
Di kamar bernuansa putih, Violet juga terus termenung begitu jauh. Sejak pagi sampai menjelang sore, ia tak sedikit pun beranjak dari sana. Tentu saja hal itu membuat Alexella cemas.
"Sayang, bisa buka pintunya untuk Mommy?" Pinta Alexella seraya mengetuk pintu.
Violet menoleh ke arah pintu dengan tatapan kosong. Cepat-cepat ia hapus air matanya dan merapikan penampilannya saat ini. Kemudian bangkit dan melangkah pasti ke arah pintu. Dan membukanya perlahan.
Alexella tersenyum kala sang putri muncul dari balik pintu. "Ah, Mommy pikir kau kenapa, Vi?"
"Sorry, Mom. Aku hanya ingin menenangkan diri saja. Rasanya aku sangat lelah." Alibi Violet.
"Ck, Mommy hanya mengkhawatirkanmu. Sejak pagi kau terus mengurung diri di kamar. Memangnya tidak makan?"
"Aku punya stok makanan di kamar, Mom."
"Ah, syukurlah. Mommy cuma tidak ingin kau sakit." Alexella mengusap kepala Violet dengan lembut.
Violet tersenyum. "Maaf sudah menbuatmu cemas, Mom."
"Tidak apa, Mommy senang kau baik-baik saja. Oh iya, memangnya Paul tidak mengajakmu jalan-jalan?"
"Sebenarnya ada, tapi aku sedang tidak mood."
"Kau ini, ya sudah lanjutkan kesenanganmu. Mommy ke kamar dulu, Daddymu akan protes karena Mommy terlalu lama meninggalkannya." Pamit Alexella.
"Iya, Mom." Violet tersenyum begitu manis. Alexella pun ikut tersenyum sembari mengusap pipi halus putrinya.
"Putri Mommy sudah dewasa, bahkan sebentar lagi pasti akan menikah. Rasanya baru kemarin Mommy melahirkanmu, dan sekarang kau sudah sedewasa ini."
Violet mengangguk.
"Oh iya, Minggu depan hari pertunangan Dustin. Kau datang bersama Paul kan?"
Violet terdiam sejenak. "Tentu saja."
Alexella terlihat senang. "Mommy senang kau bersama Paul. Dia anak yang baik. Anak itu tahu cara menghormati orang tua. Bahkan Daddymu yang keras itu bisa luluh olehnya."
Mendengar itu Violet cuma bisa tersenyum kikuk.
"Kapan kalian akan bertunangan? Jika sudah menemukan waktu yang tepat. Minta Paul datang ke rumah untuk memintamu langsung pada Daddy."
"Mom." Violet melebarkan matanya. Tentu saja hal itu mengundang tawa kecil Alexella.
"Hey, memangnya Mommy salah bicara? Apa lagi yang kau tunggu sih? Usiamu ini sudah cukup untuk memikirkan rumah tangga."
"Mom, aku tidak ingin menikah muda sepertimu. Lihat aku, semua orang berpikir aku ini adikmu ketimbang anak. Itu tidak lucu." Protesnya dengan bibir menyebik.
"Ck, memangnya kau masih muda huh?"
"Ish... tidak perlu mengingatkan soal itu, Mom. Aku masih ingin bermain-main dulu."
"Memangnya waktu bermainmu masih kurang hm? Jangan sampai kau tua karena sibuk bermain. Masa subur wanita itu ada batasnya." Tegur Alexella merasa gemas dengan jawaban putrinya.
Violet tersenyum. "Aku rasa Paul akan tetap menerimaku meski aku tidak bisa memberikan keturunan."
"Hush... kau ini bicara apa sih? Mommy akan selalu berdoa untuk kebahagianmu, sayang." Alexella mengecup kening Violet dengan lembut. "Berjanjilah untuk terus menikmati hidupmu."
Violet mengangguk. "Thank you, Mom."
"Kau putri Mommy satu-satunya, Vi."
"Aku tahu, Mom. Karena itu kalian sangat menyayangiku. Dan memastikan aku bahagia kan?" Violet tersenyum lebar.
Alexella menatap putrinya begitu dalam. "Perlahan kau akan melupakannya, Sayang."
Violet terkejut mendengar ungkapan sang Mommy. "Mom...."
"Mommy tahu sejak lama kau menyukai Dustin. Tapi Mommy tidak bisa membiarkanmu bersama dengannya. Mommy harap kau paham, Vi." Sela Alexella membawa sang putri dalam dekapan. "Mommy tidak bisa melihat Grandma kalian kecewa lagi."
Violet memeluk sang Mommy dengan erat. "Bolehkah aku egois seperti Lucas dan Eveline, Mom?"
__ADS_1
"Tidak, Mommy tidak mengizinkanmu. Sudah cukup Grandmamu kecewa, jangan buat yang kedua kalinya. Cobalah terima Paul, dia lelaki baik."
"Bagaimana jika aku tidak bisa mencintainya?" Lirih Violet.
Alexella terdiam sejenak. "Kau belum mencobanya. Lupakan Dustin, dia akan segera menikah."
Violet menarik diri dari dekapan sang Mommy, lalu ditatapnya begitu dalam. "Tapi dia juga mencintaiku, Mom."
"Dia memang mencintaimu, tapi dia lebih mencintai Grandma kalian." Tegas Alexella.
Violet menunduk.
"Dustin pasti sudah memikirkan konsekuensinya. Karena itu dia berani mengambil langkah ini. Lagi pula kalian sudah punya pilihan masing-masing bukan?" Alexella menarik dagu Violet, ditatapnya wajah cantik itu lekat. "Bahkan Dustin sudah mengambil langkah cukup besar untuk menjauh darimu, dia akan menikah. Lalu apa salahnya kau juga melakukan hal yang sama?"
Violet kembali memeluk sang Mommy. "Maafkan aku jadi lemah seperti ini, Mom. Aku terlalu mencintainya."
"Mommy tahu." Diusapnya punggung Violet dengan penuh perasaan. "Yakinlah, perlahan kau pasti bisa melupakannya."
Gadis itu pun mengangguk. "Aku akan mencobanya, Mom. Aku akan melupakan dirinya."
Alexella mengangguk. "Ya sudah, sekarang istirahat saja. Jangan bersedih lagi."
Violet mengangguk patuh. Lalu pelukan keduanya pun tererai. "Aku mencintaimu, Mom."
"Mommy juga mencintaimu, kau putriku yang paling cantik dan manja."
Violet tertawa kecil. "Mom, sejak lama aku ingin bertanding denganmu. Bagaimana jika malam ini kita balapan?" Tantangnya.
Alexella terkejut. "Apa yang kau bicarakan? Mommy sudah tua, mana mungkin Mommy kembali ke arena."
"Ck, Mommy itu masih sangat muda. Ayolah, bukankah kau itu paling pantang di tantang? Kalau begitu aku menantangmu."
"Haish... Mommy tidak bisa. Daddymu akan membunuhku jika kembali ke lapangan." Kekeh Alexella.
Violet memutar bola matanya jengah. "Kau ini terlalu dibutakan cinta, Mom. Apa kau tahu? Selama ini Daddy masih sering datang ke arena. Pasti tidak tahu kan?"
Alexella tampak kaget. "Kau bercanda?"
Maafkan aku Daddy, hanya dengan cara ini aku bisa membawa Mommy keluar dari zona nyamannya. Salahkan dirimu karena terlalu mencintaiku. Violet tertawa dalam hati.
"Oh! Jadi dia bermain belakang denganku? Melarangku bermain, sedangkan dia masih bermain. Awas saja, aku akan menghajarnya." Alexella hendak pergi. Namun, dengan cepat ia menahan sang Mommy.
"Tunggu, Mom. Aku belum selesai bicara."
Alexella menatap putrinya heran. "Apa lagi? Apa Daddymu juga menggoda wanita lain?"
"Tidak."
"Jangan bohong."
"Tidak, Mommy. Justru para wanita yang menggodanya." Kata Violet dengan entengnya.
"Cih, lalu Daddymu tergoda huh?"
Violet pun mengangguk pelan.
Alexella mengepalkan kedua tangannya. "Dasar brengsek. Sudah tua juga masih saja gatal. Kalau begitu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Mommy terima tantanganmu."
Violet hampir saja memekik kegirangan, beruntung ia bisa menahannya. "Mommy yakin?"
"Ya."
Yes!
"Mom, apa kau akan memakai Spider?"
"Tentu saja." Alexella terlihat begitu menggebu. "Hubungi Daddymu, katakan padanya untuk datang malam ini ke arena. Aku tidak akan bicara padanya. Menyebalkan."
Violet pun mengangguk patuh. Yes, akhirnya aku bisa melihat kemampuan orang tuaku dalam balapan liar. Kita lihat siapa yang hebat. Pertarungan keluarga kecil akan segera beraksi.
__ADS_1
****
Malam harinya, Jarvis datang ke arena dengan wajah kaget bercampur amarah. Violet yang melihat itu merasa waswas, takut sang Daddy marah besar dan mengacaukan segalanya.
"Dad." Sapa Violet langsung memeluk lelaki tercintanya itu.
"Ya, Baby. Kenapa kau membawa Ibumu kemari?" Tanya Jarvis seraya menatap istrinya yang kini sedang bersandar di kap mobil dengan tatapan tak bersahabat.
Violet pun ikut menatap sang Mommy.
"Aku menantangmu, Jarvis." Tantang Alexella melipat kedua tangannya di dada.
Jarvis terdiam beberapa saat. "Apa taruhanmu?"
Alexella menatap mobil mewah suaminya. "Jika aku menang, kau harus menjual Sammymu."
Sontak Jarvis pun kaget mendengarnya. "Kenapa aku harus menjualnya?"
"Jadi kau keberatan huh? Apa mobilmu itu begitu banyak kenangan? Sampai kau tak rela melepasnya? Cih, brengsek." Alexella mendengus kesal.
Jarvis mengerut bingung. "Ada apa denganmu, Xella?"
Alexella mendengus sebal, tanpa menjawab ia pun masuk ke dalam mobil mewah andalannya itu. Lalu melaju cepat menunu garis start.
"Em, Dad. Sepertinya mood Mommy sedang tidak baik. Ikuti saja kemauannya." Violet tersenyum tipis.
"Daddy tahu kau sengaja melakukan ini bukan? Tunggu saja, Daddy akan menghukummu kali ini. Tunjukan kehebatanmu, jika kau dan Mommymu kalah. Akan ada hukuman untuk kalian." Jarvis menoel hidung putrinya.
"Dad...."
"Mau sampai kapan kalian berdiri di sana huh?" Tegur Alexella dengan tatapan tak bersahabatnya. Sponta Violet dan Jarvis pun saling memandang.
"Kau salah menantang orang, Baby. Mommymu bukan lawan yang seimbang." Bisik Jarvis. "Sepertinya kita akan kehilangan sesuatu yang kita sayangi."
"Dad, aku rasa hanya kau saja. Aku tidak..."
"Siapa yang kalah harus menjual mobilnya." Sela Jarvis.
Mata Violet terbelalak, pasalnya malam ini ia membawa mobil kesayangannya, yaitu Blue. Sejak awal tidak ada kesepakatan seperti ini. "Dad...."
"Tanggung resikonya saat kau memutuskan sesuatu tanpa kompromi." Sela Jarvis lagi, tetapi kali ini ia langsung masuk ke mobilnya. Lalu menyusul sang istri.
Violet menarik napas panjang. "Tidak, aku tidak boleh kalah."
"Apa kau takut?" Tanya seseorang yang berhasil membuat Violet menoleh.
"Paul? Kau juga di sini?" Kagetnya.
Paul tersenyum. "Aku mendapat undangan. Kali ini kita akan kembali menjadi rival, Baby."
Mulut Violet sedikit terbuka. "Apa-apaan ini?"
"Aku juga punya tantangan untukmu, sayang. Jika kau kalah dipertandingan ini, itu artinya kau harus bersedia menjadi milikku sepenuhnya."
"Apa maksudmu?"
"Kita menikah."
"Paul?"
"Aku tidak bercanda. Jika kau kalah, kau harus menerima cintaku dengan sepenuh hati. Akan tetapi jika aku kalah, maka aku akan melamarmu di tempat ini, malam ini juga. Bagaimana menurutmu kesepakatan ini?"
"Hah? Kesepakatan apa itu? Kenapa semua keuntungannya ada padamu?" Kesal Violet tidak setuju.
"Karena itu buktikan kehebatanmu, Baby." Paul mengedipkan mata. "Bersiaplah menjadi milikku, sayang." Setelah mengatakan itu, Paul masuk kembali ke mobilnya.
"Dengar Baby, akan aku pastikan malam pertama kita seindah dirimu. Aku mencintaimu. Persiapkan dirimu untukku." Imbuh Paul yang kemdian melajukan mobilnya meninggalkan Violet yang masih ternganga di tempatnya. Sampai ia pun tersadar dan tersentak.
"Paul!" Teriaknya geram. Sedangkan Paul tertawa puas di dalam mobilnya.
__ADS_1
Tbc....