Aku membuat hubungan kalian hancur."


Marvel mengecup kepalanya mesra. "Dia sedang emosi, karena itu menggila seperti tadi. Kau tidak perlu takut, aku bersamamu."


Marvel mengangguk. "Besok kita pindah ke apartemen." Emilia mengangguk dengan sisa tangisnya.


Tidak lama dari itu Violet masuk dengan senyuman lebarnya karena tidak tahu soal kejadian barusan. Dengan santainya ia mendatangi keduanya.


"Wah, kita semua menunggu kalian di luar sana. Tapi kalian malah mesra-mesraan di sini." Ujarnya yang kemudian berdiri di depan mereka. Namun senyuman itu memudar saat melihat wajah sembab Emilia. Bahkan riasan wanita itu sudah berantakan.


"Em?" Kaget Violet. Sontak ia pun menatap Marvel. "Hey es balok, apa yang kau lakukan padanya?"


Marvel menatapnya datar. "Keluarlah."


Violet menatap Emilia untuk meminta jawaban. "Em...."


"Keluarlah, Vio." Perintah Marvel lagi.

__ADS_1


Violet menatap keduanya bingung, tetapi menuruti perintah sodaranya itu meski ribuan pertanyaan ingin ia lontarkan. Ia terpaksa meninggalkan mereka berdua.


Perlahan Marvel mendorong tubuh istrinya, lalu menyapu jejak air matanya lembut. "Duduklah."


Emilia menatapnya lekat. "Aku tidak ingin melanjutkan pestanya, Marvel. Aku mohon."


Marvel mengangguk. "Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar."


Emilia mengangguk pelan. Marvel pun menatapnya sebentar sebelum benar-benar pergi.


Di kamar lain, Eveline terlihat berdiri menghadap ke luar. Di mana ia bisa melihat langsung halaman belakang yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Tatapan dingin yang sudah lama tak ia perlihatkan pun kini muncul lagi.


Lucas yang sejak tadi mencari keberadaan istrinya itu pun tersenyum saat melihat Eveline ternyata berada di kamar sejak tadi. Perlahan ia mendekat, lalu memeluknya dari belakang. Jika biasanya Eveline memberikan reaksi sanang, tetapi kali ini wanita itu hanya diam mematung. Tentu saja Lucas merasa heran.


"Baby?" Lucas pun membalik tubuh Eveline agar menghadap dirinya. "Hey, kau baik-baik saja?" Tanyanya mulai cemas.


Eveline menatapnya datar. "Bahkan kau masih bisa bahagia untuk pestanya, Luc."


Lucas mengerutkan kening. "Tentu saja aku bahagia, ini pesta pernikahan sodara kita. Apa kau tidak bahagia?"


Eveline masih mempertahankan wajah datarnya. "Aku tidak tahu di mana hati semua orang setelah apa yang terjadi. Mommy, Daddy, Kakakku, bahkan kau, Luc." Air matanya pun kembali meluncur deras. Hatinya benar-benar sakit karena merasa semua orang sudah mempermainkannya. Menyembunyikan kebenaran soal Emilia bahkan mereka menyambut wanita pembunuh itu dengan senyuman. Di mana hati mereka sebenarnya? Itulah yang saat ini Eveline pikirkan.


Lucas pun semakin bingung dan panik. "Honey, apa yang kau katakan hem?" Diusapnya jejak air mata sang istri. Benar-benar tak tahu jika istrinya mengetahui sebuah kebenaran yang sudah ia tutupi selama ini.


Eveline langsung menepis tangannya kasar. "Berhenti bersikap baik padaku, Luc. Kalian semua menjijikan."


Setelah mengatakan itu Eveline melempar sebuah hardisk ke arahnya lalu beranjak pergi. Ia meraih kunci mobilnya dengan kasar sebelum benar-benar pergi meninggalkan suaminya.


"Honey." Panggil Lucas yang disambut suara benturan pintu yang cukup kencang.


Lalu diambilnya benda yang Eveline lempar tadi. Lucas mengusap wajahnya dengan kasar karena tak percaya benda itu masih ada di sana, bukankah itu sudah dimusnahkan? Lalu kenapa bisa ada di tangan Eveline?


"Arggghhh!" Lucas berteriak frustrasi dan segera menyusul Eveline.


Bahkan di luar sana Eveline melewati keluarganya yang baru saja masuk dengan wajah datar. Termasuk Sabrina dan Arez yang notaben orang tuanya.

__ADS_1


"Eve, kau mau ke mana?" Panggil Sabrina saat putrinya itu berlalu begitu saja. Namun Eveline terus berlalu sampai Lucas pun datang menyusulnya. Semua orang terlihat bingung dibuatnya.


Sebelum benar-benar mengejar sang istri, Lucas memberikan hardisk tadi pada Marvel. "Aku tidak tahu kenapa benda ini masih ada padanya," katanya sebelum meninggalkan semua orang sambil meneriaki nama istrinya.


__ADS_2