
Rhea terbangun dari tidurnya menjelang sore. Ia sendiri kaget karena bisa-bisanya tertidur sampai selama itu. Padahal biasanya ia akan langsung terbangun jika cahaya matahari menerobos ke celah jendela meski hanya sedikit. Akan tetapi kali ini ia bisa sepulas itu meski gorden terbuka sekali pun.
"Ya ampun, bisa-bisanya aku tertidur sampai sore?" Gumamnya sembari duduk bersandar di kepala ranjang. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ah, sepertinya Rhea melupakan kegilaan suaminya, yang terus menggepurnya hingga kelelahan seperti ini.
Matanya bergerak ke sana kemari untuk mencari keberadaan Gabriel, tetapi lelaki itu sepertinya sedang tidak ada di kamar. Tidak ingin ambil pusing, Rhea pun turun dari ranjang. Kemudian berjalan dengan tertatih ke kamar mandi dengan selimut yang masih membungkus ditubuhnya.
"Sssttt... aku tidak tahu rasanya sesakit ini." Desisnya saat merasakan bagian intimnya terasa nyeri ketika berjalan. Namun, Rhea mengeyampingkan rasa itu karena tubuhnya sudah sangat lengket. Setengah jam lamanya wanita itu merendam diri di dalam bathup untuk menghilangkan rasa penatnya.
Gabriel yang baru masuk ke kamar pun tersenyum penuh arti saat melihat kaca kamar mandi berkabut. Suara gemercik air menandakan sang istri masih melakukan aktivitas mandinya. Perlahan tapi pasti Gabriel masuk ke sana. Dan tidak lama terdengar pekikan Rhea. "Gabriel!"
"Aku juga ingin mandi, sayang." Sahut Gabriel dengan suara menggodanya. Dari luar terlihat bayangan keduanya yang begitu intim.
"Hentikan, aku tidak ingin melakukannya di sini. Stop, Gab. Ohhh... kau....hentikan aahhh...." Racau Rhea yang kemudian berganti menjadi suara d*s*h*n kecil. Bahkan suara riuh keduanya pun terus terdengar hampir satu jam lamanya. Sepertinya Gabriel tak akan melepaskan istrinya walau hanya sedetik.
Beberapa menit kemudian, Rhea sudah terlihat segar dari sebelumnya dan masih mengenakan bathrobe. Saat ini ia tengah duduk di depan meja rias, menyisir rambutnya yang panjang. Namun, dahinya mengerut saat memergoki Gabriel terus memandanginya lewat cermin sambil senyum-senyum tak jelas.
Saat ini lelaki itu dalam posisi setengah berbaring di atas tempat tidur, dan bertelanjang dada.
Rhea pun berbalik. "Jangan meminta hal aneh lagi, Gab. Aku sangat lelah. Aku sangat kesal padamu, kau tidak memahamiku sama sekali." Keluhnya.
Bukanya merasa bersalah, lelaki itu malah tertawa geli. "Mulutmu mengeluh lelah saat aku tak menyentuhmu, tapi mengeluarkan suara merdu saat milikmu aku masuki. Nikmat bukan?"
"Gab!" Kesal Rhea tak habis pikir dengan kemesuman suaminya itu. Gabriel semakin tergelak saat berhasil menggoda istri polosnya yang sudah tak sepolos dulu lagi. Tentu saja dialah pelaku utama yang sudah merusak kepolosan istrinya itu.
Rhea menyebikkan bibirnya, lalu lanjut menyisir rambut. Mengabaikan godaan yang terus Gabriel berikan. Namun, tanpa sepenglihatan Gabriel, istrinya itu tersenyum tipis.
"Kau tahu, Sayang? Katanya kebanyakan pengantin baru itu akan terus menghabiskan waktu di kamar selama satu minggu. Kau tahu apa yang dilakukan mereka selama itu?" Goda Gabriel lagi. Entah kenapa sekarang ini ia begitu senang menggoda istrinya. Apa lagi saat melihat wajah bersemu sang istri, ia semakin ingin menggodanya lagi dan lagi.
"Aku tidak mendengar." Sahut Rhea menaruh sisir dengan kesal di atas meja rias. Kemudian lanjut untuk melakukan perawatan wajah.
Gabriel tersenyum geli. "Tentu saja mereka melakukan hubungan suami istri. Dan dalam sehari kau tahu berapa kali mereka melakukannya?"
Rhea sama sekali tidak peduli, membiarkan suaminya itu mengoceh sendiri.
"Mereka bisa melakukannya sampai sepuluh kali kau tahu? Hari ini kita baru dua kali bukan? Itu artinya malam ini masih ada sisa delapan ronde lagi. Kau masih sanggup kan?" Imbuh Gabriel yang berhasil mendapat tatapan tajam dari istrinya.
__ADS_1
"Ah, atau kita kurangi jadi tujuh? Apa? Kau ingin sembilan?" Goda lelaki itu lagi.
Rhea memutar bola matanya malas. "Kau juga harus memikirkan istrimu, Gab. Apa kau tidak kasihan dia kelelahan hm?"
Gabriel tersenyum lagi. "Tapi aku lihat kau masih segar, aku rasa sembilan kali juga kau masih sanggup."
"Terserah kau saja, Gab. Sebaiknya cepat pesan makanan. Aku sangat lapar." Pinta Rhea sembari mengolesi lotion pada kedua tangan dan kakinya yang putih mulus.
"Kau tidak ingin makan aku saja?"
"Gab!" Kesal Rhea yang berhasil membuat Gabriel tertawa puas.
"Baiklah, sayang. Aku akan pesankan makanan untukmu. Kau ingin makan apa, hm?" Tanyanya seraya meraih gagang telepon.
"Apa saja, yang penting aku kenyang." Sahut Rhea melirik Gabriel dari cermin.
Gabriel menggangguk dan langsung menghubungi pihak restoran, lalu memesan dua porsi makanan dan minta diantar sekarang. Setelah itu, ia bangkit dari posisinya, mendekati dan berdiri di belakang istrinya. Sebuah kecupan mesra ia hadiahi di pucuk kepala Rhea. "Kau ingin konsep pernikahan seperti apa? Kali ini katakan seusai keinginanmu."
Rhea pun berbalik, lalu mendongak. Ditatapnya Gabriel lamat-lamat. "Aku rasa kita tidak...."
Rhea tersenyum geli. "Tidak harus melakukan itu pun aku yakin semua orang tahu. Kau itu putra sulung di keluargamu, sudah pasti semua hal tentangmu mereka tahu."
Gabriel ikut tersenyum. "Sepertinya kau sangat mengenalku, Sayang. Apa sebegitu cintanya kau padaku?
"Mulai deh." Rhea memutar bola matanya malas. Setelah itu kembali menghadap ke arah cermin.
Gabriel meraih helaian rambut halus istrinya, lalu menciumnya dengan lembut. Seketika aroma manis menyeruak ke dalam hidungnya. Aroma yang selalu memanjakan sarafnya.
"Sejak kapan kau memakai kerudung?" Tanyanya seraya menatap istrinya dari cermin begitu dalam. Rhea pun membalas tatapan suaminya tak kalah dalam.
"Kenapa? Jangan katakan kau ingin aku membukanya?" Rhea memicingkan matanya karena merasa curiga dengan pertanyaan suaminya itu.
"Tentu tidak, Sayang. Justru aku senang kau menutupi rambutmu yang indah ini. Aku tidak rela lelaki lain melihatnya walau hanya sehelai. Hanya aku yang boleh melihatnya." Sahut Gabriel membuat Rhea tertawa kecil.
"Bukanya kau bilang aku ini kolot hm?" Sindir Rhea.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Aku akui saat itu pemikiranku terlalu bodoh. Ternyata setelah memilikimu rasanya aku tak rela orang lain melihat leluk tubuhmu walau sedikit. Jika bisa, aku ingin mengurungmu di kamar." Jawab Gabriel yang disambut tawa oleh Rhea.
"Anda sangat serakah, Tuan."
Gabriel tersenyum. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Sayang."
"Aku sudah memakai kerudung sejak kecil, Daddyku juga seorang muslim. Dari ceritanya yang kudengar, beliau masuk islam setelah ditinggalkan Mommy. Itu artinya sejak aku masih bayi. Aku juga tidak tahu terlalu jelas. Yang aku tahu Daddy selalu memarahiku saat aku melepas kain peuntup itu dari kepalaku. Katanya rambutku itu terlalu indah untuk diperlihatkan. Hanya Daddy yang boleh melihatnya. Kau mengingatkanku padanya tahu." Rhea tersenyum penuh haru.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung Daddymu."
Rhea menggeleng. "Tidak, Gab. Justru aku merasa kau sangat mirip dengannya. Aku bersyukur karena Tuhan mengirimkan lelaki yang sangat mencintaiku. Sekarang kau berhak tahu siapa aku, Gab. Kau suamiku, tempatku berlindung saat ini."
Mendengar itu Gabriel memeluknya dengan mesra. Rhea mengusap lengan Gabriel dengan lembut.
"Selama ini, aku tidak punya teman curhat. Zhea memiliki banyak masalah dalam hidupnya, jadi aku tidak berani bercerita apa pun padanya. Jika ada masalah sekali pun, aku pasti menyimpannya sendiri. Sekarang aku punya dirimu, jadi jangan pernah bosan mendengar semua keluhanku." Tuturnya.
Gabriel menghadiahi kecupan lagi di pucuk kepala istrinya. "Aku akan selalu ada untukmu, Sayang. Kau bebas bercerita apa pun padaku. Aku pasti mendengarkanmu."
Rhea tersenyum senang. "Kau tahu? Pernah sekali, saat itu aku masih kecil. Ingin sekali rasanya memperlihatkan rambut indah ini pada teman-temanku. Aku pikir orang lain bisa, kenapa aku tidak bisa? Jadi saat itu aku benar-benar keluar dari rumah tanpa penutup kepala. Lalu, Daddy datang dan menyeretku pulang. Memarahiku habis-habisan, bahkan mengurungku seharian penuh. Itu kejadian yang sangat membekas dimemoriku."
Gabriel terlihat begitu serius menyimak.
"Saat itu aku cuma menangis dan memohon agar dibukakan pintu. Aku juga bingung kenapa Daddy selalu melarangku memperlihatkan rambut ini pada semua orang? Padahal yang lain saja boleh, kenapa aku tidak? Yah, seperti itulah pikiranku saat itu." Rhea tersenyum saat membayangkan masa kecilnya itu sebelum lanjut bicara.
"Lalu malam harinya, Daddy membuka pintu kamarku. Sambil meminta maaf, Daddy mulai menjelaskan secara rinci alasan yang aku ingin tahu selama ini. Dan yang membuatku takut saat itu, aku takut jika Daddy masuk ke neraka hanya karena aku melepas kerudung. Sejak saat itu aku tidak pernah melepasnya lagi meski di rumah sekali pun. Karena aku tahu kadang-kadang Daddy pulang bersama temannya." Rhea meremat jemari Gabriel. "Aku merindukannya, Gab. Sangat merindukannya."
Gabriel mengeratkan pelukannya. "Jika kau mau, aku akan membawamu ke sana. Menemui Daddymu."
Rhea terdiam beberapa saat. "Aku ingin Zhea ikut. Apa boleh?"
"Tentu saja."
Rhea tersenyum. "Daddy pasti senang karena aku membawamu ke sana. Jika Daddy masih ada, pasti dia akan memujiku karena memiliki suami tampan sepertimu."
Gabriel ikut tersenyum. "Dan aku juga akan berterima kasih padanya, karena sudah membesarkan gadis cantik dan pintar sepertimu. Aku mencintaimu, Sayang." Kecupan mesra pun kembali Rhea dapatkan.
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku." Balas Rhea mengecup punggung tangan Gabriel tak kalah mesra.