Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 8


__ADS_3

Alexa terus memperhatikan Sky yang tengah memandikan putranya. Ya, Alexa memang memutuskan untuk menemui Sky secara langsung. Ia sangat penasaran dengan kehidupan wanita itu. Juga ingin melihat secara langsung keponakannya.


"Kau masih ingin di sini, Lexa?" Tanya Sky yang sudah selesai memandikan Gabriel. Alexa tak berniat menjawab dan hanya mengekori wanita itu.


"Kenapa kalian terus menggangguku? Dua hari yang lalu adikmu datang padaku. Menuduh dan mengancamku dengan sadis. Apa kau juga ingin melakukan hal yang sama? Lakukanlah, aku akan menerimanya." Oceh Sky seraya menidurkan si kecil Gabriel di atas kasur.


Alexa ikut duduk di tepi ranjang. Tatapannya masih terpatri pada bayi yang tengah mengoceh sendiri dan sesekali tersenyum. Senyuman yang begitu mirip dengan Arel. "Berapa usianya?" Tanya Alexa mengusap pipi merah Gabriel.


Sky yang mendengar itu langsung menatap Alexa tajam. Juga tak berniat menjawab pertanyaan Alexa. Dulu, Sky dan Alexa cukup dekat. Sky memang lebih suka mengobrol dengan Alexa dibandingkan dengan Alexella yang selalu bersikap acuh padanya.


"Katakan apa tujuanmu datang ke sini, Lexa?" Tanya Sky penuh selidik. "Jika kau ingin mengorek kehidupanku, kau tak harus datang ke sini. Aku yakin kau bisa mencari tahu tentangku tanpa harus menemuiku. Lagipula tak ada yang menarik dari kehidapanku, kenapa kalian begitu ingin tahu huh?"


"Karena kau menyembunyikan rahasia besar, Sky." Sahut Alexa dengan santai. Sky yang mendengar itu melayangkan tatapan bingung.


"Rahasia?"


Alexa memusatkan perhatian penuh pada wanita di hadapannya. "Ya, kau membawa kabur benih Kakakku. Lalu benih itu sudah tumbuh sampai sebesar ini."


Sky tersentak kaget. "Apa maksudmu? Gabriel bukan milik Arel, dia... dia milik suamiku." Sky terlihat gugup.


"Jika anak ini milik suamimu, kau tak mungkin menyematkan nama kembaranku sebagai ayah kandungnya."


Lagi-lagi Sky tersentak kaget. Ia tak percaya Alexa menyelidikinya sampai sejauh itu.


"Kau masih menyangkalnya, Sky? Bahkan kami sudah melakukan tes DNA, 99% DNA mereka cocok. Kau masih ingin mengatakan jika anak itu milik suamimu?"


Mulut Sky terkatup rapat. Air matanya mulai membendung dan menetes perlahan.


Alexa menghela napas berat. Meraih tangan Sky dengan lembut. "Kau bisa mengatakan semuanya padaku, Sky. Seperti dulu kau bercerita tentang keluhanmu terhadap Arel. Aku akan mendengarnya."


Tubuh Sky bergetar karena menahan tangisan. "Maafkan aku, Lexa. Aku sudah menghancurkan hidup Kakakmu. Aku tak pantas kau kasihani lagi. Hina saja aku, Lexa. Hina aku seperti Xella menghinaku. Lakukan itu Lexa."


Alexa menarik Sky dalam dekapannya. Tangisan wanita itu pun pecah seketika. Alexa membiarkan wanita itu mengeluarkan semua sesak di dadanya. Ia tahu saat ini Sky sedang butuh sandaran.


Mungkin semua orang hanya mengenal Alexa dengan kekonyolannya. Namun mereka tak pernah tahu, Alexa memiliki jiwa keibuan yang begitu besar. Dan itu hanya ditunjukkan pada orang tertentu.


Setelah puas menangis, Sky menarik diri dari dekapan Alexa. Menatap Alexa begitu dalam. "Kenapa kau masih baik padaku, Lexa?"


Alexa tersenyum lebar. "Karena Kakakku sangat mencintaimu. Dia tak akan memilih sembarangan wanita untuk dicintai. Aku tahu kau punya alasan kuat untuk meninggalkan Kakakku. Buktinya kau masih membesarkan anaknya sampai sebesar ini. Apa salah satu keluargaku ada yang mengancammu, Sky?"


Sky langsung menggeleng kuat. "Aku pergi bukan karena keluargamu." Jawab Sky dengan cepat. Ia juga menunduk lesu.


Alexa menatap Sky begitu dalam. Sikapmu membuktikan jika pertanyaanku benar, Sky. Kau begitu ketakutan saat aku bertanya soal ancaman.


"Aku percaya padamu, sebaiknya kau selesaikan urusan anakmu. Lihat dia kedinginan." Ujar Alexa melihat si kecil Gabriel yang sudah terduduk sambil memainkan handuk.


"Ya ampun, maafkan Mommy, Sayang." Ucap Sky membawa Gabriel dalam gendongan. Lalu memakaikan baju padanya. Tentu saja semua itu tak lepas dari pengawasan Alexa.


"Ini seperti mimpi, Arel sudah memiliki seorang putra. Aku tak pernah tahu kalian melakukan itu di usia yang masih muda. Bukankah saat itu usiamu masih delapan belas tahun?" Tanya Alexa.

__ADS_1


Sky mengangkat wajahnya, menatap Alexa begitu dalam. "Ya."


"Kenapa kau memutuskan untuk merawatnya Sky? Kau masih mencintai Kakakku kan?"


Sky terdiam cukup lama, seakan enggan menjawab pertanyaan Alexa.


"Ah, kau tak perlu menjawabnya. Lupakan itu." Kata Alexa yang memahami situasi.


"Lexa." Panggil Sky sedikit bergetar.


"Ya?"


"Bisakah kau tak memberitahunya soal Gabriel? Aku... aku tak ingin menganggu kehidupannya lagi. Aku akan pergi sejauh mungkin dan tak akan pernah kembali. Aku mohon Lexa." Sky menatap Alexa penuh permohonan.


"Aku tak bisa melakukan itu, Sky. Kakakku punya hak atas anak ini. Dia Ayah kandungnya. Kau tak bisa membawanya pergi."


"Lexa, aku mohon. Aku tak ingin berpisah dengan Gabriel, aku...."


"Kalau begitu kembali padanya, Sky. Aku tahu kau masih sangat mencintainya. Buktinya kau tidak menolak menghabiskan malam bersamanya. Dia juga masih sangat mencintaimu, Sky. Hidupnya benar-benar hancur setelah kepergianmu. Dia berubah, Sky. Setiap hari dia meniduri wanita yang berbeda dan mencampakkan mereka begitu saja. Setiap hari juga dia membuat ulah sampai Mommy dan Daddy bertengkar."


Sky terkejut mendengar pengungkapan Alexa. "Me... meniduri banyak wanita?"


"Ya, itu terjadi setelah kau pergi meninggalkannya. Dia... dia juga mengalami gangguan mental. Bukan sekali dua kali dia menyakiti dirinya sendiri. Termasuk beberapa hari yang lalu, kejadian di mana setelah kalian menghabiskan malam. Arel melukai tangannya sampai kehabisan banyak darah. Beruntung Jarvis datang saat itu, jika tidak aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Mungkin aku akan kehilangan dirinya, Sky."


Sky menutup mulutnya, nyaris tak percaya dengan pengungkapan Alexa. Hatinya bagai terhujam ribuan belati saat mendengar kondisi mantan kekasihnya itu. "Maafkan aku, Arel." Lirih Sky menangis pilu.


Alexa menarik tangan Sky dengan lembut. "Aku memohon padamu, Sky. Kembali padanya, katakan sejujurnya apa yang selama ini terjadi padamu. Mungkin saja kami bisa membantumu."


Alexa memberikan tatapan tajam. "Kalau begitu, jangan salahkan kami mengambil jalur hukum untuk merebut hak asuh Gabriel. Dia keturunan Digantara. Darah kental kami mengalir dalam nadinya, Sky. Kami tak akan menelantarkan keturunan Digantara begitu saja." Pungkas Alexa bangun dari posisinya. Lalu bergegas pergi dari sana.


Tangisan Sky semakin pecah. Ia memeluk Gabriel begitu erat, mengecup pucuk kepala putranya dengan lembut. Kilasan masa lalu kembali menghantuinya.


Sky menatap wanita paruh baya yang duduk berhadapan denganya di sebuah meja kafe. Kedua tangannya terpaut erat. Ia sangat gugup, karena untuk pertama kalinya ia bertemu Sweet. Ibu dari kekasihnya. Beberapa jam yang lalu Sweet menghubunginya secara langsung dan meminta untuk bertemu. Tentu saja Sky menyetujuinya, ia tak bisa menolak ajakan pertama kali Sweet.


"Jadi kamu yang namanya Sky?" Tanya Sweet menatap Sky begitu dalam.


"Benar, Aunty." Jawab Sky gugup.


"Kau sangat cantik," ucap Sweet dengan tulus.


"Terima kasih," balas Sky semakin gugup. Ia merasa tengah menghadapi wawancara dadakan.


"Berapa usiamu?"


"De... delapan belas tahun." Jawab Sky terbata.


"Wah, muda sekali. Jangan terlalu gugup, santai saja." Kata Sweet menggenggam tangan Sky. Gadis itu pun memberanikan diri untuk menatap Sweet.


"Mohon maaf, Aunty. Apa ada sesuatu yang ingin Aunty sampaikan?" Sky memberikan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


Sweet terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Kamu tahu kan saat ini Arel harus menjalankan beberapa urusan untuk pelantikan ahli waris?"


Sky mengangguk pelan.


"Jangan salah paham dengan apa yang ingin Aunty sampaikan. Tapi ini demi kebaikan masa depan Arel. Kalian masih terlalu muda untuk menjalin hubungan lebih jauh. Jadi Aunty minta tolong padamu, jauhi Arel untuk beberapa waktu. Sampai hari pelantikan itu tiba. Aunty lihat Arel mulai tidak fokus dan lebih sering menghabiskan waktu denganmu. Bahkan dia sering meninggalkan meeting keluarga hanya untuk menemuimu. Itu akan memengaruhi penilaian dalam diri Arel. Aunty tidak mau Daddynya sampai menyadari itu, karena itu tidak akan baik untuk hubungan kalian. Aunty juga tidak mau menghancurkan perasaan kalian."


Sky mencoba untuk mencerna semua perkataan Sweet.


"Bicarakan ini dengan Arel, kalian harus menjaga jarak untuk beberapa waktu. Setelah pelantikan, kalian bebas ingin melanjutkan hubungan sampai tahap serius sekali pun. Aunty percaya kamu gadis baik dan pengertian. Aunty cuma ingin memastikan masa depan anak-anak Aunty dengan baik." Lanjut Sweet tersenyum ramah.


"Apa kamu keberatan, Sky? Hanya beberapa bulan saja."


Sky terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. Sweet yang melihat itu tersenyum senang. "Terima kasih, kamu sangat pengertian, Sky."


"Sama-sama, Aunty."


Setelah pertemuan itu, Sky langsung pulang ke rumah. Namun ia merasa heran karena di depan rumahnya sudah ada sebuah mobil mewah. Dengan langkah cepat Sky masuk ke dalam rumahnya.


Ayah Sky yang melihat kepulangan putrinya pun langsung bangun dari duduknya. "Owh, kebetulan sekali kau sudah pulang Sky. Ayok kenalkan dirimu pada Tuan Clodio. Calon suamimu."


"Apa?" Pekik Sky kaget mendengar pekataan Ayahnya. Sky pun langsung melempar pandangan pada lelaki jangkung yang kini duduk dengan angkuh di sofa.


"Dia calon suamimu, Sky. Ayah dan Ibu sudah menjodohkanmu dengannya. Dia anak yang baik, juga membantu kita melunasi hutang. Hidupmu akan terjamin."


Mata Sky berkaca-kaca mendengar kenyataan pahit itu. "Aku tidak setuju, Dad. Aku sudah punya kekasih."


"Sky. Kau tak bisa menolak keputusanku, tinggalkan lelaki itu. Dia tak akan bisa kau gapai, lihat keluarganya yang terpandang. Kau hanya akan dijadikan pajangan. Sudah lima bulan kalian berpacaran, apa yang dia berikan untuk keluarga kita Sky? Tidak ada. Ayolah, Tuan Clodio jauh lebih baik darinya."


"Aku tidak mau!" Pekik Sky mulai tersulut emosi.


"Tuan Evvender, jika dia tidak mau. Maka perjanjian kita putus." Ujar lelaki angkuh itu dengan santai.


"Ya, putuskan saja." Teriak Sky dengan lantang. Tentu saja hal itu menyulut emosi Ayahnya. tuan Evvender mencekal lengan Sky.


"Hentikan, Sky. Mau tidak mau, kau akan tetap menikah dengannya. Malam ini Tuan Clodio akan menikahimu."


"Dad, kau kejam. Aku tidak mencintainya. Aku tidak mau menikah dengannya."


"Dan kau lebih memilih Ayah dan Ibumu di penggal huh? Jika kita tak bisa melunasi hutang itu besok, kau harus ikhlas kehilanganku dan Ibumu. Lalu mereka akan menjualmu sebagai bayaran."


Sky menatap sang Ibu yang sejak tadi terdiam. "Mom, aku tidak ingin menikah. Aku mencintai kekasihku." Lirih Sky.


"Jika itu maumu, bunuh aku sekarang juga Sky. Bunuh aku." Bentak Tuan Evvender memukulkan tangan Sky ke dadanya.


"Dad." Lirih Sky menangis sesegukkan.


"Aku meminjam uang itu untuk menyelamatkanmu, Sky. Kau butuh pengobatan mahal saat kau kecil dulu. Itu semua salahku, karena kau harus lahir dalam keluarga miskin sepertiku. Ini salahku, Sky."


"Dad." Sky memeluk ayahnya dengan erat. Hatinya benar-benar sakit mendengar kepiluan hidupnya.

__ADS_1


"Aku juga tak ingin hal ini terjadi, jika aku mati. Siapa yang akan menjagamu, apa yang akan terjadi padamu jika mereka menjualmu?"


Tangisan Sky semakin deras mendengar itu. Kenapa semua ini terjadi dalam waktu bersamaan? Di mana dirinya juga diminta untuk menjauhi sang kekasih. Jika Sky mengatakan ini pada Arel. Lelaki itu tak akan bisa melepaska dirinya. Ia tahu betul seperti apa sifat Arel yang keras. Masa depannya lelaki itu akan terancam. Sky tidak mau itu terjadi. Namun ia juga tak ingin menikahi lelaki asing itu. Ia dilema.


__ADS_2