Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 28


__ADS_3

Hari yang tampak cerah. Sepasang suami istri berjalan beriringan di bandara menuju get yang langsung tertuju pada landasan khusu jet pribadi. Arez terlihat tampan dengan balutan pakaian kasual dan kaca mata hitam yang bertengger indah dihidung bangirnya. Sedangkan disampingnya Sabrina tak kalah cantik dengan balutan dress hitam sebatas tumit dengan sebuah outer warna senada. Tidak ada lagi topeng yang menghalangi kecantikan wanita itu. Karena Arez yang memintanya. Akan terlihat aneh jika Sabrian memakai topeng saat berdampingan dengannya. Lagi pula tak akan ada yang berani melirik wanita milik pewaris utama Digantara itu.


Namun jangan salah, tidak ada wanita yang sanggup mamalingkan wajah saat melihat ketampanan putra sulung Alexander Digantara itu. Pesona Ayahnya benar-benar diwariskan pada Arez. Karisma lelaki itu berhasil membuat para wanita menjatuhkan air liurnya. Bahkan beberapa dari mereka menggigit bibir karena tak tahan menahan sesuatu yang aneh ditubuh mereka saat melihat ketampanan lelaki itu. Sebagian dari mereka begitu menginginkan posisi wanita disebelahnya saat ini.


Arez merengkuh pinggang ramping istrinya, memberikan peringatan pada semua wanita itu jika dirinya hanya milik wanita yang ada disebelahnya seorang.


"Sepertinya mereka tak tahan melihat ketampananmu, Al." Sabrina terkekeh geli.


"Dan kau harus bersyukur karena aku memilihmu."


"Owh, apa aku harus? Bahkan aku bisa mendapatkan yang lebih tampan darimu."


"Mr. A huh? Aku yakin dia sangat jelek."


Lagi-lagi Sabrina terkekeh. "Tapi aku yakin dia lebih tampan darimu. Postur tubuhnya lumayan bagus dan menggoda."


Arez berdecih sebal mendengar itu.


"Kau cemburu, Al?"


"Cemburu rasanya terlalu berharga jika aku berikan padamu." Arez melirik istrinya sekilas.


Hm. Dasar pembual. Bahkan kau marah saat aku melirik lelaki lain. Gengsimu terlalu besar, Tuan.


"Al, apa pilotnya tampan?" Sabrina tersenyum tipis karena berniat menggoda suaminya. Arez yang mendengar itu menoleh.


"Kau ingin menggodanya? Aku mengizinkanmu."


"Benarkah?" Sabrina menatap Arez dengan mata berbinar.


"Kau pernah terjun payung dari ketinggian 3000 kaki?"


Sabrina mengerut bingung, lalu menggeleng pelan.


"Kalau begitu coba saja goda pilot itu, kau akan tahu seperti apa rasanya." Mata Sabrina terbelalak mendengarnya. Ia bukan orang bodoh yang tak memahami perkataan suaminya.


"Cih, suami pelit."


Arez tersenyum tipis.


Kini mereka sudah berada di dalam jet pribadi milik keluarga Digantara. Mulut Sabrina sedikit terbuka saat melihat penampakkan di dalam pesawat itu yang lebih cocok disebut hotel terbang. Ini pertama kalinya ia naik jet pribadi. Jadi jangan heran dengan ekpresi kagetnya.


"Bukankah tempat ini jauh lebih indah dibanding tempat lainnya untuk honeymoon? Kita bisa melihat seluruh dunia." Kata Sabrina penuh kagum.

__ADS_1


"Aku tidak pernah dengar orang melakukan honeymoon singkat. Kita hanya butuh tiga puluh menit untuk sampai ditujuan."


"Hah? Kau bilang kita akan melakukan perjalan yang panjang. Ke mana sebenarnya kau akan membawaku?"


"Bodoh. Perjalanan panjang bukan sekadar jalur udara. Kita masih punya perjalanan daratan." Ujar Arez duduk di kursi empuk.


Sabrina mendengus kesal. Menjatuhkan diri di atas pembaringan.


"Kemari, kita akan lepas landas." Perintah Arez.


Dengan malas Sabrina bangun dan menggampiri suaminya. Arez menarik tangan istrinya sampai wanita itu terduduk di atas pangkuan Arez. "Aku ingin duduk di sebelahmu." Pintanya merasa tak nyaman dengan posisinya saat ini.


"Sebentar lagi." Arez membenamkan wajahnya di leher sang istri. Menghirup aroma khas istrinya.


"Hey, kenapa tidak ada pramugari?" Sabrina merasa heran.


"Aku tak butuh mereka. Dirimu sudah cukup untukku."


Sabrina memutar bola matanya jengah. "Ck, aneh saja jika pesawat tidak punya pramugari. Kau tahu? Dulu aku pernah bermimpi menjadi seorang pramugari. Tapi aku urungkan itu, karena aku takut dimangsa lelaki hidung belang. Kau tahu sendiri pramugari selalu berpakain seksi. Aku tidak bisa membayangkan saat memakai pakain seperti mereka." Ocehnya panjang lebar. Melupakan jika suaminya itu bukan teman yang cocok untuk dijadikan teman curhat.


"Bukankah itu bagus? Jika kau menjadi pramugari saat ini. Kita tidak akan menjadi pasangan suami istri." Kata Arez menyibak surai keemasan istrinya agar lebih leluasa mencecap leher putih mulusnya. Meninggalkan jejak merah di sana.


"Al." Sabrina mengalungkan tanganya di leher jenjang suaminya. Sedangkan Arez masih gencar mengecupi bagian favorit dari tubuh istrinya itu.


"Ada apa?" Arez menatap wajah cantik itu begitu dalam. Sabrina langsung menangkap tatapan itu.


"Kau bilang akan membawaku pada Ibumu, kapan itu? Apa Ibumu orang baik? Atau dingin sepertimu?"


"Menurutmu?"


"Hey, aku bertanya padamu." Kesal Sabrina memajukan bibirnya sedikit. Dan itu membuat Arez merasa gemas.


"Kau akan tahu saat bertemu dengannya."


"Ck, bagaimana jika Ibumu menolakku? Kau akan membuangku kan?"


Arez terdiam sejenak. "Aku mencintainya melebihi siapa pun, kau tahu jawaban itu tanpa harus kujelaskan."


"Kau begitu mencintai Ibumu, tapi kau selalu kasar padaku. Biasanya orang yang menyayangi Ibunya memiliki jiwa penyayang dan penuh kelembutan. Tapi aku tak menemukan itu dalam dirimu. Bahkan kau tidak minta maaf setelah menamparku." Sabrina mengunci pandangan suaminya.


"Kau belum mengenalku, Sabrina."


"Aku takut untuk megenalmu lebih jauh, Al. Adikmu sangat mengerikan, aku baru berhadapan dengan satu orang. Bagaimana dengan yang lain? Aku rasa mereka juga tak menyukaiku juga. Aku tidak tahu kenapa Alexella begitu membenciku? Kalian selalu menuduhku pembunuh atau penguntit. Aku tidak tahu di mana letak salahku, apa karena wajah misteriusku?"

__ADS_1


"Kau sangat cerewet. Duduk disampingku dan pasang seat beltmu. Kita akan take off." Perintah Arez dingin nyaris tanpa ekspresi.


Sabrina mendegus dan segera duduk di samping suaminya. Memasang seat belt dengan kesal, kemudian mamalingkan wajahnya ke luar jendela. Hingga rasa kantuk itu menyerang dan mengikis kesadarannya.


"Enghhh...." Sabrina melenguh saat merasakan sesuatu yang amat perih di bagian tengkuknya. Perlahan ia membuka matanya dan menyentuh bagian yang perih itu. Dan wajah tampan suaminya yang pertama kali ia lihat. Ia juga sekilas melihat Arez memasukkan sebuah benda di saku celananya.


"Apa yang kau lakukan pada leherku? Kenapa sangat perih?"


"Kau terlalu banyak tidur, ganti pakaianmu. Aku menunggumu di depan." Arez segera bangun dan bergegas pergi dari kamar asing itu.


"Awh, apa yang dia lakukan pada leherku? Dasar brengsek." Sabrina bangkit dari atas pembaringan dan berjalan malas menuju kopernya untuk berganti pakaian.


"Kenapa sangat lama?" Katus Arez karena terlalu lama menunggu Sabrina. Selama ini tak pernah ada orang yang berani mebuatnya menunggu terlalu lama. Dan Sabrina orang pertama itu.


Wanita itu terlihat sangat cantik dengan sweater oversize yang dipadukan dengan celana jeans. Rambut panjangnya ia cepol asal, memperlihatkan lehernya yang jenjang.


"Sorry." Ucapnya dengan santai. Lalu pandangannya langsung tertuju pada tepian pantai yang hanya dibatasi pagar bercat biru. Matanya berbinar, lalu berlari kecil mendekati pagar itu. "Omg, apa kita di Zurich?" Pekiknya nyaris tak percaya.


"Ingin tetap di sini atau ikut denganku?" Tawar Arez berjalan pasti menyusuri jalanan beralas tanah tanpa sampah itu dengan cepat.


"Hey, aku ikut. Wah... jadi aku benar-benar di Swiss? Apa ini mimpi. Oh god, aku tak percaya ini." Ocehnya dengan senyuman yang mengembang.


"Al, bisa ambilkan fotoku?" Pinta Sabrina dengan penuh semangat. Namun lelaki itu sama sekali tak peduli dan terus berjalan.


"Al." Panggilnya dengan kesal. Dan Arez masih mengabaikannya. Tentu saja wanita itu kesal setengah mati.


"Apa gunanya mengajakku ke sini kalau kau bersikap seperti itu?" Kesal Sabrina memutar tubuhnya dan berjalan lain arah dengan suaminya. "Kau pikir aku ingin mengikutimu huh?"


Dan beberapa detik kemudian tubuh ramping itu melayang ke udara. "Aaa... apa yang kau lakukan?" Pekiknya saat dirinya sudah berada dalam gendongan Arez. Lagi-lagi Arez membopongnya seperti karung beras. Membawa dirinya kembali masuk ke dalam rumah.


"Al, lepaskan aku." Sabrina terus berteriak. Sampai ia terkejut karena Arez menghempas tubuhnya di atas pembaringan.


"Kau selalu menguji kesabaranku, Sabrina." Arez menggeram seraya melepas jaket kulitnya.


Sabrina beringsut mundur saat melihat tatapan penuh amarah di mata suaminya. "Al, aku minta maaf. Aku hanya kesal padamu, kau terus mengabaikanku. Bukankah kita sedang honeymoon?"


"Kau sendiri yang merusak suasana, Sabrina." Arez menarik kedua kaki istrinya sampai wanita itu kembali ke ujung ranjang. Merangkak dan mengukung wanitanya dengan tatapan tajam.


"Kau mau apa, Al? Aku__aku sedang tidak ingin melakukan itu. Jangan menatapku seperti itu, aku takut." Sabrina memberikan tatapan takut yang mendalam.


Arez menutup matanya sejenak, kemudian menjauh dari ranjang. "Sorry." Ucapnya dan langsung beranjak pergi dari sana.


"Al." Panggil Sabrian bangun dari posisinya. Menatap pintu kamar yang sudah tertutup kembali.

__ADS_1


Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya salalu berubah setiap saat? Apa dia pengidap bipolar?


__ADS_2