
Di sebuah kamar, terlihat dua orang wanita masih bergelayut dalam satu selimut. Lalu pantulan cahaya yang masuk dari jendela berhasil membangunkan keduanya.
"Apa kalian merasa lelah?" tanya Alex yang kini sudah duduk di sebuah kursi, dengan posisi menghadap kedua wanita itu yang baru membuka mata. Keduanya pun langsung menoleh ke arah Alex, lalu kembali memeriksa keadaan tubuh masing-masing. Seketika rona merah di pipi mereka timbul, tentu saja ingatan malam tadi membuat mereka merasa malu saat melihat Alex. Satu malam yang cukup panjang dan membuat keduanya tak berdaya.
"Hanya dua menit, aku menunggu kalian di meja makan." Alex bangkit dari posisi duduk, lalu beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
"Jadi, malam tadi itu benar-benar nyata?" tanya Gilly dengan mata berbinar. Namun berbeda dengan Cherry, wajahnya masih terlihat lelah.
"Kau pikir saja sendiri," sahut Cherry bergerak ke kamar mandi, meninggalkan Gilly yang masih berlindung di bawah selimut. Lalu wanita itu pun tersenyum puas, kebahagiaan menyelimuti dirinya saat ini.
Setelah membersihkan diri, kedua wanita itu pun langsung bergerak menuju meja makan. Di sana Alex sudah duduk dengan santai. Beberapa hidangan pun sudah tersusun di atas meja panjang. Tidak ada orang lain di sana, hanya mereka bertiga. Semua penghuni sudah kembali ke Indonesia beberapa minggu yang lalu.
"Duduk, dan makanlah." Alex mengulas senyuman, membuat kedua wanita itu jadi salah tingkah.
"Terima kasih, Sayang."
Alex membalas senyuman saat mendengar panggilan Cherry padanya. Ia pun menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar mereka memulai sarapan.
"Bagaimana dengan pernikahan?" tanya Alex usai makan. Kedua wanita itu kaget bukan main dan saling melempar pandangan.
"Kakak ingin menikahi aku dan dia, sekaligus?" tanya Cherry tidak percaya dengan apa yang Alex pikirkan.
"Tentu, apa kau meragukan kemampuanku? Apa malam tadi belum cukup untuk membuktikan kekuatanku?"
Blushing. Itu lah yang terjadi pada kedua wanita itu. Mereka masih ingat betul bagaimana panasnya malam tadi.
"Jadi, masih ragu padaku?" tanya Alex lagi. Matanya menatap kedua wanita itu bergantian.
"Tidak, sejak dulu aku tidak pernah ragu."
"Benar itu, saya juga tidak pernah ragu." Gilly tersenyum lebar. Alex mengangguk pelan.
__ADS_1
"Satu bulan lagi pernikahan akan berlangsung. Hanya saja, kalian harus memenuhi syarat untuk menjadi seorang Nyonya Alexander." Alex melipat kedua tangannya di dada. Menatap keduanya secara bergantian.
"Syarat?" tanya Cherry bingung. Sedangkan Gilly memilih untuk diam, menunggu penjelasan Alex.
"Ya, aku punya satu syarat. Setelah menikah, tidak ada lagi kebohongan dan penghianatan. Jika aku tahu ada yang berbohong dan kalian mencoba untuk menghianatiku, posisi Nyonya di mansion ini tidak akan pernah ada." Alex tersenyum penuh arti.
Kedua wanita itu diam membisu, seakan berpikir begitu keras. Mereka cukup faham ke mana arah bicara Alex.
"Aku tidak keberatan," ujar Gilly begitu yakin. Sedangkan Cherry, masih berpikir keras dengan syarat yang Alex berikan.
"Aku tidak pernah menyukai wanita pembohong, juga tidak akan segan membuangnya ke dasar laut. Itu tergantung kalian, semua keputusan ada di tangan masing-masing. Menjadi Nyonya Alexander memang butuh pengorbanan," jelas Alex dengan nada santai.
"Aku setuju," ujar Gilly masih kekeh dengan pendiriannya. Melihat ambisi Gilly yang memuncak, Cherry pun tidak mau kalah.
"Baiklah, aku juga setuju." Cherry menatap Gilly tajam. Keduanya saling melempar pandangan maut. Sedangkan Alex, ia hanya tersenyum tipis.
Setelah perbincangan panjang, lebih tepatnya perdebatan sengit dari kedua wanita itu selesai. Alex langsung beranjak menuju kamarnya.
"Ana, aku tidak pernah membayangkan jika aku benar-benar jatuh cinta padamu. Dulu aku memang mencintai Nissa, tapi aku tidak merasa kehilangan seperti ini. Aku merindukanmu." Alex berbaring di sana, menghirup dalam aroma Sweet yang masih tertinggal. Selama satu bulan, Alex sengaja tidak mengganti barang apa pun. Masih sama seperti dulu, sebelum Sweet meninggalkannya. Alex memejamkan mata, memutar kembali memori manis bersama Sweet.
"Mas," panggil Sweet berbaring di atas paha Alex sebagai tumpuan. Alex masih pokus pada smartphone miliknya.
"Hmmm," hanya itu yang keluar dari mulut Alex sebagai jawaban.
"Jadi benda itu lebih penting?" tanya Sweet begitu kesal. Alex yang mendengar itu langsung meletakkan smartphone miliknya di atas nakas.
"Apa, sayang?" Alex sedikit menunduk, untuk melihat wajah istrinya.
"Aku ingin meminta sesuatu, boleh?" tanya Sweet tersenyum manis. Alex yang mendengar itu langsung berbinar.
"Kamu ingin melanjutkan kegiatan malam kemarin?" tanya Alex begitu semangat. Sweet yang mendengar itu pun berdecak kesal.
__ADS_1
"Bukan itu, tapi...." Sweet sengaja menggantung ucapannya. Membiarkan Alex menunggu kelanjutannya.
"Tapi?" Alex mengulang ucapan Sweet karena penasaran.
"Bisa tidak? jika kamu mendapat sebuah masalah. Jangan menggunakan kekerasan atau segala sesuatu yang mengancam nyawa kamu, Mas. Aku cuma takut, takut menjadi janda di usia dini."
Alex tergelak mendengar perkataan Sweet, baginya itu sangat lucu. Berbeda dengan Sweet, ia cukup kaget melihat respons Alex atas semua permintaannya.
"Tenang saja, aku tidak akan mati sebelum mendapat sepuluh anak darimu." Alex kembali tertawa.
"Mas, aku serius. Jangan pernah membahayakan diri kamu. Aku tahu umur kita di tangan Allah, tidak ada yang tahu kapan kita akan di panggil. Tapi, setidaknya kita menghindari kematian dalam keadaan buruk, kamu juga tidak pernah salat. Apa kamu tidak ingin kita sama-sama masuk surga?" Sweet menggenggam erat lengan kanan Alex. Alex terdiam, semua perkataan Sweet berhasil menampar dirinya.
"Aku akan mencoba," sahut Alex dengan nada cepat.
Sweet menghela napas berat, "kapan? Sampai rambut kamu berubah putih semua? Belum tentu juga kamu merasakan itu semua."
"Iya, aku tahu. Kenapa akhir-akhir iku kamu sangat cerewet, Sayang?"
Sweet sedikit mendongak, untuk menangkap netra milik suaminya.
"Bukan cerewet, hanya mengingatkan saja. Jika kamu tidak mau dengar, tidak jadi masalah." Sweet bangkit dari posisinya. Kemudian menatap Alex cukup lama, setelah puas ia pun turun dari atas pembaringan. Berjalan cepat menuju kamar mandi.
Alex terdiam, memikirkan semua permintaan istrinya. Apa yang Sweet katakan itu memang benar? Dirinya sudah sangat jauh dari Sang Maha Pencipta. Ia sangat malu untuk bertemu dengan Sang Khalik.
Suara dering ponsel berhasil menarik Alex dari lamunannya. Dengan malas ia mengambil smartphone miliknya di atas nakas.
"Ada apa?" terdengar nada malas saat Alex menerima panggilan seseorang di balik telepon.
"Hmmm, satu jam lagi aku akan ke sana. Jangan menggangguku lagi, aku akan membunuhmu jika berani menggangguku lagi." Alex mematikan sambungan telepon sepihak. Tidak ada yang menarik dari lawan bicaranya.
Saat Alex meletakkan kembali ponselnya, pandangannya terhenti di sebuah frame foto. Seorang wanita yang tengah tersenyum begitu manis, siapa lagi jika buka Sweet, istrinya. Alex mengambil gambar itu saat Sweet sedang memasak. Tentu saja senyuman itu diberikan khusus untuknya, karena Sweet tidak pernah tersenyum pada orang lain.
__ADS_1
Tangan besar milik Alex bergerak untuk mengambil potret sang istri. Menatapnya dengan penuh kerinduan. "Tunggu aku, setelah semua ini berakhir. Aku akan membawamu kembali, Ana. Aku tidak ingin kau ikut terlibat dalam masalah ini, jika kau terus berada di sampingku. Mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk terlepas dari masalah ini, aku harap kau tidak benci padaku."