
"Jadi kau sungguh tidak mau masuk dulu?" Tanya Violet pada Paul ketika mobil yang mereka tumpangi sudah berada di pelataran mansion.
Paul tersenyum. "Lain kali aku mampir. Aku benar-benar ada urusan penting yang tidak bisa dihindari, Baby." Jelasnya seraya mengusap pipi mulus Violet. Terlihat jelas raut penyesalan di wajahnya yang tampan itu.
Violet pun mengangguk sembari mengusap punggung tangan Paul. "Terima kasih untuk hari ini."
Paul menarik tengkuk Violet, lalu menempelkan bibirnya dengan bibir Violet. Lalu memberikan sapuan lembut di sana. Dan itu tidak berlangsung lama. "Hari ini kau membuatku takjub, Baby. Kau benar-benar hebat. Sampai aku tak bisa bepaling darimu sedetik pun saat itu."
Violet tertawa kecil. "Berhenti menggodaku, Paul. Bisa-bisa aku terjebak di sini selamanya. Kau bilang ada hal mendesak, sebaiknya cepat pergi." Sambil mendorong dada lelaki itu perlahan.
Paul tersenyum, ditatapnya netra indah milik Violet dengan penuh cinta. "Sebenarnya aku masih ingin bersamamu."
Violet balas tersenyum. "Kau bisa datang padaku kapan pun, Paul. Selesaikan urusanmu yang penting itu. Setelah itu kau bisa datang padaku."
Paul mengangguk. "Secepatnya aku akan kembali, tunggu aku okay?"
Violet mengangguk. Lalu Paul pun memberikan kecupan singkat dibibir kekasihnya itu. "Aku mencintaimu." Ucapnya dengan tulus.
Violet pun mengangguk dengan diringi senyuman tulus. Setelah itu ia pun beranjak turun. Lalu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Mobil Paul pun langsung melesat pergi dan hilang dari pandangannya.
Violet menghela napas panjang, kemudian bergegas masuk ke dalam. Saat melewati ruang tengah, Violet pun berpapasan dengan sang Mommy. Lalu tanpa berpikir lagi ia langsung memeluknya erat. Sontak Alexella pun kaget dibuatnya.
"Aaaa... aku sangat bahagia Mom. Debut pertamaku berhasil dan berjalan dengan mulus."
Alexella tersenyum. "Selamat, Sayang. Mommy hanya bisa mendukungmu. Maaf tidak bisa datang."
Violet semakin mengeratkan pelukannya. "Tidak apa, Mom."
"Oh iya, seseorang mengirim surat padamu. Mommy menaruhnya di kamarmu." Ujar Alexella. Spontan Violet pun melerai pelukan mereka.
"Surat?" Tanyanya bingung.
"Ya, tapi tidak ada nama pengirimnya. Sebaiknya kau lihat sendiri, mungkin sesuatu yang penting."
Dengan sangat penasaran Violet pun beranjak ke kamarnya. Benar saja, di atas nakas terdapat sebuah amplop coklat tanpa nama. Tanpa ragu ia pun membukanya. Dan ternyata isinya itu sebuah kertas terlipat berlogokan rumah sakit. Yang membuatnya heran, itu bukan rumah sakit yang ada di Berlin. Karena semakin pensaran ia pun langsung membuka dan membacanya.
Alis gadis itu pun tertaut satu sama lain saat terdapat nama Sheena tertulis di sana. Dan yang membuatnya kaget lagi, ternyata kertas itu adalah hasil pemeriksaan milik Sheena. Yang menyatakan dengan jelas jika ada masalah dengan rahim wanita itu. Namun, Violet bingung. Kenapa surat itu dikirim padanya? Siapa yang mengirim itu sebenarnya dan apa tujuannya?
"Tidak mungkin Dustin yang mengirim ini. Tidak ada alasan untuk dia mengirim hal yang cukup pribadi ini padaku." Gumamnya sambil terus membaca isi surat itu. Dirasa ada sesuatu yang janggal, Violet kembali melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Lalu menyimpan benda itu di tempat yang aman.
Violet menggigit ujung kukunya sambil berjalan ke sana kemari. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi, apa sebebarnya motif orang itu. Namun, bukan itu saja yang ia pikirkan. Kondisi Sheena pun tak luput dari pikirannya.
__ADS_1
"Sheena memiliki kelainan pada rahimnya? Tapi Dustin tidak mengatakan apa pun saat itu. Atau mungkin Dustin juga tidak tahu?" Violet benar-benar bingung. Diusapnya wajah dengan kasar.
"Tidak, Violet. Itu bukan urusanmu, lalu buat apa dipikirkan huh?" Imbuhnya lagi. Namun, tetap saja ia masih memikirkan hal itu.
Karena terus kepikiran, akhirnya Violet pun memutuskan untuk menghubungi Dustin.
"Halo." Suara Dustin terdengar saat telepon terhubung. Violet tercekat. Ia bingung harus bicara apa. "Vi, kau baik-baik saja?"
Violet bisa mendengar dengan jelas suara cemas lelaki itu. Kemudian ia pun menjawab. "Ya, aku baik-baik saja."
Dustin terdiam sejenak. "Ada apa?" Tanyanya kemudian.
"Bagaimana kabarmu dan Sheena?" Tanya Violet sembari terus menggigit ujung kukunya.
"Kami baik-baik saja."
Violet menghela napas pelan, jantungnya masih berdegup kencang setiap kali mendengar suara lembut Dustin. "Em, Dustin. Apa aku boleh bertanya?"
Dustin tidak menjawab. Dan itu membuat Violet bingung. "Ah, maaf. Sepertinya lain kali aku...."
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Sela Dustin.
"Em.... sebenarnya apa yang terjadi pada Sheena, Dustin? Apa terjadi seuatu padanya?" Tanya Violet dengan cepat. Sontak Dustin pun kaget.
Violet menggigit bibirnya. "Ya, maafkan aku karena lancang. Syukurlah jika Sheena baik-baik saja."
"Apa yang sebenarnya kau ketahu, Vi?" Kali ini Dustin yang bertanya.
Violet terdiam sejenak sebelum kemudian menjawab. "Ah, tidak ada. Tadi aku tiba-tiba saja memikirkan Sheena."
"Katakan, apa yang kau ketahui?" Tegas Dustin. Ia tahu betul Violet tidak mungkin menghubunginya dengan alasan itu.
Violet menghela napas. "Apa kau tahu jika Sheena memiliki kelainan pada rahimnya?"
Deg!
Dustin terkejut bukan main mendengarnya. Bagaiman bisa Violet tahu soal itu. Sedangkan dirinya menyembunyikan kebenarannya. "Bagaimana kau tahu soal itu, Vi? Kau menyelidikinya?"
"Ah, tidak Dustin. Aku...."
"Berhenti melakukan hal yang tidak perlu kau lakukan, Violet. Masalah Sheena bukan urusanmu. Kau tidak perlu tahu apa pun tengang kami. Jadi berhenti menyelidiki wanitaku." Potong Dustin dengan nada dingin. Dan itu berhasil menbuat hati Violet mencolos.
__ADS_1
"Aku...." Belum selesai Violet bicara, Dustin sudah lebih dulu menutup panggilan. Tubuhnya lemas seketika, ia terduduk ditepi ranjang dengan tatapan kosong.
"Aku tidak menyelidikinya, Dustin." Lirihnya. Ia benar-benar tidak menyangka Dustin akan menuduhnya begitu. Padahal tidak ada alasan untuknya melakukan semua itu. Sekarang ia merasa menyesal karena sudah menghubungi lelaki itu.
Di tempat lain, Sheena juga ternyata mendapat amplop misterius yang sama. Tubuhnya langsung lemas saat mengetahui soal kenyataan yang menimpa dirinya. "Ini tidak mungkin."
Tidak lama dari itu, Dustin pun masuk ke kamarnya dan langsung menhampiri Sheena. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat benda yang ada di tangan Sheena.
Mata Sheena menatap sendu ke arah Dustin. "Kenapa kau menyembunyikan ini dariku, Dustin?"
Dengan cepat Dustin langsung merebutnya. "Ini tidak benar, Sheena."
Sheena pun bangun dari posisinya. "Hasil rumah sakit tidak mungkin salah, Dustin. Kenapa kau berbohong?"
Dustin mengeratkan rahangnya. Pikirannya saat ini langsung tertuju pada Violet. Bagaimana semua ini bisa kebetulan? Semua ini pasti sudah direncanakan.
Mungkinkah Violet pelakunya? Tapi apa motifnya?
Sheena menitikan air mata. "Bagaimana bisa ini terjadi padaku, Dustin?" Lirihnya.
Dustin langsung memeluknya. "Maafkan aku, Sheena. Aku menyembunyikan ini hanya untuk kebaikanmu. Apa pun yang terjadi aku akan selalu disisimu, percayalah."
Sheena memeluk Dustin begitu erat sambil terisak.
"Jangan menangis." Pinta Dustin mengusap rambut wanitanya dengan lembut.
"Jangan tinggalkan aku, Dustin."
"Tidak akan pernah, sayang. Jadi berhentilah menangis." Dustin melerai pelukan. Kemudian menangkup wajah Sheena dengan lembut. "Kau harus istirahat."
Sheena mengangguk.
"Kau harus istirahat, kondisimu belum membaik sepenuhnya." Dustin pun membawa Sheena ke tempat tidur dan membantunya berbaring. Dan ia pun ikut duduk disisinya.
"Dengar, aku ada keperluan mendesak. Mungkin aku baru bisa kembali beberapa hari kedepan. Tidak apa jika aku tinggal kan?" Tanya Dustin memastikan.
Sheena mengangguk. "Pergilah, maaf karena aku pekerjaanmu sering terganggu."
Dustin tersenyum. "Tidak sama sekali, bagaimana pun kondisimu lebih penting. Aku janji, setelah semua urusan selesai. Aku akan langsung pulang."
"Aku percaya padamu." Sahut Sheena.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Dustin seraya mengecup punggung tangan Sheena. "Istirahatlah." Sheena pun mengangguk patuh. Kemudian Dustin pun meninggalkannya. Sheena hanya bisa menatap kepergian lelaki itu dengan mulut yang terkatup rapat.