Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 69


__ADS_3

"Al!" Teriak Sabrina yang berhasil membuat pemilik nama terbangun dari tidurnya. Lelaki itu melompat dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Namun jantungnya langsung berpacu hebat saat melihat sang istri terduduk lemas di lantai kamar mandi sambil meringis kesakitan.


"Ya Tuhan." Seru Arez menghampiri Sabrina.


"Al, perutku sakit. Tadi__tadi ada cairan keluar sangat deras." Sabrina meringis sambil mengelus perut buncitnya yang terasa sangat mulas. "Jangan bilang aku akan melahirkan, tapi usianya masih tujuh bulan."


"Jangan banyak bicara." Arez langsung membopong istrinya keluar dari kamar mandi. Arez terlihat panik, dengan langkah cepat ia membawa Sabrina keluar kamar.


"Al, aku takut. Dan rasanya sangat sakit, mereka tidak berhenti bergerak. Ya Tuhan, mereka terus bergerak, Al. Sakit sekali." Oceh Sabrina menjambak rambut suaminya untuk menyalurkan rasa sakit yang sulit diungkapkan. Dan itu menambah kepanikan dalam diri Arez. Untuk pertama kalinya ia sepanik ini.


"Aku tidak mau hamil lagi, sakit sekali, Al."


"Berhenti mengoceh, aku bingung harus melakukan apa?" Kesal Arez.


"Ini semua salahmu, kau yang membuat mereka. Sakit, Al." Teriak Sabrina menggigit kaos yang suaminya kenakan.


"Ya Allah, ada apa ini?" Panik Sweet yang terbangun karena suara riuh dari luar. "Sabrina akan melahirkan?"


"Sepertinya, Mom." Sahut Arez dengan keringat yang mulai membasahi kening. Kemudian ia membawa Sabrina masuk ke dalam lift yang diikuti oleh Sweet.


"Jangan panik, rileks okay." Sweet mencoba menangkan menantunya.


"Sakit, Mom. Rasanya aku mau mati. Ini salahmu, Al. Kau yang salah. Aku tidak mau lagi kau hamili, sakit sekali."


Sweet tersenyum geli melihat kelucuan menantunya itu. Kepanikan yang Sabrina alami mengundang kelucuan.


"Bisakah kau diam." Geram Arez semakin bingung.


"Arez, jangan memarahi istrimu." Sweet memperingati putranya.


"Putramu memang kejam. Dia tidak mencintaiku." Oceh Sabrina lagi. Arez menggeram kesal.


"Siapkan mobil." Teriak Arez pada pengawal yang masih terjaga. Salah seorang dari mereka pun dengan sigap berlari menuju garasi. Tidak lama sebuah mobil berdiri di depan pintu utama mansion. Tanpa banyak berpikir lagi Arez membawa istrinya masuk ke dalam mobil.


"Arez, Mommy akan menyusul. Bawa istrimu ke rumah sakit besar."


"Ya, Mom."


Mobil itu pun melaju degan cepat menuju rumah sakit. Sepanjang jalan Sabrina terus meringis kesakitan. Bahkan tanpa ragu ia menjambak dan menggigit lengan suaminya. Arez sama sekali tak keberatan akan hal itu. Ia tahu istrinya tengah kesakitan.


"Kenapa sakit sekali? Mommy, apa dia juga mengalami hal yang sama saat melahirkanku?" Gumam Sabrina dengan wajah yang bercucuran keringat.


Arez mengusap perut istrinya dengan lembut. "Jangan panik."


"Bagaimana aku tidak panik, ini sakit kau tahu tidak?" Tanpa sadar Sabrina membentak suaminya. "Ya Tuhan, kenapa sesakit ini? Sakit, Al."

__ADS_1


"Aku tahu."


"Kau tidak merasakan apa yang aku rasakan. Nyawaku seperti di ujung tanduk. Sakit sekali, Al. Aku tidak mau hamil lagi."


Arez menghela napas berat. "Okay, kau tidak perlu hamil lagi."


Sabrina tampak mengangguk dan terus menarik napas panjang. Lalu membuangnya perlahan. Ia mengulangi hal itu terus menerus. Sampai mobil yang mereka kendarai tiba di rumah sakit.


Beberapa menit selanjutnya, Sabrina langsung dibawa ke ruang operasi untuk menjalankan operasi cesar karena tak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Dan Arez menemaninya di sana.


Arez menggenggam tangan sang istri dengan erat. Mengecup kening Sabrina dengan lembut. "Kau pasti bisa melewati semuanya."


Sabrina sudah dianestesi beberapa saat yang lalu karena operasi akan berlangsung. Wanita itu menatap Arez begitu dalam. Tubuhnya terasa sangat lemas.


"Al, apa kau mencintaiku?"


"Ya." Jawab Arez singkat.


"Aku ingin mendengar kata-kata sakaral itu dari mulutmu, Al." Pinta Sabrina memeluk lengan Arez.


Arez terdiam cukup lama.


"Tidak apa-apa jika kau malu mengatakannya." Sabrina tersenyum dan kemudian menutup matanya.


"Aku mencintaimu." Ucap Arez secepat kilat. Sabrina yang mendengar itu membuka matanya kembali. Lalu tersenyum senang.


"Aku mencintaimu, kau puas huh?"


Sabrina mengangguk puas. Malah terlalu senang mendengarnya. Meski senenarnya ia tahu suaminya itu sangat mencintainya. Tetapi tatap saja ia ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Arez. Hah, penantian yang cukup panjang. "Aku juga mencintiamu, Al."


"Kau satu-satunya wanita yang membuatku panik seperti orang gila." Jujur Arez seraya mengusap kening istrinya. Lagi-lagi Sabrina tersenyum. "Dan aku wanita satu-satunya yang berhasil meruntuhkan egomu kan?"


Arez mengangguk kecil. Lalu memberikan kecupan lembut di bibir Sabrina.


"Kau sudah menyiapkan nama untuk mereka?" Tanya Sabrina dengan tatapan sayu. Arez pun mengangguk lagi.


"Boleh aku menambahkan nama tengah mereka?"


"Ya, kau Ibunya." Jawab Arez sambil mengecupi tangan sang istri. Sabrina tersenyum lagi.


"Menurutmu mereka perempuan atau laki-laki, Al?"


"Kita akan tahu beberapa saat lagi."


Selama kehamilan, mereka memang tak pernah mencari tahu jenis kelamin anak-anaknya karena Sabrina ingin menjadikan hal itu sebagai kejutan. Ah, ia sudah tidak sabar menunggu detik-detik kelahiran bayi-bayi mungil itu. Masalah jenis kelamin mereka tak mempermasalahkannya.

__ADS_1


"Al, kau harus memberi tahu Daddy kalau cucunya akan lahir. Aku yakin Daddy akan langsung terbang ke sini."


"Aku rasa Mommy sudah memberi tahunya."


"Ya, aku harap begitu, aku merindukannya."


****


Suasana Mansion terlihat ramai dan dipenuhi para tamu undangan karena hari ini mansion disulap menjadi lantai pesta penyambutan baby Melvin dan Marvel. Ya, Sabrina melahirkan dua anak laki-laki kembar yang tampan, Melvin Gabrio Digantara dan Marvel Gabino Digantara.


"Wah, selamat Tuan muda Digantara. Akhirnya pewaris Digan't group telah hadir." Ucap salah satu mitra kerja Arez.


"Thank you, Mr. Abraham." Sahut Arez masih dengan wajah datarnya. Setelah menyapa para tamu undangan, Arez melirik istrinya yang sedang berbincang dengan beberapa istri pejabat. Arez tersenyum tipis saat melihat aura kebahagiaan yang terpancar dalam diri sang istri. Arez menghampirinya dan menarik wanita itu ke tempat yang sunyi. Sabrina terkejut bukan kepalang karena ulah suaminya itu.


"Al, apa yang kau lakukan?" Kaget Sabrina saat Arez mengukungnya di dinding. Tanpa menjawab, Arez mencium bibir istrinya begitu dalam. Sabrina terbelalak karena lagi-lagi Arez membuatnya hampir copot jantung.


Ibu dua anak itu terengah-engah karena ulah suaminya. Ia memukul dada bidang Arez karena kesal. "Kau ingin membunuhku?"


"Jangan tersenyum untuk laki-laki lain."


"Hah?" Sabrina menatap Arez bingung.


"Mereka memberikan tatapan memuja padamu, aku benci itu."


"Hey Tuan Alfarez, lalu apa yang harus aku lakukan huh? Menutup wajahku dan bersembunyi dari banyak orang? Kau pikir aku tidak cemburu saat para wanita menatapmu penuh gairah? Rasanya aku ingin menjambak mereka." Ketus Sabrina mengalungkan tangannya di leher Arez.


"Di mana baby twin?" Tanya Arez saat tak melihat keberadaan putra-putranya.


"Adik-adikmu memonopolinya setiap saat, kalau bukan Xella ya Sky. Mereka begitu antusias menyambut si kembar. Dan aku sebagai Ibunya hanya saat malam baru bisa menggendong mereka."


"Kita bisa membuat yang baru."


"Stop it! Sebulan yang lalu aku berteriak kesakitan dan kau sudah membahas anak baru? Sudah aku katakan aku tidak mau hamil lagi, Al. Bekas sayatannya saja belum kering sepenuhnya. Rasa sakitnya juga masih terasa."


Arez ******* bibir cerewet istrinya dengan kasar karena merasa geram. Bibir itu seolah tak pernah kehabisan stok kata-kata.


Sabrina terus memukuli bahu suaminya karena hampir kehabisan napas. Arez yang memahami itu segera menyudahi ciumannya. "Kau gila? Aku hampir mati."


"Aku selalu gila karenamu, Sabrina. Aku merindukanmu, satu bulan terlalu lama untukku menunggumu."


"Hey, semua salahmu sendiri karena menghadirkan dua pangeran tampan itu. Jadi kau harus bersabar. Sekarang perhatianku bukan hanya untukmu, anak-anakmu juga butuh perhatianku." Protes Sabrina.


"Apa malam ini sudah bisa melakukannya?"


"Tidak, tunggu dua minggu lagi."

__ADS_1


Arez mengumpat saat mendengar itu. Sontak Sabrina memelototinya karena tak suka mendengar umpatan sang suami.


"Kau harus bersabar demi aku." Sabrina menempelkan telapak tangannya di dada bidang Arez. "Aku mencintaimu, Al." Bibir mereka pun bertemu kembali dan saling terpaut satu sama lain. Arez merengkuh pinggang ramping istrinya dengan posesif. Keduanya pun terhanyut dalam ciumana panas dan mengabaikan para tamu undangan yang kehilangan Tuan rumah.


__ADS_2