
Hari mulai berganti malam, kini kediaman Digantara sudah dipenuhi oleh suara riuh anak cucunya. Suasana rumah pun terasa begitu hangat.
"Lexa, jangan lari-lari." Sweet memperingati putrinya yang sedang bermain bersama yang lain. Mereka terlihat bahagia dan terus berlari ke sana ke mari.
Sweet baru saja keluar dari kamar, dan kini ikut bergabung. Lalu duduk di samping Alex. Sweet menatap Ara dan Arlan yang baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Di sana juga ada Milan, Mala dan sang pemilik rumah, Nissa dan Arnold. Juga Arin dan Dio ikut hadir di sana.
"Sudah lama di sini?" Tanya Sweet pada keduanya. Lalu bergantian menatap Mala dan Milan.
"Baru saja, jalan lumayan macet, Tan." Arlan menjawab dengan ramah.
"Kapan Tante dan Paman kembali ke Jerman?" Tanya Ara dengan senyuman yang mengembang.
"Mungkin minggu depan, biarkan anak-anak mengenal tanah kelahiran Ibunya lebih dulu." Alex melirik Sweet. Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum simpul.
"Itu terlalu singkat, Paman. Kenapa tidak satu atau dua bulan?" Arlan memberi saran. Semua orang mengangguk setuju dengan saran yang Arlan berikan.
"Itu terlalu lama, masih banyak tanggung jawab yang harus Paman tangani di sana." Jawab Alex dengan santai.
"Itu hal mudah, kau masih punya anak buah setiamu itu. Biarkan dia yang mengurusnya," timpal Arnold.
"Dia juga mempunyai kelurga, Kak. Tanggung jawabnya bukan hanya untukku saat ini," sahut Alex. Sweet yang mendengar itu langsung menatap Alex.
"Keluarga?" Tanya Sweet heran. Pasalnya ia belum mendengar apa pun tentang kehidupan baru Joshua.
"Ya, dia menantuku sekarang." Jawab Arnold.
Sweet menatap Arnold dan Alex bergantian. Masih belum dapat mencerna arah pembicaraan mereka.
"Grace?" Tanya Sweet mulai mengerti. Alex mengangguk sebagai jawaban. Sweet seakan tidak percaya dengan apa yang ia ketahui hari ini.
"Bahkan mereka sudah memiliki putra dan putri kecil yang cantik." Kali ini Nissa ikut menimpali.
Sweet tampak kaget, bagaimana mungkin ia melupakan kehidupan sahabatnya saat ini? Sweet juga merasa kesal, karena Alex tidak menceritakan apa pun padanya.
"Di mana mereka saat ini?" Tanya Sweet spontan.
"Mereka masih di tempat yang sama, di mana kamu meninggalkan aku, Honey."
Semua orang tergelak mendengar jawaban Alex. Berbeda dengan Sweet, ia malah terlihat semakin kesal.
"Kamu akan tahu semuanya saat kita pulang nanti," ucap Alex menggenggam tangan Sweet. Namun, Sweet masih belum puas dengan jawaban Alex. Ia ingin segera tahu segala hal yang telah terlewati.
"Tan, kenapa gak minta tinggal di sini aja sih sama Paman? Supaya kita bisa kumpul terus," ujar Arin.
"Nope, jangan memengaruhi Tantemu, Arin. Kami akan tetap kembali minggu depan. Dia sekretaris pribadiku, sudah seharunya ada disampingku setiap saat." Alex menarik pinggang Sweet, untuk menghapus jarak antara mereka.
"Paman, sudah saatnya Paman pensiun dari pekerjaan. Nimati masa tua Paman di sini," bujuk Arin yang lebih mirip ledekkan. Semua orang tertawa geli memdengar perkataan Arin.
"Seharusnya kamu berikan kata-kata itu pada Ayahmu, usianya hampir satu abad. Tapi masih sibuk bekerja ke sana ke mari," sanggah Alex.
"Kamu lihat tiga kurcaci itu. Jika Pamanmu ini berhenti bekerja, siapa yang akan menghidupi mereka, huh?" Lanjut Alex seraya menunjuk ketiga anaknya yang masih bermain.
"Itu gampang, uang yang Paman punya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Pakai saja itu sampai habis." Arin masih saja kekeh ingin membujuk Alex.
__ADS_1
"Kamu terlalu muda untuk memahami, roda terus berputar dan tidak selamanya kita ada di atas."
"Benar itu, lagian mereka juga bisa datang ke sini kapan saja." Timpal Nissa.
"Ya, Mama benar. Kalau bisa kita yang main ke sana." Kali ini Dio ikut menimpali.
"Ck, kamu mah ngomong aja bisanya. Kenyataannya kamu sibuk kerja terus," ucap Arin untuk suaminya.
"Loh, aku kan kerja buat kamu sama Khalif." Sanggah Dio tak ingin kalah dari istrinya. Semua orang yang melihat perdebatan mereka pun terseyum.
"Bi, sepertinya kita juga harus main ke Jerman." Ara ikut menimbrung seraya memberikan tatapan antusias.
"Apa sih yang enggak buat kamu," sahut Arlan.
"Tuh lihat Kak Alan, nurut banget sama istrinya. Ini mah enggak, harus ngambek dulu baru mau." Arin mengerucutkan bibirnya.
"Ok, kita pergi. Tapi uang belanja aku potong lima puluh persen." Ancam Dio tanpa rasa bersalah. Tentu saja hal itu membuat Arin semakin kesal. Sedangkan yang lain terkekeh melihatnya. Kehangatan rumah itu semakin tercipta dengan candaan kecil dan suara tawa. Mereka sangat menikmati momen kebersamaan yang mungkin jarang terjadi. Karena hampir semua penghuni rumah sibuk dengan aktivitas masing-masing.
***
Sweet memberikan tatapan penuh tanda tanya pada Alex. Mereka berdiri di depan sebuah rumah minimalis. Di sebuah kota yang memiliki julukan kota hujan.
"Daddy, itu rumah siapa?" Tanya Alexa yang berada dalam gendongan Alex. Sedangkan Arez dan Arel berdiri di sampingnya. Mereka berdua pun menatap Alex untuk menunggu jawaban.
"Seseorang yang akan kalian panggil nenek atau kakek. Masuklah, Honey. Mereka sedang menunggumu." Alex memberikan senyuman ramah. Namun, Sweet masih terlihat bingung.
"Masuk, kamu akan tahu jawabannya." Lanjut Alex.
Sweet menatap pintu berwarna abu itu dengan tatapan ragu. Sesekali ia melirik kembali ke arah Alex. Lelaki itu mengangguk, meminta Sweet untuk segera masuk.
Terlihat sepasang suami istri berusia setengah abad lebih tengah berdiri. Seakan menunggu kedatangan putri mereka yang telah lama berpisah.
Sweet terdiam cukup lama. Menatap dua orang itu begitu dalam. Detak jantungnya tak dapat ia kontrol lagi. Antara senang, kaget dan haru bergabung menjadi satu.
"Ibu, Bapak." Sweet berlari menghampiri mereka. Memberikan pelukkan rindu dan penuh kehangatan. Air matanya tak dapat terbendung lagi, ia menangis bahagia. Bertemu kembali dengan orang tua asuh adalah impiannya selama ini. Sweet terus mencari keberadaan mereka sejak lama, tetapi ia tidak pernah mendapatkan apa pun. Keberadaan mereka seakan sirna ditelan bumi.
Sweet melerai pelukkannya, menatap kembali wajah orang tuanya yang sudah dipenuhi kerutan halus.
"Ya Allah, putri Bapak sudah besar. Kamu semakin cantik, Nak." Ujar Pak Ujang selaku ayah angkat Sweet. Lebih tepatnya mantan ajudan kedua orang tua Sweet. Lelaki itu mengusap kepala Sweet dengan lembut.
"Maaf, kami gagal melindungi kamu, Nak. Bapak pikir, orang itu mengadopsimu dengan tulus. Bapak cuma mau kamu bahagia," lanjut Pak Ujang.
Ibu Astuti atau kerap di sapa Buk Tuti itu menangis sesegukkan dan kembali memeluk Sweet.
"Bapak maupun Ibu gak salah," ucap Sweet seraya mengusap punggung Buk Tuti.
Lalu, pandangan Pak Ujang pun tertuju pada Alex dan tiga kurcaci yang masih berdiri di depan pintu. Dan menghampiri mereka. Semua itu tak luput dari pengawasan Sweet.
"Masuk dulu, Nak." Ajak Pak Ujang. Tangannya yang bergetar mulai bergerak untuk menyentuh Alexa.
"Mereka cucu Bapak dan Ibu," ucap Sweet.
"Masya Allah, Neng cantik teh saha namina?" Tanya Pak Ujang dengan logat sunda. Lalu mencubit pelan pipi cubby Alexa.
__ADS_1
Gadis mungil itu menatap Alex, ia tidak memahami bahasa Kakeknya. Alex yang notabennya tak memahami bahasa sunda pun melempar pandangan pada Sweet.
"Kakek bertanya, namanya siapa?" Jelas Sweet.
Alexa menatap Pak Ujang lamat-lamat. Lalu menjawab pertanyaan sang Kakek. "Panggil Lexa aja, Kek."
Pak Ujang tertawa renyah dan kembali mencubit pipi Alexa. "Namanya bule ya? Dua jagoan ini siapa namanya?" Pak Ujang menatap Arez dan Arel yang terus bergelayut di kaki Alex.
"Aku Arez, Kek." Jawab Arez menatap wajah Pak Ujang dalam-dalam.
"Arel," jawab Arel malu-malu. Pak Ujang tersenyum ramah.
"Ajak mereka duduk, Pak. Mereka pasti capek. Ibu siapkan minum dulu, atau mau langsung makan?" Tawar Buk Tuti.
Alex pun membawa anak-anaknya duduk di sofa.
"Gak usah repot, Buk. Ana bisa siapkan sendiri, anak-anak juga sudah makan tadi di jalan." Tolak Sweet yang tidak ingin membuat Ibunya repot.
"Kalau cuma minum aja gak akan repot," sahut Buk Tuti. Sweet menghela napas
"Ya sudah, Ana bantu ya?"
"Baiklah, keras kepala kamu itu gak hilang-hilang." Ujar Buk Tuti. Sweet tersenyum mendengarnya. Lalu mereka pun beranjak menuju dapur.
"Di mana Adi sama Aji, Buk?" Tanya Sweet seraya menaruh gelas di atas nampan.
"Adi kerja di pabrik Teh, kalau Aji kuliah."
Sweet terhenyak. "Kuliah?" Tanya Sweet ragu. Pasalnya ia tahu betul kondisi orang tuanya tak memungkinkan untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga kejenjang lebih tinggi. Bahkan Sweet masih penasaran dengan rumah yang mereka tempati saat ini. Rumah yang cukup mewah, sangat jauh dari perkiraan Sweet. Ia tahu, selama dirinya di Jerman. Keluarganya selalu mendapat masalah dan teror.
"Iya, Alhamdulillah ada suami kamu yang baik banget. Dulu, kami pikir dia sama seperti orang-orang jahat itu. Ibu dan Bapak selalu menghindar. Dia terus berusaha meyakinkan kami, dan kami percaya saat melihat foto pernikahan kalian. Alex sering datang ke sini dulu, rumah ini juga dia yang kasih." Jelas Buk Tuti. Dan hal itu berhasil membuat Sweet kaget.
"Dulu, Alex masih keliatan kurus dan rambutnya agak gondrong. Sekarang udah keliatan gemukkan." Lanjut Buk Tuti. Membuat Sweet semakin penasaran.
"Kapan Mas Alex nemuin Ibu?" Tanya Sweet penasaran.
"Tiga tahun yang lalu kalau gak salah, tapi sebelumnya dia juga sering membantu Ibu dan Bapak. Tapi Ibu sama Bapak belum tahu itu dari suami kamu, Ibu tahu itu dari si kasep Jo."
"Joshua maksudnya?" Tanya Sweet lagi. Buk Tuti mengangguk.
"Adi bisa kerja, Aji bisa kuliah juga berkatnya. Ibu sangat bersyukur, kamu dapat suami sebaik Alex." Buk Tuti menuang teh panas ke dalam gelas. Sedangkan Sweet begitu seksama mendengar penjelasan Ibunya.
"Sekarang semuanya kembali seperti dulu, terasa damai dan tidak perlu lagi bersembunyi dari kejaran para iblis itu. Allah maha adil, setelah badai menerjang. Muncul pelangi yang membentang indah."
Sweet memeluk Buk Tuti dari samping. "Ana harap, Ibu, Bapak dan adik selalu bahagia. Maaf, Ana tidak bisa terus berada di dekat Ibu. Sekarang Ana sudah punya suami dan anak-anak."
"Tidak apa-apa, Ibu paham posisi kamu saat ini. Sebagai seorang istri memang harus selalu ada di dekat suami. Jadilah Istri dan Ibu yang bijak."
Sweet mengagguk kecil.
"Sudah, sana bawa minuman sama cemilannya ke depan. Anak-anak pasti haus," perintah Buk Tuti seraya melerai pelukkan Sweet.
Sweet langsung menuruti perintah, membawa nampan berisi teh panas dan beberapa cemilan hangat. Di ruang tamu, Sweet disuguhkan dengan pemandangan indah. Ketiga anaknya tengah bercengrama dengan Pak Ujang. Mereka terlihat senang dan tertawa riang.
__ADS_1
Sweet meletakkan minuman dan cemilan di atas meja. Seulas senyuman mengembang di bibir mungilnya. Semua itu tidak lepas dari pengawasan sang suami. Tentu saja apa pun yang Sweet lalukan selalu menarik perhatian Alex. Pada dasarnya, Sweet akan selalu menjadi pusat perhatiannya. Alex sangat mencintainya, jadi apa pun akan ia lakukan untuk membuat wanitanya bahagia.