
Di mansion besar, semua penghuni tampak berkumpul di ruang keluarga. Menikamati hari santai bersama keluarga sambil menonton layar lebar. Di sofa berukuran panjang terlihat sepasang suami istri yang tengah bercengkrama mesra. Sedangkan dua pemuda dengang wajah identik tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Morning." Sapa seorang lelaki bertubuh jangkung dengan rambut semraut khas orang bangun tidur.
"Ini sudah hampir siang, Luc." Sahut Melvin yang tengah asik bermain game. Lucas mendengus pelan seraya menyambar gelas minuman di atas meja.
"Hey, itu milikku." Tegur Melvin. Marvel yang tengah mengecek email pun menoleh sekilas ke arah Lucas. Setelah itu ia kembali memusatkan perhatian pada ponselnya.
"Cih, kita sudah terbiasa berbagi." Jawab Lucas duduk di sebelah sepupunya itu. Kemudian matanya menerawang seolah mencari seseorang.
"Di mana Eve?" Tanya Lucas pada semua orang. Sabrina pun menoleh.
"Sejak pagi dia pergi, katanya akan kembali sebentar lagi." Jawabnya dengan senyuman ramah. "Kau belum sarapan, Luc. Sarapanlah lebih dulu, ajak kedua saudaramu."
"Hm." Lucas tidak terlalu menanggapi ucapan Sabrina. Yang saat ini ada dalam pikirannya hanya satu, yaitu Eveline. Di mana wanita itu berada?
Arez menatap keponakannya lekat. "Mommymu menghubungiku pagi tadi, kapan kalian akan pulang?"
Lucas menatap sang Uncle. "Aku tidak bisa menentukan kapan akan kembali."
"Luc, berhenti membuat Mommymu cemas. Kau tahu kesehatannya tidak benar-benar baik." Sabrina mencoba menasihati keponakannya yang nakal itu.
"Ya ya... aku akan kembali. Tapi tidak untuk sekarang. Masih ada yang belum aku selesaikan." Lucas menjawab dengan malas.
Sabrina menghela napas berat. Ia tidak tahu harus menasihatinya seperti apa lagi. Lelaki itu sangat sulit di atur sejak kecil.
Dan suasana pun mendadak hening.
Tidak berapa lama, Eveline datang bersama seorang lelaki tampan. Kedua tangan mereka pun saling terpaut mesra.
"Mom, Dad." Sapa Eveline pada kedua orang tuanya. Sontak semua orang pun menoleh. Eveline mengeratkan genggamannya saat mendapat tatapan tajam dari Lucas.
"Eve, siapa pemuda tampan ini?" Tanya Sabrina bangkit dari duduknya. Menghampiri keduanya dengan senyuman yang mengembang.
"Ya, Mom. Dia kekasihku, Summer. Summer, ini Mommy dan Daddyku. Yang itu kedua Kakak kembarku dan yang satu lagi...." Eveline sengaja menjeda ucapannya. "Dia sepuku dari California."
"Hai, Averyone. Aku Summer, senang bisa bertemu dengan kalian semua." Summer tersenyum begitu ramah.
"Senang juga bisa langsung bertemu dengan calon menantuku. Ajak dia duduk, Eve. Mommy tidak tahu kau sudah punya kekasih." Ujar Sabrina memperisalakan tamunya duduk.
Eveline pun mengajak Summer duduk.
Summer memberikan senyuman ramah pada Arez sebelum duduk.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian berpacaran?" Tanya Arez menatap keduanya bergantian. Marvel, Melvin dan Lucas pun ikut memberikan tatapan penuh selidik.
"Sekitar satu tahun yang lalu. Kami sudah dekat sejak lama, kebetulan Eve adalah adik kelasku saat kuliah dulu." Jawab Summer. Eveline melirik Lucas yang sejak tadi terus memberikan tatapan tak bersahabat.
Arez mengangguk pelan. "Kau berasal dari kota ini?"
"Tidak, orang tuaku asli London." Jawab Summer jujur.
"Kau bekerja?"
"Ya, aku bekerja di kota ini sejak dua tahun lalu."
Lagi-lagi Arez mengangguk. "Kau serius pada putriku?"
Summer tersenyum lagi. "Tentu saja, saya mencintai putri Anda, Tuan. Jika diperbolehkan aku ingin segera memperistrinya."
Lucas berdecih saat mendengar itu. Dan itu menarik perhatian semua orang. "Aku rasa dia tidak benar-benar mencintianya."
"Luc." Arez memeperingatinya. Lucas pun diam, tetapi wajahnya terlihat masam.
"Mungkin dalam beberapa bulan kedepan orang tuaku akan datang untuk membahas hal yang lebih serius." Jelas Summer terlihat serius.
Arez salut mendengar keseriusan lelaki itu. "Baiklah, aku rasa itu lebih baik."
Melvin menatap Eveline lekat. Kemudian bergantian menatap Summer.
"Cari tahu siapa lelaki itu." Bisik Melvin pada kembarannya, Marvel. Lelaki tampan itu pun mengangguk.
****
Lucas menyesap sepuntung rokok dengan kesal. Bayangan Eveline bersama kekasihnya terus menghantui pikiran lelaki itu. Ingin sekali rasanya ia membawa wanita itu dan mengurungnya seumur hidup. Eveline hanya miliknya. Tak akan ia biarkan orang lain menyentuhnya.
"Sial!" Lucas menepik semua benda yang ada di atas meja sampai jatuh dan berserakan di lantai. Dengan emosi yang memuncak, Lucas bangkit dari posisinya. Menyambar kunci mobil dan meninggalkam kamar. Namun ia tak sengaja berpapasan dengan Eveline. Lucas mengeratkan rahang. Kemudian beranjak pergi dari sana. Dan itu berhasil membuat Eveline kaget. Tidak biasanya lelaki itu menghindarinya. Tak ingin ambil pusing, ia pun bergegas menuju kamar.
Lucas melajukan mobil sportnya dengan kecepatan penuh. Wajahnya terlihat memerah karena menahan emosi. Tidak butuh waktu panjang, mobil itu berhenti di sebuah gedung minimalis. Di sana sudah ada beberapa mobil sport dengan berbagai brand. Lucas melangkah pasti memasuki gedung itu.
"Wah, sejak kapan kau menyempatkan diri datang kemari, Luc?" Tanya seorang pemuda dengan tubuh dipenuhi tato, lelaki itu menatap Lucas penuh curiga. Sedangkan yang ditatap sama sekali tak menjawab.
Lucas duduk di sofa single, lalu meraih botol wisky dan menegaknya dengan kasar.
"Kau baik-baik saja, Luc?" Tanya seorang wanita yang juga salah satu teman akrab Lucas.
"Sialan!" Umpat Lucas mengabaikan pertanyaan teman-temannya. Tentu saja semua orang yang ada di sana merasa heran. Harry, si pria bertubuh jangkung itu meletakkan botol wisky baru di atas meja. Kemudian duduk di sofa dengan pandangan tak lepas dari Lucas.
__ADS_1
"Apa tujuanmu datang ke sini? Aku tahu kau hanya datang saat ada masalah." Kata Harry yang sudah hafal betul perangai temannya itu. Harry memang lebih tua lima tahun dari Lucas, karena itu ia yang lebih dewasa di antara yang lainnya.
Lucas menatap semua orang bergantian. Kemudian tersenyum miring. "Aku butuh bantuan kalian."
"Katakan." Harry memberikan tatapan serius.
"Aku ingin menculik seseorang."
Semuanya terdiam untuk sesaat. Kemudian terdengar suara helaan napas Harry. "Siapa kali ini yang ingin kau culik huh?"
"Eveline." Sahut Lucas tanpa ragu sedikit pun. Sontak mereka pun kaget mendengarnya.
"Eveline, sepupumu itu?" Tanya si wanita yang bernama Rose. Lucas pun mengangguk yakin.
"Kau gila, Luc?" Seru William tak habis pikir dengan jalan pikiran Lucas.
"Kami tidak ingin membuat masalah dengan keluarga Digantara. Lebih-lebih Ayahnya bukan orang yang mudah diajak kompromi. Jika kita ketahuan, neraka tempat tinggal kita selanjutnya."
Lucas tersenyum getir. "Aku akan membayar sepuluh kali lipat."
"Kenapa bukan kau saja yang menculiknya huh? Aku rasa mereka tak akan curiga padamu. Bawa saja dia ke negaramu, mudah bukan?" Usul Harry.
Lucas tampak berpikir keras. Selanjutnya ia tersenyum penuh arti. "Kenapa aku tak memikirkan itu sebelumnya? Ide brilian."
"Cih, katakan saja kau dibodohkan oleh cinta tak masuk akalmu itu. Jatuh cinta pada sepupu sendiri adalah kebodohan yang paling akut. Aku akui Eveline sangat cantik, tapi masih banyak wanita lain yang jauh lebih cantik." Ledek Rose.
"Dan itu kau. Itu yang ingin kau katakan bukan?" Lucas tersenyum miring. Rose berdecak sebal.
"Aku akan menculiknya besok." Putus Lucas yang berhasil membuat semua orang kaget.
"Kau yakin? Bagaimana jika pamanmu tahu? Atau sepupu yang lainnya tahu?"
"Aku akan menghadapi mereka. Tapi sebelum itu aku akan memastikan Eveline hanya milikku seorang. Hanya diriku yang ada dalam kepalanya."
"Kau memang gila, Luc."
"Ya, dialah yang membuatku segila ini. Eveline, akan aku pastikan kau milikku seorang." Lucas tersenyum devil.
"Dasar bucin." Ledek Rose yang notabennya masih berdarah kental Indonesia.
Tbc....
****
__ADS_1
Hallo guys... akhirnya aku hadir lagi di hadapan kalian semua... maaf ya kalau agak lama fakumnya di IYD... dan hari ini aku memutuskan buat lanjut season 3-nya di sini. Semoga kalian suka ya... love you all... happy reading ❤️🥰🥰