
Setelah pertemuan keluarga, Dustin pun menemui sang grandma secara pribadi. Sweet terlihat duduk di tepi ranjang sembari menatap foto mendiang Alex dalam genggamannya. Lalu tersenyum penuh kerinduan.
Duatin pun duduk di sisinya. Spontan Sweet menoleh. "Ada apa lagi? Kau ingin membujukku agar menghubungi Violet dan memintanya kembali huh?"
Dustin menggeleng. "Aku hanya ingin restu darimu, grandma."
Sweet menatap lelaki itu lamat-lamat. "Kenapa kau tidak bilang jika kalian saling jatuh cinta? Kau dan Lucas sama-sama brengsek."
Dustin memeluknya dari samping. "Aku hanya tak ingin membuatmu kecewa, grandma. Aku bisa melihat luka dihatimu saat tahu Lucas menghamili Eveline. Dan aku tak ingin hal itu terjadi. Tapi... aku terlalu bodoh dan menganggap diriku paling suci. Sampai semua hal fatal ini terjadi. Semua salahku, bahkan aku harus membuatmu terluka lagi." Jelasnya panjang lebar.
Sweet menghela napas pendek. "Ya, akulah penyebabnya semua ini berawal."
"Tidak, kau tidak salah sama sekali. Kami yang salah. Tolong maafkan kami. Kami hanya ingin menjaga perasaanmu, semua ini terjadi tanpa terduga." Tutur Dustin. "Akulah yang bersalah karena menjadi pengecut. Bahkan aku menyakiti banyak hati sekarang. Kau, Violet, Sheena, juga semua keluarga ini. Apa aku masih pantas bahagia, grandma?"
Sweet mengusap lengan cucunya itu. "Aku tahu, dari semua cucuku. Hanya kau dan Violet yang patuh. Hanya saja aku tak pernah menyangka Tuhan memberikan ujian itu untuk kalian berdua."
"Maafkan aku, grandma."
Sweet terdiam sejenak. "Bukan kau saja yang bersalah, Dustin. Aku juga bersalah karena tidak terlalu memperhatikan kalian, sampai kalian saling jatuh cinta satu sama lain."
Untuk yang kesekian kalinya Dustin meminta maaf karena merasa bersalah.
"Kau dan Violet sah saja jika ingin menikah, sama seperti Lucas dan Eveline. Tapi saat ini Violet tidak ingin menemui siapa pun, sepertinya dia sangat kecewa padamu. Aku harap kau bersabar, lalu jemput dia saat semuanya sudah membaik."
Dustin terdiam sejenak. "Jadi kau merestui kami?"
Sweet mengangguk. "Kalian berhak bahagia. Tapi ingat pesanku, Dustin."
Dustin mengangguk. "Katakan apa itu? Aku akan mengingat pesanmu dengan baik."
Sweet menaruh foto mendiang di atas nakas, lalu tangannya beralih mengusap punggung tangan Dustin. "Tolong jaga keturunanmu, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Jangan biarkan mereka terlalu bebas melakukan segala sesuatu yang membuatnya lupa pada Tuhan. Hanya itu pesanku."
__ADS_1
Dustin pun menyanggupinya, dan mengatakan akan membahagiakan Violet sebisa mungkin. Dan mereka pun benar-benar mendapat restu. Itu artinya ia harus segera membawa Violet kembali dan menikahinya. Ia akan melakukan hal itu.
****
Setelah menemui sang grandma, kini Dustin kembali mendatangi Jarvis dan juga Alexella yang tengah duduk di balkon belakang. Untuk meminta restu sebelum dirinya kembali menemui Violet.
Dustin bersimpuh di kaki Jarvis. "Tolong restui aku dengannya, Uncle. Aku sangat mencintainya. Aku berjanji akan membawanya kembali."
Jarvis memalingkan wajahnya tanpa menjawab. Sepertinya masih sangat kecewa atas apa yang telah terjadi.
"Dustin." Panggil Alexella. Spontan Dustin pun menoleh. "Aunty berharap banyak padamu, bawa pulang Violet secepatnya. Aunty mohon." Lirihnya.
Dustin mengangguk. "Aku janji akan membawanya kembali, Aunty. Aku janji."
"Cih, kau tidak akan bisa membawanya kembali, Dustin. Kau tidak tahu seberapa kerasnya putriku, jika sudah mengatakan A, dia tidak akan berubah B. Percayalah padaku, kau akan sulit mendapat maaf darinya. Bahkan dia tak ingin bertemu kami sebagai orang tuanya." Sinis Jarvis menatap Dustin tajam.
"Biarkan dia sendiri, aku percaya putriku bisa menjaga diri sendiri. Dia tak pantas mendapat lelaki pengecut sepertimu." Imbuh Jarvis yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Dustin dan Alexella.
Dustin terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Aku akan berusaha membujuknya, Aunty. Aku pasti akan membawanya pulang."
Alexella mengangguk. Setelah itu ia pun ikut meninggalkan Dustin sendirian.
Di sisi lain, Violet justru memutuskan untuk pergi dari kediaman Digantara, karena tahu Dustin pasti akan kembali. Violet juga yakin orang yang membocorkan keberadaannya ada di rumah itu. Dan tebakannya itu benar, karena Clara lah yang memberi tahu Alexa soal keberadaan Violet. Oleh sebab itu Dustin mengetahui keberadaannya.
Karena tak ingin hal beberapa hari lalu terjadi lagi, Violet pun memutuskan untuk kabur dari sana. Ia pergi diam-diam saat seluruh penghuni rumah tidak ada. Beruntung ia berhasil mengelabui para pekerja di sana dengan alasan ingin berolah raga. Tentu saja mereka tak bisa melarangnya karena tak ada instruksi apa pun.
Violet kabur tanpa membawa barang berharga kecuali ponsel dan kartu identitasnya. Juga pakaian yang menempel ditubuhnya saat ini. Lagi pula hanya itu yang ia bawa saat kabur dari Berlin.
Kini Violet berada di sebuah halte, melihat sekeliling yang tampak asing banginya. Ia tidak tahu harus ke mana sekarang, ditambah tak ada uang sepeser pun di tangannya. Alhasil Violet mengecek sisa uang miliknya melakui mobile banking. Sepertinya cukup untuk hidup selama satu tahun di sini juga membeli sebuah rumah sederhana.
Kemudian Violet pergi ke sebuah bank untuk membuka buku raking dan memindahkan semua uang tabungannya. Sayangnya pihak bank meminta paspor dan syarat lainnya jika Violet ingin menabung dengan jumlah banyak. Alhasil ia pun memilih untuk tidak memindahkan semuanya dan mungkin akan bertahap. Dia akan memindahkan uang sesuai kebutuhan.
__ADS_1
Setelah semua urusan rakening selesai, gadis itu beranjak menuju hotel karena tubuhnya benar-benar lelah dan sangat lapar. Jadi ia bisa makan di sana dan langsung istirahat.
"Ah, rasanya sangat melelahkan." Keluhnya seraya menjatuhkan diri di atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan seksama. "Tapi... aku tidak bisa selamanya menetap di hotel. Uangku pasti akan cepat habis." Lirihnya.
Cukup lama gadis itu berpikir. Kemudian tiba-tiba bangkit. "Sepertinya aku harus segera mencari rumah atau apartemen." Gumamnya sembari mondar-mandir tak jelas.
"Ya. Aku akan mencari apartemen di sekitaran sini secepatnya. Dan juga harus membuka usaha agar uangku berputar." Gumamnya lagi dengan senyuman lebar. Namun, detik berikutnya senyuman itu pun memudar.
"Ck, pasti sangat sulit membuka usaha dengan identitasku sebagai orang asing di negara ini. Ya Tuhan, ternyata sesulit ini hidup di luar." Gerutunya dengan wajah sendu. "Apa aku meminta bantuan seseorang untuk mengurus kepindahanku? Tapi siapa?"
Violet terus mondar-mandir tak jelas sembari berpikir keras. Ia benar-benar pusing sekarang. Tak pernah terpikir dalam hidupnya akan mengalami hal sesulit ini, meski sebenarnya itu pilihannya sendiri.
Beberapa hari selanjutnya, Dustin benar-benar kembali untuk menemui Violet. Sayangnya ia hanya mendapat kabar dari Dika jika Violet sudah menghilang sejak beberapa hari lalu. Tentu saja Dustin kaget dan panik.
"Bagaimana bisa dia pergi begitu saja, Paman? Apa tidak ada petunjuk kemana dia pergi?" Semburnya sembari mengacak rambutnya sendiri.
Dika menatapnya dalam. "Dustin." Panggilnya yang berhasil menarik perhatian lelaki itu. "Aku rasa lebih baik kau biarkan Violet untuk beberapa waktu. Sepertinya dia ingin menenangkan diri untuk beberapa saat."
Dustin menatap Dika sendu. "Aku bisa mati jika harus melepaskannya, Paman."
"Mati? Apa sebelumnya kau pernah berpikir seperti itu, hah? Kau menyakiti Kakakku dengan menikahi wanita lain. Kau itu brengsek, Dustin. Sudah seharusnya Kakakku meninggalkanmu." Seru Melisa yang tiba-tiba muncul dengan pakaian sekolahnya. Gadis itu memang baru pulang sekolah dan tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Sejak Violet bercerita, Melisa sangat membenci Dustin karena sudah melukai hati Kakak tersayangnya.
"Melisa!" Tegur Dika. Namun gadis itu masih memberikan tatapan nyalang pada Dustin.
"Kau tidak akan pernah menemukannya." Pungkas Melisa yang langsung berlari meninggalkan keduanya.
Dika menghela napas. "Maaf soal Melisa."
Dustin pun terdiam seribu bahasa. Kini semua orang membecinya, tentu saja ia menerima itu. Ini semua salahnya sendiri. Bahkan ia kembali menelan rasa pahit soal kenyataan Violet yang menghilang entah kemana. Sebenarnya Dika tahu di mana Violet, hanya saja ia sudah berjanji pada gadis itu untuk menyembunyikan keberadaannya. Dan Dika tak bisa mengingkari itu.
Aku hanya bisa memberikan doa untuk kalian, selebihnya semua keputusan ada di tangan kalian. Batin Dika menatap Dustin iba.
__ADS_1