
Suara denyit alat rumah sakit terdengar begitu memilukan. Sudah seharian penuh Sweet belum sadarkan diri. Wanita itu jatuh pingsan saat pemakaman suaminya dilangsungkan. Dokter mengatakan ia syok berat sampai drop seperti ini.
Alexa tak henti-hentinya menangis seraya menggenggam tangan dingin sang Mommy. Berharap wanita tersayangnya itu segera siuman. Semua yang terjadi benar-benar membuat semua orang terpukul dan syok. Kepergian Alex benar-benar dadakan dan berhasil membuat gempar semua orang.
Arel, Sky, Alexella, Jarvis dan Winter hanya bisa menyaksikan itu dengan tatapan pilu. Kelimanya kini tengah duduk di sofa tanpa sepatah kata pun.
"Aku akan mencari wanita itu." Desis Alexella mulai mengeluarkan suara.
"Jangan gegabah, Xella. Bagaimana jika Sabrina juga korban?" Sanggah Jarvis menahan istrinya yang hendak bangun dari duduknya.
Alexella memberikan tatapan tajam pada Jarvis. "Kenapa kau membelanya? Apa belum cukup semua bukti yang tertuju padanya? Apa karena dia cantik dan kau menyukainya?" Sarkas Alexella.
"Baby, ini bukan saatnya untuk cemburu. Aku hanya memberi tanggapan. Jika memang dia pembunuhnya, mungkin dia sudah kabur." Ujar Jarvis berusaha meyakinkan sang istri.
"Cih, dia hendak kabur tapi kita lebih dulu memergokinya. Kalian semua dibutakan oleh kecantikan dan kepolosan wanita sialan itu." Sinis Alexella seraya menepis tangan Jarvis.
"Stop it, Xella. Kita semua sedang berduka, jangan memperkeruh suasana dengan membuat keputusan yang gegabah." Kali ini Arel ikut menimpali.
"Benar, Xella. Tunggu sampai semuanya jelas. Jarvis benar, mungkin saja Sabrina memang dijebak. Mereka ingin memecah keluarga kita melalui Sabrina. Karena Kakak ipar satu-satunya kelemahan Arez." Timpal Sky.
"Tidak perlu ikut campur, kau tahu apa tentang keluargaku huh? Jika kau berada di posisiku, apa kau akan tetap diam seperti ini? Dia membunuh lelaki yang amat aku cintai. Kau tidak akan tahu rasanya menjadi aku, Sky." Geram Alexella.
"Cukup, Xella. Di sini semua orang sedang bersedih. Jangan memperkeruh suasana. Bagaimana jika Mommy mendengar perkataanmu? Mommy akan semakin terluka." Perotes Arel tak suka dengan sikap adiknya.
"Tidak semua orang bersedih atas kepergian Daddy, di mana kembaranmu itu huh? Dia menghilang setelah pemakaman Daddy." Kesal Alexella.
"Dia sedang mencari bukti. Jika aku ada di posisinya saat ini. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Sabrina istrinya, dia jauh lebih tahu siapa wanita itu. Seharunya kau tahu Kakakmu itu tidak akan sembarangan memilih wanita." Ujar Winter ikut memberikan tanggapan.
"Ya. Kalian bela saja wanita itu. Jangan pedulikan aku. Kecantikan membutakan mata kalian." Alexella bangkit dan beranjak pergi dari sana.
"Ikuti kemana pun istrimu pergi, Jarvis. Jangan biarkan dia melakukan hal bodoh. Istrimu itu keras kepala." Titah Arel pada Jarvis. Lelaki tampan itu pun mengangguk dan kemudian menyusul sang istri.
Kini suasana ruangan itu kembali hening. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Masih di tempat yang sama, Arez terus menatap Sabrina yang terbaring lemah di atas brankar. Satu jam yang lalu ia membawa istrinya ke rumah sakit karena wanita itu mengalami demam tinggi. Dan sampai saat ini ia belum sadarkan diri. Sabrina mengalami trauma berat.
"Ansel, usir siapa pun yang datang ke tempat ini. Termasuk keluargaku. Untuk saat ini aku tak bisa percaya pada siapa pun." Titah Arez pada asisten setianya itu.
"Baik, Tuan. Saya akan menempatkan penjaga di depan."
__ADS_1
"Hm." Arez terdiam sejenak. "Bagaimana kondisi Mommy?"
"Beliau masih dalam pengawasan dokter dan belum siuman. Dokter mengatakan Nyonya besar syok berat. Butuh beberapa waktu untuk menunggu kesadarannya." Jelas Ansel.
"Kirim beberapa pengawal untuk menjaga ruangan Mommy."
"Baik, Tuan."
"Satu lagi, awasi semua keluargaku."
"Baik."
"Pergilah."
Ansel pun segera pergi dari ruangan VVIP itu dengan langkah cepat. Sedangkan Arez memilih duduk di tepi berankar. Meraih tangan sang istri dan mengusapnya dengan lembut. "Bangunlah, kau tidak boleh lemah."
Arez terdiam cukup lama. Kemudian tangannya yang lain terulur untuk menyentuh perut rata sang istri. Dan perlahan mengusapnya dengan lembut. "Kau juga harus kuat, jangan lemah seperti Ibumu."
****
Kini Sweet sudah terbangun dari tidurnya. Namun wanita paruh baya itu seolah tak ingin bicara.
Air mata terus menetes di pelupuk mata Sweet. Ia tak kuasa kembali dalam kenyataan di mana Alex benar-benar pergi untuk selamanya.
"Seminggu yang lalu Daddy masih tertawa bersama Mommy, kami menghabiskan waktu bersama di Bali. Bercanda bersama, dan minggu berikutnya dia meninggalkan Mommy lebih dulu. Semuanya seperti mimpi, Lexa." Tetes demi tetes air mata terus menitik dari pelupuk matanya. Alexa mengeratkan pelukkanya pada sang Mommy. Juga ikut menupahkan air mata kesedihan.
"Kami semua juga merasa kehilanga Daddy, Mom. Tapi semua sudah berlalu, kita harus ikhlas supaya Daddy tenang di sana. Siang itu Daddy juga berpesan padaku, Mom. Dia ingin tetap keluarga kita utuh apa pun yang terjadi. Dia ingin aku terus menjadi penengah saat terjadi kekacauan di keluarga kita. Daddy ingin kita terus hidup berdamaian. Itu yang terkahir kali Daddy katakan padaku, Mom. Daddy juga mengecupku begitu lama dan dalam. Aku tidak tahu jika itu untuk yang terakhir kalinya. Daddy sudah punya firasat jika dirinya akan pergi." Jelas Alexa panjang lebar.
"Di mana Arez?" Tanya Sweet melihat ke sekeliling ruangan dan tak menemukan anak sulungnya itu.
"Dia belum kembali."
"Bersama wanita itu?" Nada bicara Sweet berubah dingin.
"Mom, kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Sweet terdiam cukup lama. "Lalu di mana Xella?"
Alexa langsung menatap Arel yang masih duduk di sofa bersama sang istri dan Gabriel di pangkuannya.
__ADS_1
"Xella pulang sebentar, kondisinya juga tidak terlalu baik." Jawab Arel berbohong. Ia terpaksa melakukan itu karena tak ingin sang Mommy semakin drop.
"Hubungi Arez, Mommy ingin bicara padanya." Pinta Sweet dengan nada datar banhkan nyaris tanpa ekspresi.
"Aku akan menghubunginya." Kata Winter yang langsung bergegas keluar.
"Dia akan segera datang."
"Ya, dia harus kembali ke tempat asalnya."
Alexa sedikit merinding mendengar nada dingin sang Mommy. Sebelumnya ia tak pernah melihatnya seperti ini. "Hm. Mommy makan ya?"
"Ini bukan saatnya untuk makan, Lexa."
Alexa kembali menatap Arel karena merasa aneh dengan sikap sang Mommy. Arel yang memahami itu memberikan Gabriel pada Sky. Lalu menghampiri sang Mommy dan duduk di sisi brankar.
"Mom, dokter mengatakan Mommy harus banyak makan dan istirahat. Makanlah walau hanya sedikit." Bujuk Arel seraya mengecup kening sang Mommy. Namun Sweet masih diam dan tak merespons.
Alexa semakin sedih melihat kondisi sang Mommy saat ini. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Tidak lama Winter masuk kembali dan mendekat ke arah brankar. "Dia akan segera datang."
Sweet menatap menantunya lamat-lamat. "Apa dia akan membawa wanita itu?"
Winter menggeleng tidak tahu. "Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya mengatakan bahwa dirinya akan segera ke sini."
"Aku lelah, bisa kalian tinggalkan aku sendiri?" Pinta Sweet memejamkan matanya kembali.
"Mom...."
"Pergilah, Lexa. Kalian juga harus istirahat. Biarkan aku sendiri. Aku tak akan melakukan hal bodoh."
Arel memberikan isyrat pada adiknya untuk mengikuti keinginan sang Mommy.
"Baiklah, kami pergi dulu. Kami mencintaimu, Mom." Ucap Arel mengecup kening sang Mommy. Kemudian bangkit dari posisinya dan megajak semua orang keluar dari ruangan. Dan saat ini hanya Sweet seorang di sana.
Sweet membuka matanya kembali. Tatapannya kosong. Bahkan buliran bening terus mengalir membasahi pelupuk matanya. Bahkan tubuhnya mulai bergetar menahan isak tangisan. "Kehilanganmu adalah hal yang paling aku takutkan, Mas. Dan sekarang ketakutan itu benar-benar terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Sweet terus menangis dalam kesedihan yang mendalam. Ia sengaja meminta anak-anaknya pergi karena tak ingin ada yang melihatnya serapuh ini. Dirinya tak sekuat itu untuk menerima kenyataan jika lelaki yang selalu menghiasi harinya kini telah pergi dan tak akan kembali. Itu sangat menyakitkan.
__ADS_1