
Malam semuanya, maaf ya aku baru mucul lagi. Satu bulan lebih aku baru up lagi. Itu semua pastinya punya alasan sendiri. Alasan itu tidak lain karena aku sibuk belajar buat persiapan tes CPNS. Belum lagi aku juga harus belajar buat ngajar anak2 di sekolah. Maaf ya buat kalian nunggu lama. Oh iya, aku juga mau minta doa kalian. Mohon doanya agar aku bisa lulus tes CPNS kali ini. Terima kasih teman-teman setiaku 🙏🏻🤗🥰
Selamat membaca...
...💐💐💐...
Keesokan hari, Alex menepati janjinya untuk membawa anak-anak berkeliling Jakarta. Arez, Arel maupun Alexa terlihat bahagia setelah berkeliling ibu kota selama berjam-jam.
"Daddy, Lexa capek. Habis ini Lexa mau pulang aja," rengek Alexa bergelayut manja di lengan Alex. Saat ini mereka berada di sebuah restoran Jepang ternama di Jakarta.
Arez dan Arel yang tengah asik menyantap hidangan pun menoleh ke arah Alex dan Alexa.
"Boleh, dua jagoan Daddy bagaimana? Sudah menyerah juga?" Tanya Alex menatap kedua putranya yang langsung mengangguk. Mereka juga sudah puas berkeliling Ibu Kota. Termasuk Arez, semua rasa penasaannya pun terjawab sudah.
Sweet meraih tisue dan memyapu bibir kedua putranya yang terkena saus tomat. Sesekali ia tersenyum saat melihat Arel begitu lahap menyantap beberapa hidangan khas Jepang itu. Sedangkan Arez hanya menikmati satu jenis makanan, yaitu Takoyaki.
"Anak cantik Daddy tidak lanjut makan?" Tanya Alex saat putrinya masih bergelayut manja di lengannnya.
"Lexa sudah kenyang, Dad." Alexa mengerucutkan bibirnya, dengan tatapan tertuju pada Sweet.
Sweet yang menyadari itu langsung menoleh. "Ada apa, Sayang?" Tanya Sweet dengan lembut.
"Kenapa Mommy tidak makan?" Tanya Alexa yang sedari tadi memperhatikan Sweet. Sejak tadi Sweet memang belum menyentuh makanan apa pun.
"Mommy belum lapar, Sayang." Jawab Sweet jujur.
"Tunggu. Aku perhatikan kamu belum makan sejak pagi tadi. Ada apa, huh? Kamu sakit?" Kali ini Alex ikut menimpali.
Sweet tersenyum,"tidak, Mas. Aku baik-baik aja. Pagi tadi aku ada makan kok, kamu aja yang gak lihat."
Arez menatap Sweet begitu dalam. "Mommy, pagi tadi Arez juga melihat Mommy terus memegangi kepala."
Sweet kaget mendengar ungkapan putranya. Sontak ia langsung menatap Alex, yang juga tengah memberikan tatapan penuh selidik.
"Iya, pagi tadi kepala Mommy sakit. Tapi cuma sebentar, itu sering terjadi jika aku begadang. Semua itu kan ulah kamu, Mas." Jelas Sweet mengecilkan volume suaranya dibagian akhir.
Alex menghela napas berat. "Lain kali kamu ngomong, jangan sembunyikan apa pun. Sekarang makan, aku tidak mau kamu sakit."
Sweet mengangguk pasrah. Lalu mengambil sumpit untuk menyantap sushi yang sengaja Alex pesan untuknya.
"Kita harus berangkat besok, masalah perusahaan semakin rumit. Aku harap kamu setuju dengan keputusanku untuk mempercepat keberangkatan kita," ujar Alex.
Sweet menghentikan aktivitas makannya, dan kembali menatap sang suami. "Kami ikut keputusan kamu, Mas."
Alex mengangguk pelan. Lalu kembali memperhatikan kedua putranya yang masih makan begitu lahap.
"Kalian sangat lapar, huh?" Tanya Alex.
"Makanannya sangat enak, Dad." Arel menjawab dengan mulut dipenuhi makanan. Sweet yang melihat itu tersenyum geli.
Berbeda dengan Arez, ia sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan sang Daddy. Tentu saja hal itu menarik perhatian Alex.
"Daddy tidak pernah melihat kamu selahap ini?" Tanya Alex yang ditujukan untuk Arez.
__ADS_1
"Enak," sahutnya singkat.
"Jangan ganggu mereka, Mas." Protes Sweet.
"Baiklah, kalau begitu Daddy ganggu princess aja." Alex menggelitik perut putrinya. Alhasil Alexa tertawa riang karena geli.
Sweet yang melihat itu tersenyum simpul. Beruntung mereka duduk di pondok lesehan, jadi tidak terlalu mengganggu pengunjung yang lain.
***
Malam ini, Alex dan keluarga kecilnya akan melakukan penerbangan menuju Jerman menggunakan jet pribadi yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ketiga kurcaci itu terlihat menggemaskan karena mengenakan hoodie yang sedikit kebesaran di tubuh mungil mereka.
"Ayo, Sayang." Ajak Alex membawa ketiga putranya memasuki lounge. Sedangkan Sweet masih bercengkrama dengan Nissa, Ara dan Arin.
"Kami akan merindukan Tante, terutama tiga kurcaci lucu itu." Ujar Ara dengan tatapan sedih.
"Kalian bisa ke sana jika ada waktu," sahut Sweet yang kemudian memberikan pelukan perpisahan pada mereka.
"Hubungi kami jika sudah sampai," perintah Nissa seraya memeluk Sweet erat. Sweet pun mengangguk.
Setelah itu, Sweet pun langsung menyusul Alex. Meski ia juga belum sepenuhnya rela meninggalkan tanah air.
"Mereka sudah pulang?" Tanya Alex saat Sweet ikut bergabung.
Sweet mengangguk dan duduk disebelah Alex. Lalu menatap ketiga anaknya yang sedang menyantap roti.
"Mommy mau?" Tanya Alexa seraya menyodorkan roti pada Sweet.
Sweet menggeleng. "Mommy masih kenyang, Sayang."
Tiga puluh menit berlalu, kini pesawat yang mereka tumpangi telah lepas landas. Selama penerbangan, ketiga kurcaci itu langsung tertidur pulas di ranjang besar milik Alex. Tempat biasanya Alex isirahat selama penerbangan bisnis ke luar negeri. Sedangkan Sweet dan Alex duduk di kursi empuk.
"Mas, apa boleh aku lanjut kerja? Mungkin aku bisa bantu kamu," ujar Sweet menyandarkan kepalanya di pundak Alex. Saat ini Alex tengah sibuk membaca buku yang cukup tebal.
"Tidak perlu. Jika kamu kerja, bagaimana dengan anak-anak?"
"Mereka sekolah, Mas." Protes Sweet. Mendengar itu, Alex terlihat berpikir keras.
"Baiklah, poisisi kamu di perusahaan belum terisi. Kamu bisa mulai bekerja lusa," ujar Alex mengalah. Lalu ia pokus kembali pada buku bisnis yang tengah ia pelajari.
"Terima kasih, Mas." Ucap Sweet mendekap lengan Alex dengan erat. Lalu ia pun mulai terlelap.
Lima belas jam berlalu, mereka pun tiba di mansion. Sweet tertegun saat melihat begitu banyak perubahan di mansion. Kini terdapat dua buah lift dan beberapa lukisan besar yang tertempel di dinding. Bahkan terdapat beberapa ruang tambahan. Karena Alex sengaja merenovasinya untuk kenyamanan anak-anak.
Sweet berjalan perlahan mendekati sebuah lukisan berukuran besar yang dipasang di ruang keluarga. Lukisan yang menggambarkan dirinya tengah tersenyum seraya menggendong tiga bayi mungil.
"Aku tidak bisa menemui kalian saat itu, jadi aku melukisnya." Alex memeluk Sweet dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Sangat indah," ucap Sweet seraya mengusap kepala Alex.
"Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku saat itu, aku seperti akan mati karena merindukanmu." Alex semakin mengeratkan pelukkannya. Lalu keduanya terdiam sambil menatap lukisan.
Dari arah lain, Mala muncul dan langsung menghampiri ketiga kurcaci yang masih terdiam menatap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Hey, apa kalian lelah?" Sapa Mala yang sadar akan tatapan ketiga anak itu. Arez, Arel dan Alexa menoleh bersamaan. Wanita berparas cantik itu menyejajarkan tubuhnya dengan anak-anak.
"Ikut dengan Kakak, kalian harus segera tahu di mana kamar kalian. Ayok," ajak Mala yang langsung menggendong Alexa. Kemudian menuntun Arez dan Arel menuju kamar mereka. Membiarkan Alex dan Sweet menghabiskan waktu berdua.
Mala membawa ketiga anak itu menaiki lift. Hanya butuh beberapa detik, mereka tiba di lantai atas, di mana hanya terdapat kamar Alex dan anak-anak.
"Nah, yang pintu putih ini kamar kalian. Dan di depan kamar kalain itu, kamar Mommy dan Daddy." Jelas Mala. Ketiga anak itu tersenyum senang.
"Boleh di buka?" Tanya Arel dengan penuh semangat. Mala pun mengangguk sebagai jawaban.
Dengan penuh semangat Arel membuka pintu yang memang tidak terkunci. Meski ia agak sedikit keusilitan untuk menggapai handle pintu. Dan pada akhirnya Mala membantunya untuk membuka pintu.
"Wow...." seru Arel saat melihat penampakkan kamarnya yang bertema astronomi. Kamar itu sangat luas, dan langsung terhubung dengan kamar Alexa. Bisa di lihat dari ukiran namanya di daun pintu.
Alexa turun dari gendongan Mala, dan langsung berlari menuju kamarnya. Mala yang melihat itu cuma bisa tersenyum dan mengikutinya di belakang.
Sedangkan Arez, ia menatap kamarnya takjub. Kamar miliknya lebih indah dari pada kamar milik Dika di Indonesia. Ya, Arez sempat membicarakan itu pada Alex. Dan ternyata Alex mengabulkan keinginan putranya.
"Bagaimana Son, kalian suka?" Tanya Alex yang tiba-tiba muncul dan berhasil membuat kedua putranya terperanjat kaget. Sweet yang berdiri di samping Alex langsung menepuk lengan suaminya.
"Kamu membuat mereka terkejut, Mas." Ujar Sweet menghampiri putra sulungnya.
"I like it, thank you Dad." Ucap Arez dengan tulus. Alex tersenyum senang mendengarnya.
"Ya, Arel juga suka, Dad." Ujar Arel seraya naik ke atas ranjang.
"Masih ada kejutan untuk kalian," ujar Alex menghampri Arel dan menggedongnya. Arel terlihat senang. "Ikut dengan Daddy."
Alex membuka pintu yang terhubung dengan balkon. Lalu kedua putranya memekik secara bersamaan. Saat mereka melihat sebuah benda yang sangat mereka inginkan selama ini. Di sana terdapat sebuah teleskop berukuran besar yang langsung menghadap ke langit.
Arel yang masih dalam gendongan Alex pun langsung berhambur turun. Ia tidak peduli dengan suhu dingin yang cukup menyengat.
"Dad, ini musim dingin. Kita tidak dapat menggunakannya." Ujar Arez penuh penyesalan. Karena saat ini salju masih turun meski tidak terlalu deras seperti sebelumnya.
Alex dan Sweet tersenyum mendengarnya.
"Musim dingin akan berakhir sekitar dua bulan lagi, kalian harus bersabar sedikit." Alex mengusap rambut putranya dengan lembut.
"Arel mau lihat, apakah kita bisa melihat langsung bagaimana salju turun dari langit?" Celetuk Arel begitu semangat.
"Kamu bebas mencobanya. Tapi hati-hati saat naik kursinya," jawab Alex membantu Arel naik ke atas bangku yang sudah tersedia.
"Aku akan mencobanya nanti," ujar Arez masuk kembali ke kamar. Yang diikuti oleh Sweet.
"Kamu kecewa?" Tanya Sweet duduk di sebelah Arez yang kini sudah duduk di tepi ranjang. Arez menggeleng sebagai jawaban.
"Kamu harus belajar bersabar," ucap Sweet menegcup pucuk kepala putranya. Arez kembali mengangguk sebagai jawaban.
"Mommy...." lengkingan suara Alexa memenuhi seiisi kamar. Gadis mungil itu berlari kecil menghampiri Sweet, dengan sebuah boneka princess di pelukkannya.
"Mommy, lihat ini. Boneka Elsha, Lexa suka. Di sana masih banyak yang lain, Mommy ikut Lexa ya?" Ajak Alexa menarik tangan Sweet untuk bangun. Sweet pun menuruti keinginan putrinya. Dan meninggalkan Arez sendiri.
Anak lelaki itu beranjak menuju sebuah pintu baja, lalu menekan tombol merah yang ada disebelahnya perlahan karena penasaran. Pintu itu pun terbuka perlahan. Lalu si kecil Arez memasuki ruang berbentuk persegi itu tanpa ragu. Ya, itu adalah lift menuju ruang bawah tanah. Tidak ada yang menyadari kepergiannya.
__ADS_1
Mala yang sedari tadi berada di kamar Alexa cuma bisa tersenyum. Saat mendengar celotehan gadis mungil itu yang begitu lucu. Ia bahagia, karena bisa menyaksikan keharmonisan keluarga kecil ayah angkatnya itu.
Benarkan dugaanku selama ini? Kamu akan membawa perubahan di rumah ini, Sweet. Ah, maksudku Mom. Batin Mala.