
"Mas," panggil Sweet. Alex yang sejak tadi pokus dengan gawainya pun menoleh, memberikan tatapan penuh cinta pada sang istri.
Saat ini mereka berada di kamar tamu. Mereka memutuskan untuk menginap, karena waktu sudah hampir larut.
"Terima kasih, kamu sudah membuat mereka bahagia. Aku... aku bingung harus berkata apa lagi? Apa yang sudah kamu lalukan itu terlalu berjasa, Mas."
"Sayang, mereka keluarga kita. Bukankah sudah seharusnya mereka juga bahagia." Alex mengembangkan senyuman tulus.
"Tidak perlu beterima kasih, aku hanya melakukan kewajibanku. Untuk membuatmu bahagia," lanjut Alex.
Sweet tersenyum bahagia. "Aku bahagia, Mas. Terima kasih."
"Sama-sama, Honey."
Mereka pun diam sejenak.
Kemudian Alex mengalihkan pandangan dari Sweet, lalu menatap ketiga anaknya yang tertidur pulas dibagian tengah. Sedangakan posisi Alex dan Sweet tepat di sisi ranjang yang saling bersebrangan.
"Mereka terlihat senang, bermain sampai tidak ingat waktu." Alex mengusap kepala anak-anaknya bergantian.
"Aji membawa mereka ke puncak," ujar Sweet.
"Hm, pantas saja mereka begitu senang saat pulang tadi." Alex tersenyum simpul.
"Kamu sendiri gimana? Seru tidak di kebun?" Tanya Sweet penasaran. Ia tahu betul ini pertama kalinya Alex pergi ke kebun. Siang tadi, Alex memang ikut bersama Pak Ujang ke kebun untuk memanen singkong.
"Not bad, this is my first experience. Dan kamu tahu, beberapa kali aku terjatuh dan terperosok. Kamu lihat sendiri pakaianku tadi kan? Benar-benar tak menujukkan diriku." Sahut Alex dengan nada angkuh.
Sweet memberikan tatapan jengah. "Baru juga kebun, bagaimana kalau main di sawah?"
"Mungkin aku akan tertanam di dalam sawah," jawab Alex asal.
Sweet tersenyum samar saat mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
"Mungkin lain waktu, kita akan memiliki waktu panjang di tempat ini. Untuk saat ini, cukup sampai di sini. Anak-anak juga sudah puas bermain. Besok pagi kita harus bergegas pulang, masih banyak tempat yang harus anak-anak kunjungi."
Sweet mengangguk sebagai jawaban. Keduanya saling mengunci pandangan cukup lama.
"Kamu sangat cantik," puji Alex tanpa mengalihkan tatapan matanya.
"Hentikan itu, cepat tidur supaya besok tidak kesiangan." Sweet menarik selimut hingga sebatas pinggang. Kemudian berbaring seraya memeluk Putranya. Berbeda dengan Alex, matanya masih setia mengawasi Sweet. Ia ikut berbaring menghadap Sweet dan menyanggah kepalanya dengan tangan.
"Tidurlah," perintah Alex. Sweet pun mulai memejamkan matanya.
Setelah melihat istrinya tertidur pulas, Alex bangkit dari ranjang. Berjalan pasti untuk menjauh, dan kemudian membuka pintu balkon. Alex berdiri dan menyanggah tangannya di pagar besi, menatap langit gelap yang ditaburi bintang kecil.
Sesekali terdengar suara helaan napas beratnya. Terlihat jelas ia sedang menyimpan beban yang amat berat. Hingga sebuah sentuhan di perut membuatnya kaget. Sepasang tangan itu kini sudah melingkar sempurna di perutnya yang keras. Alex tersenyum saat menghirup aroma manis istrinya. Alex juga merasakan Sweet menempelkan kepalanya di punggung.
"Apa aku membuatmu terbangun?" Tanya Alex seraya mengusap punggung tangan sang istri.
"Aku memang belum tidur," jawab Sweet seraya melepas pelukannya. Lalu bergerak dan berputar untuk berdiri di depan Alex.
Alex menahan pergelangan tangan Sweet, mengunci dalam-dalam netra coklat itu. "Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur. Aku tahu kamu sangat lelah," ujar Sweet sambil mengusap dada bidang Alex.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Alex meneggelamkan wajahnya di ceruk leher Sweet. Menghirup dalam aroma manis sang istri.
"Ada masalah apa?" Tanya Sweet mengusap rambut Alex dengan lembut.
Alex diam sejenak dalam posisinya. Kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap wajah cantik Sweet.
"Jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang terjadi, berjanji lah." Alex menarik tangan Sweet, lalu mengecupnya penuh kehangatan.
Sweet memperdalam tatapannya. "Katakan apa yang terjadi, apa terjadi sesuatu yang besar?"
Alex mengangguk kecil, "maaf aku tidak mengatakan ini padamu sejak awal."
Sweet memberikan tatapan penuh tanya, penasaran dengan apa yang akan Alex katakan.
__ADS_1
"Sejak saat itu perusahaan sudah diambang kehancuran, kemungkinan aku akan kehilangan semuanya. Banyak insvestor yang menarik saham mereka, karena aku melepaskan bisnis gelap itu tanpa persetujuan mereka. Jika aku benar-benar jatuh, hanya kalian yang aku punya." Jelas Alex.
Awalnya Sweet terkejut, tetapi ia berhasil menormalkan ekpresinya. "Jadi hanya itu yang membuat kamu sebimbang ini?"
Alex langsung memberikan tatapan heran saat mendengar pertanyaan Sweet.
"Dengarkan aku, Mas. Meski kamu jatuh sampai ke dasar pun. Kita tidak akan mati begitu saja kan? Kita bisa membangun usaha baru bersama-sama, Mas. Aku siap membantu, jadi jangan terlalu khawatir tentang hal itu. Percayalah, Allah sudah mengatur rezeki setiap umatnya. Aku tidak akan pergi ke mana-mana, kecuali maut yang menjemputku kelak."
Alex tertegun mendengarnya. Semua perkataan Sweet membuat perasaannya jauh lebih tenang.
"Aku terus memikirkan masa depan anak-anak, aku tidak mau masa depan mereka terancam karena kegagalanku sebagai Ayahnya."
"Mas, percaya sama aku ya? Semuanya akan baik-baik saja, lagian kamu belum benar-benar jatuh. Masih ada harapan untuk bangun lagi, ayo dong semangat. Di mana Alex yang penuh ambisi dulu huh?" Sweet tersenyum seraya mengusap pipi Alex.
Alex benar-benar terpesona dengan sikap bijak istrinya, karena selama ini ia hanya tahu sikap dinginnya saja. Seulas senyuman mengembang dibibir tipis Alex. "Aku juga merasa kehilangan istriku yang dingin, di mana dia sekarang?"
Sweet tersenyum malu, "entahlah."
Alex menarik Sweet dalam pelukan, merasakan kehangatan yang amat dalam. Sweet mendongak, memperhatikan wajah suaminya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Mas, aku lebih suka kamu berewok gini deh. Keliatan lebih keren dan maco," ujar Sweet.
Alex mengecup bibir Sweet gemas, "baik, Nyonya besar."
Sweet tersenyum simpul, lalu memeluk Alex dengan erat. "Aku ngantuk, Mas. Tidur yuk," ajak Sweet.
"Sebentar lagi, sekarang susah cari waktu berdua." Sahut Alex.
"Baru juga tiga sudah mengeluh, katanya mau sepuluh. Jangan harap punya waktu berdua," timpal Sweet.
"Ya sudah, tiga aja sudah cukup. Aku mau kita terus seperti ini," ucap Alex semakin memperdalam pelukannya.
Sweet tidak menanggapinya lagi, tak ingin menyia-nyiakan kehangatan yang Alex berikan. Karena sangat sulit untuk mereka bercengkrama seperti saat ini, trio kurcaci akan selalu mengacaukan kebersamaan mereka.
__ADS_1