Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (33)


__ADS_3

Eveline dan Lucas terus menunduk saat mendapat tatapan tajam dari sang grandma saat meminta izin untuk menikah, sedangkan yang lain tak mampu ikut campur. Mereka semua cuma bisa menyaksikan, jika sudah berhadapan dengan Grandma. Tidak akan ada yang berani membantah.


Sebenarnya sudah dua hari Eveline dan Lucas tiba di Berlin. Hanya saja baru hari ini mereka memberanikan diri untuk mengumpulkan keluarga besarnya. Meski tidak semua bisa hadir karena urusan penting.


"Kenapa harus Eveline, Luc?" Sembur Sweet seraya melempar bantal sofa meski tidak bisa sekuat dulu ke arah Lucas.


Eveline mendongak, perlahan ia turun dari sofa dan mendekati sang Grandma. Lalu bersimpuh dikakinya. "Grandma, aku juga mencintai Lucas. Berikan kami restu?"


Sweet terdiam seribu bahasa. Matanya berkaca-kaca. "Bagaimana ini bisa terjadi?"


"Maafkan kami, Grandma." Ucap Eveline mengecup tangan Sweet begitu dalam. "Tolong restui kami."


"Jujur Grandma kecewa, Eve. Rasanya Grandma ingin menyusul Grandpa kalian. Aku tidak mampu melihat keluarga ini semakin hancur." Terlihat jelas luka dimata wanita berusia hampir satu abad itu.


Violet yang melihat itu ikut berkaca-kaca. Sekarang ia mengerti kenapa Dustin rela berkorban melepaskan cintanya. Ketimbang memaksakan diri untuk memiliki dirinya. Ternyata sangat menyakitkan saat melihat langsung kekecewaan di wajah renta wanita terhormat itu. Dirematnya tangan Lea dengan erat.


Lea yang memahami itu pun langsung menarik sang adik dalam dekapan. "Lupakan Dustin."


Violet mengangguk meski hatinya terasa sakit.


"Apa restuku berguna untuk kalian? Aku rasa jika aku tak merestui, kalian juga akan tetap menikah. Apa yang sudah kalian lakukan dibelakangku huh? Arez, apa kau tidak bisa menjaga putrimu?" Sembur Grandma Sweet.


Sabrina menggenggam tangan suaminya, kemudian menggeleng. "Jangan katakan apa pun." Bisiknya.


Arez menghela napas berat.


"Lalu di mana Alexa? Apa dia juga tahu soal hubungan kalian?"


Lucas mengangguk.


"Ya Tuhan, apa ini akhir hidupku?" Keluh Grandma Sweet seraya mengusap dadanya.


"Mom." Tegur semua anak-anaknya.


"Jangan memanggilku Mommy. Bahkan kalian tidak menganggapku lagi. Vio, bawa Grandma ke kamar." Pinta Grandma. Sontak semua orang kaget. Cepat-cepat Violet menyeka air matanya.


"Grandma, please." Mohon Eveline semakin bersimpuh di kaki wanita yang disayanginya itu. "Aku akan mati jika Lucas menikah dengan orang lain, Grandma. Biarkan aku menikah dengannya."


Grandma Sweet seolah tidak peduli karena teramat kecewa. "Vio, cepat bawa Grandma." Tegasnya. Violet yang tak mampu membantah pun segera membawa sang Nenek ke kemarnya.


"Grandma," lirih Eveline. "Aku mohon."


"Mom." Eveline menghampiri sang Mommy, lalu bersimpuh di kakinya. Ia menyandarkan kepalanya dikedua kaki Sabrina sambil menangis. "Apa aku salah mencintai Lucas? Apa aku salah ingin hidup bersamanya, Mom? Katakan di mana kesalahanku? Katakan, Mom."


Sabrina mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Menikahlah, Eve. Mommy dan Daddy merestuimu."


"Kau gila, Sab? Kau akan melangkahi keputusan Mommy?" Hardik Alexella.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan membiarkan putriku menderita? Sekarang aku tanya padamu, jika Vio berada di posisinya saat ini. Apa yang akan kau lakukan? Bahkan dulu kau juga menikahi Jarvis tanpa restu Ibumu." Kesal Sabrina.


"Sab! Kau keterluan," bentak Alexella bangkit dari duduknya. "Jangan karena kau yang memegang kendali mansion ini, kau mengambil keputusan sendiri."

__ADS_1


Sabrina menatap Alexella tajam. "Eveline putriku, Xella. Aku punya hak mengambil keputusan, tidak ada hubungannya dengan mansion ini. Aku rasa kau juga akan melakukan hal yang sama jika Vio berada di pisisi Eveline." Tegasnya.


Seketika Alexella bungkam.


"Kenapa kalian jadi ribut sih? Kalau memang Lucas dan Eveline akan kalian nikahkan. Maka nikahkan mereka, tidak perlu membuat keributan. Soal Mommy, aku akan bicara padanya. Jangan karena masalah ini hubungan kekeluargaan hancur." Timpal Sky.


"Hah, aku tidak mengerti bagaimana kalian bisa jatuh cinta?" Tanya Arel.


"Pertanyaan apa itu, sekarang aku tanya padamu. Bagaimana kau bisa jatuh cinta pada istrimu, huh?" Sembur Sabrina. Seketika Arel pun menggaruk tengkuknya karena bingung harus menjawab apa.


"Sudah, sebaiknya persiapkan pernikahan mereka. Biarkan mereka bahagia. Aku rasa tidak ada salahnya mereka menikah." Ujar Sky.


Sabrina menatap putrinya. "Kau dengar, kami memberikan kalian restu. Lakukan pernikahan yang kalian inginkan."


Lucas dan Eveline tersenyum bahagia. Eveline pun bangkit dan langsung memeluk sang Mommy. "Thank you, Mom."


Sedangkan di dalam kamar mewah, Violet terlihat bersimpuh di kaki sang Grandma. Dengan kepala tersandar di kaki sang Nenek. Tangan renta itu terus bergerak mengusap lembut rambut Violet. "Kau jangan pernah membuat Grandma kecewa, Vio. Kau satu-satunya harapan Grandma. Aku tahu saudara-saudaramu pergaulannya sangat bebas. Aku bisa melihat dari perubahan tubuh mereka. Jangan kalian pikir aku tidak mengawasi kalian. Aku tahu semuanya."


Violet terdiam.


"Tetap pertahankan kehormatanmu sampai kau menikah, Vio."


Violet mengangguk. "Tapi Grandma, biarkan Eveline menikah dengan Lucas. Aku tahu betul mereka saling mencintai. Bahkan Lucas mencoba mengakhiri hidupnya saat Uncle memisahkannya dengan Eveline."


Biarkan aku yang mengalah, asal sudaraku bahagia, Grandma.


Sweet terdiam.


"Katakan pada Grandma. Apa kau sudah punya kekasih?" Elaknya.


Violet mendongak. "Grandma?"


Sweet tersenyum, ditariknya dagu sang cucu dengan lembut. "Carilah kekasih yang bisa memahami hatimu, mencintai dirimu sepenuh hati. Karena orang itu pasti akan selalu membahagiakanmu."


Violet tersenyum. "Aku rasa sudah mendapatkannya, Grandma. Kapan-kapan, aku akan membawanya kehadapanmu."


Sweet tertawa kecil. "Apa dia setampan Grandpamu?"


"Tentu saja." Keduanya pun tertawa bersama.


Maaf Grandma, aku hampir melukai hatimu. Aku janji, aku akan selalu memastikan kau terus tersenyum. Violet kembali menyandarkan kepalanya di kedua kaki sang Nenek. "Aku menyanyangimu, Grandma."


"Grandma juga."


"Kalau begitu, tetaplah tersenyum. Jangan menangis lagi, aku tidak bisa melihatmu menangis."


Lagi-lagi Sweet tertawa kecil. "Baiklah, wanita tua ini tidak akan menangis lagi."


Violet ikut tertawa. "I love you, Grandma."


"Hm, kau mengingatkanku pada Mommymu dulu. Hanya saja dia itu nakal dan keras kepala. Apa kau juga senang balapan liar huh? Katakan pada Nenekmu ini." Sweet memukul punggung Violet. Dengan ragu Violet pun mengangguk. "Dasar rubah kecil."

__ADS_1


"Aku menyayangimu." Ucap Violet lagi. Sweet pun terus tertawa karena Violet berhasil merubah suasana hatinya.


****


Di kamarnya, Eveline terus menangis dalam dekapan Lucas. "Bagaimana ini, Luc. Grandma tidak merestui kita."


"Setidaknya kita sudah berusaha, Sayang."


"Aku takut Grandma membenciku selamanya. Tapi aku juga tidak ingin jauh darimu." Lirih Eveline sesegukkan.


"Berhenti menangis, kau membuat anak kita bersedih, sayang."


"Hiks... kau ini. Aku sedang sedih juga." Kesal Eveline memukul dada Lucas pelan.


"Sudahlah, lupakan sejenak masalah Grandma. Kau tidak boleh terlalu stres. Tidak baik untuk perkembangan bayi."


"Hm." Keduanya pun terdiam untuk beberapa saat.


"Luc." Panggil Eveline.


"Ada apa lagi? Tidurlah, kau harus istirahat."


Eveline menggigit ujung bibirnya, lalu mengangguk.


Lucas yang sudah mengantuk karena efek obat pun langsung tertidur, sedangkan Eveline tak kunjung terpejam karena sesuatu yang terus membayanginya. "Luc, sebenarnya sejak beberapa hari, aku menahannya. Aku... aku ingin bercinta, Luc." Gumamnya.


Ditatapnya Lucas begitu dalam. "Apa aku boleh memperkosamu? Seperti yang kau lakukan padaku saat itu? Hiks... aku sungguh menginginkannya, Luc."


Eveline menarik diri dari dekapan Lucas. "Aku tidak tahan, Luc." Seperti kesetanan Eveline melepaskan semua pakaiannya. Lalu duduk di antara kedua kaki Lucas. "Maafkan aku."


Perlahan ia menurunkan boxer Lucas. Membebaskan sesuatu yang sudah lama tak ia lihat. Eveline tersenyum lucu saat melihat benda itu tertidur tak kalah pulas. "Biar aku membangunkanmu, baby. Aku merindukanmu." Dengan lincah tangan Eveline menggoda milik Lucas. Membuat si empu mengerang dalam tidurnya.


"Hah? Cepat sekali bangunnya?" Eveline tersenyum senang. "Jadi dia menginginkanku juga huh? Dasar sok jual mahal."


Tanpa menunggu Lucas bangun, Eveline mulai mengarahkan benda keras itu ke dalam miliknya. Dan....


Blesss


"Ohhh...." Eveline melenguh kecil saat berhasil melakukan penyatuan. Rasanya sangat luar biasa.


Lucas tesadar dari tidurnya. Membuat Eveline kaget. "Maaf, aku sudah tidak tahan."


Lucas tertawa kecil. "Ya ampun, kenapa kau tidak bicara jika menginginkannya huh? Dan kau malah memperkosaku."


"Aku takut, kau kan belum sembuh."


"Kita lakukan pelan-pelan, kecuali kau tidak suka yang pelan." Bisik Lucas.


"Luc! Jangan menggodaku." Kesal Eveline mulai menaik turunkan tubuhnya pelan.


"Ahhh... kau sangat nakal, Baby. Lakukan dengan pelan, jangan sampai anak kita kesakitan. Ohh... kau sangat nikmat, sayang." Lenguh Lucas menahan rasa nikmat yang luar biasa. Jujur ia merindukan sensasi ini. Apa lagi posisi ini adalah favoritnya. Keduanya pun semakin terbuai, saling mengejar puncak masing-masing. Tidak peduli keringat mulai membanjiri tubuh mereka.

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2