
Gadis itu membawa Eveline ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Kemudian meminta Eveline duduk di atas pembaringan. "Minum dulu," gadis cantik itu memberikan Eveline air putih, dan dengan tangan gemetar Eveline menerimanya.
"Terima kasih," ucap Eveline yang sejak awal sudah mengenal gadis itu. Si cantik itu pun mengangguk dan terus memperhatikannya.
"Kenapa kau datang ke sini huh?" Tanyanya terlihat kesal.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku sudah ada di sini." Jawab Eveline apa adanya.
Gadis itu m*nd*s*h kecil. "Seharusnya kau tidak boleh ada di sini. Mereka...." entah kenapa perkataan gadis itu tertahan. "Ah, maksudku kau tidak boleh terlalu lama di sini."
"Aku juga tidak mau di sini. Dan tadi, kenapa Summer bisa sekasar itu? Selama aku berpacaran dengannya aku tidak pernah melihatnya seperti itu, Claire."
Gadis bernama Claire itu pun memejamkan matanya sekilas. "Kau belum mengenalnya. Sebaiknya kau pergi dari sini secepatnya."
Eveline semakin di buat bingung.
Claire merupakan adik tiri Summer. Baik Eveline dan Claire sudah saling mengenal karena Summer pernah mempertemukan mereka beberapa kali.
"Kakakku punya penyakit bipolar." Ungakapnya. "Begitu pun dengan Mommy, jangan tanyakan penyebabnya apa. Kau akan tahu jawabannya dari keluargamu."
"Ya Tuhan, kenapa kalian membuatku pusing. Mommymu, Summer dan kau terus bicara hal yang berbeda." Kepala Eveline semakin dibuat pusing oleh mereka.
"Terserah kau akan percaya pada siapa. Aku hanya meminta satu padamu, pergilah secepat mungkin."
"Bagaimana caranya aku pergi?" Geram Eveline.
Claire menggigit ujung kukunya. Kemudian ia berlari ke arah jendela dan sedikit mengintip ke luar dari celah gorden. "Malam ini penjagaan begitu ketat. Daddyku sedang tidak ada, karena itu aku tidak bisa leluasa. Jika saja Daddy ada, kau pasti bisa keluar dengan cepat. Daddyku sedang ke luar kota selama sebulan, jadi mansion ini Mommyku yang menguasai." Jelasnya panjang lebar.
"Untuk sementara, jangan keluar dari sini. Karena mereka tidak akan berani masuk ke kamarku." Imbuhnya.
Eveline memijat batang hidungnya pelan. "Kepalaku sangat sakit, apa kau punya obat pereda nyeri?"
Claire menatap Eveline lekat. "Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka, Eve. Mereka bilang kau sedang hamil."
Deg!
Jantung Eveline seakan berhenti berdetak seketika. Tubuhnya seperti tersambar petir mendengar kabar itu.
"Hamil?"
Claire mengangguk. "Ya, dokter yang mengatakan itu."
Tubuh Eveline mendadak lemas. "Aku hamil? Ya Tuhan." Ia menjambak rambutnya dengan kasar.
"Eve, apa itu anak Summer?"
Eveline menggeleng. Claire mengerut bingung. "Lalu, jika bukan anak Summer, siapa yang menghamilimu? Kau selingkuh?"
Eveline menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku tidak selingkuh."
Claire menarik kedua bahu Eveline. "Lalu itu anak siapa?"
"Lucas."
"Lucas? Siapa dia?"
__ADS_1
"Sepupuku."
"Apa?" Pekik Claire yang langsung menutup mulutnya. "Maafkan aku."
Keduanya terdiam untuk beberapa saat.
"Pantas Summer bersikap kasar padamu." Gumam Claire.
Eveline bersandar di kepala ranjang, kemudian tangannya bergerak di perutnya yang masih rata.
Jadi benih Lucas benar-benar tumbuh di dalam sini. Ya Tuhan, apa yang akan Daddy lakukan jika tahu hal ini. Apa mereka akan membunuhku dan Lucas?
"Eve."
Eveline tersentak. "Ya?"
"Kau lapar?"
Eveline menggeleng.
Claire menghela napas berat. "Ingat, Eve. Jangan pernah menyentuh makanan apa pun yang Summer dan Mommyku berikan. Sudah pasti mereka akan membunuh anak itu. Atau... kau juga berniat melenyapkannya?"
Eveline terkejut mendengar itu dan langsung memeluk perutnya sendiri. "Aku tidak sejahat itu. Dia sama sekali tidak berdosa."
Claire tersenyum lega. "Aku pikir kau punya pemikiran bodoh itu, Eve. Aku sangat menyukai anak kecil, jadi aku agak takut kau punya pemikiran itu."
Eveline menggeleng. "Apa pun yang terjadi aku tidak mungkin melenyapkan anakku sendiri. Meski nyawaku yang menjadi taruhannya."
"Aku percaya padamu." Claire menggenggam tangan Eveline. "Aku senang punya teman bicara seperti ini. Selama ini hidupku kesepian. Daddy selalu sibuk bekerja dan kau tahu mereka itu gila. Meski kadang Summer baik dan mengajakku keluar. Tapi saat penyakitnya kambuh aku terpaksa diam di kamar."
Eveline menatap gadis itu lamat-lamat. "Apa Daddymu tahu soal ini?"
"Ada apa?"
"Mungkin ini akan menyakitimu, Eve. Tapi kau harus tahu sebelum terlambat."
"Katakan."
"Summer sering melecehkan para pelayan di sini. Bahkan ada beberapa dari mereka yang hamil, tapi Summer selalu berhasil melenyapkan bayi itu sebelum lahir."
Eveline terkejut dan menutup mulutnya tak percaya. "Itu tidak mungkin, Summer selalu bersikap baik padaku."
"Itu karena dia mencintaimu. Dia memang agak berubah setelah bertemu denganmu. Tapi... akhir-akhir ini Summer kembali kambuh dan memperkosa tiga pelayan muda di sini. Sekarang tiga gadis malang itu harus dirawat di rumah sakit."
"Lalu bagaimana dengan Daddymu? Apa dia diam saja?"
"Daddy sangat menyayangi Summer, karena dia sangat mendambakan anak laki-laki. Dia selalu melindungi Summer. Bahkan Daddy sudah mendatangkan dokter khusus. Tapi sampai sekarang tidak ada perubahan."
Eveline tampak berpikir keras. "Aku tidak percaya ini Claire."
"Itu terserah padamu."
"Aku lelah, biarkan aku tidur."
"Hm." Claire menyetujuinya. Lalu Eveline pun berbaring dan dengan sigap Claire menyelimutinya. Tanpa di duga gadis itu ikut berbaring dan memeluk Eveline dengan erat. "Besok aku akan membawamu pergi dari sini, Eve. Aku sangat menyayangimu, kau sudah seperti Kakakku."
__ADS_1
Eveline mengusap kepala Claire. "Apa selama ini kau ketakutan?"
"Hm, tapi aku menutupinya. Daddy tidak sepenuhnya menyayangiku, dia tidak pernah menginginkan kehadiranku. Yang dia inginkan itu hanya anak laki-laki. Tapi... meski begitu aku tahu masih ada rasa kasih sayang dalam dirinya. Buktinya aku masih hidup sampai detik ini. Eve, bolehkah aku ikut bersamamu?"
"Dan kau akan meninggalkan Daddymu?"
Claire terdiam sejenak. "Mungkin dia tidak akan kehilanganku meski aku lari sekali pun. Sejak ada Summer kasih sayang Daddy lebih condong padanya. Kadang aku merasa iri, Eve. Aku anak kandungnya, tapi Summer yang mendapatkan kasih sayang itu. Aku kesepian setiap detik. Kadang aku berpikir untuk bunuh diri dan menyusul Ibuku, tapi... aku masih ingat Tuhan. Dia menciptakan aku pasti ada tujuannya bukan?"
Eveline mengangguk dengan tangan terus mengusap rambut Claire. Hanya saja ia tidak menanggapinya karena sudah sangat mengantuk. Dan tanpa sadar keduanya pun tertidur dalam posisi berpelukan layaknya adik dan kakak.
****
Pagi hari, baik Eveline dan Claire mulai menyusun rencana untuk kabur.
"Kita keluar tepat pukul delapan. Mommy pasti belum tidur dan Summer akan sibuk dengan binatang peliharaanya di belakang."
Eveline mengangguk sambil memakai pakaian olah raga. Karena mereka akan mengelabui para penjaga dengan berlari kecil di sekitaran mansion.
"Kau siap?"
Lagi-lagi Eveline mengangguk.
"Kita harus terlihat santai dan seceria mungkin. Ayo." Claire membuka pintu kamarnya perlahan. Lalu keduanya pun keluar sambil mengobrol ceria.
Claire tertawa renyah seakan mereka benar-benar ingin berolahraga pagi. "Aku senang sekali, pagi ini terlihat cerah dan kita bisa lari bersama."
"Ya, kau sering lari pagi?"
"Tentu, ini rutinitasku."
"Maaf, Nona. Tuan muda melarang kalian keluar dari mansion." Sergah dua orang penjaga.
"Hey, aku dan Kakak ipar hanya ingin berlari pagi. Seperti tidak pernah lihat aku lari pagi saja. Apa jangan-jangan...." Claire mendekati pria tegap itu dan menempel di dadanya. "Kalian ingin ikut denganku? Ayolah, kalian bisa mengawal kami di belakang. Kalian sangat tampan." Rayunya. Eveline sempat terkejut melihat keberanian Claire. Bagaimana jika dua pria itu benar-benar menyerangnya?
Tubuh kedua lelaki itu menengang saat jemari Claire bermain di dada mereka.
"Maaf, Nona. Tapi ini perintah." Ujar salah satu dari mereka.
Claire memasang wajah memelas, dan itu terlihat sangat imut. "Jangan lupa aku juga pemilik mansion ini, bahkan kau mengenalku lebih dulu, tampan." Claire masih berusaha menggoda mereka dengan terus memainkan jari telunjuknya di dada lelaki itu. "Hiks, tubuhku terasa kaku karena terus di kamar. Apa mungkin kita olahraga bersama? Kita bermain di toilet belakang bagaimana?"
Kedua penjaga itu saling memandang. Sepertinya mereka tergiur.
"Anda serius, Nona?"
Claire mengangguk seraya mengerlingkan matanya pada Eveline, memintanya untuk segera lari ke luar. Sedangkan dirinya akan terus mengalihkan perhatian dua penjaga itu.
Eveline yang mengerti pun langsung berlari keluar. Sedangkan Claire membawa keduanya ke toliet belakang.
Sesampainya di toliet belakang. Dua lelaki itu saling memandang, lalu keduanya mengangguk dan langsung mendorong Claire. "Kyaaaa!"
Dengan gerak cepat mereka mengunci Claire dari luar. "Maaf, Nona. Kami harus melakukan ini. Ini demi kebaikan Anda."
"Brengsek kalian, aku akan membunuh kalian, lihat saja." Teriak Claire dari dalam sana seraya menggedor pintu dengan kasar. Dan kedua penjaga itu langsung meninggalkannya.
Sedangkan di depan sana, Eveline terus berusaha lari dan hampir sampai di depan gerbang. Namun, tiba-tiba dua ekor anjing berukuran besar menghadangnya. Tentu saja Eveline langsung menahan langkahnya apa lagi anjing besar itu mulai menggeram dan kapan saja siap memangsanya.
__ADS_1
Apa ini akhir hidupku? Dimangsa dua ekor anjing gila? Ya Tuhan, kematian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Mommy, Daddy, maafkan semua kesalahanku.
Tbc....