Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 58


__ADS_3

Langit Surabaya terlihat cerah, tanpa awan yang menghalangi. Warna biru tanpa noda layaknya embu di pagi hari. Tak tersentuh dan senantiasa alami. Sinar matahari mulai mengeluarkan sengatan kecil pada siapa saja yang berlalu lalang. Seakan menyapa para penghuni alam.


Tanpa merasa terganggu dengan panasnya sengatan sang surya. Seorang wanita berkerudung putih terus berjalan melewati beberapa toko di pinggiran kota. Mencari sebuah restoran bernama Chalista Resto.


"Ternyata memang tidak jauh." Wanita itu merasa lega setelah menemukan tempat yang dimaksud. Hanya butuh lima menit berjalan kaki dari rumah sakit menuju tempat tersebut. Sebuah restoran yang terlihat rapih dan sangat bersih. Bahkan hampir seluruh meja dipenuhi para pengunjung. Mungkin karena sudah waktunya jam makan siang.


Wanita tersebut memasuki restoran dengan langkah lambat. Ia ingin melihat-lihat lebih dulu. Karena rasa penasarannya cukup besar. Mata coklat itu terus menyelisik kesetiap penjuru restoran. Memang sangat bersih dan nyaman, pikirnya.


"Mbak Sweet?" Wanita itu cukup kaget saat seseorang menyebut namanya. Ia pun berbalik untuk mencari sosok itu. Benar saja, Ara terus berjalan menghampirinya dengan seulas senyuman manis. Tapi tunggu, siapa yang ada di belakang Ara? Kenapa dia sangat mirip dengan seseorang? Pikir Sweet.


"Siapa, Sayang?" tanya lelaki berparas tampan itu seraya meraih pinggang Ara. Ya, tentu saja lelaki itu adalah suami Ara, yaitu Arlan.


"Ini Mbak Sweet yang Ara bilang, Bi. Ibunya Alexa," Ara memperkenalkan Sweet pada sang suami.


"Oh, salam kenal Mbak." Arlan pun memberikan senyuman tulus pada Sweet.


"Salam kenal kembali," balas Sweet tersenyum samar. Matanya terus tertuju pada Arlan. Memperhatikan wajah itu begitu seksama.


Aku ingat, Mala pernah bilang jika dia memiliki saudara kembar. Mungkin dialah orangnya? Wajah mereka sangat mirip, -batin Sweet.


"Mari duduk, Mbak. Kami selalu menunggu kedatangan Mbaknya loh," ujar Ara mengajak Sweet duduk di salah satu meja yang kosong.


"Terima kasih," ucap Sweet saat Ara menarik sebuah kursi untuknya.


"Lexa tidak nafsu makan, jadi saya ingin membeli makanan kesukaannya." Lanjut Sweet.


"Ya Allah, kalau begitu saya siapkan makanan kesukaan Lexa dulu, Mbak." Ara bangun dari tempat duduk.


"Terima kasih." Sweet merasa senang mendapat perhatian Ara untuk putrinya.


Saat ini hanya tinggal dirinya dan Arlan di sana. Sweet mendadak canggung, namun tidak untuk Arlan.


"Apa kabar, Tante Ana?"


Deg! Jantung Sweet berdetak kencang saat mendengar pertanyaan yang Arlan lontarkan. Wajahnya pucat pasi. Namun, Sweet tetap berusaha untuk tenang.


"Maaf?" Sweet berpura-pura bingung.

__ADS_1


"Saya tidak tahu apa alasan Tante menyembunyikan semuanya dari kami? Tapi bagaimana pun kita tetap satu keluarga, Mama Nissa selalu merindukan Tante. Mama merasa terpukul karena Tante pergi begitu saja. Mama merasa bersalah atas semua yang terjadi."


Sweet terpaku mendengar penjelasan Arlan. Selama ini ia sudah melupakan sosok wanita yang sudah ia anggap seperti Kakak sendiri.


"Alan tidak bisa memaksa Tante, hanya saja kami masih mengharapkan kepulangan Tante." Arlan melanjutkan pembicaraannya.


Sweet masih terdiam. Perkataan Arlan begitu memengaruhi perasaannya.


Arlan terlihat menarik napas panjang, karena tidak mendapat respons apa pun dari Sweet.


"Maaf jika Alan terlalu ikut campur. Akan lebih baik Tante menemui Mama, lusa Mama sampai di Surabaya." Alex tersenyum tulus.


"Terima kasih atas semua saran kamu," ucap Sweet dengan santai.


"Sama-sama," sahut Arlan tak kalah santai. Lelaki itu cukup pandai dalam memahami situasi.


Tidak berapa lama, Ara pun kembali dengan sebuah paper bag di tangannya.


"Maaf menunggu lama," ucap Ara kembali duduk di tempat semula. Lalu menatap Arlan dan Sweet bergantian.


"Kok pada diam sih?" tanya Ara merasa canggung dengan sikap keduanya.


"Iya, Bi." Ara mengangguk seraya tersenyum manis. Setelah kepergian Arlan, perhatiannya ia tarik kembali untuk Sweet.


"Maaf, Mbak. Suami saya memang seperti itu, apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Ara penasaran.


"Tidak kok," jawab Sweet sambil menggeleng kecil. Ara yang mendengar itu pun ikut mengangguk.


"Oh iya, ini sup ikan salmon untuk Lexa. Ada bubur juga kalau Lexa tidak mau makan nasi. Ini gratis, anggap saja pemberian dari saya sebagai Ibu angkat Lexa." Ara menyodorkan papar bag berisi makanan pada Sweet.


"Terima kasih, tapi itu tidak perlu. Saya bisa membayarnya. Bagaimana pun ini usaha kalian, tidak baik jika diberikan cuma-cuma." Sweet menolak tawaran baik Ara. Karena pada awalnya ia memang ingin membeli bukan meminta.


"Tidak perlu, Mbak. Lexa juga putri kami, Ara harap Mbak tidak menolak. Anggap saja saya adik Mbak," sanggah Ara masih kekeh dengan pendiriannya.


"Tapi...."


"Ara marah jika Mbak terus menolak," potong Ara terus memaksa. Sweet yang mendengar itu merasa tidak enak.

__ADS_1


"Mbak, tolong anggap kami sebagai saudara sendiri. Jangan anggap orang lain," lanjut Ara memasang wajah sendu.


"Apa kamu juga sudah tahu siapa aku, Ara?"


Pertanyaan yang Sweet lontarkan berhasil membuat Ara terhenyak.


"Sikapmu sejak awal sangat aneh, tidak mudah bagi orang asing untuk mengenal orang asing lainnya untuk menjadi dekat." Sweet menatap Ara penuh kecewa.


Ara menghela napas berat, "ya, Ara memang sudah tahu. Siapa Mbak, eh maksudnya Tante itu siapa. Sejak awal memang Ara sudah curiga akan hal itu. Lexa sangat mirip dengan Paman Alex."


Sweet memberikan tatapan tajam pada Ara. Ia merasa di permainkan.


"Apa dia yang meminta kalian melakukan ini?" tanya Sweet penuh penekanan. Sontak Ara pun langsung menggeleng.


"Paman tidak pernah mengatakan apa pun pada kami, lagian sudah hampir tiga tahun paman tidak pulang. Mama yang meminta kami untuk membantu Paman mencari Tante. Maaf jika kami sudah mengganggu ketenangan, Tante." Ara merasa tidak enak pada Sweet. Sebenarnya bukan keadaan canggung seperti ini yang Ara inginkan, melainkan perasaan tenang karena sudah menemukan orang yang selama ini mereka cari.


"Kami cuma berharap Tante bisa menerima kami sebagai saudara, tidak perlu memandang dari pihak Paman. Di kota ini kami juga tidak memiliki sanak saudara," ujar Ara penuh harap.


Sweet sama sekali tak memberikan tanggapan. Pikirannya saat ini tengah melanglang buana.


"Ah, kami minta maaf. Karena kami terkesan memaksa Tante." Ara menarik kedua tangan Sweet dengan lembut.


"Ara doakan semoga Lexa segera diberi kesembuhan. Bisa tumbuh kembang seperti anak-anak lainnya. Tolong sampaikan salam rindu pada Lexa," lanjut Ara tersenyum tulus.


Sweet menatap Ara begitu dalam, "terima kasih, kami sangat beruntung bisa bertemu kalian."


"Sama-sama, jangan sungkan untuk mampir lagi ke sini. Lain kali tidak ada lagi makanan gratis," gurau Ara. Sweet yang mendengar itu pun tersenyum tipis.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam," sahut Ara. Lalu keduanya saling berpelukkan sebelum berpisah.


Sweet meninggalkan restoran dengan pikiran yang berkecamuk. Memikirkan semua perkataan Arlan maupun Ara. Saat posisinya hampir sampai di rumah sakit. Langkah kakinya tertahan, saat mendapatkan sosok lelaki yang sangat ia kenal berdiri tidak jauh darinya. Yang menjadi pusat perhatian Sweet bukanlah lelaki itu, melainkan seorang wanita yang saat ini tengah menggenggam erat kedua tangan sang lelaki.


Berhubung jarak mereka tidak terlalu jauh, Sweet masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


".... Katakan saja padanya, tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan. Di antara kita sudah tidak ada lagi yang perlu di tutupi," ujar wanita itu dengan tegas.

__ADS_1


Sweet mengepal erat tangannya, rasa sakit dalam hatinya kembali meradang.


Dasar pembohong, mulutmu sama sekali tidak dapat di percaya. Dan bodohnya aku hampir luluh dengan semua perkataanmu, Alex. Aku tidak akan pernah percaya lagi padamu. Sweet meninggalkan tempat itu dengan hati yang kacau. Hati wanita mana pun akan hancur saat melihat lelaki yang dicintai bercengkrama dengan wanita lain. Wanita yang sejak lama ia ketahui sebagai wanita ketiga. Tidak ada air mata atau pun kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sweet melangkah cepat memasuki rumah sakit. Tidak dapat dipungkiri, jika bayangan Alex dengan wanita itu terus menghantui pikirannya.


__ADS_2