
Brak!
Zhea terkejut bukan main saat tiba-tiba pintu ruang kerjanya dibuka kasar oleh seseorang. Dan pelakunya tak lain adalah Gabriel.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Tanyanya seraya mendekati lelaki kasar itu.
"Maaf, Miss. Tuan ini memaksa masuk, kami sudah menahannya." Kata sang asisten. Juga beberapa karyamannya berdiri di belakang wanita itu.
"Tidak apa, kalian boleh pergi." Titah Zhea yang dijawab anggukan oleh mereka. Lalu mereka pun langsung pergi dari sana.
"Di mana sepupuku, Violet. Aku tahu kau menyembunyikannya bukan?" Sentak Gabriel yang berhasil membuat Zhea mundur. Lalu lelaki itu pun menggeledah ruang kerja gadis itu tanpa permisi.
"Apa yang kau katakan, aku sama sekali tidak tahu di mana Violet." Kata Zhea mengikuti kemana Gabriel pergi. Bahkan ia terperangah saat Gabriel mengacak-ngacak lemari berisi baju hasil rancangannya yang baru. "Gabriel! Stop it!"
Spontan Gabriel pun menghentikan aksinya dan langsung berbalik. Seperti biasa, ia meberikan tatapan tak bersahabat pada gadis di depannya itu. "Katakan di mana Violet, kau adalah orang terakhir yang dia temui."
"Ya! Memang aku yang terakhir kali dia temui. Tapi setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Tunggu! Apa maksudmu? Kau mencari Violet? Memangnya dia hilang?" Kaget Zhea yang baru sadar apa yang terjadi.
Gabriel manatapnya penuh selidik.
"Katakan padaku, Gab. Violet menghilang?" Ulang Zhea dengan wajah paniknya.
"Tidak perlu berpura-pura, sebaiknya katakan di mana Violet berada. Kesehatan Grandma terus memburuk sejak tahu Violet menghilang. Di mana kau menyembunyikannya huh?"
"Apa?" Kaget Zhea lagi. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika Grandma sakit?"
Gabriel mendengus sebal. "Cepat katakan di mana Violet."
"Aku tidak tahu. Saat itu dia hanya meminjam ponselku untuk menghubungi seseorang. Setelah itu kami mengobrol sebentar, lalu berpisah karena aku harus segera check in." Jelas Zhea apa adanya.
"Dia meminjam ponselmu?" Tanya Gabriel curiga.
Zhea pun mengangguk.
"Berikan ponselmu."
"Hah, buat apa?"
"Jangan banyak bertanya, berikan saja." Gabriel yang melihat ponsel Zhea ada di atas meja pun langsung mengambilnya.
Lalu mengecek riwayat panggilan. Sayangnya begitu banyak nomor tak dikenal di sana.
Sial! Umpatnya dalam hati.
Tunggu! Kenapa Gabriel bisa membuka ponselku? Kaget Zhea.
"Nomor mana yang Violet hubungi?"
"Aku tidak tahu, coba lihat saja tanggalnya."
Gabriel pun kembali memeriksanya. Sayang tak ada nomor tak dikenal di tanggal itu. "Sialan. Sepertinya Violet sengaja menghapus riwayat panggilan. Ternyata dia sudah merencanakan semua ini."
Zhea menggigit ujung kukunya. "Apa semua penerbangan sudah dicek?"
"Hm, tidak ada nama Violet." Jawab Gabriel sembari mengembalikan ponsel Zhea. Lalu hendak pergi.
__ADS_1
"Em... apa aku boleh ikut pulang denganmu. Aku ingin melihat kondisi Grandma." Mohon Zhea yang berhasil menahan langkah Gabriel.
Gabriel berbalik, lalu mengangguk pelan.
"Sebentar." Kata Zhea bergegas memasukkan barang pentingnya ke dalam tas. "Ayo." Ajaknya kemudian. Bahkan tanpa sadar ia menarik tangan Gabriel dan pergi meninggalkan tempat kerjanya. Gabriel sama sekali tak protes, justru terlihat menikmati betapa hangat dan lembutnya sentuhan tangan itu.
Sial! Bahkan tangannya saja sangat lembut. Bagaimana dengan yang lain? Pikirannya pun mulai melanglang buana ke arah lain. Brengsek memang.
Sesampainya di parkiran, Zhea baru sadar jika sejak tadi tangannya terus menggenggam tangan Gabriel. Spontan ia pun segera melepasnya.. "Ah, maaf." Ucapnya gugup dan terlihat canggung.
Gabriel pun tak menyahut, lalu bergegas masuk ke mobilnya. Sedangkan Zhea masih terlihat canggung dan salah tingkah.
Ya ampun, apa yang aku lakukan, Zhea? Bagaimana ini? Lirihnya dalam hati.
"Hey, mau sampai kapan kau akan berdiri di sana?" Tegur Gabriel. Sontak Zhea pun kaget dan bergegas masuk ke mobil lelaki itu. Ia benar-benar gugup, bahkan tangannya sampai bergetar sangking malunya.
"Aku paling benci orang lelet." Cibir Gabriel seraya melajukan mobilnya.
"Hah?" Kaget Zhea menoleh.
"Tidak ada." Sahut Gabriel yang diringi dengusan sebal.
Dan suasana pun mendadak hening. Hanya suara deru mobil memecah keheningan di antara mereka.
"Em, Gab. Apa boleh kita mampir di toko kue? Aku ingin membelikan Grandma kue kesukaannya." Pinta Zhea memberanikan diri untuk memulai kembali pembicaraan.
Seperti biasa Gabriel tak menggubrisnya. Zhea pun cuma bisa menghela napas pelan.
"Kau tidak bertanya apa kue kesukaanku?" Celetuk Gabriel yang berhasil membuat Zhea kaget.
Gabriel tersenyum tipis, nyaris tak terlihat oleh Zhea. "Bukankah kau begitu ingin menikah denganku? Kenapa tidak mencoba mencari tahu apa yang aku suka?"
Mendengar itu Zhea pun tertawa kecil. Dan itu membuat Gabriel keheranan.
"Kenapa kau tertawa?"
Zhea menoleh masih dengan sisa tawanya. "Kau sangat lucu."
Alis Gabriel saling tertaut. "Apa kau bilang, kau bilang aku sangat lucu? Apa aku terlihat seperti badut?"
Zhea menggeleng dengan senyuman lucunya. "Mungkin." Sahutnya seraya memalingkan wajah ke luar jendela. Mencoba menyembunyikan senyumannya dari lelaki itu.
Aku tidak tahu dia begitu percaya diri, memang benar sih dulu aku sangat berharap bisa menikah dengannya. Tapi untuk sekarang, aku mulai ragu dengan keinginan itu. Batinnya.
Gabriel yang melihat itu pun berdecak sebal. "Tidak perlu berpura-pura, katakan saja jika kau ingin menikah denganku. Cobalah berusaha meyakinkanku, mungkin saja aku berubah pikiran."
Sontak Zhea pun menoleh ke arahnya, sedetik kemudian ia pun kembali tertawa. Dan lagi-lagi Gabriel dibuat heran olehnya.
Zhea pun menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan untuk menghentikan tawanya. Setelah itu ia pun langsung menatap Gabriel. "Mohon maaf, Tuan. Mungkin dulu memang aku pernah begitu tergila-gila oleh ketampananmu. Tapi untuk saat ini, aku rasa perasaan itu sudah tidak ada."
Mendengar itu Gabriel agak kecewa. "Benarkah?" Tanyanya yang diiringi tawa hambar.
Zhea mengangguk. "Ya, perjodohan itu sudah lama usai karena kau menolakku. Jadi tidak ada alasan untukku untuk tetap menyukaimu."
"Bagaimana jika sekarang aku yang ingin menikah denganmu?" Ungkap Gabriel yang lagi-lagi berhasil membuat Zhea kaget. Bahkan gadis itu tampak tegang.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa dia sedang melamarku? Batinnya seraya melirik Gabriel sekilas.
"Kenapa diam? Kau senang?" Tanya Gabriel dengan senyuman devilnya.
Tidak ada wanita yang menolak pesonaku, akan aku pastikan kau memohon padaku, Zhea. Ganriel pun tertawa penuh kemenangan dalam hatinya.
"Tidak sama sekali, Tuan. Lagi pula sekarang aku sudah punya tambatan hati." Bohong Zhea menutupi kegugupannya, ia tak mau dianggap rendah lagi oleh lelaki disebelahnya itu.
Zhea juga tidak sepenuhnya berbohong, ia memang memiliki tambatan hati. Yang tak lain Gabriel sendiri. Entahlah, Zhea masih belum bisa menghilangkan rasa cinta dihatinya. Mungkin karena Gabriel adalah cinta pertamanya. Sebab itu ia sulit melupakannya.
"Wah, apa aku boleh tahu siapa lelaki beruntung itu?" Tanya Gabriel meski sebenarnya cukup kecewa.
Zhea tersenyum. "Yang jelas dia tampan."
Gabriel mengeratkan rahangnya. "Apa dia lebih tampan dariku?"
"Mungkin." Jawab Zhea sekenanya.
Gabriel melirik gadis itu sekilas, begitu pun dengan Zhea. Yang ingin melihat reaksi wajah lelaki disebelahnya itu.
Ya ampun, kenapa ekspresinya begitu? Apa dia sedang cemburu? Pikir Zhea keheranan.
Sial! Ada apa denganku? Kenapa aku tak senang saat tahu dia memiliki orang yang disukainya? Umpat Gabriel dalam hati.
"Gab, jangan lupa mampir ke toko kue di depan itu." Ujar Zhea mengingatkan Gabriel.
"Tidak perlu mengingatkanku, aku belum pikun." Ketus Gabriel.
Zhea langsung terdiam karena tak tahu harus bicara apa lagi.
Setibanya di toko kue, Zhea langsung mengambil keranjang dan berjalan ke arah lemari yang dipenuhi berbagai jenis varian kue. Lalu memilih beberapa snack kesukaan Sky dan juga cheesecake favorit Sweet. Tidak lupa mengambil beberapa smoothie buah kesukaannya.
Siapa sangka jika Gabriel ternyata mengikutinya dan kini sudah berdiri dibelakang gadis itu. Lelaki itu tersenyum puas karena Zhea memilih Smoothie buah kiwi kesukaanya. "Jadi kau tahu apa yang aku suka huh?"
Zhea terkejut dan langsung berbalik, ia tak tahu jika Gabriel ternyata mengikutinya. "Gab, kenapa kau ikut turun?"
Gabriel tersenyum penuh arti. "Apa aku salah menemani istriku?"
Mendengar itu Zhea pun langsung melotot dan melihat kesekitar. Di mana ia bisa melihat jika mata pengunjung lain tertuju pada mereka saat ini.
"Ya ampun, beruntung sekali Anda mendapatkan suami yang pengertian." Kata seorang paruh baya pada Zhea.
"Eh? Bukan...." Zhea hendak protes, tetapi Gabriel lebih dulu memotongnya.
"Ya, istriku ini sedang merajuk karena tadi malam aku tidak memanjanya." Potong Gabriel merengkuh pinggang Zhea tanpa permisi. Sepertinya ia sedang mencuri kesempatan. Spontan Zhea pun kaget dan langsung menghindar.
"Gab, apa yang kau lakukan?" Pekik Zhea memelototi Gabriel. Namun, siapa sangka Gabriel malah memasang wajah memelas.
"Sayang, berhenti marah okay? Aku janji tidak akan mengabaikanmu lagi."
Mendengar itu mata Zhea semakin melebar. "Berhenti bercanda, Gab. Itu gak lucu sama sekali." Kesalnya sembari melihat ke arah pengunjung lain yang masih memperhatikannya. Merasa dipermainkan, Zhea pun langsung meninggalkan Gabriel menuju meja kasir.
Gabriel pun tersenyum puas. "Ternyata menyenangkan juga mengerjai gadis itu." Gumamnya yang kemudian menyusul Zhea.
Setelah membayar, Zhea pun meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar. Mengabaikan Gabriel yang sejak tadi berada di belakangnya.
__ADS_1