Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (24)


__ADS_3

Greb!


Marvel berhasil meraih tangan Claire. Sontak gadis itu berbalik dan tampak kaget saat melihat wajah mengerikan Marvel.


Bruk!


Dengan sekali dorongan punggung Claire membentur dinding rumah sakit. "Hey, apa yang kau lakukan?" Pekiknya sambil merintih pelan.


Marvel mencengkram erat rahang gadis itu. "Dengar, jangan coba-coba menganggu keluargaku. Kau pikir aku tidak tahu kau punya nita buruk, huh?"


Dahi Claire mengerut. "Apa maksudmu? Aku tidak berniat mengganggu keluargamu?"


Marvel mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukan sebuah id asing yang menerobos masuk di perusahaannya. "Ini akun milikmu kan?"


Claire m*nd*s*h pelan. "Ya, itu memang milikku, tapi...."


"Apa tujuanmu?" Sela Marvel dengan kilatan amarah di matanya. "Katakan!"


"Aku mencari tahu tentang saudaramu, aku tertarik padanya." Jawab Claire dengan cepat karena takut dengan lelaki dihadapannya saat ini.


Marvel tertawa getir. "Tertarik pada saudaraku huh? Kau pikir aku bodoh!"


Claire memejamkan matanya. "Aku tidak bohong. Aku mencari tahu soal saudramu. Aku kesulitan mencari data pribadinya. Jadi aku mencurinya dari perusahaan kalian. Lagi pula kalian tidak kehilangan apa pun kan?"


Marvel mengeratkan cengraman tanganya di rahang Claire. "Ingat! Jika ku berani mengusik keluargaku. Aku tidak akan segan mencabik wajahmu."


"Ya, lakukan itu. Tapi lepaskan aku, ini sakit."


Marvel melepaskannya dengan kasar. "Pergilah, jangan pernah temui keluargaku lagi."


Claire menjauh dari lelaki itu. "Tentu saja. Aku akan kembali." Gadis itu menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi.


"Sial!" Umpat Marvel merasa di permainkan oleh gadis itu.


Lalu terdengar suara tawa Melvin. Spontan Marvel pun menoleh. "Ya ampun, jadi sekarang kau kalah oleh bocah ingusan?" Ledeknya.


Marvel tidak menggubrisnya dan langsung pergi.


"Hah, aku rasa dia menarik juga. Not bad. Aku punya mainan baru." Gumam Melvin yang kemudian bersenandung ria. Lalu bersiul saat melihat wanita cantik untuk menggodanya. Ya, hanya sebatas menggoda saja tidak lebih.


Di pelataran rumah sakit, Claire terus menggerutu dan sesekali mengelus rahangnya yang sedikit kram karena ulah Marvel tadi. "Ck, kenapa sulit sekali masuk dalam keluarga mereka? Aku kan ingin juga punya keluarga sempurna. Hah, bantu aku Tuhan."


Claire menunduk lesu sambil terus berjalan. Karena tidak terlalu memperhatikan jalan, tubuh ramping itu menubruk seseorang.


"Eh? Sorry." Claire mendongak.


"Ah, aku juga minta maaf." Ucap lelaki itu dengan tulus.


Claire tersenyum. Dan itu berhasil membuat lelaki itu terpana.


"Sekali lagi aku minta maaf, Tuan." Ucap Claire menangkup kedua tangannya.


"Ya, tidak apa-apa."


"Kalau begitu aku pergi, permisi." Claire pun langsung beranjak pergi dari sana.


Namun, lelaki itu masih berdiri di posisinya dengan senyuman penuh arti. "Manis sekali. Ah... kenapa aku tidak bertanya namanya tadi?"


Tidak lama dari itu dua wanita cantik menghampirinya. Mereka tak lain adalah Lea dan Violet. Dan lelaki itu adalah Gabriel.


"Kau masih di sini?" Tanya Violet.

__ADS_1


"Ya, tadi aku bertemu dengan gadis manis." Jawab Gabriel tersenyum manis.


"Haish... kau ini tidak bisa melihat gadis cantik sedikit saja. Ayo, tujuan kita ke sini untuk menjenguk Lucas. Bukan mencari jodoh." Lea menarik sang Kakak masuk ke dalam. Dan Gabriel kembali menoleh ke belakang sambil tersenyum.


Sesampainya di depan ruang rawat Lucas. Ketiganya langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Seketika mata mereka membulat saat melihat adegan panas di depan matanya. Di mana Eveline dan Lucas sedang berciuman panas dan tidak menyadari kehadiran mereka.


"Eve!" Pekik Lea kaget dengan apa yang mereka lakukan. Sedangkan Violet dan Gabriel cuma bisa ternganga.


Evelien dan Lucas menghentikan kegiatan mereka dan menoleh ke arah pintu. Lucas mendengus sebal saat melihat kehadiran mereka.


Menganggu kesenangan saja.


Lea melangkah lebar mendekati brankar yang disusul oleh Violet dan Gabriel. Lalu meletakkan buah tangan mereka di atas nakas. "Jelaskan!"


Eveline menggigit ujung bibirnya sambil melirik Lucas. Sebagai keturuan yang paling muda, Eveline tidak berani menatap ketiganya.


"Kami akan menikah." Ungkap Lucas.


"Apa?" Seru ketiganya kompak.


Lucas memutar bola matanya malas. "Kalian tahu sejak awal hubungan kami, tidak perlu kaget."


"Eve, kau yakin akan menikah dengan si brengsek ini?" Tanya Violet kelihatan bingung. "Bukankah kau tidak pernah mencintainya?"


Eveline menatap mereka bertiga secara bergantian. "Aku mencintainya."


Mulut Lea dan Violet terbuka lebar. Sedangkan Gabriel tertawa renyah.


"Ya ampun, jadi selama ini kau mengelabui kami, Eve?" Violet mencubit lengan Eveline. "Menyebalkan."


"Hah, syukurlah jika cinta kalian tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi... bagaimana cara kalian meminta restu grandma? Kalian tahu kan kondisinya sedang memburuk."


Lagi-lagi ungkapan Lucas berhasil membuat mereka memekik kaget.


"Sial!" Umpat Gabriel. "Aku yang paling tua dan kau yang lebih dulu punya anak, Eve? Arghh... sial sial sial. Aku kalah telak."


Lucas tersenyum tipis. "Maka dari itu kau harus segera menikah. Kau sudah tua, Gab."


"Ya, kau benar, Luc. Sepertinya aku harus segera menikahi gadis manis itu."


"Gadis manis?" Tanya Eveline penasaran.


"Ck, jangan dengarkan dia. Tadi dia bertemu seorang gadis di depan. Seprtinya dia sudah frustasi menjadi jomblo ngenes. Jadi dia akan menikahi semua gadis yang ditemuinya." Jelas Lea.


Sontak Eveline pun tertawa kecil. "Lucu sekali. Tapi... bukankah Aunty menjodohkanmu dengan seseorang?"


Wajah Gabriel langsung berubah masam. "Aku tidak menyukainya, dia gadis kuno. Bahkan tidak mau aku sentuh."


"Hey, dia itu gadis baik. Wajar dia itu tidak mau disentuh. Kau kan brengsek." Cibir sang adik, Lea.


"Kalau begitu kau juga menikah sana dengan lelaki sok alim itu. Lelaki pilihan grandammu itu." Balas Gabriel.


"Iwh... lebih baik aku menjomblo dari pada menikah dengannya. Lagian aku sudah punya kekasih."


"Hah, jadi di sini aku yang masih jomblo? Nasib, andai Daddy tidak memata-mataiku. Mungkin aku sudah punya kekasih sekarang. Menyebalkan."


"Wajar. Kau kan anak semata wayangnya. Aku akan melakukan hal yang sama jika anakku perempuan kelak." Lucas mengelus perut Eveline.


"Tapi aku ingin tahu rasanya bercinta. Ayolah, kalian sudah pernah mencobanya. Tapi tidak denganku." Keluh Violet memasang wajah sedih.


"Kau bisa belajar denganku, Vi. Aku siap lahir batin." Gabriel bergurau. Namun, guarauannya itu justru mendapat cubitan halus dari sang adik.

__ADS_1


"Sudah cukup Eveline dan Lucas yang menghancurkan keturunan kita. Tidak untuk kalian."


"Ishh... lagian aku tidak sudi bekas j*l*ng. Lebih baik aku mencari perjaka sejati." Ketus Violet seraya duduk di ujung brankar.


"Kalian sangat ribut. Jika masih ingin berdebat sebaiknya di luar saja. Biarkan aku dan Eveline istirahat." Ujar Lucas.


"Cih, mana ada orang istirahat malah bertukar saliva. Jika kami tidak datang aku rasa akan terjadi pergulatan panas." Cibir Violet.


"Aku sedang sakit, jadi tidak bisa memasukinya meski aku ingin." Ujar Lucas yang berhasil mendapat pelototan dari Eveline.


"Dasar pasangan gila. Sudah ah, aku keluar dulu." Lea pun langsung beranjak keluar.


"Aku juga harus mencari keberadaan gadis manisku. Lanjutkan pergulatan panas kalian. Good luck." Gabriel pun menyusul sang adik keluar.


"Kau tidak ingin keluar?" Tanya Lucas pada Violet. Gadis itu mendengus sebal. Ia tahu Lucas ingin mengusirnya.


"Aku di sini saja," sahutnya dengan malas. "Luc, kau harus cepat sembuh. Ayo balapan lagi, sejak kau tidak ada di Berlin aku tidak bisa bebas bermain."


"Kasihan." Ledek Lucas.


"Ish... katakan kapan kau akan kembali ke arena? Aku merindukanmu, Luc." Lirih Violet.


"Tidak, dia tidak akan kembali. Aku tidak mengizinkannya." Sahut Eveline.


"Ck, kau ini pelit sekali, Eve. Balapan itu dunianya. Bagaimana bisa kau membatasi dia. Ayolah, kau juga bisa ikut serta."


Lucas tersenyum. "Aku tidak akan kembali, Vi. Setelah menikah aku akan membawanya ke California. Jika kau ingin, kita balapan di sana."


Seketika wajah Violet berbinar. "Beneran? Aku boleh balapan di sana?"


Eveline memutar bola mata dengan malas. "Apa kalian tidak bisa menjauh dari arena kematian huh? Menyebalkan. Terserah kalian. Mati saja sana."


"Eve, balapan adalah bagian dari hidup kami. Kau...."


"Terserah kalian." Sela Eveline yang langsung beranjak dari brankar. Tentu saja Lucas kaget dengan sikap kekasih hatinya itu.


"Eve?"


"Pergilah balapan, bukankah itu bagian dari hidupmu? Maka pergilah dan jangan kembali. Memangnya siapa aku?" Ketus Eveline yang langsung pergi meninggalkan keduanya.


"Loh, ada apa dengannya?" Kaget Violet. Sedangkan Lucas cuma bisa memijat batang hidungnya. "Dia sedang sensitif, Vi."


"Ah, aku lupa itu. Biarkan saja, dia sangat kekanakan." Ketus Violet.


"Dia memang paling kecil di antara kita, Vi. Jangan lupakan itu."


Violet mendengus. Keduanya pun terdiam untuk beberapa saat.


"Apa Dustin tidak ke sini?" Akhirnya Violet kembali bersuara.


"Kau masih mengharapkannya huh?" Tanya Lucas tersenyum miring.


Violet menghela napas berat. "Aku tidak akan menghancurkan harapan Mommy, Luc."


"Apa salahnya kau bicarakan, atau kau sudah punya pilihan lain?"


Violet menatap Lucas. "Aku tidak bisa membuka hati untuk yang lain."


"Tapi Dustin akan bertunangan bulan depan."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2