
Beberapa hari kemudian Violet pun dibawa pulang ke Berlin oleh Dustin. Setibanya di mansion, Violet langsung bersimpuh di kaki sang Mommy sambil meminta ampunan. "Maafkan aku, Mom."
Alexella pun memintanya bangun. "Bangunlah, sayang." Perlahan ia membantu putrinya bangkit. Kemudian memeluknya erat.
"Sorry, Mom." Ucap Violet lagi, memeluk sang Mommy dengan erat dan menangis sesegukan
"Tidak apa, sayang. Mommy tidak pernah marah padamu. Mommy tahu perasaanmu." Alexella pun mengecupi putrinya dengan penuh cinta. Sontak tangisan Violet pun semakin menjadi.
Dustin yang melihat itu pun ikut terharu.
Setelah itu Violet pun beralih pada Jarvis yang sejak tadi diam dan tak melihat ke arahnya. Gadis itu kembali bersimpuh di lantai. Lalu memeluk kaki Jarvis. "I'am so sorry, Dad. Aku tahu kau kecewa padaku. Tolong jangan benci aku, Dad. Aku minta maaf."
Mendengar suara lirih putrinya, Jarvis pun langsung luluh. Perlahan ia membawa putrinya itu berdiri. Kemudian menyeka air mata berharga sang putri dengan lembut. "Jangan menangis, sejak kecil aku tidak pernah senang saat melihatmu menangis. Kau putriku satu-satunya, bidadariku."
Mendengar itu Violet langsung memeluknya. "Aku mencintaimu, Dad."
"Aku juga mencintaimu, sayang. Jangan menangis lagi." Pinta Jarvis mengusap lembut rambut anaknya. Alexella yang melihat itu pun ikut meangis penuh haru. Lalu ditatapnya Dustin yang masih berdiam diri.
"Terima kasih." Ucap Alexella karena Dustin sudah membawa putrinya kembali. Dustin pun mendekati wanita itu. Lalu memeluknya. "Aku yang berterima kasih pada kalian karena sudah memberi restu. Aku akan menikahi Violet secepatnya."
Alexella mengangguk. "Kau memang harus menikahinya, sebelum perutnya membesar dan dia menjadi cemoohan orang banyak."
Dustin mengangguk. "Aku akan menepati janjiku untuk membahagiakan putri kalian. Terima kasih sekali lagi."
Jarvis membawa putrinya menjauh dari sana, sepertinya ia ingin melepaskan rasa rindu yang begitu mendalam. Walau bagaimana pun Jarvis sanbat mencintai putri semata wayangnya itu. Terlepas apa yang sudah terjadi, Jarvis tetap tak bisa marah pada Violet. Karena dia terlalu menyayanginya.
Alexella dan Dustin yang melihat itu pun membiarkannya. Mereka tahu anak dan Ayah itu butuh waktu berdua.
"Lalu bagaimana dengan orang tuamu, Dustin? Apa tanggapan mereka?" Tanya Alexella menatap Dustin lekat.
Dustin pun tersenyum. "Mommy dan Daddy merestui kami, Aunty. Bahkan mereka sangat mendukungku untuk menikahi Violet."
Alexella mengangguk paham. Sebenarnya sejak awal ia sudah menduga jika Alexa pasti memberikan restu. Dia tahu betul Kakaknya itu sangat lemah jika melihat penderitaan orang lain. Apa lagi ini menyangkut masa depan anaknya. Alexa pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ah, Alexella jadi merindukan Kakak cerewetnya itu.
__ADS_1
"Apa Mommymu ikut ke sini?" Tanya Alexella memastikan.
"Ya, Mommy sudah di mansion utama."
"Hm, secepatnya aku akan menemui Mommymu. Aku merindukan si cerewet itu. Sudah lama sekali dia tidak pulang ke Berlin. Dan sekarang dia akan menjadi besanku. Ini tidak masuk akal. Dan itu karena ulah kalian." Gerutu Alexella tersenyum geli. Tak pernah terbayang dalam benaknya jika Alexa lah yang akan menjadi besannya.
"Tapi... bagaimana dengan grandma kalian?" Tanya Alexella lagi saat baru ingat sang Mommy.
Dustin pun tersenyum lagi. "Aunty tenang saja, Grandma sudah memberikan kami restu dari jauh-jauh hari. Bahkan Grandma sama seperti kalian, menaruh harapan besar padaku untuk membawanya pulang."
Alexella menghela napas lega. "Beruntung kau bisa membujuknya, Dustin. Anak itu sangat keras kepala. Dia benar-benar mirip denganku. Bagaimana kau bisa membujuknya, huh?"
"Sebenarnya kepulangan Violet tidak sepenuhnya karena kerja kerasku, Aunty. Ini semua berkat bantuan saudara dan saudariku."
"Maksudmu?" Tanya Alexella bingung. Kemudian Dustin pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tentu saja Alexella tidak percaya setelah mendengar semuanya.
"Cih, aku tidak percaya jika keturunan Digantara segila ini. Bahkan lebih gila dari Nenek moyang mereka." Setelah mengatakan itu Alexella pun tertawa kecil. Yang diikuti oleh Dustin.
****
"Vi! Oh ya ampun, akhirnya kau kembali." Seru Lea pura-pura kaget dan langsung berlari memeluknya. "Aku sangat merindukanmu, sayang."
Alih-alih membalasnya. Violet justru mendorong gadis itu sampai terhuyung ke belakang. Lalu Violet pun mengunci pintu. Tentu saja bulu kuduk Lea langsung meremang. Sepertinya ia sudah tahu apa yang akan dialaminya. Perlahan ia pun mundur saat mendapat tatapan tajam dari Violet. "Vi, kau tidak boleh menghajarku."
Setelah mengatakan itu Lea pun berlari mengelilingi kamarnya yang luas itu. Tanpa ragu Violet pun langsung mengejarnya karena ingin memberikan wanita itu pelajaran.
"Kemari kau, Le. Jangan lari. Aku akan menjambak rambutmu sampai putus." Ancam Violet masih berusaha mengejar saudarinya itu.
Lea pun tertawa geli. "Vi, kau harusnya berterima kasih padaku. Diam di sana dan jangan mengejarku." Pekik gadis itu terus berlari ke sana kemari untuk menghindari Violet.
"Berterima kasih katamu?" Violet melempar benda-benda yang bisa ia raih ke arah Lea. Alhasil dalam hitungan detik kamar itu pun berubah seperti kapal pecah.
Namun Lea masih terlihat lincah dan bisa menghindari lemparan Violet. "Hentikan, Vi."
__ADS_1
Violet yang sedang dalam keadaan hamil pun merasa cepat lelah. Bahkan perutnya sedikit kram. Alhasil ia pun berhenti berlarian dan menjatuhkan diri di ranjang. Lea yang melihat itu pun merasa lega meski napasnya ngos-ngosan.
"Hah, kau beruntung kali ini, Le." Ucap Violet dengan napas tersengal. Lalu ia pun mengelus perutnya dengan lembut sambil mendesis kecil.
Lea pun mendadak panik dan langsung menghampiri Violet. "Vio, kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan panik. Cepat-cepat ia membantu Violet bersandar di kepala ranjang.
Violet mengangguk. "Aku lupa soal kehamilanku."
Lea menghela napas berat. "Ini salahku."
Violet menatapnya lekat, kemudian memberikan cubitan di perut wanita itu. Sontak Lea pun memekik kesakitan. "Sakit tahu. Cubitanmu itu berbahaya, Vi."
"Rasakan itu, beruntung aku hanya mencubitmu." Geramnya dengan napas yang masih tersengal. Lalu menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata.
"Apa benar kau tidak apa-apa? Aku tidak mau terjadi sesuatu dan kau menyalahkanku nantinya." Ujar Lea dengan wajah cemas.
Violet pun membuka matanya, lalu melayangkan tatapan sengit pada Lea. "Ini memang salahmu. Kau yang harus disalahkan, Le. Gara-gara kau aku harus menanggung malu karena sudah membuat kekacauan di mansion Aunty Lexa. Menyebalkan."
Bukanya merasa iba, Lea justru tertawa geli. Tentu saja hal itu membuat Violet semakin kesal. "Tertawalah sampai kau puas."
Lea pun menghentikan tawanya. "Okay, aku minta maaf soal itu. Lagi pula hanya dengan cara itu aku bisa membawamu kembali bukan? Buktinya sekarang kau sudah ada di sini. Itu artinya kebohonganku membawa hal baik."
Violet memutar bola matanya malas.
"Kau dan Dustin itu sama-sama pengecut. Pada akhirnya aku dan yang lain harus turun tangan untuk membantu kisah cinta kalian. Dasar ratu drama. Menyebalkan sekali sudah membuat semua orang pusing. Dan sekarang kau malah menghajarku bukannya berterima kasih." Imbuh Lea memasang wajah kesalnya.
Melihat itu Violet pun langsung memeluknya erat. "Ohhh... jangan marah. Kau adalah Kakak terbaikku. Terima kasih, Le sayang."
Lea pun menghela napas, lalu membalas pelukan Violet yang diiringi senyuman. "Sama-sama, sayang. Kau harus hidup bahagia mulai sekarang. Bahkan kalian akan segera memiliki anak. Aku harap kau dan Dustin bisa hidup tenang dan bahagia bersama keluarga kecil kalian. Tanpa ada gangguan lagi."
Pelukan Violet pun semakin erat. "Aku tidak tahu harus mengatakan dan berbuat apa untuk kalian, Le. Jika tidak ada kalian mungkin hidupku akan terus dihantui rasa penyesalan."
Lea mengusap punggung Violet. "Tidak perlu melakukan apa pun. Hiduplah bahagia, itu yang kami inginkan. Lanjutkan perjalanan cintamu bersama Dustin. Dan lahirkan banyak anak yang lucu-lucu."
__ADS_1
Mendengar itu Violet pun tertawa. "Kau juga harus menikah, Le. Kau itu sudah tua, ditambah sudah tidak perawan. Jangan sampai tidak ada yang mau menikahimu."
"Sialan!" Umpat Lea mendorong Violet karena merasa kesal dengan cibirannya itu. Sontak Violet pun tertawa puas karena berhasil mengerjai sahabat kecilnya itu.