
Jangan lupa follow ig aku ya
@desihnurani324
Happy reading All....
...❤️❤️❤️...
"Mau kemana?" tanya Alex saat melihat Sweet sudah rapih dengan pakaian kantor. Wanita berambut hitam itu pun menatap heran sang suami dari balik cermin.
"Kerja, masa cutiku sudah habis." Sweet beranjak dari meja rias. Menghampiri Alex yang masih malas-malasan di atas tempat tidur.
"Siapa yang menyuruhmu bekerja? Sudah aku katakan berhenti bekerja. Aku ingin kau pokus pada program kehamilanmu."
Sweet membulatkan kedua matanya, tidak terima dengan perintah suaminya. "Bagaimana jika suatu hari nanti kamu membuangku? Lalu aku akan menjadi gelandangan?"
Alex cukup kaget mendengar perkataan Sweet. Ia tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk membuang Sweet. Sekalipun Sweet terlibat dengan kematian orang tuanya, ia tidak akan melepas wanita itu begitu saja.
"Aku tidak akan melakukan itu," ucap Alex pelan. Sweet tersenyum geli mendengarnya, masih ada keraguan dalam intonasi bicara Alex.
"Aku ingin bekerja," tegas Sweet. Pagi-pagi sekali Alex sudah membuatnya kesal. Sweet cukup bosan terus hidup dalam kekakangan seseorang. Ia ingin bebas seperti orang lain, bebas memilih kehidupannya sendiri.
Alex bergerak mendekati Sweet, menariknya dalam dekapan. "Aku tahu kau belum sepenuhnya percaya padaku, Ana. Tapi tidak ada sedikit pun niat dalam hatiku untuk membuangmu."
Mendengar itu, Sweet membalas pelukkan Alex dengan begitu erat. Perasaan takut ditinggalkan dan diabaikan pun kembali menyelimuti hatinya. Saat ini hanya Alex yang ia jadikan sebagai sandaran.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Kamu selalu menghilang tanpa kabar." Sweet menumpahkan air matanya dalam pelukkan Alex. Dua hari terakhir ini Alex memang sering pulang larut dan tidak memberi kabar apa pun pada Sweet. Membuat perasaan wanita itu kembali goyah. Sweet sudah menyerahkan seluruh hidupnya pada Alex, mungkin ia akan hancur jika lelaki itu benar-benar membuangnya.
"Maaf," hanya satu kata yang terucap dari mulut Alex. Tidak mungkin ia berkata jujur tentang masalah yang sedang ia selidiki. Akhir-akhir ini ia sibuk mencari bukti kuat untuk membuktikan sang pelaku pembunuhan kedua orang tuanya.
Alex melerai pelukkan mereka, lalu mengusap lembut pipi Sweet yang basah karena air mata. "Baiklah, kau boleh bekerja. Tapi hanya beberapa bulan, setelah itu kau hanya boleh diam di rumah. Berikan aku anak yang banyak," ujar Alex mengecup kening Sweet.
"Aku tidak mau," ucap Sweet mendorong dada bidang Alex. Menatap lelaki itu cukup dalam.
"Aku mengizinkanmu bekerja minggu depan, untuk hari ini dan besok tidak perlu ke kantor."
Sweet hendak protes, tetapi Alex langsung menahan bibir mungil itu dengan jemarinya. "Ini perintah suamimu sekaligus atasanmu."
Sweet tampak pasrah, ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Mungkin besok aku tidak akan pulang," ujar Alex seraya mengusap pipi istrinya. Sweet terkejut mendengarnya.
"Apa masalah kantor begitu rumit?" tanya Sweet menggenggam lengan Alex yang masih menempel di pipinya. Alex pun mengangguk kecil dan menatap netra Sweet cukup lama.
__ADS_1
"Aku tahu kau akan merindukanku," lanjut Alex tersenyum lebar. Sweet yang mendengar itu sama sekali tidak berekspresi.
"Entahlah," sahut Sweet pasrah. Ada perasaan tidak rela jika Alex pergi.
"Aku tidak akan lama, lusa aku sudah ada di depan matamu lagi." Alex menangkup wajah bulat Sweet.
Sweet mengangguk sebagai jawaban, meski sebenarnya ia ingin protes jika dirinya tidak rela Alex pergi. Alex yang melihat raut wajah tak senang istrinya, mulai merubah posisi duduknya. Meletakkan kepalanya di atas pengakuan Sweet, menatap dalam wajah cantik sang istri. Sweet cukup kaget dengan apa yang Alex lakukan.
"Kau sangat cantik, tapi lebih cantik jika rambutmu tergerai." Perlahan tangan Alex bergerak untuk melepas pengikat rambut Sweet. Kemudian rambut hitam itu pun tergerai begitu cantik, menyentuh lembut wajah Alex.
"Aku menyukai aroma tubuhmu," bisik Alex seraya membelai rambut panjang Sweet. Sedangkan sang pemilik memilih untuk diam mematung, bingung harus berbuat apa. Hingga ia kembali dikejutkan oleh pelukkan hangat Alex. Lelaki itu menempelkan wajahnya di perut Sweet.
"Kau akan terlambat," ucap Sweet yang akhirnya mengeluarkan suara. Tangan mungil itu dengan ragu menyentuh kepala sang suami. Sedangkan Alex, ia sama sekali tidak menanggapi perkataan Sweet.
"Kita belum sarapan," sekali lagi Sweet mencoba lepas dari Alex. Seperti biasa, Alex tidak akan melepaskannya dengan mudah. Lelaki itu sangat menikmati kedekatannya dengan Sweet. Sulit mendapatkan momen seperti ini. Sweet bukanlah tipe wanita yang bersikap manis, lebih tepatnya ia sangat kaku jika berdekatan dengan Alex.
"Lima menit," sahut Alex tanpa ragu. Sweet pasrah, membiarkan Alex melakukan keinginannya. Cukup lama mereka terdiam, hingga Sweet pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Mas, aku ingin bertanya padamu, boleh tidak?" tanya Sweet. Alex terkejut mendengar panggilan Sweet untuknya. Kebahagiaan kembali memenuhi relung hatinya.
"Apa itu?" tanya Alex menatap wajah Sweet cukup intens. Menunggu sebuah pertanyaan yang akan Sweet lontarkan.
"Kamu seorang muslim bukan? Kenapa tidak pernah sekali pun aku melihat kamu salat? Maaf, jika aku lancang."
"Aku sibuk," jawab Alex sekenanya. Ia cukup malas jika membahas masalah agama. Hatinya masih memendam rasa kecewa pada Sang Maha Pencipta.
"Sibuk? Itu bukan alasan," ucap Sweet tidak terima. Ia hanya ingin suaminya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.
"Entahlah," lanjut Alex bangun dari posisinya.
"Apa karena penolakan cinta Kak Nissa, kamu jadi seperti ini?"
Pertanyaan yang Sweet lontarkan bak belati yang menembus hatinya. Alex tidak menjawab pertanyaan Sweet, dan memilih untuk pergi. Namun perkataan Sweet kembali menahan langkahnya.
"Sekarang kamu suamiku, aku mempunyai hak untuk mengetahui semua itu, Mas. Jika boleh, aku ingin kamu melupakan masa lalu itu. Dan membuka lembaran baru bersamaku," ujar Sweet menatap punggung Alex yang berdiri di depan pintu.
"Aku tahu kamu masih mencintai Kak Nissa, aku bisa melihat tatapanmu pandanya. Berbeda saat kamu melihatku, tatapan yang tidak dapat aku mengerti." Sweet bangun dari posisi duduk. Lalu bergerak menghampiri Alex yang masih mematung. Menghapus jarak di antara keduanya.
Sweet menarik lengan Alex, meminta agar lelaki itu berbalik menghadap dirinya. Lalu Sweet pun memberanikan diri untuk memeluk Alex.
"Mungkin aku mulai mencintaimu, Mas. Aku cemburu saat kamu masih menyimpan perhatian pada Kak Nissa."
Alex terhenyak, pengakuan Sweet membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Tanpa sepengetahuan Sweet, Alex mengulum senyuman hangat.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin melupakannya," ucap Alex tersenyum penuh arti. Sweet yang mendengar itu langsung melepas pelukkan. Lalu menatap Alex tajam, ia tidak terima dengan pengakuan Alex. Dengan susah payah ia membuka hatinya, tetapi apa yang Alex berikan padanya? Alex sungguh kejam, pikir Sweet.
"Aku mengerti," kata Sweet dingin. Lalu beranjak pergi meninggalkan Alex yang masih berdiri di dekat pintu. Ia membiarkan istrinya kesal, menurutnya hal itu sangat menggemaskan. Biarlah Alex dikata seperti anak kecil, meski usianya sudah mencapai kepala empat. Melihat Sweet kesal adalah hobi barunya saat ini.
"Kamu masih marah?" tanya Alex saat Sweet keluar dari ruang ganti. Saat ini Sweet sudah berganti pakaian santai. Seperti biasa, ia mengenakan kaos putih yang dipadukan dengan celana panjang berwarna mocca. Rambut hitamnya ia sanggul asal, dan meninggalkan anak rambut yang menghiasi leher jenjangnya.
Sweet tampak mengabaikan pertanyaan Alex, dan memilih untuk keluar dari kamar. Berhubung perutnya terasa perih karena lapar, Sweet pun berniat untuk pergi ke ruang makan. Tentu saja tidak ada lagi orang di sana, karena jam sarapan sudah selesai.
Sejak tadi Alex terus mengikuti langkah kecil istrinya, ia tahu jika Sweet masih kesal. Terbukti dari bibirnya yang sedikit mengerucut.
"Mau aku buatkan omelette?" Alex mencoba menawarkan diri. Mungkin saja istrinya tertarik.
"Tidak perlu," jawab Sweet dingin. Lalu wanita itu pun beranjak menuju dapur. Mengambil beberapa sayuran dan buah-buahan segar dari dalam kulkas empat pintu. Alex mengerutkan kening saat melihat Sweet mengambil sebuah lemon.
"Untuk apa itu? Kau tidak boleh mengkonsumsi asam di pagi hari." Alex menghampiri Sweet. Mengambil kembali buah lemon yang hendak Sweet cuci. Membuat sang empu berdecak kesal.
"Berikan itu," pinta Sweet dengan nada kesal. Alex menggeleng, dan memasukkan kembali buah itu ke dalam kulkas.
"Ingat asam lambungmu yang sudah akut itu, aku tidak mau kau sakit." Alex menahan Sweet yang hendak membuka kulkas. Lalu mendorong gadis itu untuk duduk di kursi.
"Duduklah, aku yang akan menyiapkan sarapan untukmu." Alex mulai bergerak mengambil apron dan memakainya. Benda itu terlihat lucu saat melekat di tubuh kekarnya. Membuat Sweet tak bisa menahan senyuman manisnya. Namun dengan cepat Sweet kembali memasang wajah datar saat Alex menatapnya.
"Kau tersenyum untukku?" tanya Alex yang sempat melihat senyuman dari bibir sang istri.
"Cepat sedikit, aku lapar." Sweet menjawab dengan ketus. Ia tidak mau kalah dari Alex.
Semua pergerakan Alex tak lepas dari pengawasan Sweet. Untuk pertama kalinya Alex terjun langsung ke dapur. Terakhir kali ia memasak yaitu saat kuliah dulu. Namun semua itu tidak membuatnya merasa kaku saat berhadapan dengan peralatan dapur. Meski ia sedikit dibuat bingung untuk membedakan gula, garam dan beberapa rempah. Beruntung ia memiliki smartphone canggih yang membantunya.
"Sayang, kau masih bisa bersabar sedikit?" tanya Alex melirik Sweet yang sedang duduk santai di meja makan. Dengan kedua tangan yang menangkup wajah.
"Aku sangat lapar, bisa lebih cepat?" sahut Sweet ingin mengerjai Alex.
"Sedikit lagi," ucap Alex menuang omelette ke dalam piring. Ia juga membuat salat sayur dan buah. Setelah dirasa selesai, Alex menghidang semua hasil karyanya di atas meja.
Sweet tersenyum tipis, untuk pertama kalinya seseorang memperlakukan dirinya dengan begitu mesra. Menjadikan dirinya seperti seorang ratu.
"Terima kasih," ucap Sweet dengan tulus. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menyantap hidangan ala sang suami. Suapan pertama, Sweet terdiam sesaat sambil menatap Alex yang juga sedang menatapnya. Menunggu komentar dari sang istri.
"Agak asin, tapi lumayan enak." Sweet kembali memasukkan suapan kedua dalam mulutnya.
"Aku suka salad buahnya, sangat enak." Sweet menyantapnya dengan begitu lahap.
"Pelan-pelan," ucap Alex seraya menyapu bibir Sweet yang sedikit kotor dengan ibu jarinya. Sweet tersenyum senang, dan kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang terus memperhatikan mereka. Seorang lelaki paruh baya yang berdiri di ambang pintu itu tersenyum penuh arti. Lalu ia pun memilih untuk pergi, tak ingin mengganggu keromantisan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.