
Saat ini Rhea dan Gabriel tengah menikmati makan malam romantis di rooftop hotel. Dari sana mereka bisa langsung melihat pemandangan kota Berlin di malam hari, menambah suasana menjadi semakin romantis. Di tambah alunan musik yang lembut dan hangat membuat semuanya terasa semakin intim.
Gabriel terus melirik istrinya yang tampil sangat cantik malam ini. Bagaimana tidak, Rhea terlihat cocok memakai long dress berwarna navy pilihannya. Ditambah sedikit polesan diwajanya, wanita itu semakin mempesona.
Rhea mengerutkan kening saat tak sengaja memergoki Gabriel mencuri pandang ke arahnya. Alhasil ia pun berhenti makan. "Ada apa? Apa sesuatu menempel di bibirku?" Tanyanya seraya mengelap bibirnya dengan tisu.
Gabriel menggeleng. "Kau semakin cantik, karena itu aku terus memandangmu."
Rhea tertawa geli. "Ya ampun, sayang. Aku pikir ada sesuatu yang menempel dibibirku. Rupanya gara-gara itu hm? Lagian aku kan memang cantik sejak lahir." Pujinya untuk diri sendiri.
Gabriel tersenyum. "Yah, aku akui itu memang benar. Dan aku sangat beruntung memilikimu, sayang. Berikan tanganmu." Pintanya. Sontak Rhea pun memberikan tatapan bingung sambil memberikan kedua tangannya pada Gabriel.
"Satu saja, sayang." Gabriel meraih tangan kiri Rhea dengan lembut sambil mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Lalu menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis istrinya itu, kemudian mengecupnya dengan lembut.
Rhea menutup mulutnya tak percaya. Ia tahu dengan pasti itu cincin berlian limited edition di dunia. Bahkan jika ingin membelinya harus memesan dari jauh-jauh hari. Dan sekarang cincin itu ada di jarinya. Ya Tuhan, Rhea tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya.
Gabriel tersenyum kepadanya. "Sekarang cincin itu sudah berada di tangan pemiliknya, jadi aku merasa tenang sekarang."
Rhea menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Gab, ini terlalu berlebihan. Aku...."
"Cincin ini tidak ada harganya sama sekali, Rhe. Masih jauh jika dibandingkan dengan dirimu." Dikecupnya lagi tangan Rhea dengan mesra. "Terima kasih karena mau menerimaku dalam hidupmu. Sebuah kehormatan bagiku karena mendapat wanita terhormat sepertimu, Sayang."
Rhea tersenyum seraya menggenggam tangan suaminya dengan erat, lalu balas menciumnya. "Aku juga berterima kasih karena kau mau menerimaku, Gab. Meski aku sudah menipumu sekali pun, kau masih memaafkanku."
Gabriel tersenyum tulus. "Aku berjanji padamu, Sayang. Aku akan berusaha untuk terus membahagiakanmu, sampai akhir hayatku. Dan kau satu-satunya wanita yang aku cintai setelah Mommy dan Grandma. Aku mencintaimu, sayang." Untuk yang kesekian kalinya Gabriel mengecup tangan istrinya itu.
Rhea menitikkan air mata harunya. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya bisa melewati malam romantis seperti ini bersama lelaki yang ia cintai.
Gabriel menghapus jejak air mata bahagia istrinya dengan lembut. "Mulai sekarang, kau hanya boleh menangis karena bahagia, sayang. Aku tidak akan membiarkanmu menangis karena rasa sakit lagi."
Rhea tersenyum dalam tangisannya. Lalu mengelus tangan Gabriel yang masih menempel dipipinya. "Terima kasih, sayang."
"Sama-sama, sayang." Balas Gabriel.
Keduanya pun saling bersitatap dalam waktu yang cukup lama. Seolah menyalurkan perasaan cinta yang begitu mendalam.
__ADS_1
****
Setelah beberapa hari menghabiskan masa bulan madu. Gabriel dan Rhea pun akhirnya memutuskan untuk pulang hari ini.
"Semua barangmu sudah ada di mobil, sayang." Kata Gabriel yang baru saja masuk ke kamar. Mendatangi Rhea yang masih sibuk merapikan penampilan di depan cermin.
Lelaki itu tersenyum, lalu memeluknya dari belakang. Sontak Rhea pun tersenyum lebar. "Aku masih ragu untuk pulang. Rasanya aku malu jika berhadapan dengan keluargamu setelah apa yang aku perbuat."
"Lalu sampai kapan kau akan bersembunyi, hm?" Gabriel terus menatap wajah cantik Rhea dari pantulan cermin.
"Entahlah, aku yakin Mommy dan Grandma pasti sangat kecewa padaku. Bagaimana pun aku sudah mengacaukan acara yang sudah mereka impikan sejak lama." Lirihnya.
Gabriel menghela napas. "Karena itu kau harus kembali, Sayang. Mommy pasti menantikan kepulanganmu, kau menantu idamannya."
Rhea tersenyum tipis. "Lalu bagaimana dengan keluargamu yang lain? Apa mereka akan menerimaku?"
"Apa yang bisa mereka lakukan memangnya? Kau istriku sekarang meski mereka tak mau sekali pun. Lagipula, tidak ada satu pun dari mereka yang keberatan aku menikahimu, Sayang. Jadi berhenti berpikiran negatif okay?" Jelas Gabriel mencoba meyakinkan istrinya.
Rhea mengangguk. "Apa kau sudah memberi tahu Mommy jika kita akan pulang hari ini?"
Gabriel mengangguk kecil. "Mommy sudah menunggumu, dan sejak tadi terus menerorku untuk segera membawamu pulang."
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang." Ajak Gabriel seraya melepas pelukannya. Kemudian mereka pun bergegas keluar dari sana dan melakukan check out. Padahal itu masih terbilang pagi. Rhea juga tidak mengerti kenapa Gabriel buru-buru membawanya pulang.
Rhea mengernyit bingung saat mobil yang mereka tumpangi beberlok ke sebuah butik ternama. Refleks ia pun menoleh ke arah suaminya. "Sayang, kenapa kita ke sini?" Tanyanya bingung.
Gabriel menoleh, lalu tersenyum penuh arti. "Kejutan, Sayang. Ayo turun." Ajaknya. Lalu tanpa banyak bertanya lagi Rhea pun ikut turun bersama suaminya.
Gabriel mengamit jemari istrinya, lalu bergegas membawanya masuk. Keduanya pun langsung disambut ramah oleh beberapa karyawati di sana. Bahkan Rhea bisa melihat deretan wedding gown yang terpajang di lemari kaca. Butik itu benar-benar luar biasa mewah dan megah.
"Selamat datang di istana kami, Tuan dan Nyonya." Sapa seorang lelaki kemayu tersenyum lebar pada keduanya. Tentu saja Rhea mengenali lelaki itu, yang tak lain adalah designer yang cukup ternama di Berlin sekaligus pemilik butik itu sendiri.
Oh, Rhea tidak bisa percaya karena bisa bertemu langsung dengannya. "Ah, sebuah kebanggaan bisa bertemu Anda, Tuan Scorft." Sapanya dengan ramah.
Lelaki kemayu itu tersenyum ramah. "Aku sering mendengar namamu saat pertemuan besar, Nyonya. Kau masih muda dan sangat berbakat, aku bangga padamu. Sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu juga."
__ADS_1
Rhea tertawa kecil. "Bisakah kita bicara santai? Rasanya tak enak kalau terlalu formal."
Lelaki bernama Summer Scroft itu pun tertawa renyah. "Jika itu keinginanmu, tentu aku sangat senang. Tidak menyangka kau sangat menyenangkan, Sayang. Ayo ikut denganku, aku akan tunjukkan mahakaryaku padamu. Permisi, Tuan. Apa aku boleh merebut istrimu sebentar?" Pintanya pada Gabriel.
"Silakan, asal jangan lupa dikembalikan." Sahut Gabriel yang disambut gelak tawa lelaki itu.
Gabriel mengangguk saat Rhea menatapnya untuk meminta persetujuan. Lalu Rhea pun mengikuti arahan Mr. Scroft untuk mengikutinya.
Mata Rhea terbelalak saat melihat wedding gown super mewah yang terpajang di manekin.
"Ini gown yang aku rancang khusus untukmu, sesuai keinginan suamimu tentunya. Dia membuatku gila, Sayang. Bayangkan saja, dalam waktu satu minggu aku harus menyelesaikan gaun semewah ini. Sampai aku harus mengerahkan seratus karyawanku untuk menyelesaikannya. Suamimu itu sangat menyebalkan, dia mengancam akan menutup butikku jika aku gagal membuatnya. Beruntung aku ini hebat bukan?" Oceh Mr. Scroft panjang lebar.
Sedangkan Rhea masih tidak percaya Gabriel menyiapkan wedding gown semewah ini untuknya. Ah, Rhea benar-benar terharu.
Mr. Scorft tersenyum puas saat melihat Rhea tak berkedip memandang mahakaryanya itu. "Oke, berhenti mengagumi mahakaryaku. Ayo duduk. Aku akan menyulap dirimu menjadi bidadari, Sayang."
Dengan patuh Rhea pun duduk di depan meja rias yang tak kalah mewah. Lalu tidak lama dari itu beberapa wanita berseragam masuk. Sepertinya mereka anak buah Mr. Scroft yang akan membantunya berdandan. Rhea tahu Gabriel tidak akan membiarkan lelaki lain menyentuhnya.
Dasar pelit. Rhea membatin sambil tersenyum bahagia.
Satu jam kemudian, Rhea sudah disulap menjadi pengantin tercantik di dunia. Wedding gown super mewah itu pun sudah melekat ditubuhnya yang ramping. Dan itu sangat cocok dan begitu pas dengan ukurannya. Rhea sampai bingung bagaimana bisa Gabriel tahu ukurannya sampai sedetail itu.
"Omg! Apa aku tidak salah lihat? Bidadariku benar-benar sangat menawan." Histeris Mr. Scroft yang baru saja masuk ke sana.
Rhea tersenyum ramah. "Terima kasih, Mr. Kau membuatku terlihat seperti pengantin tercantik di dunia. Aku merasa tersanjung." Ucapnya dengan tulus.
"Sama-sama, Baby." Balasnya tak kalah ramah.
"Oh iya, di mana suamiku?" Tanya Rhea.
"Aku di sini, Sayang." Sahut Gabriel yang baru saja muncul. Seketika Rhea terkesiap karena ketampanan lelaki itu. Bagaimana tidak, Gabriel terlihat gagah dan menawan dengan stelan tuxedo yang membalut tubuh atletisnya. Dasi kupu-kupu yang menempel dibagian leher membuat lelaki itu semakin tampan.
"Kau sangat cantik, Sayang." Puji Gabriel yang berhasil membuat Rhea tersadar dari lamunannya. Bahkan ia sampai tak sadar jika kini Gabriel sudah ada di depan matanya karena terhipnotis dengan ketampanan suaminya itu. "Sudah siap?"
Rhea mengangguk. "Ya."
__ADS_1
Gabrie tersenyum, lalu meraih tangan istrinya. "Ayo, semua orang sudah menunggu kita."
Rhea mengangguk lagi, lalu keduanya pun beranjak dari sana. Setibanya di luar, lagi-lagi Rhea terkesiap karena mobil mereka sudah diganti dengan mobil pengantin yang mewah. Ditatapnya Ganriel penuh haru. Benar-benar kejutan yang luar biasa. Dan hari ini akan menjadi hadiah terindah yang tak mungkin Rhea lupakan.