Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 42


__ADS_3

Sabrina menatap pantulan dirinya di cermin. Lalu bibirnya berkedut dan perlahan membentuk lengkungan sabit. Dress wedding putih gading mewah kini sudah melekat indah di tubuh rampingnya. Ya, saat ini ia tengah mencoba gaun pengantin yang akan ia pakai untuk resepsi minggu depan.


Bayangan Arez muncul di balik cermin. Menatap pantulan istrinya yang terlihat sangat cantik. Padahal ia hanya mengenakan gaun itu tanpa polesan. Namun wanita itu benar-benar cantik. Ditambah surai coklatnya yang tergerai indah membuatnya semakin menawan.


Sabrina berbalik dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya. "Apa aku cantik dengan gaun ini?"


Arez terdiam untuk beberapa saat. Meneliti penampilan istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki seolah tengah melakukan penilaian.


"Biasa saja." Jawab Arez kemudian. Senyuman di bibir Sabrina pun perlahan mengendur.


"Tapi aku menyukai gaun ini," lirih Sabrina memperhatikan gaun yang masih melekat ditubuhnya. Gaun itu benar-benar pas ditubuhnya, seakan memang dibuat khusus untuknya.


"Kau memang harus menyukainya, gaun itu di buat khusus untukmu. Aku meminta langsung pada perancang terkenal di Prancis untuk membuatnya. Jika aku tidak menyukainya, aku akan meminta dia membuatkan yang baru untukmu."


"Hah?" Sabrina terkejut mendengar itu. "Perancang dari Prancis?"


"Ya."


"Al, apa ini tidak berlebihan? Aku... aku merasa tak layak memakainya." Sabrina kembali berbalik ke arah cermin. Menatap pantulan dirinya di sana. Namun gaun itu benar-benar memikat hatinya.


"Jangan lupa kau itu istriku, Sabrina. Kau layak memakainya. Kau harus terbiasa dengan itu."


Sabrina berbalik, menatap wajah suaminya lamat-lamat. "Apa Daddyku akan hadir, Al? Aku... aku sangat berharap dia hadir dan melihatku bahagia."


"Jangan terlalu berharap." Jawab Arez sekenanya.


Sabrina menghela napas panjang dan merasa kecewa dengan jawaban suaminya. "Kau benar, Al. Tak seharusnya aku berharap sesuatu yang tak mungkin bisa aku gapai."


"Aku lapar, ganti pakaianmu segera." Titah Arez mengusap pipi mulus Sabrina. Wanita itu pun mengangguk pasrah. Lalu bergerak menuju ruang ganti.


Setelah berganti pakaian kembali, Sabrina pun menghampiri Arez.


"Ayok." Ajaknya seraya mengaitkan tangannya di lengan Arez. Dan keduanya pun segera meninggalkan ruangan itu.


"Kak." Sapa seseorang yang berhasil menarik perhatian Arez dan Sabrina.


"Xella." Balas Arez saat melihat keberadaan adiknya dan... Jarvis tentunya. Sepertinya pasangan itu baru keluar dari ruangan khusus yang berhadapan dengan ruangan di mana Arez dan Sabrina keluar.


"Hey, kalian di sini juga?" Tanya Sabrina menatap Alexella dan Jarvis bergantian.


"Ya." Jawab Alexella dingin. Sedangkan Jarvis masih setia menatap Sabrina. Sedangkan yang di tatap terus tersenyum lebar.


Alexella yang melihat Jarvis tengah menatap Sabrina pun mencubit perut lelaki itu. Membuat sang empu meringis tertahan.


"Hay, aku Sabrina." Sabrina mengulurkan tangannya pada Jarvis. Baru saja Jarvis ingin membalas uluran tangan wanita itu, Alexella langsung menariknya.


"Jarvis, my husband." Sahut Alexella menatap Sabrina dingin.


"Owh, dia tampan. Kalian sangat serasi, seperti pasangan dewa dewi." Ujar Sabrina semakin mengeratkan rengkuhannya di lengan Arez.


"Thank you, my sister-in-law." Ucap Jarvis tersenyum nakal.


"Berhenti menatapnya, Jarvis." Geram Alexella yang langsung menarik Jarvis pergi dari sana. Tentu saja Sabrina merasa heran.


"Al, sepertinya adikmu itu belum sepenuhnya menerimaku." Sabrina menatap suaminya.


"Jangan menanggapinya." Sahut Arez.


Sabrina mengangguk. "Ayok, aku juga sangat lapar." Ajaknya.


"Dalam kepalamu hanya ada makanan." Ledek Arez yang sudah tahu akal istrinya itu.


"Hm... tanpa makanan kita tak akan bisa hidup." Sahut Sabrina. Arez mendengus kesal dan langsung membawa Sabrina beranjak dari sana.

__ADS_1


Sesampainya di restoran, keduanya lagi-lagi dikejutkan dengan sepasang kekasih yang baru saja mereka temui tadi.


"Al, adikmu juga ada di sini." Bisik Sabrian menatap Alexella dan Jarvis yang duduk di sebuah meja dekat jendela.


"Abaikan mereka."


"Okay." Mereka pun memilih duduk di meja pojok dan lumayan jauh dari pengunjung lainnya. "Kenapa kita memilih meja ini, Al?"


"Aku tak suka berdekatan dengan mereka. Menganggu telingaku." Jawab Arez sekenanya.


"Aku rasa kau benar-benar intovert, Al."


"Mungkin."


Tak lama seorang waiter pun menghampiri meja mereka.


"Ck, beruntung kau tampan. Al, kau mau makan apa?" Tanya Sabrina melihat buku menu.


"Fettuccini and orange juice," jawab Arez sambil menatap wajah istrinya.


*"Aku ingin bratwurst, kartoffelsalat,* dan minumnya strawberry juice." Pinta Sabarina memberikan senyuman ramah pada sang waiter.


"Apa ada lagi?"


"Serendipity 3 chocolate satu." Sahut Arez yang berhasil Sabrina kaget setengah mati.


"Al, apa kau yakin memesan dissert dengan harga fantasis itu?" Bisik Sabrina menatap Arez nyaris tak percaya. Namun lelaki itu tak menanggapinya.


"Sudah cukup." Arez memberikan isyarat pada waiter itu untuk segera pergi. Dan lelaki berusia dua puluhan itu bergegas pergi dari sana.


"Al, aku merasa kasihan pada uang sebanyak itu hanya untuk sebuah dessert. Kau bisa menggunakannya untuk santunan anak yatim atau membangun yayasan yang lebih bermanfaat." Protes Sabrina panjang lebar.


"Berhenti bicara, aku sedang lapar dan jangan sampai aku memakanmu di sini." Ancam Arez menatap Sabrina malas. Ocehan wanita itu benar-benar membuatnya pusing.


Arez membulatkan matanya saat mendengar nama itu. "Sabrina." Arez memberikan peringatan pada istri keras kepalanya itu. Sedangkan si empu malah tertawa renyah.


"Ck, padahal aku ingin menghibur dan membuatmu tertawa, Al. Aku pensaran seperti apa suara tawamu." Sabrina menopang dagu dengan kedua tangannya. Menatap Arez dengan tatapan memuja. Sedangkan yang ditatap sama sekali tak merespons.


"Al, malam ini kita menginap di apartemenku boleh tidak? Aku rindu Mommy. Banyak yang ingin aku ceritakan padanya. Boleh kan?"


"Hm." Jawab Arez mengangguk pelan.


"Thank you, My hubby." Ucap Sabrina terlihat bahagia.


"Kapan kuliahmu selesai?"


Seketika senyuman di wajah Sabrina pun memudar. Dan wanita itu pun tampak menghela napas berat. "Aku tidak tahu, Al. Pembimbingku terus mengulur waktu, bahkan sudah hampir lima kali aku mengulang tulisanku. Aku sendiri tidak tahu apa salahku, padahal aku sudah mengikuti semua sarannya."


Arez menatap wanitanya lamat-lamat. "Berikan nomor ponselnya padaku." Pinta Arez yang berhasil membuat Sabrina kaget.


"Eh, untuk apa, Al?"


"Memberinya pelajaran, mempersulit seorang mahasiswa itu sikap tak bermoral. Seperti tidak pernah jadi mahasiswa saja." Omel Arez yang mengundang senyuman di bibir istrinya.


"Tidak perlu, Al. Aku akan memperbaiki tulisanku, mungkin kali ini tulisanku diterima. Bukankah hidup itu butuh perjuangan? Aku akan terus berjuang sebisaku, tapi jika tidak bisa juga. Aku akan meminta bantuanmu." Sabrina menggenggam tangan suaminya.


"Kau yakin?"


"Ya, aku selalu yakin pada hatiku. Sama halnya untuk terus mempercayaimu, Al. Hatiku berkata, suatu saat nanti kau akan mencintaiku. Aku akan menunggu hari itu benar-benar terjadi." Wanita itu menempelkan tangan Arez di pipinya.


"Bagaimana jika aku tak bisa mencintaimu?"


Sabrina terdiam sejenak. "Aku akan mundur." Jawabnya dengan enteng.

__ADS_1


"Semudah itu?"


"Hm. Aku tidak suka memaksa seseorang." Jawab wanita itu lagi tanpa beban.


Selang beberapa saat pesanan mereka pun sampai. Keduanya pun segera menyantap hidangan dengan tenang.


****


"Ah, rindunya." Seru Sabrina setelah menjatuhkan diri di atas ranjang kesayangannya. Sedangkan sang suami tengah melihat berbagai lukisan yang terpajang di sana. Ya, saat ini mereka sudah berada kamar Sabrina karena malam ini mereka akan menghabiskan waktu di sana.


Sabrina bangun dari posisinya, kemudian ikut berdiri di sisi sang suami. "Sejak lama aku menyukai karyamu, Mr. A. Hampir seluruh kamarku di penuhi karyamu."


Arez menoleh, memperhatikan wajah istrinya yang berseri-seri. "Sejak kapan?"


Sabrina juga menoleh, dan pandangan keduanya saling terkunci satu sama lain.


"Sejak pertama kali aku menginjakkan kaki ke Berlin. Aku tidak sengaja tersesat di galerimu dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada tempat itu. Sejak saat itu setiap weekend aku akan datang ke sana, lalu membeli beberapa karyamu yang menurutku bekesan. Kau sangat pandai menuangkan ekspresimu di kanvas, Al. Sekarang aku mengerti, kau tidak pandai mengutarakan perasaanmu secara langsung pada orang-orang. Tapi kau menuangkan hatimu di dalam semua lukisan. Mungkin dengan lukisan ini aku bisa memahami seperti apa dirimu, Al."


Arez tertegun mendengar penjelasan panjang lebar istirnya.


"Sejak kapan kau bisa melukis?" Tanya Sabrina meski ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu.


"Sejak lahir."


Sabrina tertaw renyah. "Apa kau alien yang bisa melakukan segala hal sebelum belajar?"


"Mungkin."


"Ck, aku benci jawabanmu itu, Al."


"Ya."


Sabrina mendengus kesal mendengar itu. "Oh iya, aku suka melukis sejak sekolah menengah. Awalnya aku hanya suka melihat karya-karya seniman ternama, kemudian aku ingin mencoba menuangkan pikiranku lewat kanvas. Lalu aku kecanduan dan terus memperdalamnya. Ya, dengan lukisan itu juga aku bisa membeli beberapa barang yang aku inginkan dengan uang hasil jerih payahku sendiri." Jelasnya tanpa Arez minta.


"Kerja sama kita akan terus berjalan, kau akan mengisi setengah galeriku. Banyak yang meminati karyamu."


"Termasuk dirimu huh?"


"Ya."


Keduanya terdiam beberapa saat.


"Oh iya, Al. Aku lupa memperkenalkanmu pada Mommyku. Kemari." Sabrian menarik tangan Arez dan membawanya ke depan potret besar wanita cantik yang tengah tersenyum manis.


"My Mom, cantik kan?" Sabrina tersenyum manis seraya menatap wajah berseri sang Mommy yang terbingkai di dinding.


"Hm."


"Hy, Mom. Kali ini aku membawa seseorang yang begitu spesial ke hadapanmu. Dia suamiku, Mom. Bagaimana, tampan kan? Aku tahu, kau juga menyukainya kan? Aku juga begitu, Mom. Meski dia ini selalu bersikap dingin dan kasar, tapi dia sangat baik, Mom. I love him, tolong rerstui hubungan kami."


Arez benar-benar membisu mendengar celotehan istrinya yang seolah tengah bicara pada makhluk hidup.


"Al, perkenalkan dirimu pada Mommyku." Pinta Sabrina seraya merangkul tangannya. Arez menatap istrinya bingung.


"Katakan saja apa yang ingin kau katakan padanya, dia pasti mendengarmu di surga."


Arez menatap foto itu dengan seksama. Lalu berdeham kecil sebelum bicara. "Kau hebat, karena sudah melahirkan wanita secerewet ini. Tapi dia tidak buruk juga, dan lumayan lincah di atas ranjang juga sangat memuaskan."


"Al! Pekik Sabrina kaget mendengar ucapan nakal suaminya. "Apa yang kau katakan huh?"


"Apa yang ingin aku katakan."


"Al! I hate you." Kesal Sabrina.

__ADS_1


"But i want you now." Sahut Arez yang berhasil membuat Sabrina melotot. Dan sedetik kemudian tubuhnya melayang di udara karena Arez menggendongnya. Tentu saja mereka kembali menghabiskan malam yang panjang.


__ADS_2