Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (23)


__ADS_3

Baik Lucas maupun Eveline menoleh. Eveline mendesis pelan saat melihat keluarganya sudah berdiri di ambang pintu.


Eveline menggigit ujung bibirnya. Ditatapnya Lucas yang senyum-senyum sendiri. "Aku masih sakit, tangani sendiri."


"Hih... mana bisa begitu? Anak ini ada juga karenamu, Luc." Gumam Eveline.


Sabrina melangkah lebar mendekati mereka. "Katakan pada Mommy, apa kami salah dengar? Kau hamil, Eve?"


Eveline menggigit bibirnya, lalu menatap Lucas untuk meminta bantuan. Namun, lelaki itu malah tersenyum acuh.


Ish... dasar tidak bertanggung jawab.


"Ya, aku hamil, Mom." Akhirnya Eveline mengaku.


"Aaa... dia hamil, Winter. Kita akan punya cucu." Pekik Alexa memeluk suaminya sangking bahagianya. Akan tetapi tidak untuk Sabrina. Wanita itu melayangkan tatapan membunuh Pada Eveline.


"Mom, Lucas yang memaksaku saat itu. Dia terus menggempurku sampai aku tak berdaya." Adu Eveline ingin membelas dendam pada Lucas.


Rasakan itu, enak saja kau ingin lepas tangan. Pikir Eveline.


"Dasar lelaki sialan! Jika saja kau tidak sakit, aku akan menghabisimu sekarang juga. Enak saja kau menghamili putriku. Lihat saja, saat kau sembuh nanti aku akan menjambak rambutmu sampai rontok." Ancam Sabrina. Eveline merasa puas mendengarnya.


"Mom, pukul saja dia dengan sandalmu. Seperti kau menghukum kami." Ujar Melvin ingin mengompori.


"Sialan!" Umpat Lucas.


"Tenggelamkan saja dia di kolam piranha." Kali ini Marvel ikut menimpali.


"Hey, berhenti menyerang putraku. Salahkan juga putrimu, Sab. Aku rasa dia juga menikamati sentuhan Lucas. Buktinya dia bisa hamil. Bukankah ini kabar baik yang ingin kau sampaikan, Eve? Katakan pada mereka jika kau juga bahagia atas kehamilanmu. Agar mereka tak menyerang putraku." Sembur Alexa tidak terima anaknya dipojokkan.


Eveline menghela napas panjang. "Sudahlah, kenapa harus ribut sih? Lagian nasi sudah menjadi bubur. Benih Lucas sudah tumbuh di rahimku. Ini calon cucu kalian."


Para orang tua itu terdiam.


"Kalian harus segera menikah." Putus Alexa. "Jangan sampai perutmu membesar baru kalian menggelar pernikahan."


"Ya, Mom. Aku akan menikahinya secepat mungkin." Lucas menggenggam tangan Eevline. "Aku tidak akan menyia-menyiakan kesempatan emas."


Eveline memutar bola matanya malas. "Kau akan menjadi Ayah sekarang, berhenti meniduri banyak wanita, Luc. Terutama Rose-mu itu. Aku membencinya. Aku akan membunuhmu jika kau menyentuhnya lagi." Ancamnya.


Lucas tersenyum. "Kau bisa langsung melenyapkanku jika itu terjadi."


Eveline menghela napas berat. "Berjanjilah untuk tidak melakukan hal gila lagi, Luc."


"Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku lagi. Aku akan mati, Eve."


Eveline tersenyum. "Aku tidak akan pergi lagi."


"Ck, berhenti sok mesra. Katakan siapa Rose?" Sanggah Sabrina.


"Tanyakan pada putramu, Mom." Eveline melirik Marvel. Dan yang dilirik terlihat acuh tak acuh.


"Hey, kalian memakai wanita yang sama?" Sembur Winter.


"Lebih tepatnya Marvel yang menjebol dan Lucas yang melanjutkan." Celetuk Melvin.


Seketika mata Sabrina pun melebar. "Marvel, kau melepaskan keperjakaanmu pada sembarang orang huh?"


"Aku tidak sengaja." Jawab Marvel dengan santai.


Winter tertawa lepas. "Ternyata kalian benar-benar sudah dewasa. Aku rasa cepat atau lambat kalian akan segera menikah."


Marvel berdecih sebal. Sedangkan yang lain cuma bisa tersenyum. Sampai suara pintu terbuka pun mencuri antensi mereka.


"Apa aku boleh bergabung?" Tanya Claire menyembulkan kepalanya dengan wajah memelas. Melvin yang melihat gadis itu mendengus kecil.

__ADS_1


"Siapa dia?" Tanya Sabrina.


"Mom, Dad, dia ini adik tiri Summer." Jawab Eveline.


"Kenapa dia di sini?" Tanya Alexa dengan tatapan penuh selidik.


"Kemarilah," pinta Sabrina. Lalu gadis itu pun masuk dengan ragu.


"Maafkan aku, aku yang memaksa ikut ke sini. Aku kesepian." Lirih Claire menunduk lesu.


Sabrina menarik dagu gadis itu, ditatapnya wajah itu lamat-lamat. "Wajahmu sangat mirip dengan sahabatku Deena. Apa kau putrinya?"


Claire mengerut bingung. "Siapa Deena? Aku tidak mengenalnya. Ibuku sudah meninggal saat melahirkanku. Karena itu Daddy tidak terlalu menyukai aku."


"Ah, sepertinya aku salah. Aku terlalu merindukannya. Dia menghilang begitu saja setelah menikah. Aku tidak tahu dia baik-baik saja atau tidak." Sabrina mengusap pipi mulus Claire.


"Apa aku begitu mirip denganya? Kalau begitu anggap saja aku putrinya. Oh iya, siapa nama lengkapnya?"


"Deena tidak mempunyai marga, dia anak yatim piatu. Tapi suaminya bernama Jordan Jefferson. Setelah menikah dia tidak lagi menghubungiku."


Claire tersenyum. "Pasti dia punya alasan sendiri, Aunty."


"Perempuan itu pasti membuat ulah karena itu suaminya murka." Ujar Arez.


"Al, kau masih saja memusuhinya. Bagaimana pun dia bagian dari timmu." Protes Sabrina. Arez pun mendengus pelan.


"Lupakan soal Deena, sekarang katakan apa tujuanmu datang kemari?" Tanya Alexa menatap Claire penuh selidik. "Apa kau juga memiliki niat yang sama seperti Kakakmu?"


Claire mamasang wajah sedih. "Aku tidak seperti itu."


"Dia tidak terlibat dalam hal ini, justru dia yang menyelamatkanku dari Summer sebelum Lucas datang. Dia juga yang membantuku untuk kabur meski gagal." Jelas Eveline.


"Semua musuh kita berbuat baik lebih dulu, setelah itu mereka membuka kedoknya." Cibir Melvin.


"Jangan ribut, ini rumah sakit." Tegur Alexa.


"Aunty, bolehkah aku ikut bersama kalian? Sejak lama aku ingin punya keluarga lengkap." Claire menggenggam tangan Sabrina erat.


"Tidak bisa, kami tidak ingin mencari masalah dengan Daddymu." Sambar Melvin. "Kami tidak mau di cap penculik."


Claire memelototi Melvin.


Sabrina tersenyum. "Kau tidak bisa meninggalkan Daddymu, Claire. Aku rasa dia sangat menyayangimu, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkan cintanya padamu. Percayalah."


Claire menunduk. "Aku tahu tidak pernah ada tempat untukku di hati siapa pun."


"Claire." Sabrina menarik dagu gadis itu. "Jangan berpikir seperti itu, kau masih sangat muda. Fokuslah pada masa depanmu."


Claire memeluk Sabrina dan mulai menangis. "Biarkan aku ikut denganmu, aku mohon."


"Mom, biarkan dia ikut. Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri." Ujar Eveline.


"Aku tidak setuju, mansion kita bukan tempat penampungan." Perotes Melvin.


"Melvin." Tegur Sabrina. Lalu ia memusatkan perhatian pada Claire lagi. "Kenapa kau begitu ingin ikut dengan kami huh?"


Claire menatap Sabrina. "Aku tahu kau seorang Ibu yang penuh kasih sayang. Bolehkah aku menjadi anakmu, Mom?"


Sabrina terkejut mendengarnya. "Tapi aku hanya orang asing untukmu, begitu pun sebaliknya."


"Aku tahu, tapi berikan aku kesempatan untuk merasakan kehangatan seorang Ibu."


"Enak saja, dia Mommy kami. Siapa kau berani memanggilnya Mommy?" Ketus Melvin.


"Apa salahku padamu sebenarnya huh? Kenapa kau sangat membenciku?" Sembur Claire.

__ADS_1


"Hey, sudah. Ini rumah sakit." Tegur Alexa lagi.


"Hm, bisakah kalian berdebat di luar? Biarkan aku istirahat." Pinta Lucas mulai jengah dengan drama yang mereka buat.


"Maafkan aku, aku permisi." Claire pun langsung berlari keluar.


"Claire." Panggil Sabrina. Sayangnya gadis itu sudah menghilang di balik pintu.


"Sudahlah, biarkan saja dia pergi." Ucap Arez. "Dia bukan urusan kita."


"Ck, kau ini."


Suasana pun mendadak senyap.


"Aku keluar sebentar." Pamit Marvel. Sabrina dan Arez pun mengangguk.


Melvin mendengus dan ikut keluar.


"Jangan sampai mereka berebut wanita." Gumam Lucas. Eveline menatapnya.


"Cih, jangan ingatkan aku pada kekasihmu itu."


Lucas tersenyum. "Aku hanya punya satu kekasih, dia ada dihadapanku sekarang."


Eveline mendengus. "Sejak kapan kita pacaran?"


"Dari dulu, hanya saja kau tidak pernah menganggapku."


Eveline memukul lengan Lucas. "Jangan membahasnya lagi. Aku benci itu."


Lucas tertawa kecil. "Tidak akan lagi. Aku mencintaimu."


Alexa berdeham saat mendengar itu. "Aku rasa kita harus keluar. Seseorang butuh waktu privasi sepertinya."


"Ayo." Ajak Winter membawa Alexa keluar dari sana. Memberi ruang pada putranya untuk bercengrama dengan sang pujaan hati.


"Mommy juga keluar dulu, istirahatlah." Pamit Sabrina.


"Ya, Mom."


Sabrina dan Arez pun ikut beranjak dari sana. Dan sekarang hanya ada Eveline dan Lucas di sana.


"Mendekatlah, sayang." Pinta Lucas.


Eveline tersenyum dan langsung berbaring sambil memeluk Lucas. "Aku merindukanmu, Luc. Cepat sembuh, supaya aku bisa memelukmu dengan bebas. Ayo ke pulau lagi, kita habiskan waktu bersama."


"Ide bagus, kita bisa honeymoon di sana."


Eveline mengangguk.


Lucas mengecup kening Eveline. "Aku lapar, bisakah kau menyuapiku?"


"Aku juga lapar."


"Kalau begitu ayo makan sama-sama."


Eveline mengangguk. "Tapi aku malas bangun. Kau sangat hangat."


Lucas tersenyum. "Ayo makan, kau butuh nutrisi untuk pertumbuhan anak kita."


"Sebentar lagi, biarkan aku mengobati rinduku dulu."


Lucas mengangguk. "Terserah kau saja, sayang."


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2