
Alexella terus memasang wajah datar saat Jarvis membawanya masuk ke dalam mansion mewah milik keluarga Schwarz. Mansion itu kini sudah dipenuhi para tamu undangan dari kalangan atas tentunya. Bisa dilihat dari cara mereka bertutur kata dan penampilan yang begitu menawan juga elegan. Bahkan tak terkecuali teman-teman Jarvis juga hadir di sana. Mereka terlihat bersenang-senang.
"Dad." Sapa Jarvis menghampiri sang Daddy yang tengah mengobrol dengan teman-temannya. Gerald menoleh, kemudian mengembangkan senyuman lebar saat melihat kehadiran calon menantunya.
"Hey, Baby." Sapa Gerald pada gadis cantik dihadapannya. "Mari, Sayang." Gerald membawa si cantik Alexella naik ke atas podium. Sedangkan Jarvis mengekor dibelakang. Alexella pun sama sekali tak keberatan.
"Perhatian semuanya, jadi tujuanku mengundang kalian malam ini bukan hanya sekedar menghadiri acara pesta biasa. Aku juga akan mengumumkan pada kalian semua, jika gadis cantik yang ada di sampingku saat ini. Dia adalah calon menantuku."
Alexella terkejut mendengar pengakuan Gerald atas dirinya. Ia pun langsung mengedarkan pandangan pada semua orang yang kini memusatkan perhatian pada dirinya. Semua orang berdecak kagum saat melihat kecantikan calon menantu pengusaha suskes seperti Gerald. Lelaki tua itu terlihat begitu bahagia dan bangga.
"Kemari Jarvis." Printah Gerald meminta putranya mendekat. Pemuda tampan itu mendekat dan berdiri di samping kekasihnya.
"Bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan. Kalian akan mendapatkan undangan khusus dari kami. Anggap saja malam ini adalah perayaan atas kebahagiaan yang tengah aku rasakan. Selamat menikmati." Pungkas Gerald yang disambut tepuk tangan semua orang.
Jarvis tersenyum dan merengkuh pinggang ramping kekasihnya. Dan itu berhasil membuat Alexella terkejut. Refleks gadis itu menoleh.
"Bersiaplah, bulan depan kau resmi menjadi milikku, Sayang. Jangan pernah berpikir kau bisa terlepas dari tanggung jawabmu sebagai seorang istri. Karena di malam pertama kita, aku akan langsung meminta hakku." Bisik Jarvis tanpa rasa malu sedikit pun.
Alexella sama sekali tidak kaget mendengar itu. "Kau pikir aku takut?" Tantangnya yang kemudian berlalu pergi dari sana. Jarvis tersenyum lebar mendengar jawaban itu.
"Kau memang wanita yang aku inginkan, Sayang. Aku akan membuat malam pertama kita berkesan, sampai kau tak bisa melupakan malam itu sampai akhir hayatmu." Ia tersenyum devil. Dan langsung menyusul sang kekasih membelah kerumunan orang.
Alexella meneguk moctail perlahan. Menatap kerumunan orang-orang yang tengah mengobrol. Jiwa gadis itu memang di sana, tetapi tidak untuk pikirannya. Ia masih memikirkan pembicaraannya dengan sang Daddy malam kemarin.
"Duduk," titah Alex. Alexella pun duduk di hadapan sang Daddy dengan tatapan penuh tanya.
"Daddy tidak akan benyak bicara lagi, Xella. Kita akan langsung ke inti masalah." Alex melipat tangannya di dada. Menatap putrinya penuh arti.
"Ya, Dad."
"Kau yakin akan membatalkan perjodohan itu, Xella?"
Alexella terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Alex menghela napas berat, kemudian bangun dari posisinya dan beranjak menghampiri sang putri. Merangkul gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Kau tahu, Xella? Sejak kau dalam kandungan Mommymu, Daddy selalu mengabulkan apa pun keinginanmu. Kau adalah putri keberuntungan untukku, Daddy tidak mungkin memberikanmu pada sembarangan orang. Sejak kecil, Daddy selalu tahu apa yang kamu inginkan. Lalu Daddy akan memberikan itu padamu. Lambat laun kau mulai beranjak dewasa, Daddy melihat sesuatu yang lain dalam dirimu." Alex tersenyum dan mengecup kening putrinya sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Setiap kali Jarvis datang ke rumah, Daddy terus memperhatikanmu. Kau selalu mencuri pandang pada lelaki brengsek itu. Daddy pikir kau hanya tertarik karena dia terlalu tampan. Tapi lama kelamaan Daddy melihat sesuatu yang lain di matamu. Kau akan terluka saat Jarvis membicarakan wanita lain. Bahkan Daddy pernah melihatmu mengikutinya ke hotel, saat lelaki itu membawa wanita bayarannya. Daddy sadar akan satu hal, putri bungsu Daddy ini ternyata sudah jatuh cinta pada lelaki brengsek seperti Jarvis."
Alexella tersentak kaget saat mendengar pengungkapan sang Daddy. Tangannya gemetar dan perasaan gugup mulai menyelimutinya saat ini.
Bagaimana Daddy bisa tahu? Pikirnya. Karena apa yang Alex katakan benar adanya.
"Jangan gugup, ini Daddymu, Sayang. Kamu bisa mengatakan semuanya dengan jujur. Hanya ada kita berdua di sini." Alex mengusap lengan putrinya dengan lembut.
"Daddy tahu kamu menyembunyikan ini semua karena Mommymu kan? Mommy berharap kamu mendapatkan pasangan yang memiliki keyakinan yang sama. Daddy juga mengharapkan hal itu, karena kamu harapan kami yang terakhir. Tapi Daddy tahu, cinta itu hadir tanpa di duga dan tak akan mengenal siapa dia. Kita juga hidup dilingkungan yang beda. Di mana kita masuk dalam kategori minoritas. Jadi Daddy tak akan melarangmu jatuh cinta pada siapa pun, termasuk Jarvis."
"Dad." Alexella memeluk Alex dengan mata berkaca-kaca.
"Kebetulan saat itu Gerald datang pada Daddy. Dan itu sebenarnya tak ada hubungannya dengan masalah balas budi Daddy padanya. Gerald sangat menghargai Daddy. Dia tak akan memintamu untuk membayar jasanya. Tapi dia datang dengan tulus untuk memintamu. Dia begitu yakin kamu bisa merubah kebrengsekan putranya karena melihat sikap keras dan tegasmu. Selama ini tak ada yang mengontrol Jarvis, dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu. Karena itu hidupnya bebas. Jangankan Jarvis yang tak punya Ibu, Kakakmu yang memiliki Mommy yang tegas pun masih bisa sebrengsek itu." Alex tertawa renyah.
"Kau belum mencobanya, jika dia masih berulah. Kau tinggalkan saja."
"Dad." Alexella memukul dada Alex pelan.
Alex kembali tertawa. "Daddy tahu kamu sangat mencintainya. Berjuanglah untuk merubah kebrengsekkan lelaki itu. Hanya pernikahan yang bisa memudahkanmu mengontrol hidupnya. Berikan dia servis yang bagus. Daddy yakin dia tak akan ingat wanita lain. Itu saran dari Daddy yang notabennya seorang laki-laki. Dulu Mommymu itu sangat dingin, tapi dia begitu manja saat di atas ranjang. Sampai Daddy tak bisa melupakannya setiap saat."
"Dad, aku tidak mau dengar itu."
"Kau harus mendengarnya, bulan depan kalian akan menikah."
"What?" Kaget Alexella. "Bulan depan? Dad, usiaku masih delapan belas."
"Memangnya kenapa? Kau sudah dewasa dan paham masalah ranjang. Jika menunggumu dewasa, Daddy yakin Jarvis lebih dulu mendapatkan pujaan hatinya."
"Dad, aku tidak mau itu terjadi." Sanggah Alexella dengan cepat. Namun sedetik kemudian wajah gadis itu merona bak kepiting rebus karena malu. Alex tertawa riang melihatnya.
__ADS_1
"Daddy tahu itu. Jadi sekarang putuskan sendiri. Masih ingin melanjutkan perjodohan ini atau tidak, itu terserah padamu."
Alexella terdiam beberapa saat. "Apa menurut Daddy Jarvis menyukaiku?" Alexella menggiggit ujung bibirnya karena gugup.
"Tidak akan ada lelaki yang tahan melihat pesonamu, Baby. Percayalah, Jarvis tak akan bisa berpaling darimu. Tetap bersikap mahal sebelum kalian menikah, dan tunjukkan siapa dirimu saat Jarvis ada di atasmu setelah kalian menikah."
"Dad, kau terlalu vulgar tahu tidak?"
"Memangnya kenapa? Daddy kan bicara pada calon pengantin."
"Stop it, Dad. Aku bisa gila jika terus berada di sini. Akan aku pikirkan lagi. Aku mencintaimu, Dad." Alexella mengecup pipi Alex dan berlalu pergi dari sana.
Alexella terhenyak saat sebuah tangan kekar merangkul pundaknya. "Apa yang kau pikirkan, Sayang? Aku lihat kau begitu jauh termenung. Apa kau sedang memikirkan bagaimana caranya memuaskanku di ranjang huh?"
Alexella melayangkan tatapan nyalang pada kekasihnya itu. "Apa hanya itu yang ada dalam kepalamu, Jarvis?"
"Tentu, apa lagi setelah aku tahu seperti apa dirimu di atas ranjang nanti. Mungkin aku tak akan bisa tidur walau hanya sedetik."
"Kalau begitu jangan pernah tidur selamanya." Ketus Alexella memalingkan wajah dari Jarvis. Namun dengan cepat lelaki itu memutar tubuh Alexella menghadap ke arahnya. Merengkuh pinggang ramping itu hingga tak ada jarak di antara mereka. Alexella kaget bukan main. Tangan sebelahnya yang kosong ia gunakan untuk menahan dada lelaki itu.
Jarvis mendekatkan bibirnya di telinga sang kekasih. "Kau tahu, Sayang. Aku sedang berusaha menahan gelora dalam diriku karena aku akan melepaskannya saat malam pertama kita. Supaya kau tahu betapa gilanya diriku karena terlalu lama menahan semua ini. Dan itu aku lakukan hanya untuk dirimu."
Alexella bergidik ngeri saat mendengar nada sensual kekasihnya itu. Ia mendorong Jarvis agar menjauh darinya. "Lepaskan aku, Jarvis."
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun. Karena kau hanya milikku, Xella."
"Maksudku lepaskan pelukannmu, aku tidak bisa bernapas." Alexella meralat permintaanya.
"Ah, maafkan aku, Sayang. Harusnya kau katakan itu dengan jelas." Jarvis melepaskan pelukannya.
"Kau saja yang brengsek, Jarvis." Hardik Alexella yang langsung meninggalkan lelaki itu sendiri.
"Ah, aku semakin tidak sabar untuk melahapmu, Baby."
__ADS_1