Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (7)


__ADS_3

Eveline terperanjat kaget dan langsung berbalik. Napasnya tercekat saat melihat wajah datar Lucas. "Emm... aku...."


Lucas menatap Eveline penuh selidik. "Kau ingin kabur dariku lagi?"


Mendengar pertanyaan itu Eveline pun memasang wajah datar. "Ya, karena ini bukan tempatku. Aku punya rumah, juga keluarga, Luc."


Lucas tertawa renyah. "Bahkan mereka tidak bisa menemukanmu."


Eveline mengepalkan kedua tangan. "Belum, mereka pasti menemukanku. Dan aku pastikan kau akan mati, Luc."


Lucas menghela napas berat, kemudian mendekati Eveline. Refleks wanita itu mundur beberapa langkah. Lucas yang melihat itu tersenyum miring, dan terus melangkah. Sampai Eveline pun tidak dapat bergerak lagi karena punggungnya membentur dinding. Lucas mengurung Eveline dengan kedua tangan kekarnya.


Eveline memalingkan wajahnya saat wajah Lucas begitu dekat dengannya.


"Aku... hanya akan mati ditanganmu, Eve. Hanya kau yang boleh merenggut nyawaku." Bisik Lucas.


Eveline tidak menggubris perkataan Lucas.


"Ah... aku sampai lupa niatku tadi. Aku cuma mau bilang padamu, nanti malam aku akan membawamu ke sebuah tempat. Kau pasti menyukainya, Eve."'


Eveline melayangkan tatapan tajam pada Lucas. "Aku tidak akan pernah suka jika itu menyangkut dirimu, Luc!"


Lucas tersenyum. "Kita lihat saja nanti." Setelah mengatakan itu Lucas kembali ke kamar mandi. Namun, sebelum masuk Lucas menoleh. "Aku sudah membuang semua barangmu. Itu hanya akan menganggu kesenangan kita."


Eveline terkejut mendengarnya. "Lucas! Kau memang brengsek."


"Ya, aku brengsek juga karena dirimu, sayang. Jadi jangan tolak lagi cintaku." Teriak Lucas dari dalam sana.


"Aku membencimu, Luc." Geram Eveline dengan napas memburu.


"I love you, sayang." Sahut Lucas lagi.


Sepertinya lama-lama Eveline bisa gila jika terus-terusan bersama lelaki brengsek itu. Eveline pun bergegas keluar dari kamar. Dan memilih duduk di sofa.


Tunggu! Aku bisa keluar? Seketika wajah Eveline pun berbinar. Secepatnya ia bangkit dan berlari ke arah pintu keluar. Namun, sepertinya ada yang beda dari pintunya. Sebelumnya pintu itu tidak seperti ini.


"Maaf, Nona. Pintu itu hanya bisa dibuka oleh Tuan." Ujar sang pelayan yang berhasil membuat Eveline kaget.


Eveline berbalik. "Tolong, aku hanya ingin keluar. Aku sangat bosan." Alibinya.


"Maaf, Nona. Sebaiknya Anda minta hal itu pada Tuan." Wanita itu pun beranjak pergi meninggalkan Eveline.

__ADS_1


Argghhh sial! Umpat Eveline dalam hati. Jadi dia benar-benar akan mengurungku di sini?


Eveline terus mencari akal. Bahkan ia terlihat mencari alat komunikasi, sayangnya tidak ada satu pun benda itu di sana.


"Kau ingin kabur lagi?" Tanya Lucas yang tiba-tiba muncul hanya dengan bathrobe dan rambutnya masih basah.


Eveline duduk di sofa. "Sampai kapan kau akan mengurungku, Luc?"


"Sampai kau tidak bisa jauh dariku."


Eveline berdecih sebal. "Luc, sadarlah. Kita tidak akan bisa bersama. Lepaskan aku, Luc. Setidaknya pikirkan Mommyku."


"Jangan khawatir, mereka baik-baik saja." Jawab Lucas berjalan santai menuju ruang makan. Yang diikuti oleh Eveline.


"Luc, ayo kita berdiskusi." Ajak wanita itu duduk di hadapan Lucas. Mungkin ia bisa bernegosiasi dengan sepupunya itu.


Lucas menuang jus ke dalam gelas, lalu meneguknya hingga tandas. Ditatapnya Evline lamat-lamat. "Katakan apa yang ingin kau diskusikan huh?"


Eveline masih tetap dengan wajah datarnya. Ia bingung harus memulai dari mana. Lucas bukan orang yang mudah di ajak diskusi.


"Katakan, aku cuma punya waktu satu menit."


Eveline mendelik. "Tidak jadi." Ketusnya dan langsung beranjak pergi dari sana. Lucas tersenyum tipis.


Tidak lama, Lucas pun masuk. "Kau ingin jalan-jalan?"


Eveline terkejut mendengar tawaran Lucas. "Apa boleh?"


"Hm." Lucas mengangguk.


Bukankah ini kesempatan bagus untuk kabur? Pikir Eveline.


"Ke mana kau akan membawaku?"


Lucas tersenyum penuh arti. "Kau akan tahu sebentar lagi." Lalu melangkah pasti menuju ruang ganti. Tidak perlu lama laki-laki itu keluar dengan pakaian kasual. Dan itu membuatnya terlihat sangat tampan. Sampai membuat Eveline enggan berpaling. Sadar akan hal itu, Evelin pun memalingkan wajahnya ke arah lain.


Lucas tersenyum. "Mau sampai kapan kau duduk di sana? Cepat ganti pakaianmu. Atau mungkin kau akan jalan-jalan hanya dengan bathrobe?" Cibir Lucas.


Eveline mendengus. Dan langsung beranjak menuju ruang ganti. Eveline sempat tertegun saat melihat begitu banyak pakaian wanita yang masih baru di sana. Bahkan lengkap dengan d*l*m*nnya. Eveline tidak tahu jika Lucas menyiapkan semua itu hanya untuknya. Karena ia sudah merencanakan penculikan ini dari jauh-jauh hari.


"Apa dia sering membawa wanita ke sini?" Gumamnya.

__ADS_1


"Cih, apa peduliku." Eveline memilih salah satu gaun yang menurutnya cocok. Dan ia pun bergegas menggantinya. Ia tidak sabar untuk bisa kabur dari lelaki itu. Dan melanjutkan kehidupannya.


Setelah dirasa penampilannya sempurna, Eveline pun keluar. Lucas terkesiap melihat penampilan wanitanya yang begitu cantik. Ah... baginya Eveline selalu cantik bagaimana pun penampilannya. Hanya saja, pakaian yang dipilihnya membuat wanita itu semakin cantik.


"Aku ingin pergi sekarang." Tegas Eveline.


"Kau sangat tidak sabaran." Lucas mendekati Eveline. Lalu ditariknya dagu Eveline dengan lembut. "Cantik sekali."


Eveline hendak memalingkan wajah. Namun, Lucas menahannya dan langsung mendaratkan sebuah ciuman. Eveline terbelalak karena kaget. Dan hendak menggigit Lucas, tetapi dengan cepat Lucas menarik bibirnya.


"Jangan menggigitku lagi, atau kau senang kita bercumbu di ranjang huh?"


Eveline yang merasa terancam pun bungkam. Dan membiarkan Lucas mencumbu bibirnya. Lucas memperlakukannya dengan lembut. Membuat Eveline tanpa sadar menikmatinya dan mulai terbuai. Bahkan kedua tangannya berada di dada Lucas.


Lucas tertawa penuh kemenangan dalam hati. Sekarang ia sudah tahu kelemahan gadisnya.


Napas Eveline tersengal kala Lucas melepas ciuman mereka. Jantungnya semakin berpacu hebat saat Lucas mengusap bibirnya dengan lembut. "Rasanya tidak pernah berubah, manis dan memabukkan."


Eveline menatap netra coklat Lucas begitu dalam. "Kapan kau akan membawaku keluar?"


Lucas tertawa renyah. "Kau benar-benar tidak sabaran. Ayok kita pergi."


Lucas menggenggam tangan Eveline dengan erat. Lalu membawa gadis itu keluar. Keduanya pun memaski lift tanpa melepaskan pautan tangan. Dan di waktu bersamaan, Marvel, Melvin, Mike dan Dustin datang.


Marvel langsung menggedor apartemen Lucas.


"Hey, di sini ada bel." Tegur Dustin yang langsung menekan bel berulang kali.


Cukup lama mereka menunggu pintu terbuka, haya saja yang mereka harapkan tidak muncul.


"Aku rasa dia tidak ada. Sudah aku katakan, Lucas tidak mungkin menculik Eve. Mungkin saja saat ini Lucas juga sedang mencarinya." Ujar Melvin masih tetap membela sahabat karibnya itu.


Marvel melayangkan tatapan membunuh pada kembarannya itu. "Jika dugaanku benar, aku akan langsung membunuhnya. Mike, cari kembaranmu, jika kau tidak berhasil menemukannya. Aku akan langsung menghubungi Ayahmu. Dan mengatakan jika Lucas menculik adikku. Aku tahu ini perbuatannya."


Mike menghela napas berat. "Aku masih berusaha menghubunginya."


Marvel pun beranjak pergi dari sana dengan kilatan amarah di matanya. Meninggalkan ketiga anak muda itu yang saling melempar pandangan.


"Sekarang siapa yang harus disalahkah?" Gumana Melvin.


"Kau." Sahut Mike dan Dustin bersamaan. Lalu keduanya pun pergi meninggalkan Melvin.

__ADS_1


"Aku? Mereka memang aneh. Dan kau, Luc. Aku harap kau tidak benar-benar menculik adikku. Jika tidak... habislah kau." Keluh Melvin yang langsung menyusul saudara-saudaranya.


__ADS_2