Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (36)


__ADS_3

Gabriel mengumpat kesal karena tak kunjung menemukan Claire yang dibawa lari oleh Melvin. "Brengsek! Aku tidak akan membiarkannya merebut cintaku."


"Gabriel." Panggil seseorang. Spontan ia pun menoleh.


"Mom?"


Sky tersenyum dan mendatangi putranya. "Sedang apa kau di sini? Semua orang sedang sibuk berfoto di dalam. Oh iya, Zhea juga ada di sini."


Gabriel memutar bola matanya malas. Zhea merupakan gadis yang selalu dijodoh-jodohkan dengannya. Gadis itu selalu berpakaian tertutup, dan itu yang membuat Gabriel berpikir jika Zhea adalah gadis kuno yang tidak tahu soal dunia modern. "Kenapa wanita itu ada di sini? Apa kalian masih ingin menjodohkan aku dengannya? Ayolah, Mom. Aku tidak menyukainya. Ini zaman modern, tapi lihat penampilnnya. Dia selalu memakai pakaian besar."


Sky tersenyum. "Bukan tidak menyukainya, kau belum mencobanya. Zhea itu gadis yang cantik, bukan hanya parasnya, tapi hatinya juga. Cobalah dekatkan diri denganya. Wanita sembarangan kau dekati, Zhea yang terjamin kualitasnya kau tolak. Jangan jadi brengsek seperti Daddymu. Mommy tahu kau banyak memainkan wanita."


"Mom, aku tidak suka wanita itu. Dia terlihat kuno, aku yakin dia tidak tahu cara menyenangkan laki-laki." Ketus Gabriel.


"Menikah dengannya, lalu buktikan sendiri." Tantang Sky.


"Cih, aku rasa dia berpenampilan seperti itu karena ingin menutupi aibnya. Aku rasa sudah banyak lelaki yang menerobos lubangnya." Sinis Gabriel.


Sky tertawa kecil. "Sudah Mommy katakan, menikahlah dengannya. Buktikan itu sendiri, kau lelaki perkasa bukan?"


"Mom!"


Sky terus tertawa. "Hati-hati dengan ucapanmu, Gab. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Dia itu incaran banyak pria loh, siapa sih yang tidak mau? Dia itu seorang desainer ternama. Karyanya sudah mendunia."


"Aku tidak tertarik."


"Baiklah, jangan menyesal jika kelak ada yang mendahuluimu. Yang Mommy tahu dia itu masih perawan, juga tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki. Satu lagi, dia bukan wanita sembarangan." Sky sedikit berbisik di ujung kalimatnya. "Jadi pikirkan itu baik-baik."


Sky pun meninggalkan putranya yang masih memasang wajah kusut. "Sialan! Kenapa dia harus datang ke sini sih? Jika Grandma melihatnya, aku tidak bisa mencari gadisku." Dengan kesal Gabriel masuk kembali ke ballroom. Lalu bergabung dengan saudara-saudaranya yang sedang menikmati hidangan di meja bundar.


"Wah, kau sudah kembali? Aku kira akan terjadi perang saudara tadi." Ledek Violet.


Gabriel berdecih sebal seraya duduk di kursi yang kosong.


"Sebaiknya kau mengalah saja. Claire itu milik Kakakku, dia yang bertemu dengannya lebih dulu." Kata Eveline sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


Gabriel tidak peduli, diraihnya gelas dan botol minuman. Lalu menuang dan menegaknya dengan kasar.


"Maaf, apa aku boleh bergabung?" Suara indah itu pun berhasil menarik perhatian mereka. Termasuk Gabriel. Spontan matanya terbelalak saat melihat orang itu.


Zhea? Apa aku tidak salah lihat? Gabriel memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung kaki sampai kepala.


Gadis bernama Zhea itu tersenyum begitu manis. Dan penampilannya saat ini tentu saja membuat semua orang terpana. Gadis cantik itu memakai dress panjang berwarna gading yang super mewah, dipadukan dengan lilitan hijab berwaran coklat susu. Sangat jauh dari penampilan saat terakhir kali Gabriel melihatnya. Bahkan tubuhnya terlihat begitu indah.


Sial! Kenapa dia sangat cantik? Gerutu Gabriel dalam hati. Bahkan matanya enggan untuk berpaling. Setahun yang lalu, gadis itu tidak secantik ini. Imbuhnya.


"Wow! Kau Zhea kan?" Pekik Violet bangun dari duduknya. "Ya ampun, kalian tahu dia siapa? Dia ini pemilik butik terbesar di beberapa kota. Omg... senang sekali bisa bertemu denganmu."


Zhea tertawa kecil. "Itu berlebihan, aku hanya pembisnis kecil."


"Kecil apanya? Bahkan brandmu sudah mendunia."

__ADS_1


"Aku ingat, kau Zhea yang ingin Mommy dan Grandma jodohkan dengan Kakaku itu kan?" Seru Lea menatap Zhea lekat.


Zhea tersenyum, diliriknya Gabriel sekilas. "Aku tidak pernah menanggapi dengan serius soal perjodohan itu."


Lea menyenggol lengan Gabriel. "Kau bilang dia sangat jelek dan kuno, lalu apa ini?" Bisiknya.


"Terakhir kali aku melihatnya dia memang sangat jelek." Sahut Gabriel kembali menegak minuman. Tentu saja hal itu tak lepas dari pandangan Zhea. Sebagai seoarang muslim, tentu saja ia sangat anti dengan minuman yang Gabriel tegak.


Kenapa dia minum? Bukankah Aunty bilang dia seorang muslim? Pikirnya.


"Duduklah, Zhea. Senang bisa berbincang denganmu." Pinta Violet menarik kursi yang masih kosong disisinya. Dengan sopan Zhea pun duduk di sana.


Zhea tersenyum pada Lucas dan Eveline. "Selamat untuk kalian berdua. Semoga rumah tangga kalian selalu diberikan berkah dan kebahagian." Ucapnya dengan tulus.


"Terima kasih. Kami senang kau hadir di sini." Balas Lucas.


"Oh iya, aku dengar kau akan meluncurkan produk baru ya? Sudah dapat modelnya belum? Kalau belum, aku siap menjadi brand ambasadormu." Violet terlihat begitu antusias. Spontan Paul pun berdeham kecil.


"Sejak kapan kau menjadi seorang model, baby?" Sindirnya. Sontak yang lain pun tertawa renyah, kecuali Gabriel tentunya. Lelaki itu masih terlihat kesal.


"Ish... bukanya didukung, kau malah mengejekku." Kesal Violet.


"Karena yang aku tahu kau itu cuma bisa balapan." Timpal Paul. Violet pun mendengus sebal.


"Sebarnya masih ada satu posisi lagi. Tadinya aku ingin menawarkan ini pada Eveline karena dia seorang model ternama. Tapi jika kau mau, aku bisa mengusulkanmu." Kata Zhea.


"Hah? Benarkah? Jadi aku boleh ikutan?" Histeris Violet.


Paul yang melihat itu tersenyum geli. "Jika kau menikah denganku, aku dengan senang hati mengizinkanmu menjadi seorang model."


Violet menoleh. "Kau harus pegang janjimu itu, Paul. Karena aku akan menangihnya nanti."


"Tunggu! Kalian akan menikah?" Tanya Zhea.


"Ya, tapi tidak dalam waktu dekat. Kami sedang PDKT. Yah... anggap saja begitu," sahut Violet.


"Sepertinya aku tertinggal banyak berita. Lalu di mana Dustin dan Melvin? Sejak tadi aku tidak melihatnya." Tanya Zhea. Mendengar nama Dustin, Violet langsung diam.


"Mereka sibuk dengan kakasihnya." Jawab Lucas seraya melirik Violet. Sedangkan yang dilirik cuma bisa tersenyum kecil.


Zhea menganguk paham. Sampai pandangannya tidak sengaja bertemu dengan pandangan Gabriel. Namun, Zhea langsung memutus pandangannya.


"Zhea, apa Mommy dan Grandma masih membahas soal perjodohanmu dengan Kakakku?" Tanya Lea sedari tadi sudah gatal ingin bertanya. Bahkan ia kembali menyenggol sang Kakak.


Zhea tersenyum. "Tidak, karena sejak awal perjodohan itu sudah gagal. Lagi pula aku masih ingin fokus dengan karier. Jadi belum sempat memikirkan pernikahan." Jelasnya.


"Oh iya, aku dengar dari mulut seseorang dulu kau itu jelek loh." Sindir Violet ikut mengerlingkan mata pada Gabriel.


Lagi-lagi Zhea tersenyum geli. "Mungkin dulu aku belum terlalu paham soal fashion. Ah, lebih tepatnya aku tidak terlalu memperhatian penampilan. Memang banyak yang meledekku saat itu. Mereka bilang aku bintang Fashion, tapi penampilanku seperti ibu-ibu. Jadi aku coba merubah gaya hidup, seperti inilah aku sekarang."


"Wah... perubahan luar biasa menurutku," sahut Lea.

__ADS_1


"Dia tidak berubah, sejak lama memang cantik. Hanya orang bodoh yang mengatainya jelek." Sindir Mike. "Bagaimana menurutmu, Marvel? Apa kau tidak tertarik berebut seperti kembaranmu?"


Marvel mendengus sebal, lalu menegak minuman dengan kasar. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pembahasan mereka.


"Oh iya, Eve. Kau tidak ikut acara Berlin Fashion Week tahun ini? Lumayan untuk mengembangkan kariermu loh. Jika kau mau, aku akan mendaftarkan namamu sebagai model brand tahun ini. Bagaimana?" Tanya Zhea.


Spontan Eveline menatap suaminya. "Apa aku boleh ikut?"


"Kapan acaranya digelar?" Tanya Lucas.


"Bulan depan," jawab Eveline.


"Kau yakin dengan kondisi seperti ini?" Tanya Lucas meyakinkan.


"Aku rasa tidak jadi masalah, acaranya bulan depan. Jadi aku boleh ikut kan?" Eveline memberikan tatapan penuh harap.


"Jika kau merasa yakin, maka ikutlah." Mendengar itu senyuman Eveline langsung merekah. "Terima kasih, sayang."


"Welcome." Sahut Lucas seraya memberikan kecupan dibibir istrinya itu. Lucas memang tidak pernah membatasi istrinya untuk masalah pekerjaan.


"Ohh... so sweet. Jadi iri." Seru Violet.


"Aku bisa memberikannya untukmu, kau mau?" Tawar Paul.


Violet memutar bola matanya jengah. "Bukankah kau lebih senang melakukan segal hal setelah menikah? Maka tunggulah sampai pernikahan itu terjadi."


Paul tertawa kecil. "Aku akan pastikan setelah ini kita yang duduk dipelaminan."


"Buktikan itu, Tuan. Tapi hadapi dulu keluargaku."


"Tentu saja, aku pasti bisa mengambil hati mereka."


"Berhenti berdebat, ini bukan acara perdebatan. Sekarang mari kita makan, kasihan mereka diabaikan." Ujar Lucas.


"Cih, katakan saja kau kelaparan." Ledek Violet.


"Hm, itu kau tahu."


Lalu mereka pun tertawa kecil, dan mulai menyantap hidangan sambil sesekali mengobrol. Selama itu pula Gabriel tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Zhea. Padahal gadis itu sedikit pun tidak meliriknya.


Sial! Kenapa dia sok jual mahal sekarang? Apa dia marah karena aku menolak perjodohan itu? Lalu merubah penampilan untuk balas dendam padaku? Sial sial... kenapa aku harus terpengaruh dengannya?


Gabriel bangun secara tiba-tiba, tentu saja hal itu menarik perhatian yang lain.


"Kau mau kemana?" Tanya sang adik.


"Tidak perlu repot mencari kekasih orang, di depan matamu sudah ada permata lebih indah. Kenapa kau tidak coba meliriknya huh?" Sindir Violet.


Zhea yang paham maksud perkataan Violet pun sama sekali tidak menanggapi dan terus lanjut makan. Begitu pun dengan Gabriel, lelaki itu berlalu tanpa kata.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2