Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (5)


__ADS_3

Lucas memasuki apartemennya tepat di malam hari. Ia sudah sangat merindukan pujaan hatinya karena seharian penuh ia tidak melihatnya.


"Baby." Panggil Lucas saat memasuki kamar. Namun, ia cukup kaget saat melihat kondisi kamar yang kosong. Hanya ada seorang wanita yang terikat di atas ranjang. Wanita itu adalah orang yang ia bayar untuk memberi makan Eveline.


Lucas menghampiri wanita itu dan langsung membuka penutup mulutnya.


"No-nona baru saja kabur, Tuan. Maafkan saya, saya lalai."


"Sialan!" Lucas mengeluarkan ponselnya dan langsung melihat rekaman cctv. Tidak perlu lama, ia pun langsung menghubungi seseorang. "Matikan lift sekarang juga. Jaga semua pintu lift." Titahnya.


Di dalam lift, Eveline terlihat cemas dan terus memandangi angka yang menunjukkan dirinya baru sampai di lantai delapan. "Ayolah, cepat sedikit."


Namun, tiba-tiba saja lift berhenti. Eveline terkejut dan semakin ketakutan. "Tidak."


Eveline menggedor pintu lift sangking paniknya. Dan tidak lama lift pun kembali berfungsi. Eveline bernapas lega. "Sepertinya cuma macet."


Eveline tersenyum lega karena sebentar lagi ia akan sampai di lantai dasar. Namun, tiba-tiba saja lift terbuka di lantai tiga. Seketika Eveline kembali panik. "Ya Tuhan, apa dia menemukanku secepat ini?"


Benar saja, pintu lift terbuka. Dan yang paling Eveline takutkan pun benar-benar terjadi. Di depannya saat ini sudah berdiri Lucas Winston dengan tatapan membunuh yang kental.


"Luc, please." Eveline mundur ke belakang saat Lucas melangkah maju dan masuk sepenuhnya ke dalam lift. Lalu pintu lift pun tertutup rapat. Dengan cepat Lucas menekan lantai tiga puluh, yaitu lantai apartemennya.


Tubuh Eveline semakin terpojok. Lucas masih memberikan tatapan tak bersahabat. Dan dengan sekali gerakan Lucas berhasil mengurung Eveline dengan kedua tangan kekarnya. "Kau ingin kabur dariku?"


Eveline menelan air liurnya. "Lepaskan aku, Luc. Kau tidak puya hak mengurungku seperti ini."


"Berani sekali kau lari dariku, Eve." Geram Lucas mengabaikan permohonan Eveline.


Eveline mendorong dada Lucas dengan kasar. Sayangnya lelaki itu begitu kuat dan tidak goyah sama sekali. "Aku muak, Luc. Lepskan aku sekarang. Kau pikir aku akan luluh padamu? Sampai mati pun aku tidak akan pernah menjadi milikmu." Bentaknya mulai kesal. Mata gadis itu memerah menahan tangisan.


Lucas memejamkan matanya dengan rahang yang mengeras. Bahkan giginya gemertak karena menahan emosi. Lucas membuka matanya kembali dan langsung menyambar bibir Eveline.


Dengan sekuat tenaga Eveline menolak dan terus memberontak. Bahkan ia brehasil menggigit bibir Lucas hingga berdarah.


"Lepaskan aku, brengsek. Lepaskan aku." Teriak Eveline tersu memukuli Lucas sekuat tenaga, berharap Lucas goyah dan melepaskannya.


"Diam!" Bentak Lucas yang berhasil membuat Eveline kaget dan refleks menghentikan perlawanan. "Kau membuatku marah, Eve."


Mata Lucas memerah, ia benar-benar marah kali ini. Lucas mencengkram erat rahang Eveline sampai membuat gadis itu meringis kesakitan. "Kau memaksaku untuk melakukan ini, Eve. Kau membuatku marah."


"L-luc, saakit." Lirih Evelien berusaha menjauhkan tangan Lucas dari rahangnya yang hampir patah itu.


Lucas mengunci kedua tangan Eveline di atas kepala. Lalu dilepasnya cengkraman itu. "Hanya ini yang bisa membuatmu jadi milikku, Eve." Dengan sekali gerakan Lucas menarik kedua kaki Eveline untuk melingkar di pinggangnya. Lalu menekan tubuh gadis itu sampai tak bisa bergerak.


"Lucas, aku mohon jangan lakukan hal bodoh. Aku sepupumu, Luc."

__ADS_1


Lucas seolah tidak peduli dengangan permohohan Eveline.


Sesampainya di lantai tiga puluh, Lucas menggendong Eveline ke apartemennya lagi. Ia sama sekali tidak peduli Eveline terus memberontak dan melawannya.


Sesampainya di kamar, Lucas melempar tubuh gadis itu ke atas ranjang. Sontak Eveline pun beringsut mundur. Sedangkan Lucas membuka jaket dan kaosnya.


"Ini yang kau minta bukan?" Lucas merangkak naik ke atas kasur. Eveline semakin panik dan hendak kabur, tetapi Lucas begitu sigap menarik kakinya. Dengan sekali tarikan Eveline kembali dalam kukungannya.


"Lepaskan aku, Lucas." Eveline kembali memberontak dan memukuli Lucas.


Lucas menangkap satu tangan Eveline dan...


Klik!


Tangan Eveline terborgol di kepala ranjang. "Dia menggangguku, sayang."


Ya, Lucas memang sudah mempersiapkan itu sebelum menjemput sang pujaan hatinya itu.


"Kau gila, Luc!"


"Ya, tidak perlu mengingatkanku." Lucas mengecup dada mulus Eveline dengan lembut. Dan lagi-lagi tangan Eveline menahannya.


Klik!


Kedua tangan Eveline kini berhasil diamankan. "Dia juga menggagguku, sayang."


"Tidak, sayang. Kau hanya boleh mencintaiku. Tidak untuk yang lainnya."


Krak! Dengan sekali tarikan Lucas berhasil merobek kemeja yang Eveline kenakan. "Tubuhmu indah, sayang."


Eveline masih saja memberontak karena ingin mempertahankan diri. Dan saat ini ia hanya punya kedua kakinya. Namun, kakinya tidak bisa bergerak bebas karena Lucas seakan mengerti isi kepalanya dan langsung menduduki kakinya.


"Hentikan, Luc. Sadarlah." Histeris Eveline saat Lucas semakin gencar menjamah tubuhnya.


"Stop! Akhh...." Eveline memekik kaget saat tangan Lucas menyelundup ke dalam celananya. Ia pun menggeleng kuat. Jemari besar itu justru bermain dengan lihai di dalam intinya.


"Tidak, Luc. Hentikan, huhu." Tangisan Eveline pun pecah. Sayangnya Lucas sudah teralu marah saat ini. Ia marah karena Eveline mencoba kabur darinya.


"Sakit, brengsek!"


"Hatiku lebih sakit saat kau mencoba lari, Eve. Kau hanya milikku, Eve. Hanya mulikku." Lucas membenamkan wajahnya di antara dada Eveline. Lalu menciptakan mahakaryanya di sana. Dan itu sangat banyak.


"Nghhh...." Eveline mengerang saat jemari Lucas terus bermain di bawah sana. Menciptakan sebuah perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan tubuhnya lemas saat gejolak aneh menerjangnya.


Entah bagaimana, kini keduanya sudah dalam keadana naked. Lucas tersenyum puas, memandangi tubuh indah gadis pujaan hatinya di bawan sana dengan penuh gairah. Lucas memberikan kecupan di perut rata Eveline. "Aku akan menghadirkan buah cinta kita di sini."

__ADS_1


Eveline menggeleng lemas. "Please, Luc. Jangan lakukan itu."


Lucas terus mengecupi perut rata itu dan perlahan turun ke bawah. Tubuh Eveline tersentak saat Lucas memberikan kecupan di bawah sana. Bahkan lidah kasar itu menyapunya dengan lembut.


"Nghhh...." Eveline berusaha tidak mengeluarkan suara. Sayangnya ia tidak mampu melakukan itu. Perlakuan Lucas membuatnya lupa jika dirinya sedang dalam bahaya.


"Oh... hentikannn, ngghhh Luchh." Tubuh Eveline bergetar hebat saat ia mendapat pelepasan lagi. Tubuhnya lemas seketika. Sedangkan Lucas tersenyum di bawah sana.


"Aku tahu kau tidak mungkin bisa menolakku untuk masalah ini, Eve." Lucas kembali mengukung tubuh Eveline. Dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Eveline.


"Please... jangan, Luc." Lirih Eveline dengan deraian air mata.


Lucas tersenyum seraya mengusap pipi mulus Eveline. "Ini akan sakit sebentar." Bisiknya. Dan dengan sekali hentakan ia berhasil menyatukan diri dengan gadisnya.


Eveline menahan jeritan, rasa sakit di bawah sana membuat air matanya semakin luruh. Tubuhnya terasa seperti terbelah menjadi dua sangking sakitnya.


Lucas tersenyum penuh kemenangan saat melihat darah segar menetes ke seprei dan membentuk noda. "Terima kasih karena menjadikan aku yang pertama, sayang."


Eveline menatap Lucas penuh permusuhan. "Brengsek kau, Luc."


"Hm. Kau yang memaksaku melakukan ini, Eve. Maafkan aku." Lucas pun mulai memaju mundurkan pinggulnya dengan lembut karena tidak ingin menyakiti gadisnya.


Eveline menggigit bibirnya, ia tidak bisa memungkiri jika apa yang sedang mereka lakukan saat ini menciptakan perasaan yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Dan itu hanya bisa diungkapkan dengan suara d*s*h*n.


"Nghhhh... sakitt, Lucchhh ah...." Eveline tidak tahan lagi jika terus diam. Permainan Lucas membuatnya lupa diri jika saat ini mereka sedang dalam jurang kehancuran. Lelaki itu sangat pandai membawanya terbang melayang ke udara. Dan siap terhempas ke atas bumi.


Setelah di rasa tidak ada lagi perlawanan, Lucas melepaskan borgolan di tangan Eveline. "Kau sangat luar biasa, sayang."


"Jangan, Luc. Jangan di dalam, aku tidak mau." Histeris Eveline saat merasakan milik Lucas mulai berkedut dan semakin membesar. Dan detik berikutnya Lucas berhasil membenamkan benih cintanya di dalam rahim Eveline.


Sontak tangisan wanita itu pun pecah. Sedangkan Lucas justru ambruk di atas tubuhnya. "Terima kasih." Ucapnya seraya memberikan kecupan di bibir Eveline. Mengabaikan tangisan wanita itu yang semakin menjadi.


Lucas menggeser tubuhnya, berbaring di sisi Eveline. "Jangan menangis, aku akan bertanggung jawab jika kau hamil."


Eveline semakin terisak saat mendengar itu. Ia pun merubah posisi tidurnya membelakangi Lucas. "Kau jahat, Luc."


Lucas menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Lalu memeluk Eveline dengan penuh perasaan. "Jangan menangis, Eve. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkamu."


Lucas terus mengecupi pundak Eveline. Memeluknya semakin dalam. "Tidurlah, aku tahu kau lelah."


Eveline tidak menjawab dan terus menangis.


"Menangislah sepuasnya, Eve. Aku tahu aku salah. Tapi yang aku lakukan ini hanya untuk memilikimu, Eve. Hanya cara ini agar kau terus disisku. Aku ingin kau mengandung anakku." Lucas mengecup pucuk kepala Eveline.


Keduanya pun terdiam cukup lama. Sampai rasa kantuk pun mengalahkan segalanya.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2