Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3(4)


__ADS_3

"Tidak, Luc. Aku mohon, jangan lakukan itu." Eveline memberikan tatapan memohon pada sepupunya itu.


Lucas menyelipkan rambut Eveline ke sela telinga. "Sebenarnya aku tidak ingin menyakitimu, sayang. Tapi kau memaksaku untuk melakukan ini."


Eveline kembali menitikan air mata. "Luc, kita tidak bisa bersama. Aku sepupumu."


"Lalu?"


"Luc..."


"Tidurlah, aku tidak akan menyakitimu." Lucas membuka ikatan tangan Eveline. Hatinya terasa perih saat melihat pergelangan tangan Eveline lecet. "Aku akan mengobati tanganmu."


Eveline menatap wajah Lucas. "Kenapa kau lakukan ini, Luc?"


Lucas menatap Eveline sekilas, lalu ia bangkit dan berjalan menuju sebuah meja. Lalu membuka laci. "Sudah aku katakan, aku mencintaimu, Eve."


"Kau tidak mencintaiku, Luc. Itu namanya obsesi, bukan cinta."


Lucas tersenyum, ia sudah mendengar itu dua kali dari mulit Eveline. Ia pun kemudian kembali ke ranjang dengan kotak obat di tangannya. Di raihnya tangan Eveline dengan lembut. Lalu dituipnya perlahan.


Eveline terus memperhatikan Lucas yang tengah mengobati tangannya. Lelaki itu benar-benar melakukannya dengan lembut. Seolah takut menyakitinya. Lucas tidak sadar, jika luka itu disebabkan olehnya.


"Jangan melawanku lagi, Eve. Kau tahu aku tidak suka dilawan."


"Aku tidak mencintaimu, Luc. Aku sudah punya kekasih. Tolong lepaskan aku, semua orang akan cemas padaku."


Lucas tidak menjawab.


"Luc."


"Mereka akan menemukanmu jika bisa."


"Kau akan terbunuh, Luc." Ada sedikit nada cemas di sana.


Lucas tersenyum lagi. "Jadi kau takut aku mati? Kalau begitu tetaplah disisiku. Katakan pada semua orang kau mencintaiku. Dan kita akan hidup bersama selamanya."


Eveline benar-benar tidak habis pikir dengan sepupunya itu. "Kau memang gila, Luc."


"Hm." Lucas memandangi wajah sembab sang pujaan hati. "Tidurlah, aku tahu kau lelah setelah berkerja."


Eveline memalingkan wajah. Namun, lagi-lagi Lucas tidak membiarkan itu. "Jangan pernah palingkan wajahmu dariku. Aku terluka, Eve."


"Kau memang brengsek, Luc. Lepaskan aku. Summer pasti mencemaskanku."

__ADS_1


Rahang Lucas mengeras. Tatapan hangat itu pun kembali kelam. Sepertinya Eveline sudah melakukan kesalahan. "Lupakan lelaki itu. Aku bisa melenyapkannya jika kau menyebutnya sekali lagi."


Mata Eveline membulat. "Jangan pernah lakukan itu."


Lucas tersenyum penuh arti. "Kalau begitu diamlah." Sebuah kecupan kembali mendarat di bibir Eveline. "Tidurlah. Aku akan memelukmu."


Eveline tidak mungkin memberontak lagi. Percuma saja ia melawan saat ini, Lucas tidak mungkin melepaskannya. Sepertinya ia harus mencari cara lain agar bisa terlepas dari cengkraman lelaki ini.


Lucas menarik Eveline agar berbaring. Lalu memeluk gadisnya itu dengan penuh kehangantan. "Good night, baby." Sebuah kecupan mesra ia daratkan di kening Eveline.


Eveline terdiam. Kehangatan yang Lucas berikan padanya sedikit menimbulkan rasa nyaman. Namun, ia juga sedikit khawatir jika lelaki itu akan menerkamnya kapan saja. Dan tanpa sadar Eveline menghembuskan napas gusar.


"Aku tidak akan memakanmu, kecuali kau yang meminta. Jadi jangan khawatir." Ucap Lucas tahu akan kecemasan gadisnya.


Sial! Bagaimana dia bisa tahu kecemasanku?


"Kau tidak akan pernah bisa menyenbunyikan apa pun dariku, sayang. Aku tahu apa yang saat ini ada di kepalamu."


Eveline berdecak sebal. Dan cepat-cepat ia menutup matanya. Menyebalkan memang.


Lucas tertawa kecil. "Kau sangat menggemaskan, sayang. Aku mencintaimu." Lagi-lagi Lucas mendaratkan kecupan di kening Eveline. Membuat sang empu waswas. Dan perlahan keduanya pun mulai terlelap.


****


"Cepat cari adik kalian. Ya Tuhan, ke mana kau Eve?" Sabrina terlihat berantakan karena sejak tadi malam ia tidak bisa tidur.


"Mom, jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja, kita akan berusaha mencarinya. Tenanglah." Ujar Melvin berusaha menenangkan sang Mommy.


"Tenang kau bilang? Bagaimana aku bisa tenang saat putriku hilang?" Sembur Sabrina dengan emosi yang meluap-luap.


Melvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Kau sudah menghubungi Summer?" Tanya Melvin pada kembarannya, Marvel.


Lelaki berparas dingin itu mengangguk. "Dia juga sedang mencari keberadaan Eveline."


"Sialan! Siapa yang berani menculik sepupuku?" Kesal Mike.


"Dia cari mati." Imbuh Dustin. Mereka tidak sadar sedang membicarakan saudara sendiri.


"Di mana Lucas?" tanya Arez memberikan tatapan curiga. Sontak semua orang pun langsung melempar pandangan pade Mike dan Dustin sebebagai kembarannya.


"Aku di sini." Sahut Lucas yang tiba-tiba saja muncul. Sontak semua mata pun langsung tertuju padanya. "Ada apa ini?"

__ADS_1


"Dari mana saja kau, Luc? Apa kau tahu Eveline hilang." Sembur Mike.


Lucas berpura-pura memasang wajah kaget. Namun Marvel dan Melvin masih memberikan tatapan curiga padanya.


"Kapan dia hilang?" Tanya Lucas.


"Tadi malam, tolong bantu cari Eveline, Luc." Mohon Sabrina mulai berderai air mata.


"Jangan cemas, aku akan menemukannya. Dia pasti baik-baik saja, karena aku tidak akan membiarkan siapa pun melukainya. Aku akan membunuh orang itu jika berani menyentuh adikku." Kecam Lucas. Di dalam hati ia tertawa geli, sepertinya ia sedang mengancam dirinya sendiri saat ini. Ah, sejak kapan dia pandai berakting seperti ini?


Marvel menatap Lucas lekat. "Ikut denganku, Luc."


Lucas tidak membantah, ia mengikuti jejak sepupunya itu. Keduanya pun melangkah pasti menuju kamar Marvel. Sebelum bicara, Marvel mengunci pintu lebih dulu. Sedangkan Lucas langsung duduk di sofa empuk.


"Di mana kau sembunyikan adikku?" Geram Marvel menarik kerah jaket Lucas.


Lucas menghela napas berat. "Jika aku yang menculiknya? Aku tidak mungkin di sini."


"Cih, jangan membodohiku. Aku tahu Eveline ada bersamamu. Semalaman kau tidak ada."


Lucas menepis tangan Marvel dari jaketnya. "Aku menyelesaikan taruhan tadi malam. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja pada kembaranmu. Aku bersamanya malam tadi."


Marvel mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak akan mengampunimu jika benar kau menyembunyikan adikku." Kecamnya.


"Dari pada kita berdebat, lebih baik kita cari keberadaan adikmu. Bagaimana jika ini perbuatan kekasihnya?" Lucas tersenyum miring.


"Aku sudah memastikan, dia bukan pelakunya. Justru aku curiga padamu. Jangan kau pikir aku tidak tahu kau begitu menginginkannya, Luc. Sebaiknya kau lupakan anganmu itu, kalian tidak akan pernah bisa bersatu." Setelah mengatakan itu Marvel pun langsung meninggalkan Lucas di kamarnya.


Lucas tersenyum miring. "Kau benar, mungkin aku dengannya tidak akan bisa bersatu jika saja aku berdiam diri. Tapi aku tidak akan membiarkan dia dimiliki orang lain. Dia hanya milikku."


Di apartemen mewah milik Lucas. Eveline baru saja bangun dari tidurnya di siang. Gadis itu menggeliat kecil, tetapi detik berikutnya ia langsung beringsut bangun. Ia baru ingat jika dirinya masih dalam kukungan Lucas.


"Di mana dia?" Eveline bergegas bangun dari tempat tidur. Mencari keberadaan Lucas. Ia bernapas lega karena lelaki itu tidak ada di sana. Itu artinya ia bisa keluar dari sana.


Eveline langsung berlari ke arah pintu. Namun, sayangnya pintu itu terkunci rapat. "Sialan kau, Luc."


Tidak kehabisan akal, Eveline kembali berlari ke arah pintu balkon. Beruntung pintu itu tidak terkunci. Ia pun bergegas keluar.


"OMG!" Ia memekik kaget karena baru menyadari jika dirinya berada di lantai tertinggi. Ia tidak mungkin bisa keluar lewat balkon, andai saja ia nekat turun lewat sana. Bisa saja dirinya mati seketika jika sedikit saja terpeleset. Ah... kepalanya pusing sekarang. Ditambah Eveline phobia ketinggian. Cepat-cepat ia mundur beberapa langkah.


Eveline menggeram kesal. Ternyata Lucas tidak sebodoh yang ia pikirkan. "Sialan kau, Luc. Jadi kau sengaja ingin mengurungku di sini?"


Gadis itu mulai frustasi dan kembali ke ranjang. Satu-satunya cara yaitu menunggu Lucas. Ia harus menggunkaan cara halus agar bisa keluar dari penjara sialan ini.

__ADS_1


__ADS_2