Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 64


__ADS_3

Sabrina terus mengamit jemari suaminya saat Arez membawanya masuk ke mansion. Sudah lama sekali ia tak mengunjungi tempat mewah ini. Membuatnya merasa sangat canggung. Apa lagi hubungannya dengan sang ibu mertua belum membaik.


"Jangan takut." Kata Arez mengeratkan genggaman tangannya.


"Bagaimana jika Mommy masih menganggapku sebagai pembunuh Daddy?"


"Aku akan menjelaskan semuanya." Jawab Arez dengan nada tegas. Kemudian mereka pun beranjak menuju kamar utama. Arez menekan bel pintu beberapa kali. Sampai pintu itu terbuka sendiri. Arez menarik Sabrina masuk ke kamar bernuansa gold itu dengan langkah pelan. Dan Sabrina bisa langsung melihat keberadaan Sweet yang tengah duduk di pembaringan sambil membaca sebuah buku. Keduanya menghentikan langkah tepat di dekat ranjang.


"Mom." Sapa Arez menatap Sweet lekat. Ia melepaskan genggamana tangan Sabrina dan duduk di sebelah sang Mommy. "Apa kabarmu, Mom?"


Sweet sama sekali tak menjawab, bahkan melihat pun enggan. Sepertinya ia marah karena Arez begitu lama tak pulang ke mansion. Memang sudah dua minggu sejak penculikan itu. Dan Arez tak pernah berkunjung ke mansion sekali pun.


"Maaf jika aku tidak mengabarimu, Mom." Arez menggenggam tangan Sweet dengan erat. "I miss you."


"Buat apa kau kembali? Kau melupakan aku sebagai Mommymu, Arez. Aku menunggumu sepanjang waktu, tapi kau tak kunjung datang." Keluh Sweet masih enggan menatap putranya. Sabrina yang menyaksikan itu merasa sangat canggung.


"Maafkan aku, Mom. Aku harus menunggu sampai kondisi istriku membaik."


"Hm. Kau lebih mencintainya dari pada aku. Jadi jangan pedulikan diriku."


"Mom. Sabrina sedang mengandung calon cucumu." Ungkap Arez yang berhasil menarik perhatian Sweet. Wanita itu menatap menantunya sekilas. Kemudian menatap putra sulungnya lumayan lama.


"Lalu?"


"Mom, aku harap Mommy medengar penjelasanku. Istriku tidak bersalah dalam kasus ini." Bujuk Arez.


Kegugupan terlihat begitu kentara di wajah cantik Sabrina. Ia takut Ibu mertuanya itu marah besar karena kehadirannya. Wajahnya tertunduk dengan tangan yang saling terpaut.


Sweet menghela napas berat, kemudian membenarkan posisi duduknya. "Mommy sudah tahu. Xella sudah menjelaskan semuanya."


Baik Arez maupun Sabrina terkejut mendengar itu.


"Mommy sudah tahu." Ulang Sweet menatap putra dan anak menantunya bergantian. "Mommy marah pada kalian karena bukan kalian yang datang padaku. Aku menunggu di sini, tapi kalian tak kunjung datang. Apa kalian menganggapku sudah mati?"


"Sorry, Mom. Ini salahku karena menahannya untuk menemuimu. Aku tak ingin terjadi sesuatu padanya." Jelas Arez menatap sang Mommy lekat.


"Ck, lupakan itu. Kemarilah Sabrina." Pinta Sweet pada menantunya. Sontak Sabrina pun kaget dan langsung menatap suaminya. Arez mengangguk pelan.


Perlahan Sabrina mendekat, kemudian duduk di sebelah Sweet.


"Bisakah kau memamaafkan aku, Sabrina?" Tanya Sweet meraih kedua tangan Sabrina.


"Jangan meminta maaf padaku, kau tidak bersalah, Mom. Aku mengerti perasaanmu, kehilangan adalah hal yang amat menyakitkan." Ujar Sabrina mulai menitikan air mata. Sweet ikut menangis, lalu membawa wanita itu dalam dekapannya.

__ADS_1


"Maaf jika tahun pertamamu masuk dalam keluarga ini, kau harus melewati masa sulit. Seharusnya aku tidak egois dan mementingkan diri sendiri. Bahkan aku menuduhmu tanpa bukti yang jelas."


Sabrina menarik diri dari dekapan Sweet. Menatap wajah cantik Ibu mertuanya begitu dalam. "Bukankah sudah wajar dalam keluarga terjadi sedikit pertengkaran?"


Sweet mengangguk antusias. "Kau putriku."


Sabrina menangis harus mendengar pengakuan Sweet. Ia pun kembali mendekapnya. "Aku menyayangimu, kau memberikan kasih sayang seorang Ibu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, Mom. Bagaimana mungkin aku mengkhianatimu?"


"Maafkan Mommy, Sayang. Maaf." Ucap Sweet penuh ketulusan. "Tinggalah di sini, Sabrina. Mommy kesepian sendirian."


"Aku ikut keputusan putramu, Mom. Dia yang memegang kendali." Jawab Sabrina yang berhasil mengundang senyuman di wajah Sweet. Keduanya pun saling melerai pelukan.


"Segera bawa istrimu pindah ke mansion ini, Arez. Ini rumah kalian." Pinta Sweet pada putranya.


"Ya, secepatnya."


"Benarkah? Kapan itu?" Tanya Sabrina begitu antusias.


"Lusa." Jawab Arez singkat.


"Itu terlalu lama, Al. Bagaiaman kalau besok? Boleh ya?"


Arez memberikan tatapan tajam. Membuat sang empu menunduk lesu. "Tidak ada tawar menawar, lusa kita baru bisa pindah."


"Mommy merindukan Daddymu, Arez. Bawa Mommy ke makam. Sudah lama Mommy tidak ke sana." Ajak Sweet.


"Aku juga belum pernah menemuinya setelah tragedi itu. Aku merindukannya. Bahkan Daddy memperlakukanku begitu manis sebelum penembakan itu. Semuanya seperti mimpi. Dia kehilangan nyawa di hadapanku." Ujar Sabrina terdengar frustasi.


"Lupakan itu, semuanya sudah berlalu." Perintah Arez tidak ingin mengorek luka yang belum sepenuhnya sembuh itu lagi.


"Kau belum sarapan, Mom. Makanlah dulu, setelah itu aku akan membawamu ke pemakaman."


"Biar aku yang menyuapi." Dengan penuh semangat Sabrina mengambil nampan yang sudah ada di atas nakas. Kemudian membuka penutup piring berisi nasi goreng.


"Wah, ini makanan yang sering kau buat, Al. Ah, aku lupa namanya." Ujar Sabrina begitu semangat.


"Nasi goreng. Jadi Arez sering menyiapkannya untukmu?" Tanya Sweet yang dijawab anggukan semangat oleh Sabrina.


"Putramu begitu manis, Mom. Dia yang menyiapkan makananku setiap hari. Dan aku suka semua hasil masakannya. Itu sangat enak. Bagaimana aku tidak mencintainya, dia benar-benar manis. Terkadang aku merasa bersalah karena tidak bisa menjadi istri yang baik." Celoteh Sabrina panjang lebar. Menciptakan seulas senyuman di bibir Sweet. Sedangkan Arez sama sekali tak menanggapi ocehan istrinya itu.


Dengan penuh ketulusan Sabrina mulai menyuapi sang Mommy sambil sesekali berceloteh. Dan itu benar-benar mengobati kesepian di hati Sweet.


"Aku keluar sebentar." Pamit Arez bangkit dari duduknya. Menarik perhatian dua wanita beda usia itu. Sabrina meletakkan piring yang sudah kosong itu kembali di nakas. Kemudian menatap suaminya lekat.

__ADS_1


"Al, aku ingin makan pizza. Bisa kau memesannya untukku?" Pinta Sabrina yang mendadak ingin makan Pizza. Bahkan air liurnya meleleh saat membayangkan rasa makanan itu.


"Kau baru selesai makan dua porsi besar spageti, Sab." Protes Arez yang merasa heran dengan perut karet sang istri.


"Turuti keinginannya, Arez." Titah Sweet membuat Sabrina senang setengah mati karena ada yang membelanya.


"Baiklah, secepatnya pesananmu akan datang." Arez pun hendak pergi dari sana namun lagi-lagi Sabrina menahannya.


"Aku ingin yang banyak keju dan dagingnya." Pinta Sabrina dengan tatapan penuh harap.


"Hm." Arez pun segera pergi dari sana.


"Sorry, Mom. Aku tidak tahu kenapa aku sering lapar akhir-akhir ini? Kadang aku tak bisa menahannya. Karena itu sangat banyak stok makanan di apartemen." Oceh Sabrina yang tak memahmi dirinya sendiri.


Sweet tersenyum seraya meraih tangan Sabrina. "Wajar jika sedang hamil, Mommy juga seperti itu saat hamil Alexella dulu. Kalau bisa semuanya Mommy makan."


"Benarkah? Pasti Daddy selalu menuruti keininginan Mommy kan?" Tanya Sabrina begitu ingin tahu.


"Ya, dia memanjakan Mommy layaknya anak kecil. Sampai Mommy membengkak seperti ayam broiler." Jawab Sweet apa adanya.


"Uwh... itu sangat manis. Aku harap Al tidak bosan dengan semua permintaanku. Lagi pula anak ini hadir karena ulahnya. Jadi dia harus bertanggung jawab. Entah seperti apa rupanya nanti, aku harap dia tak sedingin Ayahnya."


Sweet tertawa renyah mendengar ocehan menantunya itu. "Mommy harap dia secerewet kamu, Sab. Supaya mansion ini rame."


"Semoga saja, Mom. Tapi kan Mom, aku rasa mereka lebih dari satu. Buktinya perutku sudah membentuk, padahal usianya baru memasuki delapan minggu. Setahuku di usia segitu belum kelihatan." Ujar Sabrina seraya mengelus perutnya yang sedikit menyembul dari balik dress satin sebatas lutut yang ia kenakan.


"Benarkah?" Sweet pun ikut mengelus perut menantunya. "Kalau benar mereka kembar, Mommy sangat senang."


"Besok kami akan melakukan cek up, dan akan segera tahu berapa orang di dalam sini. Rasanya tidak sabar untuk merasakan tendangan mereka. Pasti sangat lucu saat mereka bergerak di dalam sana."


"Kau akan merasakannya cepat atau lambat. Apa kamu mengalami morningsickness berlebihan?" Tanya Sweet memastikan.


"Tidak terlalu parah, Mom. Tapi kadang-kadang aku tidak bisa tidur karena mual di tengah malam." Jawab Sabrina jujur.


"Bersabarlah, kita seharusnya bersyukur karena bisa merasakan semua proses itu. Banyak di luar sana yang ingin seperti kita, tapi mereka tak seberuntung itu."


Sabrina mengangguk pelan. Menggenggam tangan Sweet dengan erat. "Aku harap Mommy bersedia mengajariku menjadi istri dan ibu yang baik. Aku tidak punya siapa-siapa untuk meminta saran."


Sweet tersenyum seraya mengusap pipi mulus menantunya. "Mommy akan mengajarimu seidikit demi sedikit setelah kalian pindah ke mansion ini. Kau yang akan meneruskan Mommy di sini. Jadi tanggung jawabmu bukan hanya anak dan suami, tapi tempat penuh kenangan ini juga akan menjadi tanggung jawabmu."


"Karena itu ajarkan aku, Mom. Aku akan mejadikanmu guruku mulai hari ini."


"Tentu, kau akan menjadi murid pertama dan terakhirku. Jangan berkecil hati jika aku memarahimu nanti. Aku bukan orang yang sabaran saat mengajari seseorang."

__ADS_1


"Dan aku suka hal baru, aku akan berusaha menerima omelanmu, Mom." Kedua wanita itu pun tertawa bersama. Seolah melupakan semua yang telah mereka lalui. Toh tak ada gunanya menoleh kebelakang lagi saat masa depan indah tengah menyambut mereka.


__ADS_2