Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 72


__ADS_3

Alexella terus menatap Jarvis yang tengah menyantap hidangan. Lelaki itu sepertinya benar-benar lapar jika dilihat dari cara makannya yang begitu lahap.


"Thank you, Daddy." Ucap Alexella yang berhasil mencuri perhatian sang suami. Jarvis tersenyum lebar. Menggengam erat tangan istrinya.


"Akan aku lakukan apa pun yang kau inginkan, aku sedang belajar menjadi suami yang baik." Ujarnya begitu tulus.


"Thank you, thank you and thank you so much, my hubby. Apa yang kau lakukan tadi itu membuatku bahagia." Ucap Alexella tak kalah tulus. Ia sangat bahagia.


Jarvis menghela napas lega. "Aku senang jika kau senang, Xella. Cepat habiskan makananmu, kau bilang ingin mengunjungi makan Daddy bukan?"


Alexella pun mengangguk pelan.


"Habiskan, supaya baby kita sehat."


"Suapi aku." Pinta Alexella menatap Jarvis penuh harap.


"Aku tidak tahu kau semanja ini, aku pikir kau gadis balok es yang kaku." Ledek Jarvis yang berhasil membuat Alexella kesal.


"Aku bersikap manja hanya padamu dan Daddy. Cepat suapi aku."


"Baiklah, dasar gadis otoriter." Jarvis pun segera menyuapi istrinya sebelum sifat gadisnya kembali membeku.


Alexella terlihat senang saat mendapat suapan pertama dari sang suami. Akhir-akhir ini selera makannya memang agak berkurang karena efek kehamilan.


"Sudah." Katanya saat merasakan mual.


"Ini baru suapan ke empat, baby. Satu suap lagi."


"Aku mual, Jarvis." Mata Alexella terlihat berair karena menahan agar tak memuntahkan makanan yang baru saja ia telan.


"Baiklah, minum dulu." Jarvis memberikan gelas jus pada sang istri. Alexella pun meneguknya sampai setengah. Ia bersyukur karena rasa mual itu perlahan menghilang.


"Masih mual?"


Alexella menggeleng.


"Sebaiknya kita pulang. Aku juga sudah kenyang." Ajak Jarvis seraya menjentikkan tangannya untuk memanggil seorang waiters. Tidak lama seorang lelaki berseragam hitam putih pun menghampiri.


Jarvis mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada orang itu. Kemudian ia pun membawa Alexella pulang.


Sepanjang perjalanan Alexella terus diam karena kepalanya terasa pening. Dan sejak tadi Jarvis terus melirik istrinya.


"Apa sebaiknya kita tunda saja mengunjungi makam Daddy? Kau sangat pucat, baby."


Alexella menoleh. "Aku ingin sekarang, sebentar saja."

__ADS_1


"Baiklah."


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di pemakaman keluarga Digantara. Alexella membawa sebuah buket bunga krisan yang sengaja ia beli di jalan tadi. Sedangkan Jarvis membawa sekeranjang bunga tabur.


Alexella berjongkok di dekat nisan Alex, meletakan bunga itu di sana. Ia menengadahkan kedua tangannya untuk mempersembahkan sebuah doa untuk sang Daddy. Setelah itu ia pun mengusap ukiran nama Alex dengan lembut. Menaburkan bunga dengan penuh perasaan.


"Aku merindukanmu, Dad." Air mata Alexella pun menitik perlahan. Alexella menghela napas panjang. Sedangkan Jarvis hanya bisa mengusap punggung istrinya.


"Jangan khawatir, Dad. Sekarang Mommy baik-baik saja. Mommy kelihatan bahagia sejak baby twins lahir. Meski kadang Mommy sering menyinggungmu, Dad. Mommy sangat merindukanmu, aku tahu itu. Kami semua merindukanmu." Untuk yang kesekian kalinya Alexella menghela napas.


"Kau tahu, Dad? Aku sudah menyingkirkan wanita yang berani merenggut nyawamu. Dia lebih pantas di neraka dibanding dunia ini. Mungkin aku terkesan jahat karena menyiksanya sebelum dia mati. Tapi dia pantas mendapatkan itu, dia sudah merenggutmu dariku dan hampir merebut suamiku." Alexella mengadukan semua keluh kesahnya. Karena sudah sangat lama ia tidak berkunjung.


"Dad, calon cucumu sudah besar. Kau lihat ini, perutku sudah membuncit." Lanjut Alexella sembari mengusap perutnya. Tangisannya kini berganti dengan senyuman tipis. "Maaf, mungkin akhir-akhir ini aku jarang berkunjung, kondisiku tak memungkinkan untuk sering datang padamu, Dad. Ditambah jadwal kampusku mulai padat. Tapi aku akan berusaha untuk mengunjungimu meski hanya di akhir pekan. Saat suamiku tidak sibuk."


"Ya." Sahut Jarvis tersenyum tulus.


Alexella terdiam cukup lama sambil menatap batu nisan.


"Kita pulang. Aku rasa sudah cukup." Ajak Jarvis merasa khawatir dengan kondisi istrinya. Alexella pun mengangguk pasrah. Ia pun mencium ukiran nama sang Daddy sebelum beranjak pergi.


****


Mansion Digantara.


Arez memasuki mansion dengan langkah santai. Penampilan lelaki itu terlihat agak kusut karena baru pulang dari kantor di malam hari.


"Ya, Mom. Di mana Sabrina?" Tanyanya.


"Terakhir kali Mommy lihat di kamar, sepertinya dia sedang istirahat. Seharian penuh si kembar rewel, istrimu kelelahan. Biarkan dia istirahat."


Arez mengangguk pelan. "Aku ke kamar dulu."


Sweet mengangguk dengan diiringi senyuman manisnya. Arez pun bergegas menuju kamar. Dibukanya pintu dan yang pertama kali ia lihat yaitu Sabrina yang sedang tidur. Arez tersenyum tipis. Kemudian masuk dengan langkah pelan karena tak ingin menganggu tidur sang istri. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja. Kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian santai, Arez pun beranjak menuju kamar baby twins yang terhubung langsung dengan kamarnya. Arez tersenyum tipis saat melihat anak-anaknya juga terlelap.



"Baby boy." Arez menoel pipi mereka dengan gemas. Kemudian kembali ke kamarnya.


Arez berbaring disebelah Sabrina yang terlihat begitu lena dalam tidurnya. Seperti biasa ia pun menghadiahi sebuah kecupan hangat di kening sang istri. "I miss you." Bisiknya.


Sabrina menggeliat merasa tidurnya teganggu. Bulu mata lentik itu terus bergerak seolah enggan untuk membuka mata. Sedangkan kedua tangannya kini sudah melingkar di pinggang Arez.


"Aku mengantuk." Keluhnya dengan suara serak. Bahkan matanya masih terpejam rapat.

__ADS_1


"Tidurlah." Arez mengusap lembut surai halus Sabrina.


"Kau sudah makan?"


"Sudah."


"Aku belum, perutku sangat lapar tapi mataku mengantuk. Dua pangeran kecilmu itu benar-benar tak bisa diajak kompromi hari ini. Mereka rewel terus, sampai aku bingung harus melakukan apa? Beruntung ada Mommy yang membantuku." Sabrina mengadu layaknya anak kecil.


"Hm." Arez kembali mengecup kening Sabrina. Ia sudah terbiasa mendengar keluhan istrinya setiap kali dirinya pulang kerja. Sejak punya anak wanita itu semakin cerewet. Beruntung Arez sudah terbiasa dengan ocehannya.


"Al, bisakah kau mengambilkanku makanan? Aku sangat lapar. Aku ingin makan yang banyak. Sejak siang tadi aku belum sempat makan." Kini Sabrina pun membuka matanya. Menatap Arez penuh permohonan.


"Sejak kapan kau makan sedikit huh?"


Sabrina tersenyum malu. "Beruntung kau kaya raya. Jadi tidak perlu pusing memikirkan apa yang harus aku makan. Apa lagi sekarang sudah ada dua pengacau, aku butuh banyak asupan nutrisi."


"Bukan dua, tapi tiga." Sanggah Arez.


"Kau itu beda, Al. Kau memang bayi yang sulit di bujuk, pemaksa dan sesuka hati." Ledek Sabarina memukul dada Arez pelan.


"Tapi kau menyukainya. Kau selalu berteriak dan merancau tak jelas saat aku menyentuhnya."


Pipi Sabrina merona mendengar itu. "Stop it! Aku tidak ingin mendengarnya. Saat ini aku lapar, Al."


"Aku juga lapar, ingin segera melahapmu." Goda Arez.


"Al! Kau membuatku kesal tahu tidak? Apa kau ingin melihatku mati kelaparan huh?"


"Tidak."


"Kalau begitu ambilkan aku makanan yang banyak. Kau kan suami yang baik."


"Hm." Arez masih berdiam di tempatnya.


"Kapan kau akan bergerak, Al? Apa kau tidak mendengar suara cacing-cacingku berdemo?" Protes Sabrina saat Arez tak kunjung bergerak.


"Aku merindukanmu, jadi tunggu sebentar lagi."


"Ck, kau bisa memelukku sepuasnya setelah aku makan. Ayolah, Al. Aku sangat lapar. Sesekali aku ingin kau manjakan." Rengek Sabrina sambil mengusap rahang tegas Arez.


"Cium aku dulu." Pinta Arez menunjuk bibirnya.


"Cih, kau selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan." Sabrina pun segera melakukan permintaan suaminya. Mencium bibir Arez sekilas.


"Itu bukan ciuman, tapi kecupan." Protes Arez menarik tengkuk Sabrina dan mencium bibir sang istri dengan gemas. Cukup lama Arez melakukan itu sampai Sabrina kehabisan stok oksigen. Wanita itu terbatuk saat Arez menyudahi perbuatannya. Sedangkan Arez malah tersenyum melihatnya. Dan tanpa merasa bersalah ia pun beranjak pergi dari kamar.

__ADS_1


"Al! Aku membecimu." Teriakan Sabrina tertahan saat mengingat dua pangerannya yang sedang tidur. Bisa repot jika keduanya terbangun. Bahkan dirinya baru bisa istirahat satu jam. Sebelum Arez menganggu tidurnya.


__ADS_2