
Setelah keluar dari ruang rawat Sheena, Violet langsung meninggalkan rumah sakit dengan langkah lebar.
"Vio!" Panggil Lea berusaha mengejarnya. Sayangnya Violet terus melangkah pasti meninggalkan tempat itu.
"Vio, wait!" Kali ini Lea berteriak kencang. Dan berhasil membuat Violet menahan langkahnya. Dengan langkah lebar Lea menghampiri gadis itu. Lalu menarik Violet agar mengadap dirinya. Ditatapnya sang adik lamat-lamat. "Kau ingin minum huh?"
Violet membalas tatapan Lea, kemudian mengangguk pelan. Setelah itu keduanya pun langsung meninggalkan rumah sakit.
Kini mereka pun berada di sebuah klub. Entah sudah berapa gelas bir yang Violet tegak. Yang jelas gadis itu sudah hampir hilang kesadaran. Lea cuma bisa menonton, ia tahu sang adik butuh pelampiasan.
"Sudah cukup." Tahan Lea saat Violet ingin mengisi ulang gelasnya. "Kau sudah cukup mabuk, Vio."
Violet berhenti minum, kemudian duduk menghadap Lea. Dan mereka pun bersitatap. Seketika tatapan Violet pun menjadi sendu. "Aku sudah berusaha melepaskannya dengan lapang dada, Le. Tapi kenapa rasanya masih saja sakit? Kau lihat tadi cara mereka bertatapan huh? Menjijikan." Lirihnya, membenamkan wajah tepat di pundak Lea.
Lea menghela napas gusar sembari mengusap pundak gadis itu. "Kau harus berhenti memikirkannya. Bukankah kau sudah memutuskan untuk menerima Paul?"
Violet tertawa cekikikan, dan itu membuat Lea merinding. "Vio?"
Violet mengangkat kepalanya. "Kau tahu? Aku sudah berusa untuk berhenti memikirkannya. Tapi dia masih saja bermain di kepalaku. Dasar brengsek! Aku akan membunuhnya."
Lea menekan kedua bahu Violet. "Lalu kau ingin apa sekarang huh? Merusak hubungan mereka? Apa kau lupa? Mereka hampir memiliki anak."
Mendengar itu Violet langsung terdiam, tetapi sedetik kemudian ia menangis. "Apa yang harus aku lakukan huh?"
Lea mengusap pipi adiknya itu dengan lembut. "Kasihan sekali kau, Vio. Seharusnya kau tidak mencintai lelaki pengecut sepertinya."
Violet yang sejak tadi sudah dikuasi alkohol terlihat linglung. Bahkan anak itu tertawa lagi. "Aku harus apa huh? Menikah? Lalu hidup bahagia bersama lelaki yang tidak aku cintai?"
Untuk yang kesekian kalinya Lea menghembuskan napas berat. "Apa boleh buat. Kalian sendiri yang membuat keputusan ini. Haish, rasanya aku ingin menjambak rambut si brengsek itu."
Violet bangkit dengan tak stabil. Lea yang melihat itu dengan segiap memapahnya. "Aku ingin pulang."
"Ya, kita pulang sekarang."
Dengan susah payah Lea memapah Violet sampai ke parkiran. Lalu membantunya masuk ke dalam taksi. Lea pun meminta sang driver untuk membawanya ke hotel, karena tidak memungkinkan mereka untuk balik ke mansion. Bagaimana jika para orang tua bertanya soal kondisi Violet? Lea tidak akan mengambil resiko itu.
Sesampainya di kamar hotel, Lea membaringkannya di ranjang. Kemudian membukakan sepatu gadis itu. "Kasihan sekali kau, Violet. Kau harus melepaskan cinta pertamamu begitu saja. Jika aku jadi dirimu, mungkin aku sudah mati."
Violet bergumam dalam tidurnya. "Kau brengsek, Dustin. I hate you."
Lea yang mendengar itu cuma bisa menggeleng. "Jika saling mencintai, kenapa harus saling menyakiti sih? Dasar aneh. Sepertinya aku memang harus memuji keberanian si bedebah Lucas. Bahkan dia berani membawa kabur Eveline meski tahu resiko dari itu adalah kehilangan nyawanya. Benar-benar cinta sejati." Gumamnya sembari tersenyum geli.
Lea benar-benar tidak habis pikir dengan hubungan asmara keluarganya. Bagaimana mungkin dalam satu waktu dua bersaudara itu jatuh cinta pada saudarinya yang lain? Huh, sepertinya cinta itu memang sulit dimengerti.
__ADS_1
Ditatapnya Violet dengan iba. "Semoga kau selalu bahagia, Vio. Maaf, aku tidak bisa membantumu kali ini." Ia menghela napas panjang. Kemudian ikut berbaring di sebelah gadis itu sembari menatap langit-langit. "Jika memang takdir, kalian pasti akan bersatu, percayalah." Setelah mengatakan hal itu ia pun memejamkan mata.
Masih di rumah sakit, Dustin terus diam saat menghadapi keluarganya sambil menunduk.
Alexa menatap putranya lekat, kemudian terdengar helaan napas berat. "Bagaimana bisa kau tidak tahu dia hamil, Dustin? Apa kau tidak pernah memperhatikannya?" Semburnya.
Dustin mengangkat wajahnya. "Aku benar-benar tidak tahu, Mom. Kami... kami hanya melakukannya sekali dan itu terjadi karena aku terlalu mabuk. Aku pikir semuanya aman-aman saja."
Lagi-lagi Alexa menghela napas berat.
"Sudahlah, Lexa. Semuanya sudah terjadi. Jangan menyalahkannya terus, menantumu juga salah di sini karena menyembunyikan hal sebesar ini." Ujar Alexella.
"Ya, aku setuju." Imbuh Sabrina.
"Tapi... apa alasannya dia menyembunyikan kehamilan?" Tanya Sky bingung.
"Mungkin dia takut Dustin tidak mau bertanggung jawab." Tebak Gabriel sekenanya.
"Ck, sudah cukup. Jangan menyalahkan Sheena. Aku yang salah karena kurang memperhatikannya." Sanggah Dustin. "Jangan pernah membahas ini lagi di depannya. Itu akan menyakiti hatinya."
Alexa menatap putranya lekat. "Ikut Mommy sebentar." Ajaknya seraya bangun dari duduknya.
Dustin pun dengan patuh mengikutinya. Dan kini mereka sudah berada di taman belakang rumah sakit, duduk di sebuah kursi taman. Keduanya nampak terdiam beberapa saat.
"Kau mendengarku, Dustin?" Tanyanya lagi saat tak mendapat jawaban.
"Mom, aku...."
"Siapa wanita yang kau cintai? Lalu kenapa melakukan semua ini huh?" Sela Alexa lagi seolah tahu apa yang sedang dipikirkan putranya saat ini.
Dustin menghela napas berat. "Mom, aku memang belum mencintai Sheena. Tapi aku sedang berusaha."
"Bukan itu yang mau Mommy dengar, Dustin." Tegas Alexa. "Hanya ada kita berdua, tidak perlu menutupinya lagi. Siapa wanita itu? Apa dia dari keluarga kita, karena itu kau lari dari perasaanmu huh?"
Dustin kaget karena Alexa bisa menebak dengan tepat.
"Gadis di keluarga kita hanya ada dua yang tersisa. Violet dan Lea, kau menyukai salah satunya bukan?"
Dustin mengusap wajahnya dengan kasar. "Mom, hentikan itu. Aku sudah melupakannya."
Alexa menoleh. "Jadi benar kau menyukai salah satu dari mereka? Apa itu Violet?"
Dustin langsung menatap sang Mommy yang berhasil menjebaknya.
__ADS_1
"Sudah Mommy duga, kau tidak mungkin mencintai Lea karena sejak kecil kalian tidak pernah akur. Tapi... kau selalu mencari cara agar dekat dengan Violet. Apa tebakanku benar lagi?" Alexa memperdalam tatapannya.
"Sorry, Mom." Lirih Dustin menunduk lesu.
Alexa menghela napas berat untuk yang kesekian kalinya. "Ada apa dengan putra-putraku sebenarnya? Kenapa harus keluarga kita dari sekian banyak wanita di luar sana? Ada apa sebenarnya?"
"Mom, semua ini terjadi begitu saja."
"Ini memang salahku karena membiarkan kalian banyak menghabiskan waktu bersama mereka."
Dustin menggenggam tangan sang Mommy dengan lembut. "Maafkan aku, Mom. Aku akan mengubur perasaanku sedalam mungkin."
"Lalu bagaimana dengan Violet huh?"
Deg!
Dustin tidak pernah menduga Alexa akan bertanya soal gadis itu.
"Apa dia juga mencintaimu?"
Cukup lama Dustin terdiam, meyakinkan Alexa jika apa yang ada dalam pikirannya sama sekali tidak melenceng.
Alexa menghela napas lagi. "Jika memang kalian sudah membuat keputusan seperti ini. Maka jangan pernah menyesalinya. Mommy tahu kau sangat mencintai Grandmamu, karena itu juga kau menghindari perasaanmu bukan?"
Lagi-lagi Dustin tak mampu menjawab.
"Tidak apa, setelah ini Mommy tidak akan bertanya lagi." Alexa mengusap punggung tangan putranya dengan lembut. "Kalian sudah dewasa, pasti sudah tahu mana yang terbaik untuk kalian sendiri. Mommy akan mendukung apa pun itu."
Dustin langsung memeluk sang Mommy. "Maaf karena aku menjadi anakmu yang paling pengecut, Mom."
"Tidak, kau putraku yang paling berani. Mengenyampingkan perasaan dirimu sendiri hanya untuk melindungi hati grandmamu. Hanya kau yang bisa melakukan itu, Dustin. Kau putraku yang paling hebat." Alexa mengusap punggung putranya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Mom."'
Alexa mendorong tubuh putranya itu perlahan, lalu ditatapnya wajah tampan itu dengan seksama. "Tapi laki-laki bisa menikah lebih dari sekali. Apa kau tidak berniat memiliki keduanya huh?"
"Mom!" Dustin menatap Mommynya itu tak percaya. Spontan Alexa pun tertawa lepas.
"Aku hanya bercanda, sayang. Tidak ada dalam sejarah keluarga kita memiliki istri lebih dari satu. Semua lelaki di keluarga ini paling setia pada istrinya."
"Tapi apa aku terkecuali huh?" Kali ini Dustin yang bergurau.
"Jika kau mampu, makan lakukan itu." Keduanya pun tertawa bersama. Dan tidak menyadari jika seseorang mendengar semua percakapan mereka. Orang itu menyeringai, kemudian meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.
__ADS_1
Bersambung....