Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (70)


__ADS_3

Sudah dua hari Rhea tidak keluar dari hotel dan terus termenung sambil memeluk kedua kakinya. Wajahnya juga terlihat sembab dan sedikit pucat, juga terdapat lingkar hitam di sekitar matanya.


Dua malam ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan nasib Zhea dan Prince. Sedang apa mereka sekarang? Apa Gabriel menerimanya? Apa mereka jadi menikah dan sekarang sedang berbulan madu? Lalu apakah mereka juga bisa menerima Prince? Semua pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya.


Bisa saja Rhea menyamar saat itu untuk melihat semua yang terjadi di sana. Hanya saja ia tak sanggup jika harus melihat lelaki itu menikahi orang lain, meski itu saudarinya sendiri. Rhea tak sanggup karena terlanjur mencintainya.


"Maafkan aku, Gab. Kau pantas membeciku." Lirihnya. Dan air matanya pun kembali merembes keluar. Rasanya menyesakkan saat membayangkan Zhea dan Gabriel sedang berbulan madu saat ini. Akan tetapi dia tak boleh egois, Zhea juga berhak bahagia. Selama ini hidup wanita itu dikelilingi banyak luka. Rhea hanya ingin memberikan secercah kebahagiaan padanya. Meski ia harus sakit sekali pun.


Tidak lama terdengar suara bel pintu. Cepat-cepat Rhea menyeka air mata. Sepertinya karyawan hotel membawakan makan malam untuknya. Dengan lemas Rhea turun dari tempat tidur dan memakai kerudungnya. Kemudian bergegas membuka pintu. Benar saja, seorang laki-laki berseragam hotel dan memakai masker berdiri di depan pintu sambil memegangi troli berisi makanan.


Rhea pun mempersilakannya masuk. Dan lelaki itu pun masuk. Rhea menutup pintu, lalu menyusul lelaki itu masuk.


"Taruh saja di atas meja. Terima kasih." Ucap Rhea duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan semua pergerakan lelaki itu. Melihat tubuh tegap lelaki itu, Rhea tiba-tiba mengingat Gabriel. Perawakan lelaki itu sangat mirip dengannya. Ah, sepertinya ia sudah gila sampai harus membayangkan lelaki itu adalah Gabriel.


"Maaf, siapa namamu?" Tanya Rhea memberanikan diri untuk bertanya.


Lelaki itu berdiri tegap, menatap Rhea tanpa memberikan jawaban.


"Ah, tidak apa jika kau tak ingin mengatakannya. Kalau begitu kau boleh pergi, terima kasih." Ucap Rhea tersenyum ramah. Namun, lelaki itu masih di posisinya.


Rhea menatapnya bingung. "Ah, aku melupakan sesuatu." Gadis itu bangun dari duduknya, lalu mengambil dompet di dalam laci. Kemudian mengambil beberapa lembar uang. Setelah itu ia kembali mendatangi si karyawan. "Ini untukmu."


Rhea mengulurkan uang itu padanya. Namun, lelaki itu masih diam dan tak merimanya. Tentu saja Rhea merasa heran, juga sedikit takut karena lelaki itu terus menatapnya. "Kenapa kau menatapku? Aku memberikan uang tip untukmu, tidak ada maksud lain."


Perlahan tangan lelaki itu bergerak, lalu membuka masker yang dipakainnya. Sontak Rhea terhenyak saat melihat wajah itu, wajah yang selalu ia pikirkan selama ini.


"Gabriel?" Gadis itu mundur beberapa langkah.


"Kau kaget?" Sinis Gabriel dengan tatapan tak bersahabatnya. Ia juga maju beberapa langkah. Rhea yang melihat itu terus mundur, hingga mentok di ujung tempat tidur dan tak bisa bergerak lagi karena jaraknya dengan Gabriel hanya beberapa senti. Bahkan Rhea tak berani mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Gab, buat apa kau ada di sini?"


Gabriel tersenyum miring. "Tentu saja aku mendatangi tempat yang seharusnya aku datangi."


Rhea mendongak dengan dahi yang mengerut. "Sebaiknya kau keluar, Gab. Aku tidak ingin ada yang salah paham."


Gabriel tertawa hambar. "Apakah pasangan suami istri dalam satu kamar bisa dikatakan salah paham?"


Mendengar itu Rhea semakin bingung. "Apa yang kau katakan? Aku bukan istrimu, yang kau nikahi itu Zhea, bukan aku."


Gabriel tersenyum geli, lalu ia bergerak menjauh dan mengambil sesuatu dari dalam troli. Setelah itu kembali menghampiri Rhea.


"Lihat ini baik-baik." Gabriel menunjukkan sebuah sertifikat pernikahan, juga dua buah buku nikah.


Rhea melihat benda itu lamat-lamat dengan alis saling terpaut. Lalu matanya melebar saat melihat namanya yang tertulis di sana, bukan Zhea. Rhea pun langsung menatap Gabriel. "Apa ini?"


"Jangan bicara omong kosong, Gab. Bagaimana mungkin kau dan aku menikah? Jelas-jelas Zhea...."


"Kenapa tidak bisa?" Potong Gabriel. Dan kembali bergerak menuju troli. Lalu mengambil sebuah kertas lagi. Menunjukkannya tepat di depan wajah Rhea.


Rhea merebut benda itu dari tangan Gabriel, lalu membacanya dengan seksama. Dan ternyata itu surat persetujuan menikah atas nama dirinya. Bahkan tanda tangan itu pun memang miliknya. Refleks ia pun langsung melayangkan tatapan tajam pada Gabriel. Lalu meremat kertas itu dan melemparnya ke arah Gabriel.


"Aku tidak pernah merasa membuat surat itu."


Gabriel tersenyum. "Memang bukan kau yang membuat, tapi aku."


Mendengar itu tatapan Rhea pun semakin menajam.


Gabriel semakin mengikis jarak di antara mereka tanpa melepas pandangan dari Rhea. "Kau ingat beberapa hari lalu? Saat kau menandatangi semua berkas pernikahan. Aku menyelipkan itu di sana. Karena aku sudah curiga sejak awal padamu, sayang. Sikapmu sangat aneh menjelang hari pernikahan. Karena itu aku membuat persiapan itu karena takut kau lari. Dan dugaanku benar, kau lari dari pernikahan dan malah mengirim wanita jelek itu padaku. Apa kau pikir aku bodoh huh?"

__ADS_1


Rhea mengepalkan kedua tangannya. "Kenapa kau lakukan ini, Gabriel?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau lakukan ini Rhe?" Bentak Gabriel yang berhasil membuat Rhea seketika bungkam. "Kenapa kau mempermainkan perasaanku? Apa kau pikir hidupmu akan bahagia dengan membiarkanku menikahi wanita itu hah? Apa kau pikir aku bahagia dengan semua ini?"


Rhea memalingkan wajah, bahkan air matanya kembali menitik.


Gabriel menarik napas panjang, lalu diraihnya tangan gadis itu dengan lembut. "Yang aku cintai itu kau, Rhe." Dikecupnya punggung tangan Rhea dengan lembut.


Sontak Rhea pun kaget dan langsung menarik tangannya. Dihapusnya air mata yang terus mengalir itu dengan kasar. "Cukup, Gab. Sejak awal kau hanya mengenal Zhea, dan akan selamanya seperti itu. Tinggalkan aku di sini. Lanjutkan hidupmu. Apa pun yang sudah terjadi, pernikahan itu tidak sah."


"Tidak sah? Apa aku perlu menghadirkan walimu, saksi dan juga penghulu di sini? Supaya kau percaya jika pernikahan ini sah di mata agama maupun negara. Bahkan keluarga besarku menyaksikan bagaimana aku mengucapkan namamu di depan Pamanmu, Rhea."


Mendengar itu Rhea terhenyak. "Pa... paman?"


"Ya! Aku sengaja mendatangkan Pamanmu untuk menjadi wali. Apa kau masih mengatakan pernikahan ini tidak sah?" Jawab Gabriel dengan suara lantang.


"Tapi aku tidak pernah setuju dengan pernikahan ini, Gabriel. Surat yang kau bawa itu palsu, itu milikmu." Balas Rhea tak kalah lantang.


Gabriel menatap wanitanya itu dengan mata yang memerah karena emosi yang meluap-luap. Namun, detik berikutnya ia pun tersadar dan mengubah tatapannya menjadi lembut. "Katakan sekali lagi kau tidak ingin menikah denganku, Rhe."


Rhea memalingkan wajahnya. "Aku tidak setuju menikah denganmu." Ucapnya dengan suara lemah.


"Tatap aku dan katakan itu dengan lantang, Rhea." Pinta Gabriel lagi.


Rhea pun langsung menatapnya tajam. "Aku tidak setuju menikah denganmu!" Ucapnya dengan lantang.


Gabriel terdiam, bahkan menunduk. Lalu ia pun mengangguk. "Baiklah, itu yang kau inginkan ternyata." Ucapnya dan kembali menatap Rhea. "Kau senang mempermainkan perasaanku, Rhe. Terima kasih atas rasa sakit yang kau berikan. Kau menyadarkanku jika tak ada satu wanita di dunia ini yang tulus. Kalian semua hanya senang mempermainkan hati orang lain."


Setelah mengatakan itu Gabriel pun langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

__ADS_1


__ADS_2