Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 63


__ADS_3

"Hey. Apa kabarmu, Xella? Maaf aku belum sempat menjengukmu." Kata Sabrina yang juga ikut berkumpul di markas besar karena Arez memintanya untuk ikut.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Sahut Alexella.


Sabrina menggenggam erat tangan adik iparnya itu. "Aku turut berduka atas bayimu, Xella. Andai aku tak lemah, mungkin aku bisa menyelamatkan kalian saat itu."


"Ini bukan salahmu, Tuhan belum mengizinkan aku untuk memiliki anak, Sab. Aku masih kekanakan."


"Kau akan segera mendapat penggantinya." Kata Sabrina yang dijawab anggukan oleh Alexella.


Sabrina menoleh saat Arez duduk disebelahnya. "Masih menunggu orang lagi?"


Arez mengangguk kecil. "Saudara dari Indonesia ingin berkunjung."


Sabrina pun manggut-manggut tanda mengerti. Lalu pandangannya tertuju pada Alexa dan Winter yang tengah bercanda ria dia pojokan. "Mereka sangat romantis."


"Kita juga romantis jika di atas ranjang." Bisik Arez tepat ditelinga sang istri. Sabrina mencubit perut suaminya mendengar itu.


"Otakmu tak jauh dari sana, Al." Protes Sabrina.


"Karena diotakku hanya ada dirimu."


Sabrina memutar bola matanya jengah. "Lupakan itu. Dan kapan kau akan membawaku pada Mommymu? Aku tak ingin hubungan kita berlanjut seperti ini."


"Aku akan membawamu saat tiba saatnya, bersabarlah." Sahut Arez seraya memperhatikan pergerakan semua orang.


Tidak lama dari itu, seorang lelaki bertubuh tinggi besar datang bersama seorang wanita cantik. Sontak semua mata tertuju pada mereka.


"Wah, apa aku tidak salah lihat?" Seru Arel menjatuhkan diri di sofa.


"Jangan berisik." Kata lelaki itu membawa si wanita duduk.


"Cih, aku pikir hubungan kalian sudah kandas. Dan kau, jadi kau benar-benar rela menjadi simpanannya huh?" Cibir Alexella menatap keduanya sengit. Namun lelaki itu malah tersenyum lebar.


"Dia yang memaksaku." Ketus sang wanita.


"Dia wanita yang aku incar sejak lama, jadi tak mungkin aku lepaskan begitu saja." Katanya dengan senyuman miring.


"Lalu bagaimana dengan istrimu, Dika?" Tanya Arez menatap lelaki itu yang tak lain adalah Kakak sepupunya, Dika. Putra bungsu dari pasangan Arnold dan Nissa.


"Sejak awal kami menikah hanya karena formalitas dalam bisnis. Aku tidak mencintainya." Jawab Dika seraya menyesap rokok.

__ADS_1


"Kau selingkuh?" Tanya Sabrina setelah menangkap obrolan mereka. Dika yang mendengar itu menatap sang adik ipar.


"Tidak, dia yang lebih dulu selingkuh dariku. Dan aku ke sini untuk menjemput masa depanku. Benarkan, Sayang?" Dika mengecup pipi Clara dengan lembut. Wanita itu sama sekali tak memberikan reaksi apa pun.


Ya, wanita yang datang bersama Dika tak lain adalah Clara. Anak gadis dari Kakak angkatnya sendiri. Sejak lama Dika memang menyukai wanita itu dan berniat menikahinya. Namun ia harus terjebak pernikahan bisnis dengan salah seorang wanita Indonesia sebelum Papanya meninggal beberapa tahun lalu.


"Ah, aku mengerti kenapa wanita ini begitu terburu-buru menuju kamar hotel. Jadi kalian melakukannya di sana huh? Hebat sekali, kalian berselingkuh di hotel kami huh?" Ujar Arel saat mengingat pasal hari itu di mana dirinya memergoki Clara yang terburu-buru memasuki lift hotel. Karena itu ia sempat berpikir Clara ikut terlibat dalam pembunuhan sang Daddy. Ternyata wanita itu merupakan selingkuhan sepupunya.


"Jangan khawatir, aku selalu bermain halus." Kata Dika dengan santainya.


"Dan kapan kau akan menikahinya huh?" Tanya Alexa sambil mengacak pinggang.


"Aku belum mendapat restu dari Ibu dan Ayahnya, jadi aku menunggu perutnya membuncit. Hanya cara itu untuk mendapat restu." Jawab Dika sekenanya. Sontak Clara melotot mendengar itu.


"Cih, aku tak menyangka putra seorang Arnold Digantara sebejat ini. Di mana Kakak cerewetmu itu? Aku yakin kau akan mati jika dia tahu kau merusak anak orang." Ujar Arel tertawa sumbang.


"Apa Kakakmu tahu soal ini, Cla?" Tanya Arez menatap Clara lamat-lamat.


"Tidak, jangan katakan apa pun padanya. Aku mohon." Clara menatap Arez penuh permohonan.


"Lambat laun dia akan tahu, dia pencium yang andal. Berhati-hatilah."


"Aku akan melawannya jika dia menetangku," timpal Dika.


"Kau milikku, baby."


"Aku milik Ibu dan Ayahku." Sinis Clara tak suka dengan sikap posesif lelaki itu.


"Berhenti berdebat, apa tujuanmu meminta kami berkumpul?" Tanya Arez pada Dika.


Lelaki bertubuh tegap itu menyesap rokoknya dengan gaya sensual. "Tidak ada hal penting, aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Aku butuh tempat bercinta yang aman."


Semua orang mengumpat sebal mendengar itu. Mereka pikir akan ada hal mendesak karena itu mereka sengaja meluangkan waktu. Dan apa katanya tadi? Tempat yang aman untuk bercinta? Sungguh menyebalkan.


"Pergi saja ke neraka. Aku rela meninggalkan istirku hanya karena pembahasan konyol ini? Brengsek memang. Aku pergi." Kata Arel bangkit dari duduknya. Kemudian beranjak pergi dari sana.


Alexa menatap Dika tajam sebelum ikut meniggalkan tempat itu bersama sang suami.


"Brengsek." Umpat Alexella melempar bantal ke arah Dika. Kemudian bangkit dari sana. "Kita pergi, Jarvis."


Jarvis pun mengangguk patuh. Lalu keduanya pun ikut meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Dika tertawa puas karena berhasil mengerjai semua orang.


"Kau ingin di mana, kepala, dada atau seluruh tubuhmu huh?" Tanya Arez dengan kilatan amarah di matanya. Kemudian mengeluarkan sebuah pistol dari laci nakas. Sabrina yang melihat itu langsung menarik tangan Arez.


"Al, jangan macam-macam." Bisiknya.


"Aku akan membunuh bedebah ini." Geram Arez.


"Santai, Bro. Aku benar-benar butuh bantuanmu. Berikan aku satu kamar khusus. Aku tidak ingin media mengetahui hal ini." Pinta Dika menatap kekasihnya lekat. "Dan aku tak akan melepaskan permataku begitu saja."


"Sampai kapan kalian akan terus bermain api huh?"


"Sampai aku menyelesaikan urusanku di sana. Aku akan menceraikan istirku dalam waktu dekat, meski aku harus kehilangan 50% saham." Kali ini Dika tampak serius.


Arez menatap Kakak sepupunya begitu dalam. "Apa kau yakin? Lalu bagaimana dengan Kakakmu? Apa dia setuju?"


"Aku tidak peduli dengannya, ini hidupku. Dia tak pernah mengerti perasaanku. Aku tersiksa dengan pernikahan itu. Aku ingin memilih jalan hidupku sendiri."


"Jika Ibumu masih hidup, apa kau akan melakukan semua ini?"


Dika terdiam sejenak. "Jika Mama ada, hidupku tak akan sekacau ini. Papa jadi egois sejak Mama meninggal. Hidupku seolah tak tahu arah." Lirih Dika terlihat begitu rapuh. Ya, Nissa memang meninggal lebih dulu dari pada Arnold.


Arez menghela napas gusar. "Pilih sendiri kamar yang kau inginkan, aku akan mengurusnya. Dan aku hanya memberikan waktu dua bulan. Lebih dari itu aku tak akan membantumu lagi." Kata Arez merasa iba dengan lelaki itu.


"Thank you." Ucap Dika tersenyum lebar.


"Sampai kapan kau menjadikanku kekasih gelapmu, Dika? Aku tidak ingin hidup seperti ini." Lirih Clara menatap Dika sendu.


"Berikan aku waktu, aku akan segera menikahimu. Percayalah." Dika mengusap pipi mulus Clara dengan lembut.


"Aku takut, bagaimana jika istrimu tak ingin bercerai? Kau sudah menghancurkan masa depanku."


"Akan aku pastikan diriku jadi milikmu seorang, baby. I love you so much."


Clara terdiam lagi. Ia sendiri bingung harus menanggapi lekaki ini seperti apa? Dika bukan orang yang mudah di pahami. Begitu banyak misteri dalam hidup lelaki itu. Bahkan dirinya harus terjebak dalam hubungan terlarang ini.


Sabrina menarik lengan baju suaminya. Menarik perhatian Arez. "Aku mau pulang, kepalaku pusing lagi."


"Baiklah." Arez pun bangkit dari duduknya. "Aku harus pulang. Jangan kotori tempat ini."


Dika tersenyum hambar. "Aku bukan tipe penyuka sembarangan tempat. Pergilah, biarkan aku di sini sebentar."

__ADS_1


"Ayok." Ajak Arez membawa istrinya pergi meninggalkan tempat itu. Dan kini hanya mereka berdua yang menghuni tempat itu.


__ADS_2