
Sejak tadi Sweet terus mengulum senyuman manis, menatap foto pernikahan yang terbingkai indah. Baru beberapa jam Alex pergi, ia sudah merindukan lelaki itu. Lelaki yang berhasil merebut hatinya dalam waktu singkat.
Saat Sweet sedang asik memperhatikan wajah Alex di foto, suara deringan ponsel miliknya menarik perhatian. Sweet meletakkan kembali benda berharga itu di atas nakas. Lalu mengambil ponselnya yang tak jauh dari tempatnya berada. Serangkai nomor tak dikenal muncul di layar. Kedua alisnya mengerut, dengan rasa ragu ia pun menerima panggilan. Sweet diam sesaat untuk menunggu orang yang meneleponnya bicara.
"Hallo, My Sweety. Bagaimana kabarmu? Aku lihat kau sangat bahagia dengan suamimu itu? Daddy turut bahagia, Sayang."
Sweet terhenyak, tidak pernah menyangka jika Santonio akan menghubunginya lagi. Benar kata Alex, lelaki tua itu begitu tidak tahu malu.
"Apa yang kau mau?" Ketus Sweet. Malas sekali rasanya menanggapi lelaki tua itu.
"Aku hanya merindukanmu, bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Tidak perlu basa-basi, katakan apa maumu?" Tegas Sweet. Ia tidak ingin berlama-lama berhubungan dengan Santonio.
"Tidak banyak, aku hanya ingin kau mengambil beberapa dokumen penting dari suamimu. Sebagai jaminan, aku akan memberi tahu di mana orang tuamu berada."
Sweet tidak memberikan respon yang berlebihan, karena ia percaya bahwa Alex sedang mencari keberadaan kedua orang tuanya. "Tidak perlu, aku sudah tahu di mana mereka berada."
Sweet terpaksa berbohong, karena ingin secepat mungkin memutuskan hubungan dengan Santonio.
"Wah, jadi suamimu sudah memberi tahu keberadaan dua orang tidak berguna itu? Suami kejammu itu ternyata benar-benar jatuh cinta padamu," ujar Santonio yang diakhiri tawa yang menggelegar.
Berbeda dengan Sweet, ia tertegun mendengarnya. Apa mungkin Alex sudah tahu tentang keberadaan mereka? Jika benar, kenapa Alex menyembunyikan semua itu? Tidak, Sweet. Kau harus percaya pada suamimu, bukan padanya yang sudah jelas ingin kau mati. Pikir Sweet.
Karena tidak ada jawaban dari Sweet, Santonio kembali mengatakan hal yang membuat wanita itu geram. "Bagaimana jika aku menyentuh salah satu keluarga suamimu, atau mungkin suamimu sendiri. Aku akan menembak jantungnya dari jarak jauh."
Sweet kembali terhenyak, ia tidak pernah menyangka jika Santonio berani mengancamnya seperti itu. "Lakukan jika kau bisa! Karena aku juga akan melakukan segala hal untuk kebahagiaanku, termasuk menyingkirkan orang yang akan menjadi penghalangku dalam mencapai impian. Dan ingat satu hal, jika saja kau berani menyakiti suamiku, aku sendiri yang akan membunuhmu. Kau kira aku tidak tahu tentang anakmu yang sedang sekarat? Aku sudah tahu kelemahanmu. Kau tahu siapa aku, tidak ada kata takut dalam diriku!"
Sweet merasa puas setelah mengeluarkan ancaman pada lelaki yang pernah ia panggil Daddy itu. Tidak ada jawaban apa pun, terbukti jika lelaki itu takut dengan semua ancaman Sweet. Bahkan Sweet tidak mungkin melakukan semua itu. Lalu panggilan pun terputus dari sebelah pihak.
Sweet menghela napas berat, beruntung ia tidak terpancing dengan perkataan Santonio. Bisa jadi itu adalah rencananya untuk menghancurkan hubungan Sweet dan Alex. Berhubung apa yang mereka inginkan harus kandas di tengah jalan. Mungkin Santonio juga melupakan sesuatu, bahwa Alex tidak akan tumbang dengan mudah.
Ingatan malam tadi kembali menghantui Sweet. Ia tidak pernah menyangka, jika pembicaraan malam tadi akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Sudah pasti Santonio merencanakan semua itu dengan matang. Jika saja Sweet tidak menanggapi ucapan lelaki tua itu, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Sweet duduk di sofa sambil memeluk dirinya sendiri. Wajahnya pucat dengan tatapan yang kosong. Sikap Alex sudah membuktikan, selama ini dirinya lah yang berjuang sendirian untuk merangkai hati. Setelah tersusun rapih, dengan mudahnya Alex menghancurkan semua itu. Jika tahu semua ini akan terjadi, Sweet tidak akan pernah memberikan hati pada lelaki itu. Tapi semuanya sudah terlambat, cinta itu sudah tumbuh dengan begitu subur.
"Apa salahku? Kenapa tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam hidupku. Sedikit saja, ya Allah." Sweet menangis dalam kesedihan yang mendalam. Tidak pernah ia rasakan sakit yang lebih parah seperti saat ini. Sakit tak berdarah itu lebih pedih dari luka yang cukup dalam. Sangat sulit untuk diobati, karena sumber rasa sakit itu sulit digapai.
__ADS_1
Lain halnya dengan Alex, lelaki itu terduduk lesu di atas kursi kerjanya. Kedua tangannya terkepal erat, sorot matanya yang tajam terus tertuju pada potret wanita yang selama ini menghiasi meja kerjanya. Ia terus memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu, jika saja dirinya terlambat satu menit saja. Mungkin ia akan kehilangan sosok wanita yang pernah singgah di hatinya.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Ana. Jika saja terjadi sesuatu padanya," gumam Alex seraya menghempas potret sang istri. Pecahan kaca pun berhambur tak beraturan di lantai.
Sejak kemarin, Alex memang pergi ke Kota Hamburg untuk mencari bukti mengenai kematian orang tuanya. Lalu pagi tadi, Santonio datang menemuinya. Awalnya Alex menolak pertemuan itu. Namun rencana Santonio berhasil, setelah menyebut nama Sweet. Alex memberikan waktu pada Santonio untuk bicara.
"Katakan dengan singkat," perintah Alex tanpa melihat lawan bicaranya. Jujur, ia sangat malas hanya sekedar melihat wajah lelaki tua itu.
"Mungkin kau tidak pernah tahu tentang istrimu, dia tidak seperti yang ada dalam benakmu."
"Jangan bertele-tele denganku," tegas Alex.
"Dengarkan ini." Santonio mengeluarkan ponselnya, lalu sebuah rekaman berisi suara wanita pun terdengar begitu jelas.
Lakukan jika kau bisa! Karena aku juga akan melakukan segala hal untuk kebahagiaanku, termasuk menyingkirkan orang yang akan menjadi penghalangku dalam mencapai impian.
"Kau pasti mengenal suara itu bukan? Itu milik istrimu, wanita yang kau anggap malaikat. Jangan lupa, aku yang membesarkannya. Sudah pasti jiwa ambisius milikku tertanam dalam dirinya."
Alex bangun dari sofa, menarik kerah baju Santonio dengan amarah yang memuncak. "Sekali lagi kau menghina istriku, aku akan mecabik seluruh keluargamu!"
Sepanjang perjalanan pulang, Alex terus memikirkan perkataan Santonio. Juga suara wanita itu benar-benar mirip dengan suara sang istri. Lalu, Alex kembali memutar setiap perkataan Sweet sebelum ia pergi. Sweet mengatakan jika dirinya cemburu pada Nissa.
"Lebih cepat!" Seru Alex pada sang driver. Joshua yang menyaksikan semuanya tidak berani mengeluarkan pendapat.
Setibanya di Mansion, Alex langsung mencari keberadaan Sweet. Hampir seluruh ruangan ia kelilingi, hingga memutuskan untuk pergi ke halaman belakang. Benar saja, di sana ia melihat Sweet berdiri sendirian di pinggiran kolam. Ya, hanya Sweet seorang yang ada di sana.
Namun jantung Alex seolah berhenti berdetak saat melihat sebuah tangan terangkat di permukaan air. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung terjun untuk menyelamatkan sosok yang ada di dalam kolam. Perasaannya kacau, semua pikiran buruk tentang Sweet pun menghantui kepalanya. Dan memutuskan untuk tidak mempercayai wanita itu lagi. Ditambah dengan semua bukti yang mengarah pada Sweet.
***
"Mas," panggil Sweet saat melihat Alex keluar dari ruang kerjanya. Setelah merenung, Sweet memutuskan untuk mengatakan semua kebenarannya. Alex percaya atau tidak, itu urusan belakangan. Mengenai kedua orang tuanya, Sweet juga akan langsung bertanya pada Alex.
Lelaki itu kini mengenakan pakaian kasual. Sepertinya dia benar-benar akan pergi.
"Mas," panggil Sweet lagi karena Alex mengabaikannya. Lelaki itu melangkah cepat meninggalkan Sweet yang terus mengejarnya. Hampir saja Sweet terjatuh dari tangga, beruntung tangannya sempat berpegangan.
"Aku akan mengatakan...." perkataan Sweet tertahan karena Alex menghilang di balik pintu. Sweet tetap berusaha untuk mengejar Alex yang sudah memasuki mobil.
__ADS_1
"Mas, dengarkan aku dulu. Kamu sendiri yang mengatakan ingin terus mempercayaiku, turun mas." Sweet menggedor jendela mobil Alex. Namun tidak ada respons apa pun dari Alex. Lelaki itu memilih diam dengan tatapan lurus ke depan.
"Kita bisa membicarakan baik-baik, buka Mas!" Sweet semakin kesal karena sikap Alex.
"Baiklah, aku tidak akan pernah bicara padamu dan menjelaskan apa pun." Sweet berpura-pura menyerah, ia berharap Alex mendengar. Namun ia salah, Alex masih tetap mengabaikannya dan mobil itu melaju dengan cepat.
"Mas, kau harus mengatakan di mana orang tuaku...." teriak Sweet seraya mengejar mobil Alex. Sayang sekali, mobil yang Alex kendarai semakin melaju cepat. Sweet benar-benar frustrasi, tubuhnya melemas dan terkulai tak berdaya.
"Sweet, masuklah." Sweet terhenyak saat sebuah tangan menyentuh pundaknya. Milan, wanita itu sudah berdiri di belakangnya.
Sweet tidak menanggapi, ia pun memilih untuk kembali bangkit dan pergi dari mansion. Dengan langkah cepat, Sweet benar-benar meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan itu.
Tidak ada arah tujuan Sweet saat ini, ia hanya mengikuti langkah kakinya. Tidak ada tempat untuknya berlabuh saat ini. Pikirannya saat ini kosong.
Tanpa Sweet sadari sebuah mobil Audi berwarna biru berhenti tepat di sebelahnya.
"Beib...." Panggil seorang wanita sang pemilik mobil. Sweet tersentak, ternyata Grace lah yang ada di dalam mobil. Wanita bertongkat itu keluar dari mobil, dan menghampiri Sweet.
"Mau kemana?" tanya Grace menatap Sweet curiga. Kedua mata Sweet terlihat bengkak dan memerah.
"Entahlah," ucap Sweet pelan. Membuat Grace semakin penasaran.
"Apa dia menyakitimu?" tanya Grace lagi. Sweet terdiam sesaat, kemudian mengangguk pelan. Seketika wajah Grace berubah merah.
"Brengsek! Sejak awal aku ragu padanya. Semua lelaki sama saja, ucapannya tidak bisa dipegang. Ikuti denganku, Sweet." Grace menarik tangan Sweet. Mendorong sahabatnya masuk ke dalam mobil. Lalu mereka pun meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata pun.
"Aku berencana ke rumah sakit, terjadi sesuatu pada ibu angkatku. Kau tahu apa yang terjadi?" tanya Grace kembali membuka pembicaraan setelah cukup lama terdiam. Namun, Sweet sama sekali tidak menjawab. Pikirannya kosong, hanya satu orang yang ia ingat, yaitu Alex.
"Beib, are you ok?" tanya Grace khawatir. Menarik Sweet dari lamunan.
"Bawa aku pergi dari sini, Grace. Aku ingin pergi sejauh mungkin," ujar Sweet dengan nada lemah. Grace yang mendengar itu merasa iba. Ia tahu betul bagaimana kehidupan sahabatnya sejak kecil. Begitu banyak beban yang Sweet tanggung di pundaknya.
"Kau yakin? Aku harap kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu, Honey." Sebelah tangan Grace menggenggam tangan Sweet dengan erat.
"Aku tidak akan pernah menyesal," jawab Sweet begitu yakin. Lalu ia kembali membuang pandangan ke luar jendela. Mungkin ini adalah keputusannya, meninggalkan cinta yang sebenarnya tidak pernah ada.
Kau yang memintaku untuk pergi, prinsipku akan tetap sama. Tidak akan ada kesempatan kedua. Maaf, aku memang mencintaimu. Tapi kau lebih memilih cinta lamamu, aku harus pergi dan mungkin tak akan pernah kembali. Dengan ketulusan hati, aku benar-benar mencintaimu, Suamiku.
__ADS_1