Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 68


__ADS_3

Sweet terus berdiri di ruang keluarga dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia sangat cemas, memikirkan kemungkinan Bian akan memukul suaminya lagi.


Sejak tadi Hanz terus memperhatikan Sweet. Terakhir kali ia melihat Sweet begitu cemas yaitu di rumah sakit. Dan ini kali kedua ia melihat hal yang sama. Wanita itu terus menggerakkan jemarinya. Dengan tatapan terus tertuju pada pintu utama.


"Tidak akan terjadi apa pun padanya," ujar Hanz berusaha untuk meyakinkan Sweet. Wanita itu pun menoleh, tanpa berniat untuk membalas perkataan Hanz.


"Aku minta maaf," lanjut Hanz. Sweet yang mendengar itu menatap Hanz lekat.


"Maaf, aku sudah memisahkan kau dan Alex. Seharusnya aku sadar, kau ditakdirkan bukan untukku, Sweet. Aku terlalu percaya diri." Hanz bangun dari duduknya dan bergerak menghampiri Sweet.


Sweet menurunkan kedua tangannya, dan memperdalam tatapannya pada Hanz.


"Itu masa lalu, dan tidak perlu diingat. Aku juga harus berterima kasih padamu." Sweet menarik napas panjang. "Kau sudah berusaha untuk melindungiku."


Hanz tersenyum simpul, "itu sudah kewajibanku. Aku harap kau selalu bahagia, Sweet."


Sweet mengangguk pelan.


"Jaga dirimu baik-baik, mungkin setelah ini kita tidak akan bertemu kembali."


Mendengar itu, Sweet langsung memberikan tatapan bingung.


"Jangan bertanya ke mana aku akan pergi, tapi jaga dirimu baik-baik." Hanz tersenyum. Membuat Sweet semakin bingung.


"Semoga kau juga bahagia," ucap Sweet tulus. Hanz pun menjawab dengan anggukkan.


Tidak lama, pintu pun terbuka. Orang yang Sweet tunggu pun muncul di sana. Bersama si cantik Mala dan Nyonya Sasmitha. Di belakang mereka berdiri seorang pria paruh baya, yaitu Arnold.


Sweet pun sedikit berlari menghampiri mereka. "Tidak terjadi apa-apa kan?" tanya Sweet seraya memeriksa wajah Alex. Lelaki itu tersenyum melihat sikap Sweet. Sikap yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Tidak, Sayang. Aku baik-baik saja," ucap Alex menggenggam tangan Sweet yang masih menempel di wajahnya.


"Syukurlah," ucap Sweet menarik napas lega.

__ADS_1


"Sweet, bawa suamimu ke kamar. Dia harus istirahat," perintah Nyonya Sasmitha.


"Baik, Nek." Sweet mengambil alih kursi roda dari tangan Mala. "Terima kasih," ucap Sweet pada Mala.


"Sama-sama, Mom." Sweet terkejut mendengar panggilan Mala untuknya. Ia menatap Mala penuh selidik.


"Hey, aku benar kan? Dia Ayahku dan Kau istrinya. Itu artinya kau Ibuku, Sweet." Mala tertawa riang saat melihat wajah lucu Sweet.


"Mala...." Sweet terlihat geram dengan anak angkat suaminya yang satu ini.


"Sorry, Mom." Ucap Mala seraya mengedipkan mata. Sweet yang melihat itu hanya bisa menggeleng. Sweet merasa canggung jika Mala memanggilnya dengan sebutan Mommy.


"Baiklah, ayo kita pergi Mala. Kakakmu pasti sudah menunggu di rumah," ajak Arnold pada Mala.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Semoga cepat sembuh, Ayah. Aku menunggu kabarmu untuk pulang." Mala mencium punggung tangan Alex dengan cepat. Lalu beralih menatap Sweet


"Sampai berjumpa kembali, Mom." Sebuah kecupan hangat ia berikan di pipi Sweet. Dan langsung melesat pergi. Membuat Sweet terperangah sesaat.


"Ya, salam untuk Ara dan yang lainnya." Ujar Sweet. Arnold pun mengangguk, lalu berpamitan pada Nyonya Sasmitha dan langsung beranjak pergi.


"Aku juga harus pergi, jaga diri baik-baik." Hanz bergegas pergi dari sana. Karena ia tahu, Alex terus menatapnya penuh intimidasi. Seakan menginginkan dirinya untuk segera enyah.


Setelah semua orang pergi, Sweet membantu Nyonya Sasmitha lebih dulu untuk masuk ke kamar. Dan kemudian membawa Alex beranjak menuju kamar.


***


"Bagaimana?" tanya Alex menunggu jawaban sang istri.


Sweet yang sejak tadi duduk di pangkuan Alex pun tidak langsung memberi jawaban.


Alex memang sudah mengutarakan niatnya untuk membawa Sweet dan anak-anak kembali ke Jerman. Saat ini ia sedang menunggu jawaban Sweet.


"Bagaimana jika aku mengatakan, aku tidak ingin pergi?" Sweet memberikan pertanyaan sebagai jawaban.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana jika aku memaksamu?" Alex tidak mau kalah. Ia kembali melayangkan pertanyaan.


"Ck, aku mengaku kalah." Sweet menyandarkan kepalanya di dada Alex. "Sebagai seorang istri, aku akan ikut ke mana pun kamu pergi, Mas. Asalkan kita terus bersama, di mana pun kita berada itu tidak jadi masalah."


Alex tersenyum senang mendengarnya. Sebuah kecupan hangat ia berikan pada Sweet. "Bagaimana jika minggu depan kita pulang?"


Sweet mengangguk sebagai jawaban. Lalu tidak ada lagi pembicaraan. Mereka saling terdiam, menikmati kebersamaan yang begitu hangat.


Namun, tiba-tiba Sweet teringat dengan sang Nenek. Ia mengangkat kepalanya, menatap Alex begitu dalam.


"Bagaimana dengan Nenek?" tanya Sweet. Alex membalas tatapan Sweet.


"Kita bisa merawatnya di sana," jawab Alex. Sweet tersenyum seraya mengangguk. Dan memeluk Alex kembali.


"I love you," bisik Sweet. Alex yang mendengar itu mengulum senyuman hangat.


"Aku merasa kembali ke masa muda, di mana sepasang kekasih saling mengungkapkan isi hati masing-masing."


Sweet tersenyum, "aku memang masih muda. Kamu saja yang sudah tua, bahkan usiamu hampir setengah abad."


Alex tetawa renyah mendengar ledekan istrinya. "Itu adalah keberuntunganku, bisa mendapatkan istri muda dan cantik sepertimu."


"Hentikan itu, aku tidak akan tergoda oleh kata-kata manismu."


"Benarkah? Biar aku lihat, apa benar istriku ini tidak tergoda?" Alex mendorong tubuh Sweet perlahan. Lalu memperhatikan wajah sang istri yang memancarkan rona merah. Membuat Alex semakin tergelak. Sweet menunduk malu karena ketahuan oleh Alex.


"Bahkan wajahmu tidak bisa berbohong," lanjut Alex seraya menarik dagu Sweet. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat rona merah di wajah Sweet. Karena hal itu sangat langka terjadi pada istrinya.


"Jangan menggodaku lagi, aku harus pergi untuk menjemput anak-anak." Alibi Sweet agar bisa lepas dari suaminya. Alex tersenyum penuh arti dan tetap menahan Sweet agar tidak pergi.


"Itu terlalu cepat, aku masih ingin memelukmu." Alex kembali menarik Sweet dalam dekapan. Bahkan memeluk wanita itu begitu erat.


Sweet sama sekali tidak protes, karena ia juga masih ingin berdekatan dengan Alex. Rasa rindu itu belum terobati sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2