
Melvin tampak menuruni anak tangga sambil bersiul. Pemuda yang satu itu terlihat rapi dengan setelan kasualnya. Arez yang sejak tadi duduk di ruang tengah pun melirik putranya.
"Mau kemana kau, Son?"
Melvin menahan langkahnya. "Ada urusan sebentar, Dad." Jawabnya menatap sang Daddy yang tengah membaca surat kabar.
"Aku tahu kau akan menjemput Lucas. Masalah apa lagi yang dia lakukan kali ini huh?" Arez menatap putranya penuh selidik dari balik kaca mata yang bertengger indah di hidung bangirnya.
"Dia hanya berkunjung." Jawab Melvin sekenanya. Pemuda itu memang sering menyembunyikan kesalahan Lucas, begitu pun sebaliknya.
"Fokus dengan sekolahmu, Melvin. Jangan sampai Daddy dengar kau balapan liar lagi." Ancam Arez kembali memokuskan perhatian pada surat kabar.
"Ya, Dad. Aku pergi." Melvin pun hendak pergi. Namun harus tertahan karena Arez kembali bicara.
"Kau harus banyak belajar dari Marvel. Dia sangat rajin belajar dan mendapat kejuaraan di setiap akademi. Daddy tidak ingin kau menjadi gelandangan."
Melvin tersenyum getir. "Aku bukan Marvel yang gila belajar. Jika Daddy memintaku menghabiskan waktu di studio, mungkin aku tidak akan membantah. Tapi tidak untuk belajar yang lainnya."
"Kau melawan Daddymu lagi, Melvin?" Tegur Sabrina yang baru bergabung bersama putrinya, Eveline Grizelle Digantara. Gadis cantik itu menatap sang Kakak lekat. Eveline memang irit bicara seperti sang Daddy. Bisa dikatakan gadis itu benar-benar mewarisi sifat sang Daddy sepenuhnya.
"Aku tidak melawan, Mom. Kalian tahu aku tidak suka di atur. Biarkan aku bebas seperti anak-anak lainnya."
"Daddymu sudah memberikan kebebasan di luar sana. Apa lagi yang kau inginkan huh?" Timpal Sabrina memelototi putranya.
"Mom, aku...."
"Pergilah, Son. Jangan melawan Ibumu." Sela Arez yang tak pernah senang melihat pertengkaran Ibu dan anak itu. Kadang mereka bingung dengan sikap pembangkang Melvin yang entah ikut siapa.
"Thank you, Dad." Ucap Melvin bergegas pergi sebelum orang tuanya berubah pikiran.
Sabrina cuma bisa menghela napas berat. Anaknya yang satu itu sangat menjengkelkan. Namun tetap saja ia pangeran tampan yang dicintainya. Meski Melvin sangat nakal, tetapi kadang-kadang ia bersikap manis dan manja. Dan itu membuat Sabrina luluh seketika.
"Jangan terlalu memanjakannya, Al. Dia akan menjadi anak keras kepala." Protes Sabrina menatap suaminya lekat.
"Justru dia akan semakin keras jika kita mengekangnya. Biarkan saja dia melakukan keinginannya, jika sudah dewasa dia akan berpikir sendiri. Setiap anak memiliki pemikiran berbeda."
"Aku tahu, tapi...."
"Jangan ceramah sekarang, aku sedang sibuk." Sela Arez yang masih fokus melihat surat kabar.
Sabrina mendelik mendengarnya. "Menyebalkan." Kesalnya.
Eveline tersenyum tipis melihat perdebatan kedua orang tuanya. "Mom, Dad, besok aku harus menghadiri acara sekolah. Aku butuh pakain baru."
"Pesan saja, Daddy yang akan membayarnya." Sahut Arez melirik putrinya sekilas.
"Thank you, Dad." Ucap Eveline tersenyum bahagia.
"Temui Kakakmu, minta dia untuk mengawasi Melvin. Anak itu tidak bisa dilepas begitu saja."
__ADS_1
"Aku di sini, Dad." Sahut Marvel yang terlihat tampan dengan pakaian kasualnya. Menarik perhatian semua orang.
"Bagus, pergi susul Melvin. Jangan sampai dia membuat ulah." Titah Arez menatap putranya tegas.
"Ya, Dad."
"Apa aku boleh ikut?" Tanya Eveline menatap sang Kakak penuh harap.
"Pergilah." Sahut Arez. Marvel pun memberi isyarat pada sang adik untuk berangkat. Kemudian keduanya pun bergegas pergi. Arez dan Sabrina menatap keduanya dengan senyuman.
"Mereka sudah besar, Al. Rasanya seperti mimpi, baru kemarin aku meraskan sakit melahirkan mereka. Sekarang mereka sudah tumbuh dewasa." Ujar Sabrina.
"Hm."
Sabrina berdecak kesal mendengar sahutan suaminya yang sama sekali tak bermakna. "Apa salahnya kau bicara panjang lebar, Al? Aku juga ingin bercengkarama denganmu, kau terlalu sibuk dengan anak-anakmu. Aku harap Eve tidak sepertimu meski sudah ada tanda-tanda dia mirip denganmu. Lebih baik aku menemui Mommy, kau menyebalkan." Ketusnya seraya beranjak pergi dari sana. Sedangkan Arez sama sekali tidak peduli dengan omelan istri cerewetnya itu.
****
"Kenapa wajahmu ditekuk?" Tanya Lucas saat melihat wajah kusut Melvin. Ia melempar asal tas ranselnya ke jok belakang.
"Kau tahu rumahku banyak sekali aturan, sampai aku lupa semua aturan itu." Kesal Melvin. Pemuda itu pun melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
"Kau pikir rumahku tidak? Aku juga kabur karena ingin terbebas dari peraturan yang Mommyku buat. Rasanya aku seperti hidup di neraka."
"Cih, mereka sama saja. Bagaimana jika kita ke arena malam ini? Aku akan bertaruh dengan si bedebah Demian. Dia selalu menantangku. Malam ini akan aku buktikan siapa yang banci." Kesal Melvin dengan senyuman smirknya.
Lucas tertawa renyah. "Setuju. Sudah lama aku tak menantang si brengsek Xavier. Aku tidak sabar untuk menguasai arena malam ini."
"Jangan ragukan keturunan Digantara dan Winston. Akan aku buat mereka bertekuk lutut." Kata Lucas dengan rasa percaya diri.
Kemudian keduanya pun tertawa bersamaan. Mobil yang mereka tumpangi pun melesat cepat menuju apartemen.
Melvin maupun Lucas kaget saat melihat keberadaan Marvel dan Eveline di sana. Keduanya kini sudah duduk santai di sofa. Mata Lucas pun langsung tertuju pada Eveline. Kemudian mengulas senyuman penuh arti. Sedangkan gadis itu sama sekali tak menggubrisnya, justru terkesan cuek.
"Sejak kapan kalian di sini?" Tanya Melvin seraya menjatuhkan diri di atas sofa. Menatap saudaranya dengan tatapan curiga. Begitu pun dengan Lucas yang ikut duduk di sebelah Melvin. Namun tatapannya masih setia pada Eveline. Sampai pandangan keduanya pun bertemu. Eveline pun segera memutus pandangan dan terlihat salah tingkah.
"Berhenti balapan liar, Daddy akan memarahimu." Marvel memperingati.
Melvin mendengus pelan. "Kau tahu aku tidak suka diatur."
"Kalau begitu hiduplah sesuka hatimu, jangan meminta bantuanku jika kau dalam masalah. Daddy tidak akan membantumu lagi kali ini." Ujar Marvel bangkit dari duduknya yang diikuti oleh Eveline.
"Aku masih punya Mommy." Sahut Melvin kesal.
"Mommy tidak pernah menyukai pembangkang." Pungkas Marvel bergegas pergi dari sana. Sedangkan Eveline menatap Lucas.
"Sebaiknya kau kembali, Luc. Pikirkan Mommymu. Dia akan mencemaskan dirimu." Ujar Eveline. Lucas terlihat senang karena merasa diperhatikan oleh saudari cantiknya itu.
"Kau memang selalu perhatian padaku, Eve."
__ADS_1
Eveline melotot saat mendengar itu. "Aku hanya khawatir pada Aunty, bukan dirimu. Sudahlah, percuma bicara padamu." Ketus Eveline beranjak pergi menyusul sang Kakak. Sedangkan Lucas malah tertawa lepas. Melvin yang melihat itu cuma bisa menggeleng.
"Berhenti menyukai adikku. Kalian tidak akan bisa bersama." Ujar Melvin bangkit dari posisinya. Berjalan malas menuju kamar. "Aku tidur sebentar, terserah kau mau melakukan apa."
Lucas menghela napas panjang. Kemudian tersenyum miring sambil membayangkan wajah cantik Eveline. Sejak awal Lucas memang menyukai saudarinya sendiri. Bahkan tidak jarang Alexa maupun Sabrina memperingatinya untuk tidak memikirkan hal macam-macam. Namun bukan Lucas namanya jika ia tak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Bisa dikatakan sifat Lucas hampir mirip dengan sang Mommy. Keras kepala dan pemaksa.
****
Malam hari, Lucas dan Melvin sudah berada di area balapan. Di mana berbagai jenis mobil mewah sudah berderet di sana. Dan kedua pemuda itu terlihat duduk dia tas kap mobil. Sambil tertawa riang. Kemudian bersorak saat mobil lainnya memasuki arena balapan.
"Wow...." Teriak Melvin saat mobil milik seseorang berhenti dengan mulus tepat di depannya. Tidak lama keluarlah seorang gadis cantik berambut coklat dari sana. Lambaian rambut wanita itu seolah mengundang perhatian para mata lelaki. Gadis itu pun menghampiri mobil Melvin dan Lucas. Kemudian membuka kaca matanya.
"Bagaimana dengan mobilku?" Gadis itu bertanya penuh semangat.
"Mobil siapa lagi yang kau curi, Vio?" Tanya Lucas menatap saudarinya itu curiga. Sedangkan yang ditanya malah berdecak sebal. Gadis itu tak lain adalah Violet, si cantik yang banyak digemari para kaum Adam karena keberaniannya.
"Ini mobil Mommyku, Spyder. Aku baru tahu jika Mommy suka balapan saat muda dulu. Aku mencurinya dari gudang."
Melvin mendengus kesal. "Aku harap Uncle Jarvis tidak mencincangmu."
Violet tertawa renyah. "Daddy tidak akan melakukan itu, dia sangat menyayangiku."
"Kau yakin?" Tanya Lucas melipat tangannya di dada. Violet pun mengangguk antusias.
"Siapa lawanku kali ini? Aku sudah tidak sabar." Seru Violet dengan tatapan berbinar. Matanya mulai mengabsen setiap orang yang ada di sana.
"Larissa, kau berani?" Tawar Melvin menatap sang adik remeh. Violet pun menoleh.
"Hey, siapa yang takut? Aku akan menantangnya." Sahut Violet dengan nada angkuh. "Berapa taruhan kalian?"
"Satu juta." Jawab Melvin tanpa ragu.
"Kau, Luc?" Violet menatap Lucas lekat.
"Apa pun yang kau inginkan." Jawabnya.
"Benarkah? Ya Tuhan, sejak lama aku menginginkan Blackymu." Violet mengusap kap mobil mewah milih Lucas.
"Tidak untuk Blacky, kau ingin aku di bunuh Daddy?" Kesal Lucas.
"Hey... kau yang mengatakan apa pun yang aku inginkan. Aku ingin mobilmu, tidak mau tahu. Akan aku pastikan Blacky menjadi milikku." Violet terlihat begitu antusias. Sedangkan kedua pemuda itu hanya saling menatap, kemudian tersenyum miring. Melvin menegakkan tubuhnya, menatap Violet lekat.
"Jika kau kalah, cium tiang listrik sebanyak sepuluh kali."
"What? Kalian gila?" Pekik Violet tak terima dengan tantangan yang Melvin berikan.
Melvin dan Lucas tersenyum miring. Seolah meremehkan gadis cantik itu.
"Okay, aku terima." Putus Violet.
__ADS_1
"Hm... buktikan dalam darahmu masih mengalir darah Digantara." Ujar Melvin.
"Lihat saja, akan aku buktikan perkataanmu." Violet melipat kedua tangannya sambil tersenyum miring.