Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 41


__ADS_3

"Mau kemana?" Tanya Arez saat melihat istrinya sudah rapi. Lelaki itu kini tengah duduk di sofa dengan pakaian santai serta sebuah buku tebal di tangannya.


Sabrina berbalik dan memberikan senyuman manis. "Mr. A ingin bertemu denganku hari ini. Dia bilang ada sesutu yang ingin ditunjukkan. Aku sangat penasaran apa sebenarnya yang akan dia tunjukkan padaku. Apa mungkin hadiah spesial, entalah aku ingin segera pergi dan tahu kejutan apa itu." Jawabnya panjang lebar. Lalu menghampiri sang suami dan duduk di atas pangkuan lelaki itu.


"Hari ini aku tidak masuk kantor, lebih baik kau tidak perlu keluar." Arez memberikan tatapan dingin pada istrinya. Namun yang ditatap malah tersenyum.


"Al, ini masa depanku. Jangan terlalu cemburu, dia hanya rekanku, okay? Aku hanya mencintaimu, Al." Sabrina memberikan kecupan singkat di bibir suaminya. Namun Arez masih memasang wajah datar.


"Apa kau begitu mengagumi lelaki misterius itu huh?"


"Tentu saja, dia sangat luar biasa, Al. Sejak lama aku menyukainya." Jawab Sabrina dengan penuh semangat. Sampai tak menyadari apa yang diucapkannya. Arez memberikan tatapan menusuk pada wanitanya itu.


"Eh, jangan salah paham. Maksudku itu, aku menyukai karyanya sejak lama. Kenapa kau selalu cemburu, Al? Kau tidak percaya padaku?" Sabrina mengusap rahang tegas suaminya. Menatap bibir sensual Arez dengan seksama.


"Berhenti membicarakan lelaki lain di depanku, Sabrina. Aku benci itu." Desis Arez mencengkram rahang istrinya. Membuat sang empu meringis kesakitan.


"Al... sakit." Ringis Sabrina dengan mata berkaca-kaca. Arez yang melihat itu langsung menjauhkan tangannya dari rahang Sabrina. Tatapan tajam itu pun seketika berubah sendu.


"Sorry." Ucap Arez mengusap wajahnya dengan kasar. Sabrina yang melihat itu merasa iba. Ia tersenyum dan menangkup wajah suaminya.


"Al, kau harus bisa menahannya. Aku percaya kau bisa, bagaimana jika kita punya anak dan sikapmu masih seperti ini? Anak-anak akan ketakutan, Al." Ujar Sabrina memberikan senyuman tulus. Kemudian mengecup kedua pipi suaminya.


Arez mengusap pipi istrinya. "Kau yang bertugas menenangkanku, Sabrina."


"Al, tidak selamanya aku terus berada di sampingmu. Ada saatnya kita...."


"Kau berniat meninggalkanku, Sabrina? Jangan coba-coba pergi dari sisiku sebelum aku memintanya." Geram Arez mengeratkan rahangnya.


"Bukan itu maksudku, Al. Aku...."


"Kau ingin pergi bersama Mr. A itu huh? Apa kau yakin dia bisa melindungimu? Cih, kau akan kaget saat melihat wajahnya." Ketus Arez memalingkan wajahnya dengan ekspresi datarnya yang khas. Sabrina tersenyum geli melihat kelucuan suaminya saat cemburu.


"Tapi aku penasaran seperti apa rupanya, apa dia setampan Tom Cruise? Jika iya, akan aku pertimbangkan tawarannya." Goda Sabrina. Dan itu berhasil membuat Arez semakin meledak-ledak. Wajah lelaki itu merah padam menahan emosinya. Juga tak lupa memberikan tatapan membunuh pada istrinya.


"Jangan membuatku marah, Sabrina. Kau tahu aku...." perkataan Arez terhenti karena Sabrina lebih dulu mengecup bibirnya. Dan itu berhasil membuat amarah Arez sedikit mereda.


"Aku harus pergi, kau juga harus ke kantor bukan? Aku mendengar pembicaraanmu malam tadi. Kau harus menghadiri meeting penting. Pergilah, aku juga harus segera pergi. Jangan terlalu cemburu, kau sangat menggemaskan suamiku." Ujar Sabrina seraya mengusap rahang suaminya. Setelah itu segera bangkit dari posisinya.


"Kau belum sarapan." Kata Arez yang juga bangun dari duduknya. Meletakkan buku bisnis miliknya di atas meja.


Sabrina tersenyum begitu menawan. "Aku akan sarapan nanti, cepatlah bersiap. Jangan sampai membuat seseorang menunggumu terlalu lama."


Arez mengangkat sebelah alisnya. "Seseorang?"


"Ya." Sahut sang istri sembari menyambar tas selempang miliknya. Sebelum pergi, wanita itu meneliti penampilannya lebih dulu di cermin. "Perfect."


"Kenapa kau begitu semangat huh? Kau ingin menggoda lelaki itu?" Tanya Arez menatap aneh tingkah istrinya.


Sabrina menoleh yang diiringi senyuman yang khas. "Iya. Aku pergi dulu, by Honey."


Mulut Arez sedikit terbuka melihat kepergian istrinya. Ah, lebih tepatnya karena jawaban Sabrina. Wanita itu benar-benar aneh. Tidak ingin mengambil pusing, Arez bergegas menuju walk-in closet. Dengan gerak cepat ia berganti pakaian. Tidak lupa memakai topeng andalannya.


Arez menatap pantulan dirinya di cermin. Pantulan itu seolah bukanlah dirinya, melainkan sosok lain yang selalu ia cemburui. Entahlah, Arez tidak tahu kenapa hatinya selalu panas saat mendengar bibir tipis Sabrina terus berceloteh tentang lelaki di balik cermin itu. Setelah itu, Arez menyambar tas kantornya dan bergegas meninggalkan apartemen.


Beberapa menit kemudian mobil mewah Arez terparkir di pelataran galeri. Lelaki bertopeng itu keluar dari dalam mobil dengan penuh sensual. Dan hal itu tentunya menarik perhatian semua orang.


"Tuan," sapa seorang lelaki yang bertanggung jawab atas galeri.


"Di mana dia?" Tanya Arez seraya berjalan memasuki geleri mewah itu.


"Nyonya berkata ingin berkeliling sambil menunggu Anda, Tuan." Jawab lelaki berusia tiga pulahan itu.

__ADS_1


"Hm. Biarkan saja, aku akan mencarinya sendiri. Kembali ke tempatmu." Titah Arez melangkah cepat menuju studio lukisnya karena ingin mengambil susuatu. Ia menekan sandi dan sedetik kemudian pintu itu terbuka. Namun langkah Arez harus tertahan saat melihat seorang wanita yang tengah berdiri di dekat jendela dengan posisi membelakanginya. Wanita itu hanya mengenakan selimut berwarna merah, memperlihatkan punggung mulusnya.


Arez melangkah pelan menghampiri sang wanita.


"Kau lama sekali, aku sudah kedinginan sejak tadi." Ujar wanita itu berbalik seiring dengan senyuman manis yang tersungging di wajahnya. Mata Arez menajam dengan rahang yang mengerat. Tangan wanita itu terulur untuk menyentuh topeng hitam milik Arez.


Wanita itu terus mengembangkan senyuman dan berjalan sensual menuju sofa. Duduk di sana dengan anggun. Kedua kaki si wanita dinaikkan ke atas sofa, tetapi pandangannya terus tertuju pada Arez.


"Aku ingin kau melukisku, Mr. A. Seperti ini." Wanita itu menurunkan selimut merah yang melilit tubuhnya. Memperlihatkan betapa indahnya tubuh mulus tanpa cacat itu. Lalu bergaya layaknya model dewasa yang tengah melakukan pemotretan.


Arez semakin mengeratkan rahangnya. Namun tak memberikan komentar apa pun. Arez melangkah pelan menghampiri easel dan menarik kursi dengan tatapan masih tertuju pada wanita itu. Kemudian ia pun mulai melukis sang wanita tanpa kata. Sedangkan sang wanita tersenyum penuh arti.


Satu jam berlalu, kanvas putih itu sudah disulap menjadi sebuah lukisan indah sang wanita.


"Masih lama?" Tanya wanita itu bangun dari posisinya. Lalu menghampiri Arez dengan langkah anggun. Dan tanpa rasa malu ia melepas selimut itu, lalu naik ke atas pangkuan Arez tanpa sehelai benang pun. "Bagaimana kejutanku, Mr. A? Kau menyukainya huh?"


Arez mengerut bingung. Namun tatapanya begitu menusuk. "Menyingkir."


Wanita itu tertawa renyah. "Ada apa, Tuan? Bukankah Anda ingin mendekatiku? Aku menerima tawaranmu kali ini." Wanita itu hendak melepas topeng hitam yang melekat di wajah Arez, tetapi sang pemilik langsung menahannya.


"Kau sudah memiliki kekasih, Sabrina." Geram Arez mencekal lengan wanita itu yang tak lain adalah Sabrina, sang istri.


Sabrina tertawa renyah seraya mendekatkan bibirnya ke telinga lelaki itu. "Dia hanya pacarku, tapi kau suamiku, Al." Bisik Sabrina dengan nada menggoda.


Arez yang terkejut pun langsung mendorong wanita itu sampai terjungkal ke belakang. Tentu saja Sabrian meringis kesakitan karena bokongnya yang lebih dulu menyentuh lantai. Bahkan perutnya sedikit ngilu karena benturan itu lumayan keras.


"Kau sangat kejam, Al." Sabrina menarik selimut itu dan menutupi tubuh polosnya. Ia masih meringis karena rasa ngilu di pinggulnya. "Cih, Mr. A huh? Tidak lucu sama sekali."


Arez melipat kedua tangannya di dada. "Segera kenakan pakaianmu, atau...."


"Atau apa?" Sabrina menyela ucapan suaminya. "Kau akan memperkosaku huh? Bahkan setiap malam kau melakukan itu. Aku tidak takut padamu." Sabrina bangun dari posisinya sembari memegangi selimut itu agara tidak terjatuh. Sesekali ia meringis sambil mengelus bokongnya. Arez yang melihat itu sama sekali tak peduli.


"Sampai kapan kau akan terus membodohiku, Al?" Sinis Sabrina memukul dada Arez dengan sebelah tangannya.


"Aku tidak mau." Tolak Sabrina berjalan kembali menuju sofa. Dan itu membuat Arez garam setengah mati.


"Jangan membuatku marah, Sabrina."


"Aku juga sedang marah padamu, Al. Kau membuatku seperti orang bodoh." Geram Sabrina berbaring di sofa. Arez memejamkan matanya karena menahan ledakan dalam dirinya.


"Terima kasih sudah melukisku, itu sangat indah. Aku akan memajangnya di kamar kita. Bagaimana?" Arez yang mendengar itu langsung melayangkan tatapan tajam.


"Al, aku belum sarapan." Rengek Sabrina mengubah posisinya menjadi duduk. Bahkan ia merasa pening dan sedikit memijat kepalanya.


Arez melangkah pasti menghampiri istrinya. Dan berhenti tepat di depan Sabrina. Lalu membuka topengnya dengan malas. Sabrina tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya.


"Beruntung Mommy membawaku ke kamarmu saat itu, jadi aku bisa tahu siapa Mr. A sebenarnya. Kau sangat hebat, Al. Membodohiku dengan topengmu itu." Sabrina mendengus kesal setelah mengatakan hal itu.


Ya, saat memasuki kamar Arez beberapa hari yang lalu. Sabrina melihat lukisan hasil tangannya yang ia bawa saat kontes. Di sana ia tahu jika Mr. A adalah suaminya sendiri. Sabrina sempat tak percaya, tapi ia semakin yakin saat melihat beberapa lukisan lain di kamar itu. Bahkan Ibu mertuanya mengatakan jika sejak Arez pintar melukis.


Arez duduk di samping Sabrina, menatap wanita itu lamat-lamat. "Jadi ini penyebab kau terlihat begitu semangat huh?"


"Hm." Sabrina mengangguk antusias. "Sebelum kau memberiku kejutan, aku yang lebih dulu mengejutkanmu. Aku hebat bukan?"


Arez mendengus kesal mendengarnya. "Di mana pakaianmu?" Tanya Arez datar.


"Aku membuangnya." Jawab Sabrina dengan santai seraya bergelayut manja di lengan suaminya. "Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Sayang?"


Arez terdiam beberapa saat. "Tidak ada."


Sabrina menegakkan tubuhnya, lalu melayangkan tatapan tajam pada suaminya. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Aku membatalkan itu karena kau begitu semangat saat ingin menemui lelaki lain."


Sabrina tertawa renyah. "Ya ampun, kau ini lucu sekali, Al. Kau cemburu pada dirimu sendiri huh?"


"Dari mana kau tahu sandi ruangan ini?"


"Aku asal menebak, tanggal pernikahan kita. Aku tidak menyangka kau begitu menghargai pernikahan ini, padahal kau sendiri yang mengatakan ini hanya sementara. Kapan kau akan melepaskanku? Keluargamu sudah membatalkan perjodohanmu. Aku pikir secepatnya kau akan membuangku." Ujar Sabrina panjang lebar. Dan Arez sama sekali tak memberikan respons.


"Kau tahu, Al? Kadang-kadang aku sangat takut mendengar kata-kata dimana kau akan memintaku pergi dari sisimu. Aku sudah terlanjur mencintaimu. Entahlah, bahkan aku tidak tahu perasaanmu padaku." Timpal Sabrina yang kemudian menunduk lesu.


Arez menarik dagu istrinya dengan lembut, kemudian meraih bibir tipis itu dengan penuh perasaan. Refleks Sabrina memejamkan mata saat mendapat sentuhan hangat dan lembut. Bahkan ia membalas ciuman suaminya.


Arez mengakhiri ciumannya, membiarkan Sabrina meraup oksigen dengan bebas.


"Ada saatnya kau menahami perasaanku, Sabrina. Karena itu aku memintamu untuk mengenalku lebih jauh." Arez menempelkan keningnya dengan kening Sabrina. Lalu mengecup bibir istrinya sekilas. Sabrina menempelkan kedua tangannya di dada Arez.


"Al, jangan pernah memintaku untuk pergi. Karena aku akan benar-benar pergi. Aku tak akan memohon padamu."


Arez mengunci manik abu sang istri. Kemudian menarik tubuh ramping itu duduk dipangkuannya. "Aku ingin sarapan pagi." Bisik Arez dengan nada sensual.


Sabrina tersenyum nakal. "Aku tahu kau tak akan tahan saat melihat makanan lezat di depan matamu."


"Hanya orang bodoh yang mengabaikan santapan lezat seperti ini." Sahut Arez seraya mengecup leher istrinya.


"Sarapan pagi untukmu, Mr. A." Bisik Sabrina yang diiringi senyuman miring.


"Panggil aku seperti biasanya." Titah Arez yang merasa tak senang dengan panggilan itu.


"Mr. A kan? Apa aku salah, bukankah ini ruanganmu?"


"Stop it, Sabrina! Aku tak ingin menyakitimu." Desis Arez dengan mata yang mulai memerah.


"Jangan lupa, kau lebih dulu membohongiku, Mr. A. Aku tak suka dibohongi kau tahu?" Balas Sabrina memberikan tatapan tajam. Memukul bahu Arez sekuat tenaga. Ia benar-benar kesal karena berhasil dikerjai Arez.


Arez menangkap kedua tangan Sabrina. Hingga pandangan keduanya pun bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


"Mommy bertanya padaku, tema apa yang kau inginkan untuk pesta pernikahan?"


Sabrina terkejut mendengar itu. "Pe__pesta pernikahan? Pernikahan kita?" Suara wanita itu terdengar gugup.


"Hm." Arez mengangguk kecil.


Mulut Sabrina sedikit terbuka karena nyaris tak percaya.


Pesta pernikahan? Apa aku mimpi?


"Siang ini Mommy ingin bertemu denganmu, katakan saja pernikahan seperti apa yang kau inginkan." Imbuh Arez menatap wajah istrinya yang mirip seperti orang bodoh.


"Al, apa kau yakin kita harus melangsungkan resepsi?" Tanya Sabrina agak ragu.


"Ada apa? Kau takut orang lain tahu bahwa dirimu sudah menikah? Lalu menggoda laki-laki di luar sana huh?"


Sabrina mendengus sebal mendengar tuduhan suaminya itu. "Kau selalu saja berburuk sangka padaku, padahal sampai 24 jam kau memantauku terus. Kau jahat, Al. Hatiku sakit saat kau terus menuduhku." Sabrina menyebikkan bibirnya karena merasa kesal.


Arez tersenyum samar yang kemudian tanpa aba-aba menggendong Sabrina ala bridal style. Membuat sang empu memekik kaget. Arez mulai melangkah pasti menuju sebuah ruangan khusus di sana.


"Al, kemana kau akan membawaku?" Pekik Sabrina mengalungkan kedua tangannya di leher Arez.


"Sarapan pagi."


"Hah? Aku tidak memakai apa pun, Al."?Perotes Sabrian menatap wajah datar suaminya.

__ADS_1


"Sarapan kali ini kau tidak perlu memakai apun, seperti ini lebih baik."


"Mana ada sarapan yang seperti itu. Kau aneh, Al." Sabrina mendengus dan pasrah ke mana pun Arez membawanya. Arez tersenyum lagi. Ya, hanya senyuman tipis nyaris tak terlihat. Bahkan Sabrina tak dapat melihat itu.


__ADS_2