
Gabriel tersenyum lebar saat sahabat dekatnya menghampiri, Barra Patlers. Lelaki bertubuh jangkung pemilik sejuta pesona. Pewaris tunggal Germany airlines.
Lelaki itu tersenyum begitu manis, lalu memberikan salam persahabatan pada Gabriel. "Selamat, Bro. Aku tidak menyangka kau benar-benar menikah. Dan istrimu sangatlah cantik." Pujinya seraya melirik Rhea. Sedangkan yang dilirik hanya tersenyum ramah.
Gabriel mendengus kecil. "Berhenti melirik istriku." Kesalnya merasa tak terima karena lelaki lain memandang sang istri penuh minat.
Barra tertawa geli. "Tadi aku bertemu wanita yang sangat mirip dengan istrimu, bersama anak laki-lakinya." Ungkapnya.
"Ah, itu kembaranku." Sahut Rhea dengan cepat. Barra pun mengangguk paham.
Gabriel menatap lelaki itu lekat. "Jangan katakan kau tertarik padanya hm?"
Barra tersenyum kecil. "Apa aku masih boleh mendekatinya? Bukankah dia...."
"Tidak, Zhea masih sendiri sampai detik ini." Sanggah Rhea begitu antusias. Ia senang karena ada laki-laki yang melirik Zhea. Apa lagi jika dilihat-lihat lelaki dihadapannya itu sangat tampan dan berwibawa, sudah pasti dia orang penting.
Barra tersenyum lagi. "Ah, tapi dia sempat menolakku tadi. Dia agak galak, tapi aku suka."
Rhea dan Gabriel pun tertawa bersamaan, lalu saling melempar pandangan karena sepemikiran.
"Ah, sudahlah. Sekali lagi aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Segera produksi Gabriel junior." Ucap Bara yang kembali disambut tawa oleh keduanya. Lalu lelaki itu pun berpamitan.
Sepeninggalan Barra, Rhea pun langsung bertanya pada suaminya. "Siapa dia?"
"Ah, maaf aku lupa memperkenalkannya padamu, Sayang. Namanya Barra Patlers. Pewaris Germany Airlines." Jawab Gabriel yang berhasil membuat Rhea terkesiap.
"Germany Airlines?"
"Ya. Dia salah satu orang berpengaruh di kota ini. Kenapa? Jangan bilang kau tertarik padanya hm?" Gabriel bergurau.
Rhea berdecak sebal. "Kau ini. Aku bertanya karena kemungkinan dia tertarik pada Zhea. Selama ini kau tahu kan Zhea tidak pernah keluar. Bukankah ada baiknya dia dekat dengan seseorang?"
Gabriel mengangguk. "Tapi dia lumayan brengsek sepertiku, apa kau tidak masalah?"
Rhea tampak berpikir dua kali setelah mendengar pernyataan suaminya. "Siapa lebih parah, kau atau dia?" Tanyanya memastikan.
"Sebelas dua belas," sahut Gabriel diiringu senyuman nakalnya.
"Ish, aku sedang serius kau malah bercanda." Kesal Rhea memukul lengan suaminya.
Gabriel tertawa kecil. "Aku juga tidak bercanda, dia sahabat baikku. Sudah pasti sifat kita hampir sama. Kami sama-sama brengsek, dan senang bercinta."
Rhea mendengus lagi. "Menyebalkan."
Gabriel tersenyum geli seraya merengkuh pinggang istrinya posesif. Lalu berbisik sesuatu. "Tapi sekarang aku hanya senang bercinta denganmu, Sayang."
Rhea memelototi suaminya. "Mesum." Sontak Gabriel pun tertawa geli dan langsung memberikan kecupan dipipi istrinya. "Kau benar-benar cantik, sayang."
"Berhenti menggodaku, aku sangat lapar. Ayo makan." Rengeknya manja. Tentu saja Gabriel merasa gemas sendiri dan langsung mengiyakan keinginan istrinya. Keduanya duduk di meja bundar, bergabung dengan yang lain. Rhea sempat celingukan, mencari keberadaan Zhea dan Prince. Sayangnya mereka tak terlihat batang hidungnya sama sekali. Alhasil ia pun fokus makan karena memang sangat lapar, mungkin setelah ini ia akan menemui mereka.
__ADS_1
****
Seusai acara, Rhea pun mendatangi kamar Zhea dan Prince. Bibirnya melengkung sempurna saat melihat keduanya tengah bercengkarama riang.
"Ekhem," dehamnya yang berhasil mencuri perhatian keduanya.
"Aunty!" Pekik Prince langsung bangun dari duduknya dan berlari ke arah Rhea. Spontan Rhea pun langsung memeluk dan menggendongnya. "Ah, rindunya."
Prince memeluk leher Rhea, lalu menatap wajah Aunty cantiknya itu sambil tersenyum. "Aku juga rindu, Aunty. Aunty dari mana aja? Aku selalu cari Aunty tapi tidak ketemu. Mommy bilang Aunty liburan ya? Kok aku gak diajak?"
Zhea tersenyum geli saat Rhea melempar pandangan membunuh padanya. Lalu mengedikkan kedua bahunya seolah lepas tangan.
Rhea menghela napas, kemudian fokus pada anak itu lagi. "Lain kali kita liburan bersama ya? Prince mau kemana hm?"
Prince terlihat berpikir keras. Rhea tersenyum geli melihatnya. "Aku gak tahu, Aunty. Pokoknya aku mau pergi ke tempat yang jauh. Naik pesawat."
Lagi-lagi Rhea tersenyum geli. "Okay, nanti kita naik pesawat sama-sama ya?"
Prince mengangguk antusias karena sejak dulu sangat menyukai pesawat.
Rhea membawa Prince duduk di sebelah Zhea. Dan anak itu sama sekali tak ingin lepas dan terus memeluknya. Tentu saja Rhea tak keberatan karena merindukan anak itu.
"Zhe." Panggilnya kemudian.
"Hm?" Zhea menatapnya heran.
Rhea menatap saudarinya itu lamat-lamat. "Apa kau tidak berniat mencarikan Ayah untuknya?"
Rhea menghela napas berat. "Cobalah untuk membuka hati, Zhe. Aku ingin melihatmu bahagia. Prince semakin dewasa, bagaimana jika dia bertanya di mana Ayahnya kandungnya hm?" Lirihnya.
Zhea kembali menoleh, ditatapnya Prince lamat-lamat.
"Kau juga butuh teman hidup, Zhe. Bahagiakan dirimu. Aku sudah bahagia, sekarang giliran dirimu. Keluarlah dari rasa traumamu. Sudah cukup kau terus tenggelam dalam masa lalu." Ujar Rhea coba membujuknya.
Zhea terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Aku sudah bahagia seperti ini." Tuturnya.
Rhea tersenyum masam. "Kau tidak bahagia, Zhe. Aku bisa melihat itu dimatamu, kau menyimpan banyak beban. Aku kembaranmu, bisa merasakan apa yang kau rasakan."
Zhea menatap Rhea lekat. "Rhe, aku...."
"Cobalah, aku rasa sudah saatnya kau kembali membuka hati. Oh iya, tadi aku bertemu laki-laki tampan. Dia teman Gabriel, sepertinya dia tertarik denganmu."
Zhea menatap Rhea bingung. "Siapa?"
"Namanya Barra, dia sangat tampan. Sepertinya kalian akan cocok jika bersama." Jawab Rhea begitu antusias. Bahkan tak sadar jika Prince sudah tertidur dalam dekapannya.
Zhea memutar bola matanya malas. "Aku tidak tertarik."
"Ck, ayolah. Kau harus mencobanya. Mau ya? Aku dan Gabriel akan mengatur waktu untukmu." Bujuk Rhea memberikan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Haish, kau ini. Aku tidak mau." Zhea masih kekeh dengan pendiriannya. Dan itu membuat Rhea sedih.
Zhea tertawa kecil saat melihat ekspresi lucu saudarinya itu. Lalu, tiba-tiba saja ia kembali mengingat soal pertemuannya dengan pria asing siang tadi. "Kau tahu apa, Rhe?"
"Apa?" Tanya Rhea bingung.
"Tadi siang aku bertemu pria menyebalkan. Dia sok asik, bahkan mengataiku galak. Menyebalkan." Jawabnya dengan raut kesal.
Mendengar itu Rhea pun kembali semangat. "Hah? Serius? Bagaimana ciri-cirinya? Apa dia tampan, tinggi dan putih? Apa itu si tampan Barra?"
Zhea memutar bola matanya malas. "Bahkan aku tidak tahu siapa Barra yang kau maksud, Rhe. Kau ini sangat aneh. Memangnya di kota ini pria tampan cuma Barramu itu hm?"
Rhea terkikik lucu mendengar perkataan saudarinya itu. "Baiklah, aku berhenti membicarakan Barra. Sekarang ceritakan bagaimana kau menanggapinya?"
Zhea pun langsung menceritakan tentang pertemuannya dengan pria asing itu tanpa ada yang dikurangi dan ditambah-tambah. Mendengar itu Rhea pun tertawa geli.
Dan malam itu pun mereka habiskan untuk bertukar cerita. Bahkan sampai tengah malam kamar itu masih dipenuhi canda tawa keduanya. Beruntung kamar itu kedap suara, jadi tak ada yang mendengar gelak tawa mereka.
"Ngomong-ngomong, ini sudah malam. Kau tidak kembali ke kamarmu?" Tanya Zhea baru menyadarinya. Dan saat ini keduanya sudah tiduran di atas pembaringan dengan Prince ditengah-tengah.
"Gabriel memberikan waktu untukku agar bisa melepas rindu bersama kalian." Jawab Rhea sambil mengusap lembut rambut Prince.
"Ah, ternyata dia punya hati juga."
Rhea mengerut bingung. "Kenapa kau bicara seperti itu?"
Zhea menghela napas. "Kau tidak tahu betapa mengerikannya dia saat kau lari dari pernikahan. Dia seperti orang gila, semua orang habis-habisan menjadi sasaran pelampisannya. Bahkan Paman Sam yang super sibuk pun benar-benar datang untuk menjadi wali karena ancaman suamimu. Dia benar-benar mengerikan saat itu, Rhe. Bahkan penghulu saja sampai tak berani membantahnya. Dia benar-benat lelaki otoriter. Jika kau melihat itu, aku rasa kau tidak akan berani lari walau hanya sejengkal. Bahkan aku sempat takut dia akan menyakitimu."
Rhea benar-benat tidak menyangka Gabriel akan menggila saat dirinya lari dari pernikahan. Bahkan tanpa sepengetahuannya, di hari yang sama Gabriel memecat beberapa anak buah setianya hanya karena tak bisa menemukan keberadaan Rhea saat itu.
Alih-alih takut, justru Rhea tersenyum senang. Itu artinya Gabriel benar-benar mencintainya.
Zhea yang melihat itu merinding ngeri. "Aku rasa kau juga mulai tertular gila, Rhe. Sudahlah, ayo tidur. Aku sangat lelah." Katanya seraya menguap. Lalu mulai terpejam perlahan. Sedangkan Rhea masih senyum-senyum sendiri. Bahkan sekarang ia amat merindukan suaminya. Alhasil ia pun kembali ke kamarnya secara diam-diam.
Gabriel yang sudah tertidur pun kaget karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Spontan ia pun berbalik. Dan mendapati Rhea yang tersenyum begitu manis. Tentu saja ia merasa heran sekaligus bingung.
"Aku tidak bisa tidur." Rengeknya begitu manja seraya memeluk Gabriel mesra.
"Kenapa kau di sini hm? Bukankah...."
"Aku merindukanmu." Sela Rhea seraya membenamkan wajahnya di dada lelaki itu. Gabriel tersenyum senang.
"Merindukanku?"
Rhea mengangguk, kemudian mendongak untuk melihat ketampanan suaminya.
"Merindukanku, atau hal lain hm?" Godanya.
"Gab!" Kesal Rhea mencubit gemas perut suaminya. Alhasil Gabriel pun mengaduh yang kemudian tertawa geli.
__ADS_1
"Ya sudah, berhubung kau tidak bisa tidur. Bagaimana kalau kita lanjut membuat junior hm?"
Perlahan pipi Rhea pun bersemu. Dan itu membuat Gabriel semakin tak tahan dan langsung menerkamnya. Dan keduanya pun kembali mengulang malam panas mereka dengan penuh cinta.