
Sabrina dan Deena pun menoleh bersamaan saat Arez ikut bergabung. Lelaki itu duduk di sisi sang istri. Namun tatapannya terus tertuju pada Deena.
"Kenapa kau di sini? Aku memintamu untuk menjaga lelaki itu."
"Dia sudah mati."
"What?" Seru Arez dan Sabrina kompak.
Deena yang melihat itu memutar bola matanya malas. "Jarvis membunuhnya."
Arez mengumpat sebal. Padahal ia masih ingin bermain-main dengan lelaki itu. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur.
"Kirim mayatnya dalam sangkar Blacky. Biarkan dia pesta lagi kali ini."
"Akan aku lalukan," sahut Deena yang hendak bangun dari posisi duduknya. Namun Sabrina lebih dulu menahannya.
"De, masih banyak pertanyaan yang aku simpan untukmu. Bisakah kau meminta anak buahmu saja yang melakukan itu? Temani aku jalan-jalan hari ini."
"Aku tidak mengizinkanmu keluar." Sanggah Arez menatap istrinya tajam.
"Al, aku mohon kali ini saja." Sabrina menatap suaminya penuh permohonan.
"Tidak."
"Please, Al. Deena bersamaku, aku yakin tak akan terjadi apa-apa."
"Stop it, Sabrina. Jangan membantahku." Bentak Arez yang berhasil mengejutkan istrinya. Bahkan mata Sabrina mulai berkaca-kaca.
"Kau jahat, Al." Sabrina pun bangkit dan beranjak menuju kamar. Membanting pintu sekuat tenaga sampai menimbulkan suara menggema. Arez menghela napas berat, kemudian bersandar di kepala sofa.
"Jangan terlalu kasar padanya, dia bukan aku yang bisa kau bentak sesuka hati. Huh, mungkin aku setuju kau ingin melindunginya. Tapi jangan mengganggu kebebasannya." Komentar Deena.
Arez menatap Deena sekilas. "Tunggu sebentar." Pinta Arez sebelum bangkit dari sofa. Kemudian menyusul sang istri ke kamar. Ia membuka dan menutup pintu perlahan.
Arez terdiam sejenak saat melihat sang istri tengah menangis sambil memeluk bantal. Bahkan wanita itu seolah enggan melihat dirinya. Lagi-lagi Arez menghela napas berat, lalu duduk di bibir ranjang. Menatap wajah sembab Sabrina.
"Pergilah, tapi kau harus ingat. Hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu."
Tangisan Sabrina pun mendadak sirna. "Benarkah? Jadi aku boleh pergi?" Tanyanya begitu antusias.
Arez mengangguk kecil. "Ganti pakaianmu lebih dulu."
"Thank you." Wanita itu pun langsung berhambur dalam dekapan suaminya. "Aku mencintaimu, Al."
Tak ingin membuang waktu banyak, Sabrina langsung bergegas menuju ruang ganti. Hanya butuh beberapa menit wanita itu sudah keluar dari sana. Sabrina terlihat cantik dengan pakaian kasual andalannya dan tak lupa hioodie tebal untuk menghindari suhu dingin. Dan tidak ketinggalan juga tas kecil yang tersampir di lengan kirinya.
"Aku pergi dulu." Pamitnya seraya menghampiri sang suami.
"Pegang ini." Arez memberikan sebuah black card pada Sabrina. Dengan ragu Sabrina menerimanya. Menatap benda itu cukup lama.
"Untuk apa?" Tanya wanita itu dengan polos.
"Kau bebas menggunakannya untuk apa saja."
"Kalau begitu aku ingin membeli suami baru. Boleh kan? Kau bilang apa saja boleh." Sabrina tergelak saat melihat raut wajah datar suaminya. Lalu ia pun duduk di pangkuan Arez. "Aku hanya bercanda. Oh iya sepertinya sejak pagi aku belum mendapat ciuman."
"Hari ini libur." Sahut Arez sekenanya.
"Mana bisa libur? Kau selalu melakukan itu setiap pagi. Biar aku yang melakukannya." Tanpa ragu lagi Sabrina langsung menyambar bibir suaminya. Mencecap bibir itu dengan gerakan sensual.
__ADS_1
Arez tak ingin membuang kesempatan. Ditariknya tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman mereka. Sabrina sama sekali tak menolak, bahkan kini kedua tangannya sudah melingkar di leher sang suami.
Merasa kehabisan stok oksigen, Sabrina menyudahi ciumanan panas itu. Kemudian menghirup udara sebanyak mungkin.
"Lemah." Ledek Arez sembari memperhatikan wajah merona Sabrina.
"Bukan aku yang lemah, kau yang rakus, Al. Aku sudah mendapat hak pagiku, jadi biarkan aku pergi." Sabrina hendak bangun. Namun Arez menahannya.
"Bagaimana dengan hak pagiku huh?"
"Ck, kita sudah sepakat melakukan itu dua kali seminggu. Kemarin kita sudah melakukannya kan? Lepaskan aku, Al."
"Kita rubah menjadi tiga kali seminggu, aku tidak bisa menahan terlalu lama." Tawar Arez membenamkan wajahnya di leher sang istri. Menghirup aroma strawberry yang selalu memabukkan, aroma tubuh wanita itu bagaikan heroin untuknya.
"Kau harus belajar bersabar, Al. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak kita."
"Hm."
Sabrina mend*s*h kecil saat Arez menggigit dan mengh*s*p kulit lehernya. "Stop, Al."
Arez menghentikan aksinya, lalu mengunci netra indah milik Sabrina.
"Biarkan aku pergi."
"Pergilah." Sahut Arez tanpa melepaskan rengkuhannya di pinggung sang istri.
"Bagaimana aku bisa pergi? Tanganmu begitu erat di sana."
Arez tersenyum tipis. Setelah itu melepaskan rengkuhannya. "Pergilah, usahan cepat pulang."
"Iya bawel." Sabrina mengecup bibir suaminya sebelum bangkit dari pangkuan lelaki itu. Kemudian beranjak meninggalkan kamar.
Sabrina pun melangkah pasti ke ruang tamu di mana Deena masih menunggunya. "Sorry lama, De."
"Bawa aku ke tempat yang hangat tentunya. Aku ingin makan mie instan di supermarket, perutku mendadak lapar. Gimana dong?"
Deena terkekeh geli mendengar itu. "Sepertinya bayi dalam perutmu akan menyulitkanku saat lahir nanti. Tapi aku tidak keberatan demi keponakan mungilku. Ayok, aku akan meneraktirmu kali ini. Sudah lama kita tidak menikmati makanan enak itu." Ajak Deena menarik Sabrina pergi.
****
Sabrina terlihat gembira dan begitu lahap menyantap satu cup mie instan yang masih mengepulkan asap. Begitu pas untuk suhu dingin seperti saat ini. Deena yang melihat itu tersenyum senang. Saat ini keduanya duduk di dalam supermarket yang sengaja menyediakan tempat khusus untuk para pengunjung.
"Oh iya, Sab. Aku berjanji padamu untuk memperkenalkan lelaki yang pernah kau lihat. Aku sudah memintanya datang ke sini." Kata Deena tersenyum lebar. Sabrina yang mendengar itu terlihat begitu antusias.
"Siapa? Lelaki yang kau jadikan untuk menjebakku huh?" Tanya Sabrina memicingkan matanya pada Deena. Sedangkan sang empu malah terkekeh geli.
"Sorry, habis aku bingung menggunakan alasan apa lagi agar kau terpancing."
"Cih, menyebalkan. Lalu bagaimana hubungan kalian? Kapan kau akan menikah?"
Deena memutar bola matanya malas. "Menikah bukan hal mudah, Sab. Banyak yang harus dipikirkan. Aku masih belajar mencintainya."
Sabrina kembali melahap makanannya sebelum berbicara lagi. "Okay, aku akan selalu mendukungmu."
Deena menatap Sabrina lekat. "Kau bahagia kan bersamanya, Sab?"
Sabrina yang mendengar itu langsung menatap sahabatnya. Kemudian tersenyum lebar. "Ya, aku sangat bahagia. Meski dia tak pernah mengatakan cinta padaku, tapi dengan sikapnya aku bisa membaca kalau dia mencintaiku."
"Sykurlah jika kau bahagia. Lalu, bagaimana lelaki tua itu ada di sini?" Deena memicingkan mata. Meminta sebuah penjelasan.
__ADS_1
"Ingin bertemu denganku." Jawab Sabrina sekenanya. "Kau tahu? Daddy sengaja mengirimku ke sini karena tak ingin melihatku terus disiksa oleh keluarganya. Dugaanku benar, De. Daddy mencintaiku. Sekarang kebahagianku lengkap. Aku memiliki dua lelaki yang aku cintai dalam satu atap. Rasanya dunia ini milikku sendiri."
Deena ikut tersenyum saat melihat senyuman di wajah Sabrina. "Aku bahagia saat melihat kau tersenyum seperti ini."
"Aku juga bahagia mempunya sahabat sebaik dirimu, De. I love you." Ucap Sabrina memeluk Deena dari samping.
"Me to."
"Hey, jika cintanya kau ambil. Lalu bagianku mana?" Suara bariton dengan penuh sensual itu berhasil mengejutkan keduanya. Sontak Deena dan Sabrina pun menoleh kebelakang. Di sana sudah berdiri seorang lelaki tampan berambut pirang dengan senyuman yang mengembang.
"Jordan, sejak kapan kau di sini? Aku baru menghubungimu." Tanya Deena masih kaget dengan kehadiran lelaki bernama Jordan itu yang secara tiba-tiba.
"Suprise, baby. Beberapa hari kau menghilang. Karena itu aku langsung ke sini karena sangat merindukanmu. Miss you." Jawab lelaki itu memberikan pelukan singkat pada Deena.
"Itu berlebihan, Jo." Deena menatap lelaki itu sebal.
"Hai, aku Sabrina." Sapa Sabrina seraya mengulurkan tangannya pada lelaki itu. Lalu Jordan pun menerima uluran tangan Sabrina.
"Jordan, senang berkenalan denganmu. Nyonya Digantara."
Sabrina mengeritut bingung. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Jordan menunjuk Deena dengan ujung matanya. Sabrina pun mengangguk pelan. Lelaki itu beranjak duduk di sebelah Deena. Menatap wanitanya yang masih asik makan.
"Aku pikir dia tak suka bercerita pada orang lain." Ledek Sabrina yang ikut memperhatikan Deena makan.
"Bagaimana tawaranku, De?" Tanya Jordan.
"Sudah aku katakan aku belum siap. Lagi pula kasta kita berbeda, Jo." Jawab Deena jujur.
"Tawaran apa kalau aku boleh tahu?" Tanya Sabrina bingung.
"Soal lamaran tentunya." Jawab Jordan dengan entengnya.
"Wah, luar bisa. Apa aku menganggu kalian berdua? Aku bisa pulang kok."
"Jangan macam-macam, Sab. Kau tanggung jawabku. Jika terjadi sesuatu padamu, suami jahatmu itu akan membunuhku."
"Ck, aku lupa itu." Sahut Sabrina dengan malas.
Deena menggeleng pelan. "Habiskan sisa makananmu, setelah ini kau ingin ke kampus bukan?"
"Ya, aku harus mencari beberapa buku referensi lagi untuk tulisanku."
"Wah, bukannya kalian satu angkatan? Kenapa kau cepat sekali menyusun skripsimu?"
"Dia wanita pintar, Jo. Sejak kecil aku selalu dikalahkah olehnya." Sahut Deena sambil menatap sahabatnya penuh kebanggaan. Sabrina terkekeh geli mendengar itu.
"Bukan begitu, aku tidak ingin berlama-lama di kampus. Aku ingin langsung bekerja dan memiliki uang tabungan sendiri." Ujar Sabrina yang diiringi dengan senyuman manis.
"Suamimu sudah kaya raya, apalagi yang mau kau cari?" Tanya Deena dengan santai.
"Itu berbeda, De. Aku ingin bekerja seperti kebanyakan orang. Itu impianku."
"Kau yakin suami posesifmu itu memberi izin?"
"Aku akan meyakinkannya, aku tak ingin dikurung terus."
"Aku harap kau berhasil." Kata Deena seolah tak yakin.
__ADS_1
"Ya, semoga."
Tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Keduanya kembali fokus menyantap sisa makanan. Sedangkan Jordan ikut terdiam sambil menerawang ke luar sana. Menunggu dua wanita itu selesai.