
Eveline terlonjak kaget dan langsung memeluk Lucas saat suara petir menggelegar. "Luc, kenapa petirnya seperti di atas kepalaku?" Lirihnya dengan mata terpejam karena di luar sana petir terus bersahutan.
Lucas menghela napas dan segera menutup macbooknya. Lalu menaruhnya di atas nakas berserta kaca matanya. "Hanya petir, sayang."
"Tapi itu menakutkan, Luc. Suaranya seperti ingin memakanku."
"Ya, sama sepertiku yang ingin melahapmu sekarang juga."
"Luc! Aku tidak sedang bercanda. Aaaa!" Eveline benar-benar menjerit saat petir kembali menyambar bumi.
Lucas tertawa geli. "Ya Tuhan, jadi kau benar-benar penakut?"
Eveline mengeratkan pelukannya dengan mata yang terus terpejam. "Aku ingin pulang. Kenapa di sini sangat mengerikan. Bagaimana jika ada tsunami? Aku belum siap mati. Aku belum menikah dan berkeliling dunia. Mommy."
Lucas benar-benar tidak bisa menahan tawanya lagi. Bukannya kasihan, ia justru terhibur dan tergelak lucu. "Bukankah itu bagus, kita bisa mati sama-sama."
"Luc!"
"Baiklah-baiklah, maafkan aku. Jangan khawatir, villa sudah di uji tahan badai dan tsunami." Lucas pun membawa Eveline berbaring. Karena ketakutan Eveline membenamkan wajahnya di dada Lucas. "Tidurlah."
Eveline mengangguk patuh. Sesekali tubuhnya tersentak karena mendengar suara petir. Lucas pun menutup telinga gadisnya itu. Perlahan Eveline pun merasa nyaman dan aman. Dan ia pun mulai terlelap.
Lucas mengecup kepala Eveline dengan lembut. "Aku tidak akan menbiarkanmu ketakutan walau sedetik pun kedepannya, Eve." Lalu ia pun ikut terpejam.
****
Ruang Gym, Mansion Utama.
Marvel terus memukul samsak dengan kasar, bahkan keringat sudah menbanjiri sekujur tubuhnya. Sedangkan Melvin sendiri terlihat asik dengan barbell kesayangannya.
"Hey, apa kau merindukan si balok es?" Tegur Melvin merasa bosan karena sejak tadi mereka terus berdiaman.
Marvel masih sibuk memukuli samsak seolah itu musuhnya tanpa berniat menjawab pertanyaan sang kembaran.
"Aku merindukannya. Meskipun dia sangat jarang bicara padaku, tapi aku merindukan wajah datarnya itu. Aku jadi penasaran, seperti apa ekspresinya saat bersama Lucas. Apa mungkin esnya mulai mencair?"
Mendengar ocehan Melvin, Marvel pun menghentikan kegiatannya. Lalu berpindah ke alat yang lain. "Jika dia datang di hadapanku, aku langsung menghabisinya."
Melvin mendengus sebal. "Mau sampai kapan kau memusuhinya huh? Apa perkara Rose-mu itu belum selesai? Ayolah, bukankah kau yang merenggut keperawanan wanita itu?"
Marvel berdecih. "Bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku, kalian keluargaku." Sahut Melvin tersenyum lebar. "Oh iya, Mommy terlihat bahagia setelah mendapat kabar dari si balok es. Sekarang aku bisa mendengar lagi suara cerewetnya. Lebih baik telingaku sakit mendengar omelannya dari pada terus menangis sepanjang waktu seperti sebelumnya." Oceh Melvin yang tidak sadar jika dirinya sangat mirip dengan sang Mommy.
"Si brengsek itu tidak pernah sekali saja membuat hidupku tenang." Geram Marvel.
Melvin tertawa renyah. "Ayolah, kawan. Lucas itu brengsek juga karena si balok es. Kau ingat pertama kali dia meniduri wanita? Dia mabuk berat dan melakukan itu karena tahu si balok es dekat dengan seorang laki-laki di sekolahnya. Hah, aku rasa Lucas benar-benar sudah tergila-gila pada si balok es."
Marvel sama sekali tidak menanggapi.
"Ayolah, lupakan Rose-mu itu. Dia itu sudah jadi j*l*ng yang senantiasa menjajakan tubuhnya pada semua laki-laki. Apa hebatnya dia selain memiliki wajah cantik." Imbuh Melvin tak habis-habisnya bicara.
"Berhenti mengoceh. Urus saja masalah cintamu yang tiada habisnya itu." Ketus Marvel.
Melvin tertawa renyah. "Meski begitu aku masih suci, bro. Aku bersumpah hanya akan melakukannya dengan istriku kelak. Dia berhak atas keperjakaanku. Begitu pun sebaliknya, dia harus menyerahkan dirinya hanya untukku."
Marvel mendengus kesal. "Di mana kau akan mendapat gadis perawan di zaman sekarang ini huh? Bahkan anak sekolah dasar saja sudah pernah bercinta."
"Aku pasti mendapatkannya, suatu hari nanti." Melvin tersenyum begitu manis.
"Jangan menangis jika kau menjomblo seumur hidup." Sinis Marvel menghentikan kegiatannya dan melangkah pasti menuju sofa, lalu duduk di sana.
"Seharusnya itu kata-kata yang cocok ditujukan untukmu. Move on dong, masih banyak Rose lain di luar sana. Bahkan masih ada yang lebih harum dan merekah."
Lagi-lagi Marvel mendengus mendengar ocehan kembarannya itu. "Kau sudah melacak lokasinya?"
__ADS_1
"Hm. Tapi tidak ada petunjuk. Sepertinya mereka berada di sebuah pulau yang sulit terdeteksi." Jawab Melvin yang juga menyudahi kegiatannya. Dan ikut duduk di sofa.
Marvel meraih botol minumnya dan meneguk isinya lumayan banyak.
"Aku rasa Lucas sengaja menyembunyikan si balok es dari seseorang. Apa masalahnya aku tidak tahu."
Marvel masih terdiam, seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Ikut aku besok pagi, kita akan menyusul mereka."
"Apa? Kau sudah tahu di mana mereka berada?" Kaget Melvin.
Marvel tersenyum miring. "Sebaiknya kau belajar lagi supaya otakmu encer. Berhenti balapan, sebelum nyawamu melayang sia-sia." Setelah mengatakan itu Marvel pun meninggalkan ruang gym.
"Hey! Balapan sudah menjadi nyawaku. Mana mungkin aku bisa melepasnya begitu saja. Justru aku akan mati jika tidak ada balapan." Melvin tertawa kencang. "Dasar kutu buku."
****
Lucas tersenyum geli saat melihat Eveline terus bergelung di balik selimut padahal hari sudah hampir siang. Lelaki itu meletakkan nampan berisi sepotong sandwich dan segelas susu hangat di atas nakas. Kemudian ia duduk di bibir ranjang.
Diusapnya pipi halus Eveline dengan gerakan memutar. "Baby, bangunlah. Kau harus sarapan, ini sudah hampir siang."
Eveline menggeliat kecil. Dan mata indah itu bergerak kecil dan mulai terbuka perlahan. "Kenapa kau selalu mengganggu tidurku, Luc?"
Lucas tersenyum mendengar nadaa kesal dari bicaranya gadis itu. "Makan sarapanmu dulu."
"Aku belum lapar, pergilah."
"Baiklah, aku di depan jika kau butuh sesuatu." Lucas pun bangkit, lalu memasukkan kedua tangannya di kantong celana dan beranjak dari kamar.
Lucas menyeruput kopi dengan tatapan yang terus fokus ke layar macbook. Lelaki itu sengaja melanjutkan pekerjaannya yang sempat terpotong kemarin.
Menit berikutnya, Eveline pun muncul dan duduk di sampingnya. "Luc."
"Ada apa, Baby?" Tanya lelaki itu yang tengah serius.
"Besok kita pulang."
Mendengar itu wajah Eveline pun berbinar. "Benarkah?"
"Ya, sayang."
Eveline tersenyum tipis. Di tatapnya wajah Lucas dengan seksama.
Kenapa dia sangat tampan sih?
"Kau sudah memakan sarapanmu?" Tanya Lucas yang berhasil membuat Eveline terkejut.
"Sudah."
"Mandi?"
"Aku tidak ingin mandi, dingin."
"Kau bisa mandi dengan air hangat."
"Ck, memangnya aku bau ya?"
"Sedikit." Canda Lucas.
"Ish." Kesal Eveline menyebikkan bibirnya.
Lucas menoleh dan tersenyum. Ditaruhnya macbook itu di atas meja. "Kemari." Ia menepuk pahanya.
Eveline menggeleng.
__ADS_1
"Kemari." Kali ini Lucas lebih tegas. "Atau kita bercinta di sini."
Mendengar itu nyali Eveline ciut. Ia pun terpaksa duduk di pangkuan Lucas. Tentu saja Lucas tersenyum senang.
"Jangan pernah memalingkan wajahmu, Eve. Aku tidak suka." Lucas menarik dagu Eveline. Suaranya memang terkesan lembut, tetapi begitu otoriter di telinga Eveline.
"Luc...." Mulut Eveline pun langsung dibungkam oleh bibir lelaki itu. Eveline melotot karena kaget.
"Aku ingin melakukan ini setiap pagi. Karena kau bangun terlambat, seperti ini juga tidak masalah." Bisik Lucas yang kembali melahap bibir Eveline dengan lembut dan penuh perasaan. Dan itu membuat Eveline terbuai.
Napas keduanya memburu saat Lucas menghentikan ciuman. "Apa lelaki itu sering melakukan ini padamu?"
Eveline terdiam sejenak. Kemudian mengangguk. Lucas mengeratkan rahangnya. "Mulai sekarang kau hanya boleh melakukannya denganku."
Mata Eveline membulat. "Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, Luc?" Kesal Eveline merasa dongkol saat mengingat lelaki itu menyentuh wanita lain seperti tadi.
Lucas tersenyum. "Aku tidak pernah memberikan kelembutan pada wanita mana pun."
Eveline mendengus sebal.
"Jangan cemburu seperti itu. Aku berjanji tidak akan menyentuh wanita lain selain dirimu." Lucas mengecup bibir Eveline sekilas.
"Aku tidak peduli. Memangnya kau siapa?"
"Masa depanmu." Balas Lucas penuh percaya diri.
"Cih, aku tidak sudi hidup dengan lelaki otoriter sepertimu."
Lucas tertawa renyah. "Kau sangat manis saat sedang kesal seperti ini. Lihat pipimu, kau sangat menggoda, sayang."
"Lucas." Geram Eveline. Dan lagi-lagi Lucas tergelak. Ia tidak pernah sebahagia ini sebelumnya.
Tanpa sadar Eveline tersenyum kecil melihat kenahagian di wajah sepupunya itu. "Luc, apa kau punya kekasih?"
Lucas pun berhenti tertawa. "Kekasih?" Ia tampak berpikir. "Banyak."
Eveline terdiam, lalu mengangguk lemas. Lucas yang melihat itu merasa gemas. "Aku tidak pernah memiliki kekasih, Eve. Aku selalu menunggumu. Aku tidak peduli namaku dicoret sekali pun dalam keluarga kita. Karena aku sangat mencintaimu."
Eveline terkejut mendengarnya. "Kenapa kau lakukan itu, Luc?"
"Sudah aku katakan, aku mencintaimu."
Eveline menggeleng. "Tapi kau tahu kita tidak akan bisa besatu. Daddy akan membunuh kita berdua jika tahu apa yang sudah kita lakukan sekarang."
"Kita bisa kawin lari."
"Luc!"
Licas tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, sayang."
"Luc, di luar sana begitu banyak wanita cantik dan lebih baik dariku. Kenapa kau malah mencintaiku? Lupakan aku, Luc. Kita pulang dan akhiri semuanya. Aku akan melupakan semua yang sudah kita lewati."
Mendengar itu mata Lucas memerah. Bahkan rahangnya mengerat kuat. Tentu saja Eveline sadar akan hal itu.
"Dengar, Luc." Eveline mengusap rahang Lucas dengan lembut. "Kita...."
Bruk!
Lucas membanting tubuh Eveline ke sofa dengan kasar. Lalu menindih wanita itu dengan luapan amarah. "Kau bilang apa? Kau ingin melupakannya huh? Apa sebegitu bencinya kau padaku, Eve?"
"Luc... dengarkan aku dulu." Eveline bergetar ketakutan. Lucas memejamkan matanya sejenak. Kemudian ia kembali mendaratkan ciuman di bibir Eveline. Hanya saja kali ini sangat kasar dan penuh penuntutan.
Eveline yang mulai kehabisan oksigen pun memukul lengan Lucas. Namun, lelaki itu seakan dirasuki api amarah.
"Brengsek!" Seru seseorang yang berhasil membuat keduanya terkejut.
__ADS_1
Tbc...